Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Kutipan Senja


__ADS_3

"Tempat itu aneh dan penuh ancaman, aku tak akan lupa akan hari ini kelak. Takdir yang berubah adalah kunci kebenaran bagi kita."


*****************######****************


Ruangan itu tampak gelap dan kecil bahkan cahaya sinar mentari pun tak bisa menerobosnya. Disudut ruangan tampak seorang wanita yang sedang membolak - balikan kertas buku yang sudah tampak usang.


Wajah wanita itu tampak muram dengan kedutan di ruas ruang dahinya yang membuat alisnya tampak menyatu. Gigi nya saling bertaut sehingga membuat bunyi ngilu bagi siapa pun yang mendengarnya. Tangannya terkepal erat dan ia tampak begitu marah.


Wanita itu terlihat lelah dengan semua emosi yang ia rasakan. Kepalanya berdenyut pusing, tampak begitu mati. wanita itu berusaha untuk memijat dahinya agar lebih rileks.


"Senja." Wanita itu bergumam lirih. Bibirnya terasa keluh.


Wanita itu mencoba melihat ke sekeliling ruangan untuk memastikan apakah ini nyata atau palsu. Ia pun melangkah ke sebuah lukisan besar yang di ukir dengan cantik. Lukisan itu menampakkan wajah yang sangat familiar baginya.


Wajah itu begitu indah dan cantik, pakaiannya terlihat mewah dengan ornamen mutiara yang berkelap - kelip di sekitaran gaunnya. Warna gaun itu biru muda seperti laut yang seolah menampilkan sosok anggun yang seperti Dewi.


Perlahan wanita itu membuka kembali buku tua yang ia jumpai satu hari sebelumnya setelah ia masuk ke rumah itu. Buku itu memang terlihat tua dan kusut tapi di tempatkan di dalam ruangan rahasia yang hanya diketahui oleh sang pemilik kamar saja.


Kebetulan saat itu ketika ia hendak melarikan diri, ia tidak sengaja menjatuhkan lukisan tua. Dari balik lukisan tua itu, terbukalah pintu rahasia yang bisa terbilang gelap dan lembab.


Kembali ke dua hari sebelum wanita itu menemukan kamar rahasia. Kamar dimana ia mulai menuntun takdir yang terikat ini.


Pagi itu, disebuah kamar mewah seorang wanita muda tengah tertidur lelap. Wajahnya terlihat manis ketika tidur, bulu matanya panjang dan bentuk bibirnya pun terlihat indah. Ia tampak seperti putri tidur yang tengah menunggu kedatangan pangeran untuk membangunkannya.


Disudut kamar tersebut ada seorang gadis yang berpakaian seperti ksatria yang sedang duduk ditemani dengan seorang dokter sambil menikmati segelas teh dan berbicara ringan.


"Putri, kejadian ini tidak biasa seperti yang kita duga." Pria berpakaian dokter itu pun terlihat sedih sambil menatap sayu kearah wanita muda yang sedang tertidur lelap.


"Aku juga merasa demikian," sama seperti sang dokter, wanita muda yang di panggil putri itu pun terus menatap ke arah kasur.


"Kemana pelayannya saat itu? Mengapa ia pergi sendirian ke hutan?" lanjut sang putri kesal.


"Entahlah putri, saya juga tidak tahu mengenai hal itu. Tapi melihatnya seperti ini, saya rasa ia mencoba untuk bunuh diri setelah, hmm."


Dokter itu terdiam sesaat seolah sedang menimbang perkataanya. Ia sudah memiliki spekulasi awal, namun terlalu gegabah juga tidak baik.


"Maksudmu tentang pembatalan pertunangan itu?"


"Saya rasa begitu."


"Aku rasa tidak, meskipun ia putus asa dengan hal itu... Tapi seperti yang kita semua tahu, tidak lama lagi adalah hari itu."


