Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
[S2E70] Lebih Dekat


__ADS_3

"Rasa nyaman akan membuat seseorang tanpa sadar menjadi lebih dekat."


******************#####****************


Lapangan tempur adalah tempat dimana biasanya para siswa melakukan ujian praktek. Lapangan ini luasnya dua kali lapangan sepak bola sehingga dapat memuat banyak siswa sekaligus.


Di tengah lapangan terdapat podium sihir yang menampilkan hologram pertarungan. Tidak seperti duel yang mengharuskan siswa saling bertarung dengan fisik. Lapangan tempur lebih menunjukkan skill seorang siswa dalam menghadapi monster.


Terdapat berbagai jenis monster dengan level yang berbeda. Setiap penguji akan diberikan monster sesuai dengan level mereka. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir kan kecelakaan saat ujian berlangsung.


Namun ada beberapa kasus dimana para siswa akan menantang monster yang lebih tinggi untuk menunjukkan bakat mereka kepada profesor incaran.


"Level ku saat ini adalah sembilan, jika aku tidak ingin ketahuan maka aku harus bisa mengendalikan diri saat ujian di mulai."


Senja terlihat lebih waspada dari pada sebelumnya. Ia tahu jika ujian praktek kali ini sedikit berbeda dengan praktek tempur pada biasanya.


Saat ini tidak hanya teman sekelasnya yang menonton melainkan satu sekolah akan menonton ujian tempur seperti karnaval.


Sejujurnya Senja sangat membenci hal itu, ia tidak senang jika sebuah pertarungan ditonton layaknya pertunjukkan. Ia merasa jika dirinya dan siswa lain yang sedang beradu nasib di podium lebih mirip hewan dari pada manusia.


"Senja."


Panggil suara bariton yang membuat lamunan Senja menjadi buyar. Senja yang malas mencoba untuk tetap tenang. Ia memalingkan wajahnya menuju asal suara itu.


"Bagai, bagaimana? Apa kau, kau suka?" tanya sosok itu dengan suara yang sedikit bergetar.


"Uhm, ini enak." balas Senja sambil mengangkat sandwich di tangan kanannya.


"Syukurlah, aku khawatir itu tidak sesuai dengan selera mu."


"Tidak, aku suka ini."


"Baiklah, aku juga membawakan mu ini. Ambilah."


Amir kemudian menyerahkan sebotol lemon tea yang terlihat segar. Awalnya Senja ingin menolak tapi karena cuaca cukup panas siang ini, ia dengan sadar mengambil minuman itu.


"Sial, aku tergoda lagi." batin Senja sebelum meminum teh tersebut.


"Senja, jika kau ingin lebih minta saja lagi. Aku membuatnya banyak." seru Amir sambil menunjuk kotak styrofoam di salah satu kursi tunggu.


"Aku membuatnya banyak untuk dibagikan ke yang lain juga." lanjutnya sebelum pergi meninggalkan Senja.


Tidak seperti Kira yang selalu menempel disisi Senja. Amir cenderung datang dan pergi begitu saja. Itulah alasan mengapa Senja tidak terlalu memikirkan rumor buruk tentangnya.


Menurut Senja, Amir adalah sosok pria baik dan entah kenapa sering sekali terlibat dalam masalah. Senja pun sama sekali tidak ingin terlibat dalam masalah itu, makanya ia lebih cenderung netral dan membiarkan Amir begitu saja.


"Lihat dia, sangat penakut." lirih Senja saat melihat Amir yang dengan malu membagikan minumannya ke siswa lain yang sedang lewat.


"Memang benar tidak semua rumor benar adanya. Terkadang kita lebih baik melihatnya secara langsung dan memastikannya sebelum menerima penilaian secara sembarangan."


Senja sangat yakin akan hal itu karena penilaian mereka terhadap Senja tidak jauh lebih buruk dari pada penilaian mereka terhadap Amir.


Senja tahu jelas mengenai dirinya, ia tahu seperti apa dirinya itu. Senja juga tahu jika banyak rumor aneh mengelilinginya tapi ia mencoba abai karena hal itu bukankah prioritas utama.


Semakin Senja memikirkan kondisi Amir semakin ia sadar bahwa mereka mirip. Senja merasa kasihan pada Amir dan tanpa sadar ia terus terlibat dengannya.


"Ah iya, ngomong-ngomong tentang Amir, aku jadi lupa dengan kondisi Kira." gumam Senja saat melihat banyak siswa mulai memenuhi lapangan.


Anehnya Senja sama sekali belum melihat Kira. Senja yakin betapa semangatnya Kira dalam menantikan ujian kali ini. Tapi sejak awal dimulainya ujian bahkan batang hidungnya pun sama sekali tidak kelihatan.


Saat Senja sedang asik memikirkan keanehan itu tiba-tiba saja telinganya berbunyi nyaring. Senja dengan cepat menutup lubang telinganya sambil memperhatikan sekeliling. Disana lagi-lagi Senja melihat wajah gembira Prof Philip.

