Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Wajah Baru


__ADS_3

"Sekuat apa pun seseorang bersembunyi, ia pasti akan ditemukan juga."


*****************#####*****************


"Tuan, semua persiapan sudah selesai."


Ariel masuk dan menyerahkan sebuah dokumen yang sudah mereka kumpulkan beberapa saat sebelumnya.


"Itu bagus, mari kita pergi."


Lucas dengan tenang mengambil dokumen tersebut. Ia dan kedua bawahannya kemudian pergi meninggalkan bar bersamaan dengan kembalinya wujud Lucas seperti semula. Lucas sempat melirik sekilas ke arah hilangnya pria cantik tersebut namun ia segera membalikkan tubuhnya dan pergi.


Senyum hangat tidak pupus dari wajah Lucas sejak kepergiannya dari bar tersebut. Ia merasa cukup tertarik dengan pria cantik itu. Pria yang bertubuh kecil dengan wajah polos layaknya seorang tuan muda lugu.


Ariel dan Jack yang melihat tuannya terus tersenyum menjadi sedikit khawatir. Mereka belum pernah melihat tuannya seperti itu selama hidup mereka bersama. Yah mereka pernah melihat tuannya tersenyum hangat namun itu hanya untuk satu orang gadis saja.


Gadis yang berani membantah tuannya dengan kasar bahkan pelayan gadis itu sangat berani menentang tuannya yang merupakan putra mahkota. Mereka benar-benar tidak mengerti siapa yang baru saja di temui tuannya itu namun satu yang pasti, saat ini tuannya terlihat begitu gila.


"Aku rasa kita harus menjaga jarak dari tuan untuk beberapa saat," bisik Jack pada Ariel yang di jawab anggukan kepala olehnya. Mereka sepakat untuk tidak mengganggu mood tuannya itu.


Malamnya Lucas dan ke empat bawahannya tersebut kemudian pergi menuju hutan. Mereka sudah mengetahui lokasi asli dari para budak yang di tahan. Dengan pengetahuan Jack dan Ariel, mereka berlima pun berpisah di dua sisi yang berbeda.


Nike dan Jack bertugas untuk menyelamatkan para budak sedangkan Lucas dan Ariel serta Billy bertugas menjaga area luar dari para ksatria. Setelah mendapatkan aba-aba dari Lucas, mereka pun melakukan aksinya.


Semuanya berjalan cukup sulit, para budak yang sudah terhipnotis sulit sekali untuk di kontrol. Mereka seperti mayat hidup yang hanya berdiri tenang di dalam sangkar dan tidak bergerak sejengkal pun meski pintunya sudah terbuka.


Jack dan Nike yang bertugas dalam evakuasi menjadi kesulitan. Mereka bingung harus berbuat apa, tidak ada yang bisa mereka lakukan karena para budak hanya menatap kosong pada mereka.


Jack yang sudah kehabisan akal lalu menghubungi Lucas. Jelas sekali mereka bahkan tidak tahu jika ilusi juga bisa membuat seseorang menjadi mayat hidup seperti itu. Lucas kemudian memberikan perintah untuk langsung menteleportasikan para budak langsung dari sangkarnya.


"Tuan, saya rasa itu sulit. Para penyihir sudah memasang perisai yang mencegah seseorang untuk berteleportasi dari dalam," jelas Nike setelah memeriksa area dinding dalam markas.


"Sial," Lucas tampak begitu frustasi. Ia tidak memiliki ide lain selain itu.


Sebenarnya Lucas ingin menyelesaikan misi ini dengan tenang tanpa harus membuang tenaga namun apa yang terjadi sangat jauh berbeda. Ia berpikir jika para budak sama seperti budak yang telah ia selamatkan dari Kerajaan Guira namun sayangnya itu salah.


Mungkin saja para penyihir sudah mengantisipasi hal tersebut sehingga mereka melakukan ilusi terhadap para budaknya.


"Nike, sembunyilah bersama Jack dengan tenang di sana. Aku dan Ariel serta Billy akan mengeluarkan para ksatria dan penyihir dari dalam sana."


Setelah perintah itu keluar, Nike yang belum sempat memberi saran sudah di kejutkan dengan benturan hebat dari luar markas. Jack yang bingung hendak keluar untuk melihat situasi namun dihentikan oleh Nike saat suara langkah para ksatria tepat di belakang mereka.


"Tuan memerintahkan kita untuk bersembunyi. Jadi tenanglah," lirih Nike sambil mengeluarkan sihir tembus pandangnya. Jack yang mengetahui maksud Nike segera bersembunyi di sampingnya dengan bantuan sihir yang sama.

__ADS_1


Disisi lain Lucas dan kedua bawahannya segera berhadapan dengan beberapa penyihir hitam yang menyerang mereka dari berbagai sisi. Para penyihir menggunakan mana mati untuk mengeluarkan energi dalam mereka.