"Kejadian ini pasti sudah direncanakan, aku tahu wanita itu memang jahat tapi ia tak pernah pergi jauh dari rumah dan pelayannya, lalu kenapa tidak ada kereta kuda di hutan?"


"Bagaimana ia bisa sampai ke hutan yang jauh dari ibu kota tanpa adanya kereta kuda? bahkan jika ia pergi kehutan naik kereta kuda dan menyuruhnya untuk pergi pasti mereka akan melaporkan kejadian ini kepada Duke bukan?"


Wanita muda itu terlihat semakin bingung, ia penasaran dengan motif dibalik ini semua.


"Meski aku tahu bahwa ia dibuang oleh Duke, tapi ini sungguh keterlaluan. Bagaimana pun juga, ia tetaplah putri tertua dan anak satu - satunya mendiang permaisuri."


Di kerajaan ini, siapa yang tidak tahu bahwa Senja adalah anak permaisuri dan merupakan putri sah pertama dari keluarga Duke Ari. Bukan rahasia umum lagi jika kematian permaisuri membuat Duke mengabaikan Senja.


"Namun membuang darah daging sendiri dan merencanakan pembunuhan sudah diluar akal sehat. Ini perlu diselidiki lebih lanjut."


"Aku tidak peduli jika ia mati atau tidak, karena itu juga bukan urusan ku. Namun hutan itu adalah wilayah ku, wilayah Marques Winter."


Teriak wanita muda tersebut dengan keras. Ia merasa terlibat dalam konspirasi besar dengan putri seorang Duke. Meski secara kasar ia sama sekali tidak terlibat di dalamnya.


"Aku mau hal ini di usut hingga ke akarnya, dan satu hal lagi perketat keamanan daerah ini. Mungkin saja mereka akan datang untuk memastikan mayatnya," Lanjut wanita muda itu sambil melihat kearah jendela kamar. Terlihat samar - samar bayangan seorang pria yang berpakaian serba hitam menghilang dengan cepat.


***


Bulan Point of View


"Ugh, sakit sekali."


Rasa sakit ini menghantam kuat kepala ku, seperti baru saja tertembak mati. Aku tahu jelas bahwa aku sedang berada di bawah air, dan kehabisan oksigen membuat sakit kepala yang nyeri.


Andai saja aku tidak begitu keras kepala, ah tidak lupakan saja. Semuanya sudah terjadi. Aku tidak bisa mundur begitu saja.


"Lagi pula ada apa ini? Kenapa begitu ribut? Kalian tidak tahu apa jika orang sakit butuh istirahat yang cukup"


"Siapa itu?" tanya ku kesal.


perlahan aku membuka mataku, dan seketika cahaya mentari langsung menyeruak masuk ke dalam retina mata ku. Hal ini membuat aku berkedip beberapa kali agar bisa menyesuaikannya, rasanya begitu aneh aku tak paham sama sekali.


Aku mendengar suara wanita muda dan pria tua samar - samar. Mereka seperti sedang membicarakan sesuatu hal yang penting. Ngomong - ngomong ranjang ini empuk sekali. Aku mencoba untuk melihat ke sekeliling tapi aku tidak melihat kak farel dan yang lainnya.

__ADS_1


"Sial, ini dimana?" Seketika aku melihat bayangan seorang pria yang menghilang dengan cepat, jantungku seketika berdetak dengan kencangnya.


"Apa yang barusan itu hantu atau aku sedang berhalusinasi?"


Aku lalu melihat wanita muda itu menatap ku, sedangkan si pria tua yang memakai setelan dokter datang ke ranjang dan memegang tanganku. Sontak aku kaget dan menarik tangan ku kembali darinya.


"Si, siapa kalian?" Aku melihat dokter itu berekspresi aneh dan kemudian berbalik arah untuk melihat gadis yang tengah mengisap teh di sudut meja.


"Apa anda baik - baik saja Nona? Ada yang sakit?"