__ADS_1


"Sial, jika aku tidak sigap mungkin saja gendang telinga ku sudah pecah." keluh Senja kesal.


Senja kemudian melirik ke arah Amie secara tidak sadar. Disana ia melihat Amir yang sedang berjongkok dengan beberapa botol teh yang berserakan di tanah.


"Prof Philip memang gila, di cuaca panas begini bisa-bisa nya dia membuat ulah." gerutu Senja sembari menatap tajam ke arah Prof Philip.


Tidak hanya Senja bahkan seluruh siswa di lapangan pun melakukan hal yang sama. Dengan santai Prof Philip mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Ia kemudian menghentikan suara nyaring itu dan segera menaiki podium.


"Saya melakukan ini untuk menguji kalian. Saya ingin melihat berapa lama kalian bisa bertahan dalam situasi seperti itu." seru Prof Philip.


"Ujian praktek kali ini ada tiga, kalian bisa melihatnya disini." lanjut Prof Philip sembari menyebarkan selembaran aneh ke 15 siswa yang akan mengikuti ujian.


Di dalam selembaran itu terdapat tiga jenis ujian praktek. Disana juga tertera dengan jelas waktu pelaksanaan ujian tersebut.


"Sekarang ambilah nomor antrian dan kalian bisa memulainya tepat saat jarum jam menunjukkan angka 12."


Mendengar pemberitahuan tersebut membuat para siswa segera mengantri untuk mengambil nomor antrian. Mereka tidak ingin hal aneh terjadi lagi jika mereka berlama-lama disana.


Setelah mendapatkan nomor antrian dan waktu sudah menunjukkan jam 12 tepat. Segera Prof Philip mengundi siswa pertama yang akan tampil.


Undian tersebut diambil secara acak agar siswa yang mendapatkan nomor pertama tidak merasa dicurangi. Hal ini benar-benar tergantung pada keberuntungan mereka.


"Hmm, ah, dapat. Nomor berapa ini." seru Prof Philip dengan nada main-main.


"Satu, dua, tiga. Nomor 6." teriak Prof Philip yang membuat wajah siswa selain nomor enam merasa lega.


Jujur saja tidak ada yang suka dengan humor aneh Prof Philip. Setiap siswa sangat membenci humor garing tersebut hanya saja mereka tidak bisa melewatkannya karena Prof Philip adalah salah satu Prof hebat yang diakui baik dalam akademi mau pun kerajaan.


"Prof Philip paling senang menggoda siswanya tapi ia bukan prof killer yang banyak ditakuti para siswa. Hanya saja caranya dalam bertindak cukup tegas." gumam Senja yang merasa kasihan dengan siswa bernomor enam itu.


Tentu saja meski pun hanya 15 siswa yang dapat mengikuti sesi ujian di kelasnya tapi ia sama sekali tidak pelit nilai. Prof Philip juga akan mengevaluasi ulang 10 siswa yang ia keluarkan sebelumnya.


"Yah, meski pun nilai yang diberikan tidak lebih dari D tapi setidaknya mereka tidak kembali dengan tangan kosong."


Hal ini sangat berbanding terbalik dengan profesor lainnya yang bahkan tidak akan memberikan nilai apa pun jika siswa nya gagal dalam ujian. Mereka cenderung akan memberikan nilai F untuk membuat mental siswanya turun.


Meski pun untuk lulus ujian mereka harus mendapatkan nilai A dengan point sempurna yaitu 15. Namun bukankah lebih baik mendapatkan nilai rendah dari pada tidak sama sekali.


"Mari kita menunggu giliran," gumam Senja sembari menunggu waktunya.


****


Lima belas menit sudah berlalu, dan kini tinggal lima siswa lagi yang belum mengikuti ujian termasuk Senja. Mereka sangat yakin akan lulus ujian praktik pertama karena lawan yang dihadapi begitu mudah.


"Menghabisi target yang bergerak selama satu menit. Maksimal target yang harus dihabisi adalah 50 dan minimal adalah 25."


Senja membaca aturan main pada ujian praktek pertama. Ujian ini terbilang mudah karena target yang harus dihancurkan adalah lempengan besi yang terbang ke segala arah.


Para siswa hanya perlu menembak sasaran sesuai dengan jumlah minimum untuk bisa lulus ujian praktek tahap pertama ini. Sedangkan tahap kedua, mereka diminta untuk menghabisi goblin selama dua menit.


Dan untuk tahap ketiga mereka diminta untuk menghabisi slime selama lima menit. Terlihat agak aneh saat melihat perbandingan waktu antara goblin dan slime.


Nyatanya slime adalah monster terlemah yang bahkan tidak membutuhkan waktu satu menit untuk membunuhnya.


"Apa pun itu, aku harus tetap waspada." gumam Senja sebelum berdiri menuju podium.


