
"Rasa nyaman terkadang membuat seseorang lupa betapa bahayanya perasaaan sesaat itu."
*****************#####*****************
"Sial," maki Senja yang sama sekali tidak menemukan siapa pun disekitarnya.
"Jika kau tidak senang, keluarlah!" teriak Senja sekali lagi namun tidak ada seorang pun yang membalas teriakannya.
Karena kesal ia memutuskan untuk pergi ke sungai dan membasuh wajahnya. Ia perlahan sadar bahwa energi hebat yang masuk ke dalam tubuhnya itu tidak wajar.
"Ini seperti wadah yang hancur bila di isi terlalu banyak air." batin Senja sambil mengambil air sungai dan memasukkannya ke dalam kantong plastik yang sebelumnya sudah terisi penuh oleh permen gula.
"Tidak berguna," gerutu Senja kesal lalu mencampakkan plastik tersebut jauh dari hadapannya.
Senja kemudian kembali diam sambil melihat pemandangan yang ada di hadapannya itu. lama ia memandang sampai akhirnya ia merasa ada sesuatu yang aneh keluar dari tubuhnya.
Awalnya Senja menganggap jika itu hanyalah air sungai yang menyentuh kulitnya dan jatuh ke tanah, namun lama kelamaan rasanya berbeda.
"Apa ini?" batin Senja kesal. Ia lalu membuka kedua matanya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di kulit tangannya itu.
Saat matanya terbuka, betapa kagetnya Senja saat melihat gumpalan bola putih yang keluar dari tubuhnya itu.
"Astaga! Apa ini?" teriak Senja kaget sambil mengusap kulit tangannya dengan kasar.
"Agh...! "
Teriak Senja saat mulutnya mengeluarkan bola mana yang sama seperti kulit tangannya. Ia lalu mencoba untuk membuang seluruh bola mana yang kini mulai keluar dari seluruh tubuhnya itu.
"Sial, apa ini?" maki Senja dalam hatinya.
"bahkan udara yang aku keluarkan dari hidung pun terlihat sama." lanjut Senja sambil mencoba untuk tidak bernapas selama beberapa detik.
"Apa yang terjadi sebenarnya dengan diri ku!" teriak Senja kesal bercampur gelisah.
Di sini Senja belum mengetahui fakta bahwa indera penglihatannya mulai berubah sejak ia menyentuh bola mana saat meditasinya terakhir kali.
Matanya yang semula akan melihat dunia seperti tidak terjadi apa-apa, namun kini berbeda. Ia akan melihat dunia dengan ribuan mana yang keluar dari setiap tubuh mahkluk hidup dan juga alam.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Senja mulai panik, ia bingung harus berbuat apa dengan tubuhnya yang saat ini terus mengeluarkan mana.
__ADS_1
Ia berharap akan mendapatkan jawaban dari bawahannya namun saat ia melihat pemandangan di depannya, betapa terkejutnya Senja saat mengetahui bahwa bukan hanya tubuhnya saja yang mengeluarkan mana namun seluruh tempat ini terjadi hal yang sama.
Baik pohon, batu, rumput, bahkan sampai awan pun mengeluarkan mana. Dan anehnya setiap mana yang mereka keluarkan entah mengapa terlihat murni dan suci.
"Apa-apaan ini?" gumam Senja tidak percaya.
"Hah, hahaha....!"
Senja hanya bisa tertawa sinis dengan apa yang ia lihat saat ini. Ternyata ia baru menyadari bahwa fenomena ini tidak terjadi pada tubuhnya saja, melainkan pada seluruh benda yang ada di tempat ini.
"Sial, membuat panik saja." maki Senja untuk kesekian kalinya.
"Apakah ini mana?" lanjutnya dengan tatapan tidak percaya.
"Aku dulu bertanya-tanya apa yang si sialan itu katakan, namun saat ini aku mengerti semuanya."
Senja mengingat Kun yang sebelumnya berteriak girang dengan tempat ini. Ia sangat bahagia mengetahui bahwa mana di tempat ini sangat banyak dan murni.
"Aku jadi penasaran, bagaimana dengan kondisi di luar sana." Senja melihat jauh ke depan. Pandangannya jatuh pada pintu yang mengarah keluar dari tempat ini.
Senja terus berpikir tentang mana yang ada di dunia luar sambil sesekali menepis bola mana yang keluar dari tubuhnya. Ia melakukan itu dengan santai seolah-olah ia sudah terbiasa dengan fenomena aneh ini.
"Aku penasaran apa yang akan terjadi dengan ku jika terus menyentuh bola mana itu?" pikir Senja sesaat setelahnya.
Senja lalu kembali ke tempat dimana ia bermeditasi sebelumnya. Ia kemudian kembali duduk bersila dan mencoba untuk berkonsentrasi seperti sebelumnya.
Kali ini tidak butuh waktu lama bagi Senja untuk bisa kembali fokus pada tujuannya. Ia kembali melihat bola mana yang berkeliaran di bawah alam sadarnya.
Berbeda dengan mana yang ia lihat saat ia membuka matanya. Bola mana di alam bawah sadarnya ini lebih terang dan murni daripada sebelumnya.
