
"Kematian pasti akan mendatangi siapa pun namun tidak ada seorang pun yang menginginkan mati sia-sia."
******************#####****************
"Sial," pekik Senja panik.
"Apa sebenernya ini?"
Senja tampak bingung dengan situasi yang ada di hadapannya itu. Wajahnya memerah karena kesal dan matanya menyipit dengan tajam. Ia merasa bahwa apa yang terjadi saat ini sungguh di luar imajinasinya.
"Mereka sudah gila!" maki Senja saat para ksatria membiarkan anak-anak tersebut berjalan terus ke dalam danau.
"Apakah mereka tumbal untuk membuat mana mati? Tapi mengapa tidak ada perlawanan?" batin Senja panik. Ia mulai terlihat bingung saat mana mati mulai mencapai betis kaki anak-anak itu.
Terlihat begitu jelas jika kaki anak-anak itu mulai menghitam. Selain itu, semakin lama mereka disana semakin membesar pula area hitamnya dan kini area hitam itu mulai menjalar menuju wajah mereka. Tidak ada teriakan, tidak ada tangisan dan bahkan tidak ada percobaan untuk lari.
Mereka kaku dan diam seperti boneka mati. Mata mereka dalam namun tidak terlihat nyawa di sana. Tidak ada harapan atau pun upaya untuk hidup. Semuanya mati, seolah-olah mereka memang sudah lama meninggalkan tubuh kosong itu.
Entah mengapa rasanya begitu sesak bagi Senja setiap kali ia melihat urat hitam yang membumbung tinggi di setiap kulit anak-anak tersebut. Tanpa terasa air mata mulai lolos dari kelopak mata Senja. Wajahnya sedih dengan tangisan pilu yang bahkan ia tidak tahu penyebabnya.
"Sesak," batin Senja sambil memegang dadanya yang sakit.
"Aku, aku tidak bisa," lanjutnya dengan air mata yang sudah tidak terbendung lagi. Rasanya kacau dan berantakan, ia ingin lari dan menyelamatkan anak-anak itu namun tubuhnya kaku. Ia sama sekali tidak bisa bergerak bahkan selangkah pun.
"Tubuh sialan ini!" maki Senja pada dirinya sendiri. Ia terlihat begitu frustasi dengan kerutan tajam di wajahnya. Kini Senja terlihat begitu menyedihkan bahkan Ristia sudah lama pingsan karena efek dari mana mati tersebut.
DUBM!
Tubuh Senja menegang seketika disaat yang bersamaan dengan bunyi drum dari arah danau tersebut. Perlahan Senja memantapkan hatinya untuk melihat apa yang baru saja terjadi disana.
Suara drum semakin lama semakin kuat. Beberapa di antara mereka bahkan berbunyi dengan tempo yang cepat dibandingkan dengan yang lain. Anak-anak yang semula terus berjalan kini berhenti tepat ketika air danau sudah mencapai pinggang mereka.
Terlihat begitu jelas jika anak-anak tersebut terus mengeluarkan noda hitam di seluruh tubuhnya. Aura mereka kini bahkan tidak terlihat, hanya ada gumpalan awan hitam yang mengelilingi mereka tanpa henti.
"Sial, sekarang apa lagi?" bentak Senja saat anak yang sedang terbang di atas danau menghentikan alunan musik drum tersebut.
Anak itu tampak begitu santai, ia dengan malasnya mengangkat kedua tangannya dan menciptakan badai kecil di sekitaran danau.
"Apa itu?"
Tubuhnya seketika menggigil hebat saat ia tanpa sengaja melihat senyum licik mengembang di balik bibir anak tersebut.
"Dia bukan manusia," lanjut Senja saat anak itu membuat beberapa anak dibawahnya terhanyut oleh gelombang air danau.
__ADS_1
Ketika air danau mulai menghanyutkan para anak yang ada di bawahnya. Anehnya, anak yang sedang terbang di atas danau terlihat begitu menikmati apa yang terjadi dengan rekannya. Ia terlihat puas ketika mana mati mulai mengalir keluar dari tubuh anak-anak tersebut.
Senja yang kaget hanya bisa menyaksikan hal tersebut dengan mulut terbuka. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Selain itu, keadaan saat ini sungguh di luar bayangannya. Ia tidak pernah berpikir jika seorang anak mampu melakukan hal gila seperti itu.
Setelah anak-anak di bawah danau tersapu habis oleh gelombang tersebut. Anak yang berada di atasnya lalu menceburkan dirinya ke dalam danau dengan ekspresi bahagia.
"Gila, ini gila!"
Senja tidak bisa mengedipkan matanya barang sedetik pun, sebab apa yang terjadi saat ini adalah hal yang paling gila selama ia berada di tempat aneh ini.
Beberapa saat kemudian, Senja yang masih dalam keadaan syok melihat segumpalan awan hitam keluar dari tengah danau, di tempat anak itu sebelumnya terjun.
Gumpalan itu keluar dengan cahaya biru tua yang membalutnya. Mata Senja terbuka semakin lebar saat gumpalan hitam itu sudah berada di puncaknya.
