Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
LSTG Pt 5


__ADS_3

"Ilusi yang dibuat akhirnya terungkap, namun kebenaran yang sesungguhnya masih tersembunyi jauh dalam kegelapan."


*****************#####*****************


"Tuan, kami menemukan kejanggalan dibeberapa titik area ujian," bisik salah satu bayangan Lucas.


"Kami juga melihat bahwa seorang Prof sedang mengevaluasi tempat tersebut."


"Ini sangat menguntungkan bagi kita."


Senyum licik mulai mengembang pada wajah Lucas.


Ia terlihat sedang memikirkan rencana jahat sambil tetap mempertahankan senyum naturalnya di depan publik.


"Awasi secara menyeluruh, jangan sampai ada yang terlewatkan. Laporkan terus padaku perkembangannya."


"Baik, tuan."


Bayangan itu lalu menghilang dari balik kerumunan penonton.


Disisi lain, Selir Jina yang terus menggenggam tinjunya sekarang mulai melirik anggun ke arah salah satu bangsawan. Ia memberikan kode kepada bangsawan tersebut yang dijawab anggukan kepala.


Beberapa saat kemudian sang bangsawan terlihat menjauh dari podium bersama dengan pelayannya.


"Apakah itu harimau putih yang dirumorkan bersembunyi di hutan Black Flores?"


Seorang bangsawan berpangkat Count angkat bicara saat melihat Senja bergerak pergi bersama Kun menjauh dari pandangan kamera pengawas.


"Itu, sama seperti yang dirumorkan saat itu," bisik yang lain sambil memandang satu arah pada Marques Winter. Mereka melihat sang Marques dengan pandangan penuh tanda tanya.


"Itu hanyalah sebuah kecelakaan saat putri ku dan temannya bermain di hutan," seru Marques Winter menjawab rasa penasaran para penonton.


Marques Winter tidak menceritakan secara detail kejadian saat itu. Para penonton yang mendengarnya merasa bahwa itu sudah cukup membuktikan bahwa Senja memiliki hewan suci karena sebuah kebetulan semata.


"Ia memilih sendiri tuannya."


"Itu benar, meski ini jarang terjadi namun itu nyata."


"Kukira itu hanya omong kosong, tapi benar adanya."


"Sungguh wanita yang beruntung."


"Ia mendapatkan keberuntungan setelah putus dari, hmm..., kalian tahukan maksud ku."


Rakyat biasa dan bangsawan terkemuka saling berbincang secara diam-diam mengenai Senja. Mereka juga tahu jika ada rumor mengenai bunuh diri seorang putri Duke dikarenakan putus cinta.


Mereka saling berdebat satu sama lain untuk memutuskan bahwa rumor hanyalah rumor bahkan setelah putus dari pangeran kelima, Senja terlihat baik-baik saja bahkan tergolong lebih baik dari biasanya.


"Perubahan bisa terjadi kapan saja," seru seorang wanita diantara mereka sedangkan yang lainnya pada mengangguk setuju.


Disisi lain, Prof Xei mendapatkan kabar dari prof Edward bahwa ada 3 lingkaran sihir aneh yang mengelilingi hutan buatan.


"Suruh penjaga untuk mengeceknya tapi ingat jangan buat kepanikan dulu."


"Baik, pak."


Bawahannya Prof Xei pergi secara diam-diam tanpa menarik perhatian dari para penonton.


"Miss Aila."


"Iya, pak."


"Segera buat penghalang sihir teleportasi di hutan, kita akan menangkap mereka tanpa kehilangan seorang pun."


*****


"Maya," teriak Zakila saat ia baru saja tiba di titik kumpul.


"Dimana Luna?" tanya Maya setelah ia berhasil keluar dari pelukan Zakila.


"Luna masih berurusan dengan Dira, dia menyuruhku untuk pergi terlebih dahulu."


Muna terlihat acuh tak acuh pada perkataan Zakila.


"Bagaimana dengan mu Yaya? Apa kau baik-baik saja?" tanya Zakila yang seketika saja mendapatkan tatapan tajam dari Maya.


"Yaya?" Muna bertanya dengan wajah bingung, ia belum pernah melihat Maya dipanggil seperti itu sebelumnya.


"Duduklah dulu, kita akan menunggu yang lainnya."


Maya bergegas pergi menuju Muna yang tengah duduk santai di bawah pohon Ek besar.


Beberapa saat kemudian, Luna muncul dalam lingkaran sihir tidak jauh di hadapan ketiganya.


