Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Pesta Teh pt 2


__ADS_3

"Sejarah akan selalu di kenang, namun perjuangan kadang sering diabaikan."


******************#####****************


"Jadi, jelaskan padaku alasan mengapa kau melakukan semua ini?" tanya Maya setelah ia mendengar kisah petualangan Kaira.


"Aku dengar, kau mempunyai kwalifikasi tinggi sebagai Ratu masa depan El-Aufi," lanjutnya serius.


"Hahaha"


Kaira hanya tertawa dalam menanggapi pertanyaan Maya yang menurutnya lucu.


"Kau mungkin tidak akan pernah mengerti, tapi ini semua aku lakukan karena aku menyukainya."


Jawaban Kaira membuat Maya semakin bingung dan penasaran.


"Aku sama sekali tidak mengerti," seru Maya dengan alis yang saling bertaut.


"Kau pasti tahu betapa kejamnya kehidupan istana karena kau nantinya juga akan menjadi Ratu," balas Kaira masih dengan tawa di bibirnya.


"Mungkin kau tidak akan merasakannya karena saudara mu telah bersumpah, tapi kau harus tahu bahwa suatu saat nanti hal mengerikan pasti akan kau hadapi. Entah itu pernikahan politik atau sesuatu yang lebih mengerikan dari pada itu," lanjut Kaira dalam bisiknya.


Seketika wajah Maya menjadi pucat, ia terlihat kesal dan juga bingung di saat bersamaan. Luna dan Maya yang melihat hal tersebut lantas memandang satu sama lain. Mereka sama sekali tidak tahu apa yang dibisikkan oleh Kaira karena suaranya begitu kecil.


"Ehem."


Luna mencoba untuk mengalihkan perhatian mereka dengan batuk palsunya.


"Ada apa? Apa kau sakit?" tanya Senja dengan ekspresi polosnya.


Jujur saja Senja tahu apa yang sedang mereka bicarakan, hanya saja ia acuh untuk itu karena itu bukan urusannya. Apa pun yang terjadi pada keduanya, adalah urusan mereka bukan dirinya.


"Ini sangat membosankan," batin Senja masih dengan memperlihatkan senyum manisnya.


Ia lalu memberikan air mineral pada Luna agar batuknya mereda.


"Aku baik, terima kasih." seru Luna sambil menyeka air mineral yang masih bergelantung disekitar bibirnya.


"Kaira, aku dengar kali ini kau akan berpatisipasi dalam pesta rakyat, apa itu benar?" tanya Muna acuh tak acuh.


"Kau benar. Kali ini aku mencoba unt..."


"Katakan saja jika kau di paksa oleh adikmu untuk itu." potong Muna yang bosan dengan omong kosong Kaira.


"Hahaha, kau benar sekali."


Tawa Kaira sekali lagi meledak ditempat itu setelah Muna mengatakan kejujuran padanya.


"Biar aku tebak, kau pasti membuat keributan besar sehingga adik mu harus turun tangan dan tentunya kau harus membayar bantuannya dengan ini bukan?"


Wajah Kaira semakin merah saat rahasianya diketahui dengan mudah.


"Aku sudah mendengar ini dari Ristia saat perjalanan," batin Senja bosan.


"Kaira dibantu oleh adiknya untuk melarikan diri dari bar dengan uang ganti rugi yang lumayan besar," lanjut Senja dengan pandangan mata yang beralih ke arah Maya.


"Tumben sekali Maya tidak menyembunyikan emosi di wajahnya. Terlihat jelas jika sekarang ia sedang galau."


Senja lalu menepuk ringan pundak Maya, ia menatap Maya dengan senyum ramahnya.


"Ada apa? Apa kau sakit?" tanya Senja yang membuat Maya kembali sadar seperti semula.


"Ah iya, tidak. Aku baik-baik saja," seru Maya yang terkesan seperti berteriak.


"Baiklah," balas Senja yang ikutan kaget dengan respon mendadak darinya.


"Jadi Kaira, kau membuat hutan itu terbakar hanya karena kau kalah main judi?" tanya Zakila yang sedari tadi menikmati cerita.


"Bukan seperti itu," jawab Kaira sambil memegang kepalanya.


"Aku hanya kesal karena ia tidak mau bermain lagi," lanjutnya setelah selesai memikirkan kejadian tersebut.


"Bukankah dia bisa saja melakukannya. Lagi pula itu kan hanya permainan."


"Itu kare..."


Perkataan Kaira terhenti saat Muna dengan segera memotongnya.