"Lich!" teriak Senja dalam diamnya.
Baru kali ini Senja melihat Lich secara langsung, biasanya ia hanya mendengarnya dari Prof pengajar atau pun buku-buku perpustakaan saja.
"Jadi anak kecil yang sebelumnya itu, Lich?"
Wajah Senja kini dipenuhi oleh tanda tanya besar. Ia sama sekali tidak mengira jika Lich yang berada di balik ini semua. Lich itu dengan santainya tersenyum lembut ke arah danau.
Ia kemudian terbang dengan perlahan mengelilingi danau tersebut. Beberapa saat kemudian, para ksatria membawa tubuh seorang anak yang sudah tidak sadarkan diri. Anak itu tampak pucat namun masih bisa dirasakan hawa kehidupan darinya.
Perkataan Senja terhenti ketika Lich tersebut terbang menuju tubuh yang masih tertidur lelap. Tubuh itu lalu mengeluarkan aura hitam pekat yang sebelumnya menabraknya.
Perubahan tampak terjadi pada tubuh anak tersebut. Seperti ada bentrokan antara mana mati dengan tubuh kecil yang saat ini sedang mengeluarkan darah dari seluruh lubang yang ada di tubuhnya.
Pemandangan itu tampak begitu tragis. Anak itu terlihat begitu kesakitan, wajahnya terus memucat dan auranya semakin menghitam.
Lima menit setelah anak itu mengudara, tubuhnya kini perlahan diam. Tubuh itu kemudian mulai menggerakkan anggota badannya. Ia tampak hidup setelah apa yang sebelumnya terjadi disana. Perlahan, mata kecil itu terbuka. Terlihat jelas senyum nakal di balik wajah pucat anak tersebut.
"Ah, akhirnya selesai juga," seru anak itu ketika ia turun menyentuh tanah.
"Tubuh baru ini lumayan juga," lanjutnya sambil menggerakkan beberapa bagian tubuh seperti sedang pemanasan. Setelah ia yakin nyaman, anak itu lalu pergi dari area tersebut bersamaan dengan bawahannya.
"Ini gila!"
Senja yang sejak awal melihat hal tersenyum hanya bisa menutup keterikatannya dengan panik. Tubuhnya semakin kaku dan kaku, ia bahkan tidak sadar jika danau yang semula ribut kini mulai diam.
Ketenangan danau itu bahkan tidak bisa menyadarkan Senja jika semua hal yang ia lihat sebelumnya sudah berakhir. Senja masih menatap kosong ke arah danau yang sudah kembali tenang seperti sebelumnya.
Cahaya bulan kembali menyinari tempat tersebut dan para penjaga kembali dalam tugasnya seperti tidak pernah terjadi apa pun disana.
__ADS_1
"Nona, ada apa? Kenapa tubuh anda sangat dingin?" link Ristia panik.
"..."
Senja hanya diam, ia sama sekali tidak merespon Ristia.
"Nona!" panggil Ristia sekali lagi sambil menusuk pergelangan tangan Senja dengan ekornya.
"Ah!" teriak Senja saat merasakan sakit di punggung tangannya.
"Ristia! Apa kau sudah gila?" bentak Senja kesal. Ristia yang bingung hanya menatap aneh ke arah nona nya itu.
"Iya, saya memang sudah gila dan andalah yang membuat saya gila."
Ristia tampak kesal dengan reaksi Senja yang berlebihan. Ia tidak tahu mengapa nona nya bisa seagresif itu sekarang.
"Hah, sialan." pekik Senja saat melihat danau yang sudah kembali seperti semula.
"Aku bahkan tidak tahu jika dia nyata!" gumam Senja pelan pada dirinya. Ia tampak begitu emosional setelah mengenang apa yang baru saja terjadi padanya disini.
"Nona, apa yang anda bicarakan sebenarnya?" tanya Ristia bingung.
"Sudahlah, kita kembali saja."
Senja yang kesal memutuskan untuk kembali ke posisi semula. Ia berjalan mundur dengan perlahan dan sebelum merapalkan mantra teleportasi untuk berpindah langsung ke kamar penginapannya.
Setelah sampai di kamarnya, Senja dengan malas terjun ke atas kasurnya tanpa memperdulikan apa yang di katakan Dian padanya.
"Ini sungguh gila!" batinnya gelisah saat memikirkan Lich tersebut.
"Aku harus menyelidiki tempat ini lebih lanjut."
Senja kemudian berbalik untuk melihat Dian dan Kun yang sedang menatapnya tajam.
"Hanya tersisa satu hari lagi," gerutu Senja pelan.
"Nona, apa yang sebenarnya terjadi disana?" tanya Dian sekali lagi.
"..."
Kembali Senja hanya diam dan diam. Ia sama sekali tidak merespon apa yang di tanya oleh Dian.
"Aku harus cepat. Hari kedewasaan akan berlangsung dua hari lagi dan aku harus sudah sampai di asrama sebelum hari itu." batin Senja sambil menutup matanya untuk tidur.
__ADS_1