"Dimana Senja?" tanya Luna segera ketika ia tidak melihat kehadiran Senja disana.


" ... "


Muna sama seperti biasanya, ia menatap acuh tak acuh pada Luna sebelum menggoyangkan bahunya.


"Zakila." Luna beralih pada Zakila tapi ia juga tidak tahu tentang kondisi Senja.


Ketika malam tiba mereka dapat melihat gelombang suara ganas yang berasal dari sisi Utara. Semuanya saling menatap satu sama lain sebelum memalingkan wajah pada asal gelombang tersebut.


"Sepertinya itu Kun."


"Dia sudah kembali rupanya."


"Mungkin Senja akan datang sebentar lagi," seru Muna yang masih menatap asal gelombang suara itu.


"Dia agak terlambat dari sebelumnya."


Zakila yang masih tidak mengerti situasi saat itu hanya melihat ke arah ketiga sahabatnya dengan bingung.


"Apa yang sebenarnya sedang mereka rencanakan di belakang ku?"

__ADS_1


Wajah Zakila semakin gelap mengingat tidak seorang pun yang mau memberitahunya, tidak saudara kembarnya sekali pun.


Seperti yang dikatakan Muna, Senja datang beberapa saat kemudian lebih tepatnya 30 menit setelah gelombang aura menyebar.


"Kau terlambat," seru Maya santai sambil membantu Senja turun dari punggung besar Kun.


"Sedikit kacau sebelum bisa kembali ke jalur awal."


Setelah Senja turun Kun langsung berubah menjadi kucing kecil seperti sebelumnya.


"Aku paham," seru Luna singkat setelah melihat betapa kacaunya wajah Senja saat ini.


"Sarah pasti sangat terkejut melihat auranya Kun." lirih Maya sambil membayangkan wajah Sarah yang memerah seperti tomat.


"Dia pasti tidak pernah menduga bahwa Senja memiliki hewan legendaris di tangannya." tambah Luna yang dijawab anggukan kepala Maya.


Senyum nakal muncul dari bibir Zakila yang tadinya cemberut kesal. Ia merasa sedikit terhibur ketika mendengar betapa kacaunya Sarah dalam pertarungan melawan Senja.


"Kita akan istirahat sebentar sebelum memulainya kembali," seru Luna yang mendapatkan anggukan kepala dari keempat sahabatnya itu. Segera mereka duduk melingkari api unggun sebelum benar-benar tertidur.


Keesokan paginya, Senja dapat melihat Luna dan Muna sedang membahas sesuatu yang tidak dapat ia mengerti. Sekarang mereka semua sudah terbangun dan siap untuk bergerak.


"Hari ini adalah hari terakhir ujian. Kita harus menghemat waktu sebelum semuanya berakhir."


"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Zakila yang sama sekali tidak mendapatkan jawaban baik dari Senja atau pun Maya, saudara kembarnya itu.


Zakila mulai bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang mereka sembunyikan darinya namun semakin ia bertanya maka semakin bungkamlah mereka.


"Mari kita mulai," lirih Muna sambil berjalan pergi menuju kedalaman hutan.


"Mari," seru yang lainnya bersamaan.


Mereka akhirnya sampai pada sebuah area dimana ada penghalang besar yang kuat disana. Perlahan penghalang itu hilang dan menampakkan segerombolan pria yang memakai jubah hitam yang menatap masing-masing diantara mereka dengan tajam.


"Aku akan menghabisi kalian semua," seru salah seorang pria misterius itu sambil terus menatap tajam ke arah kelima sahabat.


"Apa ini?" tanya Zakila kaget ketika melihat banyaknya pria misterius yang siap membunuh mereka semua dengan tatapannya.


"Jawab aku, ada apa ini?" bentak Zakila keras sambil melirik pada Maya dan yang lainnya.


"Jangan diam saja, tidak bisakah kalian menjelaskannya pada ku hah?"


" ... "


"Ini jelas bukan yang kita bicarakan saat itu?" tanya Zakila sekali lagi.


"Apa ini seb... "


Perkataan Zakila terhenti karena Maya memotongnya dengan cepat.


"Mereka adalah pembunuh bayaran yang ditugaskan untuk membuat kita cacat, ah atau lebih tepatnya mati," seru Maya acuh sambil berjalan mendekati salah satu diantara pria misterius itu.


"Pembunuh bayaran? Mengapa?"