"Kaira memiliki ego yang besar jadi wajar saja jika dia melakukan itu semua," seru Muna acuh tak acuh.


"Dari mana kau tahu?" tanya Zakila penasaran.


"Tentu saja aku tahu karena Kaira sering melakukannya dengan Putra Mahkota."


"Ah, begitu."


Mendengar nama putra mahkota membuat Senja sedikit tertarik. Pasalnya ia selama ini hanya mendengar nama orang itu tapi tidak pernah sekali pun melihatnya.


"Apa Putra Mahkota akan hadir dalam upacara kedewasaan?" tanya Senja yang terlihat begitu penasaran.


"Tentu saja. Ia akan datang sebagai perwakilan dari Raja." jawab Muna.


"Apa kau belum pernah melihatnya sama sekali?" tanya Muna selanjutnya.


"Tidak."


Jawaban Senja sontak membuat mereka yang berada disana tanpa sadar menjatuhkan cangkir teh yang tengah mereka genggam.


"Hah, sejujurnya kau sudah sering bertemu dengan kakak ku. Ia bahkan selalu menyempatkan waktunya untuk sekedar mengetahui apa kau baik-baik saja," batin Luna sambil memikirkan surat yang selalu ia terima dari Lucas.


"Aku tidak tahu alasan mengapa kakak ku menyembunyikan identitasnya pada mu, tapi aku yakin kau pasti akan tahu tentangnya suatu hari nanti," lanjut Luna sebelum meletakkan cangkir tehnya.


"Bagaimana bisa? Putra Mahkota bahkan datang di ujian akhir akademik sa.."


Perkataan Zakila terhenti ketika ia mengingat bahwa Senja jatuh pingsan setelah keluar dari ujian akademik.

__ADS_1


"Aku mengerti," lirihnya pelan.


Seketika suasana pesta teh menjadi canggung. Semuanya hanya diam tanpa suara setelah Senja bertanya mengenai Putra Mahkota. Kaira yang sadar akan hal itu segera menyuruh pelayannya untuk membawakan mereka makanan penutup.


"Ini pasti mengenai hilangnya gadis itu," batin Kaira sambil melirik sekilas pada Senja.


"Aku tidak tahu dampaknya akan sebenar ini," lanjutnya saat melihat pemandangan aneh dihadapannya.


"Entah mengapa dengan seketika tempat ini berubah menjadi kuburan," gumamnya sekali lagi ketika melihat masing-masing dari gadis muda tersebut sibuk dengan makanan mereka.


"Silahkan dinikmati," seru Kaira saat pelayannya sudah menaruh seluruh makanan penutup di piring mereka.


"Makanan ini sangat lezat dan...."


Perkataan Kaira terhenti saat Maya dengan tiba-tiba berdiri dari duduknya.


"Aku, izinkan aku undur diri."


Maya lalu membungkuk sopan pada Kaira sebelum meninggalkan area taman.


"Terima kasih atas undangannya." lanjut Maya sebelum ia benar-benar pergi dari tempat itu.


"Sepertinya dia masih kepikiran tentang yang tadi," gumam kaira pelan.


"Aku juga akan pergi."


Kini giliran Muna yang pergi menyusul Maya. Kaira tampak sangat bingung dengan kelakukan dua gadis kecil itu. Namun yang lebih anehnya lagi yang tersisa di tea party hanya diam seperti tidak terjadi apa pun.


"Apa aku melewatkan sesuatu?" tanya Kaira dalam hatinya saat melihat Luna yang tengah asiknya menyuapi Senja.


"Mereka membuat ku gila!" gumam Kaira sambil memegangi kepalanya.


****


"Nona Sarah," sapa gadis cantik saat memasuki ruangan yang diterangi oleh cahaya temaram dari lampu.


"Selamat datang, dan maaf telah membuat mu menunggu," lanjutnya sambil mengulurkan tangan pada Sarah.


"Terima kasih, itu bukan masalah penting," balas Sarah saat menyambut uluran tangan tersebut.


"Silahkan duduk."


Gadis muda itu lalu duduk tepat di depan kursi Sarah. Mereka saling memandang satu sama lain dalam waktu yang lama, sebelum salah satu dari mereka mulai berbicara.


"Kurasa kau sudah tumbuh dengan cepat."


Gadis itu bertanya setelah melihat aura Sarah yang semakin gelap.


"Aku tidak ingin dipermalukan lagi. Meski rasanya sakit, aku pasti bisa bertahan."