Mana itu mengeluarkan asap hitam yang pekat di tengah malam yang sunyi. Asap tersebut dengan tenang merenggut nyawa siapa pun yang masuk ke dalamnya. Beberapa dari tumbuhan di sekitar mereka mulai mati dan hancur.


Lucas yang tahu akan bahaya itu, segera mundur untuk mengambil langkah besar. Ia mengeluarkan pedang aura untuk menghancurkan asap tersebut. Hal yang sama juga dilakukan oleh kedua bawahannya yang lain.


Para ksatria juga tidak mau kalah, mereka terus menyerang Billy tanpa ampun. Tapi tentu saja kemampuan keduanya jelas berbeda. Billy dengan mudah dapat menyingkirkan para ksatria yang mencoba untuk menyerangnya.


Panah asap hitam terus menyerang bagian sisi Lucas. Mereka disudutkan untuk mundur jauh kebelakang. Lucas dengan sigap menyerang panah asap tersebut dengan pedangnya.


Terlihat jelas pertarungan dikuasai oleh pihak Lucas namun musuh yang banyak juga tidak mau kalah. Mereka kini berkumpul mengerubungi Lucas. Serangan tidak hanya dari penyihir hitam, bahkan penyihir lain pun ikut menyerangnya.


Tombak es serta panah asap terus menerjang area tersebut. Lucas sengaja membuat atap markas musuh hancur untuk memudahkan Nike dan Jack memindahkan para budak. Setelah di rasa cukup, Lucas dan kedua bawahannya segera mundur untuk membawa musuh mereka menjauh dari sana.


Hal itu dilakukannya agar proses pemindahan menjadi lancar tanpa adanya gangguan lain. Sayangnya arah tujuan Lucas malah mengarahkannya pada danau kesucian. Danau yang dianggap paling suci oleh warga setempat.


Di danau itu kini tengah di lakukan proses penyembahan di mana beberapa budak yang sebelumnya di bawa akan dimasukan ke dalam danau. Lucas yang melihat hal tersebut tanpa ragu menyerang beberapa penyihir yang sedang melakukan ritual.


Kali ini tidak ada Lich di sana, hal ini karena ritual itu hanyalah ritual untuk menambahkan mana mati bukan untuk menggantikan tubuh Lich baru. Sehingga ritual hanya dilakukan oleh beberapa anak buahnya saja.


Kedatangan Lucas berhasil membuat area tersebut kacau. Para budak yang hendak dimasukan ke dalam danau kini hanya berdiri tegak tepat di bibir danau. Ritual gagal dan mereka harus berurusan dengan berandalan yang saat ini tengah tersenyum aneh.


Penyihir yang kesal mulai menyerang Lucas dengan panah apinya. Tapi hal itu tidak membuat Lucas takut, ia dengan tenang merobek panah tersebut dengan pedang aura miliknya. Pedang itu sangat kuat terlebih lagi sudah dibaluri oleh aura yang tajam dari pemiliknya.


Di tempat sebelumnya Nike dan Jack sudah berhasil menteleportasikan para budak yang jumlahnya lebih dari 500 orang tersebut. Meski kini mana milik mereka berkurang namun itu sepadan dengan apa yang sudah mereka lakukan.


Jack dan Nike lalu pergi menyusul Lucas yang masih bertarung dengan para penyihir. Di perjalanan mereka bisa melihat banyak musuh yang sudah mati tidak berdaya. Mereka mati bukan hanya karena serangan dari pihak Lucas melainkan juga dari sekutu mereka sendiri.


Beberapa mayat bahkan hanya menyisakan tulang kering saja. Hal itu karena jiwa mereka dihisap saat mereka sedang sekarat. Menyakitkan memang prosesnya namun dengan itu para penyihir hitam bisa bertambah kuat.


Mereka merenggut nyawa yang sekarat untuk menambahkan energi mana mati yang sebelumnya sudah terkuras habis. Mereka tidak bisa sembarangan menggunakan mana mati yang ada di danau karena itu milik tuan mereka yaitu Lich.


"Tuan, semuanya sudah berhasil di evakuasi," bisik Jack saat posisinya sudah mendekati Lucas.


"Itu, bagus. Kita bisa pergi...."


Perkataan Lucas terhenti saat ia melihat kubah besar yang menutupi area danau tersebut.


Kubah itu cukup besar namun juga terlihat transparan. Selain itu, Lucas juga merasakan gelangnya berbunyi dengan nada gemerincing yang kuat. Wajah Lucas terlihat panik sekaligus kesal.


Lucas sama sekali tidak menyangka kehadiran kekasihnya itu. Jika ia dan bawahannya segera pergi maka kekasihnya akan dalam bahaya yang besar nantinya.


"Jadi ini permainan mu, sayang," batin Lucas dengan senyum anehnya.

__ADS_1


"Kita akan habisi mereka malam ini."


Lucas lalu pergi meninggalkan bawahannya untuk bertarung kembali. Tidak ada yang tahu maksud dari tuannya tersebut namun yang jelas bahwa yang membuat kubah ini bukankah musuh melainkan sekutu.


