
"Keindahan tidak hanya didapat dari manusia, mereka juga bisa didapat dari indahnya alam yang gersang."
*****************#####*****************
Ketika pertama kali membuka matanya, Senja sudah disuguhi oleh pemandangan indah dari ibu kota kerajaan El-Aufi yang berada ditengah gurun.
Kerajaan ini berbeda dengan kerajaan lainnya karena mereka berada di wilayahnya yang penuh dengan padang pasir dan curah hujan yang tidak menentu. Selain itu, wilayah ini sangat tandus dan gersang sehingga hanya beberapa pohon tertentu saja yang bisa tumbuh.
Salah satu dari pohon tersebut biasanya digunakan dalam pembuatan gula atau pun bahan manis lainnya. Banyak dari bangsawan kerajaan lain sengaja datang berkunjung ke tempat ini hanya untuk menikmati buah tersebut.
"Sungguh tempat yang indah,"
"Nona, di kerajaan ini apabila siang terasa sangat panas dan apabila malam terasa sangat dingin. Namun setelah Raja Wile menemukan batu sihir di bawah wilayahnya, ia segera menggunakan batu tersebut untuk memajukan wilayah ini, hingga terlihat seperti sekarang," seru Nindia menjelaskan sejarah singkat kerajaan El-Aufi ini.
"Begitukah, pintar juga."
"Iya Nona,"
"Ristia, apakah kau menemukan saudara mu disini?" tanya Senja saat ia hendak memasuki bangunan hotel.
"Selamat datang Nona, ada yang bisa saya bantu,"
"Kami sedang mencari kamar dengan fasilitas yang memadai untuk ditempati selama dua minggu disini," jawab Nindia sopan saat menunjukkan barang bawaannya.
Selagi Nindia dan pelayan tersebut berbincang tentang kondisi kamar, Senja yang bosan pergi untuk melihat area sekitar hotel yang dengan jelas menampakkan keadaan plaza kota El-Aufi.
"Nona, aku ini berasal dari wilayah selatan yang dipenuhi oleh es bukan gurun pasir yang tandus seperti ini," gerutu Ristia menjawab pertanyaan Senja yang menjengkelkan baginya.
"Bukankah elemen mu itu api?"
"Nona, elemen sama sekali tidak menentukan tempat dimana seseorang lahir."
"Ah, begitu," lirih Senja acuh tak acuh sebelum memutuskan link diantara mereka.
"Nona, saya sudah mendapatkan kamarnya," seru Nindia sesaat setelah link diantara Senja dan Ristia terputus.
"Itu bagus,"
"Kyaa! teriak Nindia ketika Kun melompat dari keranjangnya.
Senja yang melihat hal tersebut hanya menatap acuh pada Nindia seraya mengambil Kun yang berjalan di kakinya.
"Tidak bisakah kau sedikit santai?" tanya Senja setelah mengangkat Kun dalam pelukannya.
"Disini panas, aku tidak suka," erang Kun sangat menggosokkan wajahnya pada mantel bulu Senja.
"Hah, kau terlihat seperti kucing rumahan sekarang,"
"Sejak kapan peri hitam itu bersama kita?"
"Dia akan terus bersama kita, jadi biasakan dirimu."
Bukannya menjawab Kun, Senja malah memberikannya perintah untuk terbiasa dengan Nindia.
__ADS_1
"Dasar manusia bodoh," lirih Kun sambil melompat keatas kasur untuk tidur.
"Apa kau bilang?"
Kun mengabaikan Senja seperti biasa, ia dengan santai memutar tubuhnya dan terus tidur di atas kasur.
"Nindia, terus bersama kucing sialan ini. Apa pun yang terjadi, jangan pernah biarkan dia tidur,"
"Baik Nona,"
"Inilah akibatnya karena telah melawan ku,"
Terlihat bahwa Kun sangat tidak menyukai keberadaan Nindia disekitarnya. Hal itu karena hewan suci legendaris sangat membenci mana mati sehingga keberadaan makhluk serupa sangat mengganggu mereka.
Tentu saja Kun tidak bisa membunuh Nindia karena dia adalah bawahan Senja sekarang namun tidak berarti bahwa Kun menerimanya, jika ia tahu bahwa Senja akan mengikat kontrak dengan ras peri hitam maka Kun adalah sosok pertama yang akan menentangnya.
Keesokan paginya Senja memutuskan untuk berkeliling area plaza sambil menikmati suasana indah disana sekaligus mengumpulkan informasi penting mengenai tempat tersebut.
Sebelum itu Senja sudah menugaskan Nindia untuk membawa Kun jalan-jalan mengelilingi ibu kota. Senja juga memperingati Nindia untuk tetap waspada karena bisa saja ada banyak mata yang mengawasi mereka saat ini.
Meski saat ini Senja menggunakan tubuh seorang pria dan manipulasi wujud yang merupakan keahliannya, namun jika tidak berhati-hati maka kasusnya akan sangat berbeda.
Jika Senja ketahuan maka ia yang awalnya datang sebagai turis, bisa saja menjadi buronan karena memasuki kerajaan lain dengan penyamaran.