Dokter itu bertanya setelah mendapatkan anggukan dari gadis misterius di sudut meja. Aku hanya bisa terdiam sambil menarik diri dari hadapannya.


"Dimana Kakak ku? Dan siapa kalian?"


Aku berusaha untuk menuruni kasur tapi tubuh ku tak siap yang akhirnya membuat ku jatuh ke lantai. Ku lihat wanita misterius itu melangkahkan kakinya ke ranjang sambil melihat ku dengan ekspresi bingung di wajahnya.


"Apa dia baik - baik saja?" tanya gadis itu sambil melihat ke arahku.


"Saya menduga ia mengalami benturan keras ketika jatuh dan itu membuatnya hilang ingatan," Jawab dokter itu dengan ekspresi wajah sedih.


"Hilang ingatan? Siapa? aku? Sakit kali ini dokternya. Ah tidak, apa ini jangan-jangan kejutan dari kak farel ya, tapi ini sama sekali tidak lucu."


Aku tidak sengaja berpapasan mata dengan wanita misterius itu. Ia menatap ku aneh dan kemudian menggendong ku ke atas ranjang dan menyuruh dokter itu untuk keluar. Setelahnya ia memanggil seorang pelayan dan menyuruhnya untuk menyiapkan kereta kuda.


Ini aneh sekali kenapa pelayan itu memakai baju maid sedangkan ini bukan abad pertengahan. Tidak hanya itu, bahkan pakaian gadis misterius ini pun terlihat kuno.


"Namaku Muna Winter, sekarang kau sedang berada di rumah ku," Jelas gadis itu, wajahnya tegas namun masih terlihat imut walau hanya sedikit.


"Na.., nama ku Bulan de Latri."


Seketika wajah Muna berubah dratis, ia terlihat kaget dan secara misterius memandang wajahku dengan alis yang terpaut.


"Sepertinya kau butuh istirahat untuk memulihkan dirimu Nona Ari."


Aku semakin bingung dengan ucapannya.


"Ari?" tanya ku. Muna dengan malas menghela napasnya lalu menceritakan seluruh kejadian bagaimana aku bisa sampai ke rumahnya dan bagaimana kondisiku saat ini.


Mendengar ucapannya itu membuat ku yakin bahwa memang ada yang aneh disini. Jika ini perbuatan kak farel, ia tak akan mungkin bisa melakukan semua ini dengan suasana yang begitu nyata.


"Apa kau memang berencana untuk bunuh diri? Jika iya maka menjauh lah dari wilayah ku."


"Dengar ya Nona Winter, aku sama sekali tidak ada niatan untuk mati, lagi pula aku ini sama sekali tidak hilang ingatan."


Muna melihat ku dengan tajam dan pergi meninggalkan kamar itu dan menyisakan aku sendirian di dalamnya.


Penasaran dengan apa yang terjadi aku pun memutuskan untuk keluar dan mengeceknya sendiri. Hal pertama yang aku jumpai cukup membuatku syok berat. Aku melihat hal aneh di sepenjang koridor menuju taman.


Di taman aku melihat beberapa pelayan yang sedang menyirami tanaman dengan menggoyangkan sebuah tongkat kecil, ada juga pelayan lain yang menggerakkan tangan mereka untuk mengarahkan angin, ini sungguh membuatku jantungan.


"Rupa kau disini."


Aku melihat Muna dengan dua pelayan di sampingnya. Muna lalu menarik ku kembali kamarnya dan memberiku pakaian.


"Lain kali kau tidak boleh keluar kamar dengan pakaian seperti itu, sangat memalukan."


Aku melihat pakaian yang sedang aku kenakan ini. Jelas sekali ini bukan pakaian yang aneh, ini adalah baju yang biasa aku kenakan untuk berbelanja dengan mama ke pasar.


"Pakailah gaun ini dan turun ke bawah. Aku akan mengantarmu pulang."


