
"Takdir selalu saja membawa seseorang pada keputusan yang sulit. Sering sekali mereka gagal namun tidak banyak pula yang berhasil."
*****************#####*****************
Lucas mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia berusaha untuk tetap berada pada kesadarannya dan tetap untuk tidak mengamuk dalam kondisi seperti ini.
Setelah beberapa kali mengambil napas dalam dan menghembuskan nya, ia perlahan kembali sadar. Ia lalu kembali fokus pada Senja yang tertidur lelap di atas pangkuannya.
"Ini akan sulit," gumam Lucas sedih. Ia tahu akan sangat sulit untuk bisa membuat seseorang kembali pada kesehatannya yang semula. Butuh waktu lama untuk dapat menemukan ramuan yang cocok untuk mengembalikan vitalitas seperti semula.
Lucas yang diam beberapa saat kemudian melirik ke arah belakang punggungnya. Dua bayangan yang sejak tadi memperhatikan tuannya kini mulai terlihat panik.
Mereka saling memandang satu sama lain dengan perasaan dingin yang merayap hampir ke seluruh tubuh. Mereka tahu hasilnya tidak akan bagus bagi mereka kedepannya.
"Aku memang sudah berencana untuk pensiun muda, tapi seperti yang aku duga pensiun di usia muda sama dengan mati." gumam Ariel dengan ekspresi wajah merinding.
"Berurusan dengan wanita sangat merepotkan," balas Nike yang masih trauma dengan kejadian penculikan itu.
Ia masih memikirkan wajah Dian yang menatapnya dengan tajam padahal ia hanya menuruti kemauan tuannya.
"Aku tidak mau berurusan dengan wanita kedepannya lagi," lanjut Nike putus asa.
Ariel yang berada di samping Nike hanya bisa tersenyum masam. Ia tahu bahwa harapan keduanya sangat tidak mungkin, hal itu bermula sejak tuannya yang pendiam dan dingin mulai jatuh cinta.
"Itu tidak mudah," gumam Ariel yang berhasil di dengar oleh Nike.
"Aku tahu," balas Nike pelan.
Kedua nya tanpa sadar terdiam saat melihat raut wajah Lucas yang seperti monster. Mereka tidak pernah melihat tuannya berekspresi seperti itu. Selain rasa dingin yang mereka dapat, mereka juga mendapatkan peringatan di kepala jika akan terjadi hal berbahaya sebentar lagi.
Benar saja setelah lama melihat keduanya saling beragumen satu sama lain, Lucas yang kesal kemudian mengirimi mereka pesan untuk mencari bunga Krisan Dao. Bunga yang mampu mengembalikan vitalitas tubuh menjadi sehat kembali.
Meski bunga ini langka, namun dibeberapa rumah pegadaian bunga ini masih bisa di jumpai. Hanya saja penjualannya hanya setahun sekali atau bahkan tiga tahun sekali, itu pun tergantung pada siapa yang hendak menjualnya.
"Hah," Ariel dan Nike hanya bisa menghela napas, mereka tahu butuh waktu lama untuk menunggu bunga itu di lelang kembali. Hanya ada satu cara untuk mendapatkannya, yaitu berburu.
Mereka harus pergi ke tengah hutan Black Forest untuk bisa mendapatkan bunga itu. Selain bahaya dari monster yang mengintai, mereka juga harus berhati-hati dengan medan yang tidak mudah di tebak.
Hutan ini unik bukan karena banyak monster melainkan karena medan yang sulit dan tidak beraturan. Semakin jauh masuk ke dalam hutan maka akan semakin sulit pula medan tempuhnya.
__ADS_1
Tanpa banyak keluhan mereka berdua pun segera berlari masuk ke dalam hutan Black Forest dengan cepat. Tumbuhan bunga ini hanya hidup di atas gunung hutan Forest, dan untuk sampai ke sana kita harus melewati lembah yang terjal.
Hanya keberuntungan jika kita bisa menemukan bunga itu di kaki bukit, itu pun jika ada. Jadi wajar saja jika penjualan bunga krisan menjadi sangat langka.
Selain itu, hutan ini juga sulit dimasuki karena ia berada di dalam kekuasaan Marques Winter. Untuk bisa masuk ke dalam hutan itu membutuhkan kekuatan yang ekstra untuk menerobos penjagaan ketat yang berada di sepanjang garis masuk hutan.
Setelah kedua bawahannya pergi, Lucas segera menggendong Senja menuju rumah tua. Meski tubuh Senja sedingin es namun Lucas tidak peduli. Ia tetap membawa Senja dengan tangan yang menggigil.
Rasanya seperti memeluk balok es yang bahkan tidak bisa mencair. Meski tubuh Senja tidak berat namun karena es yang dingin berhasil membuat tangan Lucas menjadi beku dan kaku.
Setelah meletakan Senja di atas sofa, Lucas segera memanaskan perapian untuk menghangatkan tubuh kekasihnya.
"Aneh, meski tubuh mu dingin namun kau sama sekali tidak terlihat kedinginan." gumam Lucas setelah ia selesai menyalakan api di perapian.
Ia berdiri di sana sambil mengawasi Senja. Ia juga memberikan Senja selimut yang panjang dan tebal, tidak lupa membuat tubuh Senja terasa hangat.