Hal itu dikarenakan penyamaran adalah tindakan ilegal yang dilarang hampir di seluruh benua, termasuk dengan kerajaan El-Aufi ini.
"Ristia, aku serius bertanya padamu. Apakah kau tidak memiliki keluarga disini?"
"Astaga Nona, mau berapa kali saya jelaskan jika saya sama sekali tidak memiliki keluarga disini dan jika anda memang ingin bertemu dengan mereka, maka pergilah ke benua selatan. Anda pasti akan bertemu banyak keluarga saya nantinya disana," gerutu Ristia kesal sambil menampakkan wajahnya yang sedang berenang di dalam kue coklat.
"Itu karena..., rahasia,"
"Hah, apa mereka sudah membentuk komunitas pembangkang dibelakang ku?" gerutu Senja kesal ketika mendengar reaksi acuh tak acuhnya Ristia saat ini.
"Apa ini karena pengaruh buruk dari Lily?"
Selain itu kejadian yang menimpanya di kerajaan Aruna juga membuatnya menjadi kesal.
"Sepertinya aku memang harus memberi mereka pelajaran,"
Beberapa saat kemudian seorang pelayan mendatanginya sambil membawa sebuah surat yang berstempel rubah merah dengan mawar hitam di salah satu telinganya.
"Silahkan Tuan,"
Pelayan itu menaruh surat diatas nampan yang berisi teh hitam kesukaan Senja. Ia juga sedikit membungkuk untuk memberi salam sebelum pergi meninggalkan Senja.
"Ternyata Agra juga menaruh anak buahnya disini,"
"Tapi untunglah, ia sama sekali tidak tahu wujud asli ku seperti apa," lanjut Senja dengan ekspresi dingin diwajahnya.
Senja perlahan membuka surat tersebut, surat itu tampak sangat indah dan cantik sehingga membuat Senja sedikit mengernyitkan dahinya.
"Dia mau kirim informasi atau surat cinta?"
__ADS_1
"Baru kali ini aku mendapatkan surat dengan perasaan penuh cinta seperti ini,' gumam Senja tidak percaya dengan selera yang dimiliki Agra.
"Ya apa pun itu, mari kita baca dulu isinya," lanjut Senja kemudian membaca isi surat tersebut.
Di dalam surat tersebut menjelaskan balasan dari pedagang Weru. Mereka memutuskan untuk bertemu dengan Senja dua hari lagi di sebuah bar yang berada tidak jauh dari ibu kota El-Aufi.
"Apa mereka berencana untuk mengajak ku berjudi?"
Sejujurnya Senja tidak masalah dimana pun mereka bertemu. Jika pedagang Weru ingin Senja menghabiskan uangnya di pasar judi, maka Senja dengan senang hati akan melayani mereka.
"Ah, uang memang yang paling sempurna," seru Senja saat memikirkan kemenangannya di bar Tarot kerajaan Guira.
"Hahaha, aku dengan hati akan menerima uang kalian,"
"Nona, ada yang datang," seru Ristia saat Senja sedang membakar surat tersebut dengan lilin api didepannya.
"Siapa?"
"Saya tidak tahu Nona, tapi dia sangat kuat,"
"Dia sampai," lanjutnya kembali ketika seorang wanita muda memasuki kafe tersebut.
"Nona, dia orangnya. Saya merasakan energi besar di sekeliling orang itu."
"Menarik,"
Pada saat wanita muda tersebut memasuki kafe, tempat yang semula tenang kini menjadi riuh. Banyak sekali mata yang mengarah pada wanita tersebut namun yang ditatap hanya bersikap acuh tak acuh.
Ada juga yang membicarakannya secara terang-terangan namun wanita muda itu tetap diam sambil menikmati makanannya.
"Dia mirip dengan Muna,"
"Nona, wanita itu sekarang sedang mendekati Anda," seru Ristia yang seketika membuat Senja terbatuk dalam minumnya.
"Uhuk..."
Senja mencoba untuk meminum seteguk air saat merasakan perih di tenggorokannya akibat tersedak.
"Apa yang kau bicarakan?"
"Nona, kekuatan yang dimiliki wanita itu saat ini sedang melihat kearah anda. Sepertinya dia tahu jika anda kuat atau mungkin saja dia tertarik dengan anda," jelas Ristia sambil melompat naik ke pergelangan tangan Senja.
"Sialan, jika aku ketahuan, ini akan gawat,"
Wanita yang sebelumnya diam, kini mulai memperhatikan Senja dengan senyum aneh mengembang diwajahnya. Wanita itu kemudian berjalan mendekati Senja saat ia melihat Senja hendak pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Selamat pagi Tuan Muda. Apa saya boleh duduk disini?"
Senja yang semula tenang kini menjadi sedikit panik ketika wanita muda itu menyapanya. Ia mencoba terlihat tenang dari luar namun gelisah di dalam nya.
"Sialan," gerutu Senja sambil memasang senyum ramah di wajahnya.
"Silahkan Nona," seru Senja tenang saat mempersilahkan wanita muda tersebut untuk duduk dihadapannya.
__ADS_1
"Aku harus segera kabur darinya," batin Senja ketika melihat wanita muda tersebut duduk dengan santai dihadapannya.