Muna kemudian segara turun dan lagi-lagi meninggalkan ku sendirian bersama dengan dua pelayan yang ia bawa tadi.


Setelah berpakaian yang cukup lama akhirnya aku pun selesai. Pakaian ini terlihat sederhana namun tetap anggun, walau begitu memakainya saja sudah cukup membuat ku pusing belum lagi hiasan rambutnya.


Aku sudah tidak tahan untuk kembali pulang dan menikmati kehidupan santai ku. Aku pun turun ke lantai satu dan melihat muna sedang berbincang ringan dengan para prajurit. Ia lalu menatapku sambil menyuruh para prajurit itu untuk pergi dengan menggoyangkan tangannya.


"Naiklah."


Kereta kuda itu sangatlah mewah, ada hiasan burung hantu terukir di dinding kereta dengan sulaman emas di pinggirannya. Kuda itu berjalan cukup kencang namun tidak membuat penumpangnya merasa pusing atau mual.


Jalannya juga mulus dan baik, kereta ini memang sangat hebat. Rasanya seperti naik mobil saja. Tidak lama kemudian kereta kuda ini sampai ke sebuah mansion mewah yang sangat besar.


Mansion itu memiliki lambang burung elang dengan lingkaran seperti pedang tak lupa pula warna emas yang menyertainya.


Muna membawa ku masuk ke dalam dan semua orang yang berada disana terlihat aneh, mereka memandangku tidak suka. Mereka bahkan mencibir ku di sepanjang jalan menuju ruang utama.


"Dimana tuan Duke? Aku ada perlu dengannya."

__ADS_1


Muna bertanya pada seorang pelayan dan menyuruhnya untuk menunggu di ruang tamu. Tidak lama kemudian datanglah seorang pria tampan paruh baya dengan dua istrinya dan juga tiga anak perempuan dan satu anak laki - laki.


"Ada perlu apa Nona Winter sampai datang ke kediaman ku ini?" tanya pria itu. Wajahnya memang keren namun auranya sangat mendominasi.


"Aku datang untuk memberitahu mu sesuatu."


Muna berkata tanpa ragu dan menceritakan semua yang terjadi. Ketika Muna sedang bercerita aku melihat para istri dari pria itu menatapku tidak senang. Ketiga anak perempuan mereka juga yang melihat ku penuh dendam.


Namun ada yang aneh, salah seorang dari ketiga gadis itu terlihat pucat pasi. Ekspresinya takut seperti sedang melihat hantu saja. Sedangkan anak laki - laki itu langsung pergi setelah melihatku. Ia seperti tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi di tempat ini.


"Jadi begitu. Maafkan aku karna tidak bisa mencegahnya, mungkin saja ia masih trauma dengan pembatalan pertunangan."


Seketika aku langsung kaget mendengar pria itu berkata tentang pembatalan pertunangan. Namun Muna terlihat tidak senang. Ia berkata bahwa ini adakah kasus pembunuhan dan ia akan menyelidikinya sampai tuntas.


"Non..., Nona Winter mengapa kau bersusah payah untuk menyelidikinya, serahkan saja masalah ini pada kami." Salah seorang istri dari pria itu menjawab ketidaksenangannya.


"Itu benar Nona Winter, biarkan aku yang mengurusnya." Pria itu lalu menatap ku sambil berkata.


"Jika kau benar hilang ingatan maka kau harus istirahat di kediaman mu, Dina cepat bawa Senja ke kediamannya."


Salah seorang pelayan pun datang dan membawaku ke arah selatan rumah utama menuju sebuah bangunan mewah dengan dua lantai.


"Nona kau bisa masuk sendiri kan?"


Pelayan itu mengejek ku dengan wajah tak suka, aku hanya diam dan masuk ke dalam bangunan itu.


"Rumah ini sangatlah sepi hanya ada beberapa pelayan yang berlalu lalang didalamnya."