Bahkan Senja merasa dua kali lipat lebih sensitif di alam bawah sadarnya ketimbang di dunia nyata. Ia merasakan gejolak aneh saat mencoba untuk mengabaikan bola mana itu.
"Aku harus fokus pada tujuan ku disini," gumam Senja yang berusaha keras untuk tidak menyentuh bola mana itu.
Penglihatannya di dunia ini seperti abu-abu, hanya ada hitam dan putih. Ia bisa melihat seluruh bagian tubuhnya secara transparan, mulai dari detak jantungnya hingga aliran darah yang mengalir di sekujur tubuhnya.
Bukan hanya dirinya saja, ia juga bisa melihat seluruh area ini dengan hal yang sama. Ia bisa merasakan kehidupan dari sebuah pohon, detak jantung hewan dan bahkan suara alam yang menenangkan.
Semuanya terasa baru dan aneh, namun Senja merasa itu sangat nyaman sehingga ia bisa menerima situasinya dengan cepat. Beradaptasi dengan hal ini membuat senyum pada wajah Senja mengembang dua kali lebih besar dari pada sebelumnya.
"Entah mengapa rasanya begitu tenang," batin Senja sambil tetap menjaga batasan mana yang mengalir di tubuhnya.
__ADS_1
Energi kuat yang sebelumnya hendak menghancurkan Senja kini mulai terlihat tenang dan terarah.
Senja cukup membimbing energi itu secara perlahan masuk ke dalam meridiannya. Disini Senja bisa merasakan jika meridiannya mulai tersusun kembali.
"Sekarang aku mengerti."
Senja mulai paham apa yang dimaksud oleh Sera sebelumnya. Menjahit yang ia maksudkan adalah membuat ulang meridiannya dengan energi mana yang terdapat di dalam tanpa merusak alam itu sendiri.
Kecerobohan Senja sebelumnya saat menyentuh bola cahaya membuatnya sadar bahwa mana yang ia lihat di dunia hitam-putih ini sebenarnya adalah energi yang saat ini sedang ia kumpulkan.
Energi yang tidak seharusnya ia sentuh karena kekuatan di dalamnya sangat besar dan kuat. Jika saja tubuhnya tidak mampu menahan energi tersebut, maka ia akan hancur, bahkan lebih hancur dari pada meridiannya saat ini.
"Memaksakan energi yang tidak seharusnya menjadi milik mu hanya akan membuat mu hancur secara tidak langsung." gumam Senja pelan.
Sudah lebih setengah hari Senja duduk diam tanpa berkata apa-pun dan itu membuat Vanilla panik. Ia tahu jika nona nya suka kesendirian namun membiarkan nona nya diam tanpa makan juga berbahaya.
Dengan tekad yang kuat, akhirnya Vanilla memutuskan untuk mendatangi Senja dan memberikannya makanan.
Anehnya sebelum Vanilla sampai di tempat nona nya, ia sudah merasakan hawa yang begitu dingin. Rasanya sangat menusuk berbeda saat sebelumnya ia berada di gua yang penuh dengan coklat.
Dingin bercampur dengan hawa eksistensi nona nya membuat Vanilla sadar bahwa saat ini nona nya bukan hanya duduk diam namun saat ini ia sedang berlatih sesuatu.
"Apa yang sedang Nona coba lakukan?" tanya Vanilla yang saat ini semakin mendekati Senja.
anehnya Vanilla hanya melihat Nona Nya duduk bersila tanpa melakukan apa pun. Duduk diam dengan begitu banyak aura mana yang mengelilingi Nona Nya.
"Itu aneh," lirih Vanilla saat mengetahui bahwa tingkatan nona nya mulai naik jauh ke atas.
"Bukankah terakhir kali Nona masih tingkat 6, tapi bagaimana bisa kali ini naik begitu cepat."
Setahu Vanilla tingkatan nona nya tidak jauh berbeda dengan dirinya yang masih kecil ini. Bukannya Vanilla tidak menyadari bahwa tempat ini bisa meningkatkan kekuatan seseorang hanya dengan bernapas saja.
Namun naiknya tingkat kekuatan Nona Nya membuat Vanilla bingung, pasalnya itu sangat tidak manusiawi. Bagaimana bisa seseorang naik dua tingkat hanya dengan duduk bersila selama setengah hari saja.
"Nona memang pantas disebut sebagai monster." gumam Vanilla saat mencoba untuk melewati benteng transparan yang menyelimuti nona nya saat ini.
Tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya tingkat asli Senja jauh lebih tinggi dari pada yang terlihat. Jujur saja sebenarnya Senja sudah memasuki tingkat sembilan akhir.
Namun tingkat kekuatannya tertutupi dengan adanya gelang penahan mana yang selalu ia pakai. Gelang yang entah mengapa bisa berfungsi dengan sangat baik. Gelang yang tidak sengaja ia temukan diantara para pedagang di Kerajaan Guira itu.
"Nona, sudah waktunya Anda makan!" teriak Vanilla dengan suara kerasnya.
__ADS_1
"Nona...!" panggilnya sekali lagi.