"Mereka hanyalah bidak yang digunakan Dira dan selir Jina untuk membunuh ku tapi ini juga akan membuat kalian terluka karena dendam dari masing-masing temannya." jelas Senja dengan ekspresi wajah sedingin es.


"Para ladies, kalian tenang saja, kami tidak akan menyakiti kalian dan mengakhiri ini dengan cepat." seru salah satu dari pria berjubah itu.


"..."


Baik Senja mau pun yang lain tetap diam, mereka bahkan acuh tak acuh dengan perkataan pria itu.


Merasa diabaikan ia segera bergerak menyerang Maya yang berdiri tidak jauh di depannya.


Namun belum sempat ia melayangkan serangan, sebuah tamparan keras mendarat di pipi pria itu dan membuatnya batuk darah dengan beberapa gigi yang rontok.


"Ghuk..., sialan," gerutunya ketika tamparan Maya membuatnya muntah darah.


"Ini baru permulaan saja." lirih Maya dingin.


" ... "


Seluruh tubuh pria itu mulai kaku dan merinding ketika melihat senyum licik terukir di bibir Maya.


"Kita akan menarik mereka keluar dari titik buta sehingga para penonton dan yang mulia dapat mengetahui siapa Dira sebenarnya." seru Luna menjelaskan rencana awalnya.


"Tapi kalian harus tahu satu hal, setelah kejadian ini maka akan lebih banyak lagi bahaya yang akan datang untuk membunuh kita semua." lanjut Luna sebelum berpisah dari sahabatnya.


"Luna benar, mereka pasti akan menargetkan masing-masing diantara kita untuk dilenyapkan kedepannya." sambung Muna yang sedari tadi hanya diam.


"Maka dari itu persiapkan diri kalian sebaik mungkin, mereka bisa saja lepas dari ini namun satu hal yang pasti bahwa setelah kejadian ini kita tidak lagi menjadi siswa biasa." lanjut Muna sebelum melangkah pergi.


*****


Para penonton yang masih melihat jendela layar saling memikirkan spekulasi liar. mereka penasaran apa yang dilakukan Luna dan kelompoknya pada titik buta hutan.


Selain itu mereka juga melihat Dira dan keempat temannya sedang sibuk melawan monster yang tidak ada habisnya di bawah tanah.


"Ini sangat membosankan." lirih salah satu penonton yang ingin meninggalkan podium.


"Kau benar, aku jadi penasaran apa yang dilakukan putri Luna dan temannya itu." lanjut yang lain dengan ekspresi malas.


"Mereka sangat misterius dari awal ujian sampai saat ini. Aku jadi penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya."


Para penonton saling berbisik satu sama lain sambil tetap melihat jendela layar ujian.


"Mereka sang...! Hah, apa itu?"


Teriak salah seorang penonton ketika perhatiannya teralihkan pada jendela layar yang menampakkan pertarungan sengit antara kelompok Luna dengan kelompok misterius yang mengenakan jubah hitam.


"Siapa mereka?"


Tatapan tanya dari masing-masing penonton diarahkan pada prof Xei yang juga terlihat sama bingungnya.


"Apa benar yang dikatakan Nona Ari tentang rencana itu."

__ADS_1


Semua mata penonton tertuju pada pria yang mengatakan bahwa seluruh perkataan Senja adalah kebenaran.


"Mereka terlihat kacau, kurasa ini juga alasan mengapa mereka menyembunyikan stamina sejak awal ujian." lanjutnya mulai membenarkan rumor yang sejak tadi beredar.


"Kecurigaan kita akhirnya terjawab" sambung yang lain merasa puas.


"Apa yang dilakukan pihak akademik hingga membiarkan para penyusup masuk ke dalam ujian?"


Sekarang semua perhatian tertuju pada pihak penyelenggara ujian. Mereka merasa keamanan akademik mulai melemah sejak kejadian pecahnya energi misterius di hari pertama sekolah.


"Ada yang aneh disini," bisik seorang penonton yang sejak awal ujian masih tetap setia berada di kursinya.


"Benar ini sungguh aneh, tidak biasanya pihak akademik lalai seperti ini."


Mendengar gumaman para penonton membuat Prof Xei bertindak cepat. Awalnya ia juga kaget namun semua ini sudah diantisipasi sebelumnya.


"Miss Aila."


Segera Miss Aila mengeluarkan mantra penghalang keseluruh penjuru hutan.


"Kita akan pindahkan semua murid sekarang." perintah kepala sekola kepada seluruh guru yang bertugas.


"Baik, Pak."