"Kau harus tahu batasan mu, mana mati memang bisa membuat mu kuat namun ia juga bisa menjadikan mu layaknya iblis."


Sarah hanya tertawa mendengar nasihat dari gadis muda itu.


Gadis itu hanya bisa menatap tajam kearah Sarah yang terhibur dengan kekuatannya. Ia kemudian menyerahkan sebuah koran yang menampakan wajah Senja dan juga keempat sahabatnya.


"Kau harus melewati mereka terlebih dalu sebelum menyakitinya. Apa kau siap?"


"Hahaha, tentu saja aku siap."


"Mereka juga memiliki musuh yang sekarang sedang bersiap untuk melawan,"


"Baiklah kalau begitu. Aku hanya ingin memberikan ini pada mu."


Gadis muda itu kemudian mengeluarkan sekantong mutiara hitam, ia lalu memberikannya pada Sarah.


"Gunakan ini sebaik mungkin, dan kau harus ingat satu hal bahwa kerja sama kita hanya berada di antara kita saja," lanjutnya sebelum pergi meninggalkan Sarah.


"Ira, simpan ini dengan baik."


"Aku akan menggunakannya nanti di saat yang tepat," lanjut Sarah sebelum keluar dari ruangan tersebut.


Ira hanya tersenyum saat memegangi kantong yang penuh dengan mutiara tersebut. Ia lalu membuka kantong itu dan melihat apa isinya.


"Hmm, ini lebih enak dari sebelumnya," gumam Ira saat mutiara tersebut sudah berada di dalam mulutnya.


"Nona, kau akan mendapatkan banyak dari mereka dan tentu saja, Selir Jina tidak akan pernah tahu mengenai hal ini."


"Kau benar, Ira. Meski aku dan dia bekerja sama, tapi aku juga tidak ingin diperbudak olehnya."


Sarah kembali teringat wajah Selir Jina beserta kedua anak kembarnya.


"Aku memang menginginkan kekuasaan, tapi bukan berarti aku suka dengan mereka," lanjutnya saat memikirkan wajah Arina dan Dira yang sedang tertawa dihadapannya.


"Nona, anda tenang saja. Klan ku akan selalu melindungi anda dari mereka."


Ira terlihat sangat bersemangat dalam mengatakan bahwa ia dan Klannya akan melindungi Sarah.


"Itu bagus,"


"Dengan begini, maka Senja akan dengan lebih mudah untuk dihabisi,"


Sarah kemudian pergi dari rumah kumuh itu menuju akademik Lumine dengan menaiki kereta kuda yang sudah ia siapkan sebelumnya.


"Tunggu saja pembalasanku,"


*****


Malam harinya di mansion Kaira.


"Hari ini sangat melelahkan," gumam Senja pelan pada dirinya. Ia mencoba bangun dari atas kasur sambil memandangi bubu yang tengah tertidur lelap di sebelahnya.


"Apa aku biarkan saja ini?" tanya Senja sambil menyentuh jamur yang ada di punggung bubu.


"Sebaiknya aku buang saja," lanjutnya kemudian menarik jamur tersebut.

__ADS_1


Senja lalu membuang jamur tersebut keluar dari kamarnya melalui balkon. Pada saat hendak membuang jamur, Senja tanpa sengaja melihat Maya dan Muna yang tengah berdebat hebat di bawah pohon Pinus.


"Ada apa dengan mereka?"


"Apa ini alasan mengapa mereka tidak datang pada saat makan malam?"


Senja yang bingung hanya bisa menyaksikan Muna dan Maya yang saling mendorong satu sama lain. Mereka terlihat sangat kacau dengan emosi yang tidak terkontrol.


"Ada yang aneh," batin Senja saat Muna mengeluarkan aura pedangnya.


"Bahkan Maya juga sama," lanjutnya saat melihat Maya memblokir aura Muna dengan aura pedang miliknya.


"Apa yang tengah mereka debatkan sebenarnya?"


"Aku harus mencari tahu hal ini," lirih Senja sebelum memasuki kamarnya.


Bang


Langkah kaki Senja terhenti ketika ia mendengar suara pedang yang jatuh dengan kencang. Tanpa sadar Senja membalikan tubuhnya dan melihat apa yang sedang terjadi disana.


"Luna!" seru Senja saat melihat wajah kesal dari Luna.


"Aku baru kali ini melihatnya seperti itu," lanjut Senja saat melihat Muna dan Maya yang di tampar keras oleh Luna.