Saat ini adalah giliran Senja untuk tampil setelah menunggu selama 18 menit. Ketika sudah berada di panggung, Senja di persilahkan untuk memilih level yang diinginkannya.


Tentu saja Senja memilih level standar yang biasanya dipilih oleh siswa lain. Tanpa ragu Senja sudah menyiapkan ancang-ancang sebelum tulisan start berubah menjadi hijau.


"Sudah siap?" tanya Prof Philip.

__ADS_1


"Sudah," balas Senja dan sedetik kemudian sinyal alarm berbunyi dan tanda start sudah berubah menjadi hijau.


Seketika area podium di penuhi oleh berbagai target yang berbeda. Itu sedikit lebih unik dari target siswa lainnya. Melihat hal ini membuat dahi Senja berkenyit tidak suka.


"Aku yakin tadi sudah memilih level standar, tapi apa ini?"


Senja memaki ketidakberuntungannya saat melihat wajah nakal Prof Philip. Senja yakin bahwa ini adalah ulah Prof Philip untuk mengujinya.


Dengan kesal Senja menyerang target-target itu satu persatu. Meski ia sudah menahan kekuatannya namun level enam dibandingkan dengan level empat dan lima cukup jauh berbeda.


Target yang dihabisi Senja terus meningkat setiap detiknya, hingga hanya dalam lima belas detik ia sudah membunuh 25 target. Menyadari kesalahannya, Senja mulai menurunkan frekuensi kecepatannya dalam membunuh target.


Beruntungnya hal itu berhasil mengalihkan perhatian para siswa dan penonton. Dalam sisa waktunya Senja berhasil menghabisi 21 target lainnya. Sehingga total target yang dihabiskan Senja selama satu menit adalah 46 target.


"Meski pun itu bukan nilai target maksimum tapi dia telah berhasil memecahkan rekor dengan membunuh target lebih banyak dari pada siswa lainnya." batin Prof Philip.


"Lagi pula aku sudah menduganya sejak awal, tidak hanya aku bahkan seluruh pengajar di sekolah ini sudah menyadarinya sejak hari itu." lanjut Prof Philip sembari mengingat kejadian 10 bulan yang lalu saat Senja pertama kali membuat gedung aula sihir terbakar.


Senja merasa lega sekaligus bingung karena setelah hologram di nonaktifkan, seluruh penonton malah bersorak senang padanya. Mereka terlihat ragu dan penasaran saat melihat hasil ujian Senja.


Meski begitu Senja mengabaikan tatapan tanda tanya mereka dan memilih untuk kembali ke kurusnya. Ia kemudian melihat siswa lain di panggil untuk pengujian.


Sudah 45 menit berlalu sejak tahap pertama dimulai. Dan kini Senja serta siswa lainnya tengah menunggu waktu untuk tahap kedua.


Tahap kedua akan dimulai sepuluh menit kemudian saat jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Senja yang lelah pergi menghampiri Amir untuk meminta minuman.


"Hebat sekali, kau berhasil memecahkan rekor." seru Amir sembari mengerikan botol minuman.


"Rekor?" tanya Senja tidak paham.


"Iya rekor, apa kau tidak tahu bahwa belum pernah ada seorang pun yang berhasil menghabisi target sebanyak dirimu."


"Apa iya? Bagaimana dengan para senior?"


"Uhm, setahu ku pernah ada seorang senior yang berhasil mendapatkan jumlah target tertinggi dan dia berhasil mempertahankan nilai itu selama sepuluh tahun, tapi sekarang rekor itu sudah kau kalahkan."


Mendengar perkataan Amir membuat mulut Senja berbusa. Ia tanpa sadar memuntahkan kembali minumannya yang sudah hampir habis.


"Ya ampun Senja hati-hati." seru Amir kaget saat melihat mulut Senja yang sudah banjir dengan air.


Amir kemudian mengelap bibir Senja dengan sapu tangannya. Ia juga menyeka air yang tumpah di tangan dan pakaian Senja.


"Ugh, terima kasih." lirih Senja sambil memeras pakaiannya yang basah.


"Tidak perlu, Drain."


Amir menggunakan sihir anginnya untuk mengeringkan pakaian Senja. Tentu saja hal itu tidak luput dari pandangan ketiga sahabat Senja yang sejak awal melihat mereka dari kerumunan penonton.


"Siapa dia?" tanya Luna bingung.


"Entahlah, Senja tidak pernah mengatakan apa pun." balas Muna curiga.


"Dia Amir, teman sekelas Senja." sahut Maya santai.


"Dia yatim piatu, jadi kurasa wajar saja jika mereka dekat." lanjutnya dengan tatapan acuh tak acuh.


"Dasar, bagaimana bisa begitu. Kita harus menanyakan detailnya nanti." timpal Luna tidak suka.


Jujur saja Luna tidak senang jika Senja yang notabenenya akan menjadi kakak iparnya kelak akan direbut oleh orang lain.


"Aku akan mengabari kakak."

__ADS_1


__ADS_2