"Aku akan membuatkan mu makanan. ini akan bagus untuk menghangatkan tubuh mu nantinya."
Lucas kemudian pergi menuju dapur dan menyiapkan segalanya. Ia kemudian mulai memasak saat seluruh bahan sudah terkumpul.
****
"Bagaimana ini?"
"Mungkin banyak yang berfikir dua atau tiga elemen itu adalah keberuntungan, namun jika elemen mu saling berlawanan maka apa yang dikatakan beruntung."
Senja mengeluh, ia kesal karena baru saja mendapatkan pengetahuan baru tentang teknik penyatuan elemen, ia sudah di pukul mundur oleh kenyataan bahwa salah satu dari dua elemennya sangat berlawanan.
"Aku harus bagaimana?" tanya Senja sekali lagi. Ia bingung dan pusing. Ia ingin menghancurkan es itu namun sayangnya ia tidak bisa.
"Bagaimana ini?" Senja terus bertanya dengan gelisah. Ia tidak tahu harus berbuat apa di situasi seperti ini.
Karena kepanikannya membuat air terjun itu membeku dengan cepat. Ia mulai menyadari bahwa rasa panik hanya akan membuat air semakin membeku dari waktu ke waktu.
"Hah, tenang Senja, tenang. Kau harus tenang."
Senja mencoba untuk mendapatkan ketenangannya kembali. Perlahan ia mulai terbiasa dengan keadaannya sehingga air yang membeku mulai berhenti dan kembali tenang.
Senja yang menyadari hal itu pun sedikit tersenyum namun itu tidak bisa seutuhnya membuatnya merasa tenang.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mencoba kembali menyusun ketiga elemen ini."
Senja lalu duduk kembali, kali ini ia tidak hanya berfikir tentang dua elemennya, melainkan ketiganya sekaligus.
"Bentuk apa yang cocok untuk ketiga elemen itu?" tanya Senja bingung.
Ia mencoba memikirkan berbagai macam hal namun tidak ada satu pun yang cocok dengan es dan api. Ia pusing memikirkan bentuk untuk kedua elemen yang saling berlawanan itu.
Ia berfikir untuk memisahkan ketiga elemen itu dengan mencari bentuknya masing-masing namun kemudian ia berfikir sejenak jika hal itu akan sangat merepotkan.
Hal itu akan sangat menyulitkannya ketika ia sedang dalam pertempuran besar. Ia akan merasa sangat kerepotan jika harus membolak-balikan elemen itu disaat ia masih fokus dalam bertarung.
Pada akhirnya Senja memikirkan kebun bunga mawar yang di lapisi oleh hujan salju. Di dalam kebun itu terdapat bunga mawar yang semerah darah dan itu menandakan elemen apinya.
Sedangkan salju yang jatuh dan menutupi bunga mawar itu menandakan elemen esnya. Untuk bunga yang bergoyang dengan lembut seperti nyanyian merdu, itu menandakan elemen anginnya.
Akhirnya Senja dapat memutuskan seperti apa bentuk dari ketiga elemennya itu. Meski terbilang aneh dan tidak masuk akal, namun menurut Senja bentuk itu merupakan yang terbaik.
Ia tidak bisa memikirkan bentuk yang lain selain bunga mawar. Hal itu juga yang membuatnya teringat dengan kediaman Permaisuri Mawar dimana di setiap halamannya di isi oleh bunga mawar yang indah dan cantik.
Terlebih lagi saat musim salju dimana tanaman mawar tersebut menjadi begitu sempurna. Sangat langkah melihat pemandangan seperti itu, ditambah lagi dengan lantunan lembut dari angin yang menggoyang batang bunga mawar, menambahkan kesan elok pada bunga itu.
Setelah ketiga elemennya mendapatkan bentuk masing-masing, akhirnya tubuh Senja kembali hangat. Ia merasa sangat nyaman dengan kehangatan itu.
Namun ia sadar, ia harus kembali ke dunia nyata karena ada orang-orang yang menunggunya dengan khawatir. Setelah beberapa saat akhirnya Senja membuka mata.
Ia melihat ruangan yang familiar baginya, ternyata ini adalah ruang tamu di rumah tua. Selain itu ia juga mencium bau makanan yang lezat. Dengan hanya menciumnya membuat perut Senja berbunyi dengan riang.
"Kau sudah sadar?" tanya sebuah suara dengan lembut.
Senja diam, ia hanya melihat pemilik suara itu dengan pandangan datar sebelum beralih pada nampak yang di bawa oleh pria itu.
"Ah, ini aku buatkan untuk mu. Makanlah."
Lucas menyerahkan mie yang ia buat sepenuh hati untuk Senja. Ia menyadari bahwa tatapan Senja langsung mengarah pada masakannya setelah ia menyapanya tadi.
"Aku membuatnya penuh dengan cinta," lanjut Lucas sambil menaruh nampan itu di atas meja.
Segera Senja kembali duduk dari tidurnya. Ia kemudian melihat mie yang disajikan oleh Lucas dengan air liur yang mulai menetes.
__ADS_1
Tanpa mengatakan apapun Senja langsung menyantap mie tersebut dengan lahap. Melihat hal itu membuat Lucas tersenyum hangat pada kekasihnya.
"Lain kali aku akan membuatkan mu makanan yang jauh lebih enak dari pada ini."