*****


Senja yang berada di pundak Kun terus mengayunkan sihir teleportasi pada Luna dan Muna yang sedang melawan para pembunuh bayaran tersebut. Mereka saling bekerja sama dalam formasi yang sudah diatur sejak awal.


"Kejadian ini sungguh menyenangkan diluar dugaan dan kini alasan apa lagi yang akan mereka buat untuk menghilangkan jejak."


Senja mulai tersenyum senang dalam benaknya. Ia merasa bahwa semua rencananya akan berhasil kali ini.


"Ini adalah awal. Awal dari semuanya," lirih Senja acuh sambil membidik salah satu pembunuh bayaran yang hendak menyerang Zakila dari belakang.


"Terus bertarung, aku akan menjaga punggung kalian," teriak Senja pada sahabatnya yang di jawab anggukan kepala oleh mereka berempat.


"Lily, segera buat penghalang."


Senja bisa melihat penghalang yang tiba-tiba menutupi area hutan.


"Ini pasti milik Miss Aila," seru Senja masih fokus dalam melihat pertarungan yang ada di depannya.


"Nona, penghalang sudah dibuat."


"Bagus, dengan ini mereka akan di teleportasi setelah ujian benar-benar berakhir, dan masih ada 8 jam lagi sebelum ujian benar-benar berakhir."


Senja sengaja melakukan hal ini agar semua siswa tetap menjalankan ujiannya dengan baik. Selain itu Senja sengaja melakukan hal ini agar kelompok Dira bisa lebih lama tersiksa dalam pertarungan melawan monster bawah tanah.


"Tidak ada yang bisa masuk ke dalam pertarungan kita, mereka sama sekali tidak bisa melihat bahwa tempat ini sedang dalam pertarungan yang sengit."


Senja sengaja menyuruh Lily untuk membuat kubah transparan namun kuat untuk menutupi pertarungan yang sedang dilakukan oleh kelompoknya sehingga para siswa lainnya tidak terkena dampak yang besar.


Disisi lain, Miss Aila menjadi gelisah karena ia tidak bisa menteleportasikan siswanya segera menuju lapangan podium.


"Pak, sihir ku dijegal."


"Bagaimana bisa?" tanya prof Xei yang bingung dengan ekspresi Miss Aila.


"Saya juga tidak tahu, saya sudah berusaha untuk memindahkan anak-anak kesini namun tidak satu pun dari sihir ku berhasil memindahkan mereka."


"Sialan. Panggil Edward segera."


"Baik, Pak."


Miss Aila akhirnya keluar dari podium dan segera menuju ke tempat Prof Edward. Sesampainya di sana, Miss Aila bisa melihat bahwa Prof Edward terlihat sangat santai bahkan bisa dibilang ia seperti orang yang tidak memiliki beban.


"Prof!"


Prof Edward melirik kearah sumber panggilan. Ia bisa melihat wajah panik Miss Aila.


"Apa-apaan ini Prof?"


Prof Edward hanya diam, tanpa membalas pertanyaan Miss Aila.


"Kau seharusnya menyelamatkan para murid bukan malah duduk dan menikmati secangkir kopi seperti..."


"Kau tidak bisa memindahkan mereka bukan, karna itu kau datang kesini berharap aku melakukannya."


Mata Miss Aila terbuka lebar ketika maksud dari kedatangannya sudah diketahui.


"Jika anda sudah tahu, maka..."


"Tidak ada yang bisa kita lakukan jika Senja tidak ingin ini berakhir."


"Hah, apa maksud mu Prof?"


" ... "


Prof Edward hanya menatap malas pada ke arah Miss Aila sebelum melanjutkan kembali perkataannya.


"Apa kau tidak bisa merasakan energi kuat dari penghalang itu."


Prof Edward menunjuk pada penghalang transparan di langit. Miss Aila menatap langit dengan tatapan yang seolah berkata 'Itu penghalang yang aku buat, ada apa dengan itu.'


"Bukan yang kau buat, tapi yang satunya lagi."


"Hah?"


Miss Aila terlihat bingung, ia pun mencoba kembali memfokuskan matanya dan seketika ia bisa melihat seutas dinding transparan yang menutupi dinding miliknya.


"Mulai sekarang, kita hanya bisa menunggu mereka."


" ... "


"Duduklah disini dan nikmati kopi buatan ku ini."

__ADS_1


Miss Aila hanya bisa menatap kosong pada Prof Edward sebelum duduk dan mengambil secangkir kopi yang dituangkan ke gelas yang ada dihadapannya.


__ADS_2