***


Ketika aku sedang istirahat datanglah ketiga gadis yang tadi kulihat di rumah utama, ketiga gadis itu menatapku tidak suka.


"Kenapa kau tidak mati saja," seru salah satu dari mereka.


" Apa kau masih tidak rela juga dengan pembatalan pertunangan itu huh, jangan harap pangeran kelima akan datang untuk mencari mu dasar gadis tidak berguna."


Keduanya datang hanya untuk mengatakan omong kosong lalu pergi meninggalkan seorang gadis yang sedari tadi melihatku dengan wajah pucat nya.


"Aku tidak tahu kau pakai jimat apa, Arina dan Bella sudah pergi." Wanita itu diam sesaat sebelum lanjut berbicara lagi.


"Cepat katakan padaku bagaimana kau bisa hidup setelah meminum racun itu?"


Dia menatap ku tajam dan berharap bahwa dengan tatapan itu aku bisa mati dengan cepat.


"Memangnya mata mu itu laser apa?" ejek ku malas.


Kemudian aku kembali memandang wanita itu dengan sudut mata ku.


"Oh jadi nama mereka berdua itu Arina dan Bella, kalau begitu kau itu pasti Sarah,"


Beberapa saat kemudian, seorang pelayan datang menghampiri ku, wajahnya tidak jauh berbeda dari Sarah.


Aku mengetahui dari Muna beberapa hal tentang keluarga ini ketika kami dalam perjalanan menuju ke kediaman Duke Ari.


Aku yang merasa bosan membiarkan semua ini dan memutuskan untuk masuk ke dalam rumah membiarkan Sarah sendirian di luar. Sarah terlihat marah dan kesal lalu memukul pelayan itu dengan kencang, aku yang melihatnya di jendela lantai dua pun hanya bisa diam.


"Kasihan sekali dia."


Aku memutuskan untuk masuk kedalam kamar dan menguncinya. Aku berpikir untuk keluar dari tempat ini, semuanya sudah tidak waras.


Ketika aku pertama kali masuk ke rumah itu aku melihat begitu banyak lukisan wajah yang mirip dengan ku. Perlahan aku mengingat tentang gadis yang aku lihat di danau sebelum akhirnya aku membuka mata di tempat ini.


Ketika aku sedang berusaha mencari jalan keluar aku secara tidak sengaja menemukan ruangan rahasia, di dalam ruangan itu hanya terdapat satu buah kasur dan meja belajar yang diatasnya ada sebuah buku tulis yang kelihatan sudah tua dan usang.


Aku pun penasaran dan mulai membaca buku tua itu. Lama aku membaca akhirnya aku mengetahui bahwa gadis yang aku lihat di danau itu bernama Senja De Ari putri pertama Duke Ari dengan permaisuri Mawar.


Putri sah di kediaman ini, dan pantas saja begitu banyak dendam padanya. Aku pun sadar bahwa sekarang aku sedang bertukar posisi dengan dirinya.


"Tapi bagaimana bisa?"


Ini terlalu rumit untuk dijelaskan, apakah takdir sedang bergurau denganku ataukah takdir ingin agar aku membalaskan dendamnya.


Aku sama sekali tidak tahu apa yang di inginkan oleh sang takdir, tapi jika sudah seperti ini maka aku akan menjalaninya. Mungkin..., mungkin saja dengan aku mengetahui kebenarannya, aku dapat kembali pulang.


***


Author Point Of View

__ADS_1


Sejak hari dimana Bulan mengetahui segala hal tentang dunia ini. Ia sudah memutuskan untuk membalaskan dendam Senja kepada mereka yang telah membuatnya sampai seperti ini.


Bulan diam - diam mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di kediaman itu sampai rumor aneh yang beredar tentang dirinya. Kini Bulan akan menyamar sebagai Senja dan berharap dengan ini dia bisa kembali pulang kerumahnya.


__ADS_2