Mereka berpikir jika yang di temui tuannya di bar saat itu adalah pemilik dari kubah besar ini. Setelah kubah naik menjulang ke atas, beberapa penyihir sempat berhasil kabur meski kebanyakan dari mereka harus kembali lagi dengan kecewa.


Selain itu, muncul benang-benang halus yang mulai terajut di atas air danau. Benang itu membentuk jaring laba-laba yang besar dan saling bertaut satu sama lain.


Musuh yang melihat hal itu pun menjadi panik namun pihak Lucas merasa bahwa apa yang ingin dilakukan oleh sekutu mereka adalah untuk menghancurkan danau tersebut.


"Ini akan bagus karena kita tidak perlu lagi bersusah payah seperti tadi," seru Ariel sambil memblokir serangan para ksatria.


"Aku tidak setuju dengan itu, meski danau ini dihancurkan pasti akan muncul lagi yang baru juga," balas Nike.


"Kita tunggu saja hasilnya bagaimana, tapi yang jelas sebelum danau itu hancur kita sudah harus pergi dari tempat ini," lanjut Billy tegas.


Sudah hampir tiga jam mereka bertarung di dalam sana. Benang mulai merajut dengan sempurna meski kini perjalanannya mulai melambat namun itu tidak membuatnya putus dengan mudah. Sayangnya waktu tiga jam itu harus berakhir dengan telak saat kubah mulai terguncang hebat.


Guncangan itu berhasil membuat beberapa retakan di area dinding kubah. Awalnya itu hanyalah retakan biasa namun lama kelamaan retakan itu menjadi besar dan memecahkan beberapa dinding kubah sehingga Lich yang berada di area luar bisa masuk ke dalam.


Lich itu masuk dengan begitu cepat, yang bisa mereka lihat hanyalah bayangan biru tua yang melesat dengan kecepatan tinggi menuju satu arah. Selain itu, terdapat pedang api di sekitaran cahaya biru yang melesat tersebut.


Siapa pun yang melihat hal tersebut akan berpikir jika pemandangan ini sangat menakutkan sekaligus indah. Terlebih lagi dengan pemandangan langit malam yang gelap menambahkan kesan kejam pada bayangan itu.


Lucas yang menyadari tujuan Lich mulai beralih dari pertarungannya. Ia dengan cepat berlari ke arah Lich tersebut seperti orang kesetanan. Lucas tahu jika ia tidak bergegas cepat maka hal paling buruk dalam hidupnya akan terulang kembali.


Di area itu ada kekasihnya yang sedang bertahan untuk membuat mantra penghancuran. Mantra itu sudah mulai aktif namun masih harus di kendalikan agar penghancurannya bisa di kontrol dan karena itulah si pembuat mantra tidak boleh melepaskan sihirnya.


"Persetan dengan danau sialan itu," maki Lucas saat Lich mulai mendekati kekasihnya. Tanpa pikir panjang, Lucas mendorong kekasihnya dengan keras dan menggantikan posisinya.


Pedang api yang membara tertusuk jauh ke dalam tulangnya. Ia sempat berpikir jika saja tempat itu bukan tangannya, andai saja tempat itu masih milik kekasihnya maka saat ini mungkin saja itu adalah akhir dari dunianya.


Melihat kekasihnya mendarat di pelukan orang yang tepat, dengan santainya Lucas tersenyum hangat pada gadis cantik itu sambil berkata, "Aku senang kau baik-baik saja."


Gadis itu terlihat bingung dengan perkataan Lucas, mungkin karena darah yang terus keluar dari tubuhnya sehingga membuat penglihatan gadis itu menjadi kabur. Di sisa teleportasinya, gadis itu sempat melirik tajam ke arah tangan Lucas dengan ekspresi wajah sedih sekaligus takut.


Sebelum ia benar-benar menghilang, Lucas yang masih memandang lembut ke arah gadis itu berkata, "Sampai bertemu kembali di pesta dansa." Gadis yang semula berekspresi takut kini menjadi bingung.


Ia hendak membalas perkataan Lucas namun sayang perkataan itu hanya sampai di tenggorokannya saja karena ia sudah menutup kedua matanya.


Dengan aura yang membumbung tinggi di sekitar tubuhnya. Lucas dengan tenang menatap Lich yang saat ini berwajah kaku. Lich itu tampak terkejut dengan posisi musuh yang berubah begitu cepat. Ia dapat melihat pedangnya menusuk tangan seorang pria bukannya jantung gadis muda.


Lich yang kesal mulai menarik pedangnya namun sayangnya, pedang itu hancur sebelum ia sempat mengeluarkannya. Lucas dengan nakal tersenyum pada Lich tersebut. Senyum yang bahkan lebih menyeramkan dari pada monster itu sendiri.

__ADS_1


Meski Lich menutupi rasa takutnya namun Lucas dengan jelas dapat melihatnya dari kedua bola mata Lich yang bergetar dengan hebat.


"Saatnya untuk bermain,"


__ADS_2