Senja terus memperhatikan ketiganya yang saat ini sedang berteriak satu sama lain.


"Apa aku harus turun tangan?"


"Nona," bisik Dian tepat di telinga Senja.


"Astaga!" pekik Senja kaget dengan bisikan itu.


"Apa yang sedang anda lihat?" tanya Dian sambil mengintip kearah taman dihadapannya.


"Apa kau tahu sesuatu?"


"Tidak, tapi saya punya ini."


Dian lalu menyerahkan sepucuk surat pada Senja.


"Ini dari Klein" lanjutnya sebelum pergi meninggalkan balkon.


Senja yang sudah menerima surat tersebut, entah mengapa mendapati rasa dingin di punggung belakangnya.


"Apa ini?" tanya Senja sambil memegangi pundaknya.


Senja kemudian membalikkan tubuhnya kearah taman dan melihat Kaira yang sedang mengarahkan panah apinya pada Muna dan Maya yang saat ini tengah mengarahkan pedang mereka di leher masing-masing.


"Apa mereka sudah gila?" batin Senja yang tanpa sadar berjongkok di balkon.


"Apa mereka ingin saling membunuh?" tanyanya kembali ketika darah mulai menetes dari kulit keduanya.


Senja yang bingung terus melihat mereka yang saling beradu argumen, bahkan Luna yang semula diam kini mulai mengeluarkan bola api ke arah keduanya.


Beberapa saat kemudian, Zakila datang dengan mata yang sembab. Ia lalu memeluk Maya dan menyuruhnya untuk menurunkan pedangnya. Hal yang sama juga ia lakukan pada Muna tapi sayang, keduanya hanya mengabaikan Zakila dan terus saja menatap satu sama lain dengan tajam.


Perlahan Zakila menunjukkan ke arah kamar Senja. Kini mata mereka semua menatap kamar Senja yang masih terang dengan cahaya lampu. Mereka juga bisa melihat Dian yang sekarang tengah membersihkan bulu Kun dan juga Bubu dengan air hangat. Entah apa yang dikatakan Zakila selanjutnya namun hal itu berhasil membuat keduanya menyerah.


"Nona," panggil Dian sambil membawa Bubu di atas handuk hangat.


"Apa yang sedang Anda lakukan di bawah sana?" tanya Dian saat melihat Senja yang sedang berjongkok.


"Tidak ada," jawab Senja kemudian berdiri dari jongkoknya.


"Mereka sudah pergi," lanjut Dian saat Senja ingin membalikan tubuhnya untuk melihat area taman.


"Kapan?"


"Saya tidak tahu. Saya keluar mereka sudah tidak ada," jawab Dian acuh tak acuh.


"Hah, baiklah. Kalau begitu, ada urusan apa?"


"Oh, itu. Saya mau bertanya, Bubu mau di taruh di atas kasur atau sofa?"


"Kasur saja, tapi buat jarak dari ku."


"Baik Nona."


Dian lalu kembali ke dalam kamar dan menaruh Bubu sesuai dengan perintah Senja.


"Huff, kemana mereka?" tanya Senja bingung.


"Mereka menghilang seperti tidak pernah terjadi apa pun disana," lanjutnya sambil merobek kertas surat yang sebelumnya ia genggam.


"Mari kita lihat apa isinya,"


Beberapa saat kemudian, Senja mengeluarkan api kecil dari jarinya. Ia lalu membakar surat tersebut sambil melirik kearah taman tempat dimana sahabatnya bertarung tadi.


"Sudah aku duga," gumam Senja saat surat itu terbakar oleh api.


"Cavil memang kuat, tapi siapa yang sangka dia juga seorang penyihir tingkat menengah," lanjut Senja datar sambil mengingat pertemuannya dengan Cavil di kediaman Marques Winter.


"Aku harus lebih waspada padanya," seru Senja saat surat tersebut hanya menyisakan debu.


"Ristia, pergi dan cari tahu alasan mengapa Muna dan Maya bertarung seperti ta..."


"Saya tidak bisa Nona."


"Kenapa?"


"Tempat ini sudah diawasi sejak awal, mungkin keberadaan anda masih samar oleh mereka, tapi saya dan Kun masih bisa terdeteksi olehnya," jelas Ristia yang sedari tadi terganggu oleh mana lain.


"Sial," gerutu Senja sambil memasuki kamarnya.


"Aku tidak bisa bergerak bebas disini. sialan kau Kaira," lanjutnya sebelum melemparkan diri keatas kasur.

__ADS_1


__ADS_2