
"Mudah untuk menyapa dan mudah juga untuk melupakan, itulah bentuk hubungan rumit manusia."
*****************#####*****************
"Berapa lama lagi kita akan sampai?" tanya Zakila dengan raut wajah bosan
"Dua jam lagi dari sekarang," jawab Luna saat melirik kearah jam tangannya.
"Lama sekali, aku sudah bosan duduk disini."
Protes Zakila yang malah mendapatkan tatapan acuh dari ketiga sahabatnya itu.
"Ayolah, kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Zakila kesal.
"Dan kenapa kita tidak menggunakan portal saja?" lanjut Zakila dengan raut wajah tidak percaya dengan keadaanya saat ini.
"Tidak bisakah kau diam? Kita akan segera sampai jadi bersabarlah," gerutu Muna dingin.
"Benar kata Muna, bersabarlah sedikit," timpal Luna yang mendapatkan anggukan kepala dari Maya.
"Hah, baiklah."
Disisi lain, Senja yang sudah bergerak pergi dari pinggiran kota El-Aufi, sekarang berada di area pintu masuk ibu kota kerajaan tersebut. Dari pintu masuk Senja dapat melihat aktifitas yang sama seperti terakhir kali ia meninggalkan tempat itu.
Para warga masih tetap sibuk dalam aktifitas sehari - harinya, sedangkan para bangsawan terlihat berjalan - jalan ria di dekat plaza kota.
"Nona, waktu sudah menjelang pagi. Bagaimana jika kita berhenti di kafe untuk sarapan, anda tidak bisa menemui mereka dengan keadaan seperti ini."
"Anda juga perlu mandi dan..."
Dian menjeda perkataannya sehingga membuat Senja melirik kearah pakaiannya sendiri.
"... Anda memang butuh mandi dan berganti pakaian." lanjut Dian datar, kemudian ia menyuruh kusir untuk berhenti di depan salah satu kafe di dekat mereka.
"Ada apa dengan pakaianku,"
"Apa ada yang salah?"
"Anda terlalu berantakan,"
Beberapa saat kemudian, kereta kuda sudah berhenti di depan sebuah kafe terkenal di ibu kota tersebut. Kafe ini tidak lain adalah kafe yang sering dikunjungi oleh Senja dan juga Kaira, kafe dimana pertama kali mereka bertemu.
"Selamat datang Nona,"
"Apakah ada ruangan kosong di lantai atas?"
Dian bertanya setelah melihat area di sekeliling kafe tersebut ramai dengan pengunjung.
"Sebentar Nona, saya check dulu."
Pelayan kafe tersebut kemudian pergi ke meja resepsionis untuk memeriksa data.
"Ada apa Nona?" tanya Dian penasaran dengan reaksi aneh Senja.
"Tidak ada, aku hanya merasa lelah,"
"Bagaimana?" tanya Dian saat pelayan tersebut mendatanginya kembali.
"Ada satu ruangan yang kosong Nona, namun tidak besar."
"Tidak masalah."
"Baiklah, kalau begitu. Ikuti saya."
Pelayan kafe itu membawa Senja dan Dian menuju lantai dua. Disana mereka dibimbing pergi menuju ruangan pojok yang berada di ujung lorong.
"Ini dia tempatnya Nona," lirih pelayan tersebut sambil membuka pintu.
"Lumayan,"
"Apa ada lagi yang dibutuhkan?" tanya pelayan tersebut setelah mendapatkan pesanannya.
"Tidak ada, cukup dengan itu," jawab Dian saat menyerahkan daftar makanan yang mereka pesan.
"Baiklah, makanan ini akan sampai dalam 15 menit." seru pelayan tersebut sebelum meninggalkan ruangan.
Beberapa saat kemudian, makanan yang dipesan oleh Senja datang. Mereka pun segera menyantap makanan itu sebelum pergi menuju hotel untuk berganti pakaian. Dian yang sudah siap segera membantu Senja dalam memakaikan pakaiannya.
"Nona, mereka sudah sampai," seru Dian saat mengambil sepasang sepatu untuk Senja.
"Hah, akhirnya datang juga,"
__ADS_1
"Untung saja aku tidak terlambat, jika tidak maka urusannya akan panjang."
Senja kemudian berjalan keluar kamar untuk menyambut sahabatnya tersebut. Ketika sampai di lantai bawah hotel, Senja bisa melihat Luna dan Muna yang sudah berdiri tepat dihadapannya. Ia juga melihat Maya dan Zakila yang sedang merenggangkan badan di depan pintu masuk hotel.
"Luna," sapa Senja dengan senyum hangatnya.
"Lama tidak bertemu," lirih Muna sambil memeluk pelan tubuh Senja.
"Aku rindu." lanjut Luna sebelum memeluk Senja setelah Muna.
" Senja."
Zakila memanggil Senja setelah ia melihat Muna dan Luna yang sedang memeluknya.
"Zakila, Maya."
"Bagaimana kabar mu?" tanya Maya sebelum mereka berpelukan.
"Aku baik."
"Baguslah," seru Zakila seraya memeluk Senja.
Disisi lain, pelayan pribadi mereka menyapa Dian yang baru saja keluar dari lift. Mereka terlihat senang ketika melihat Dian berjalan keluar.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Mia ramah.
"Seperti biasa," jawab Dian acuh.
"Kau sama sekali tidak berubah," seru Xena sambil memukul ringan pundak Dian.
"Aku senang Nona ku bisa tersenyum kembali seperti itu."
Xena tersenyum lega sambil melirik kearah Muna yang sedang berbicara dengan Senja.
"Apa kau tahu, setelah Nona mu pergi. Kondisi mereka seperti dibalut bayangan hitam, suram dan menyedihkan," bisik Lila pelan pada Dian sebelum ia mendapatkan pukulan keras dari Mia.
"Jangan bicarakan hal yang aneh-aneh disini," gerutu Mia dengan kesal.
"Benar kata Mia, kita seharusnya senang jika Nona kita bahagia," timpal Ayina.
"Maaf," lirih Lila sambil mengelus pelan kepalanya.
****
"Kota ini indah," seru Muna saat mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Pemandangan disini akan terlihat lebih indah bila malam hari tiba."
Senja menimpali perkataan Muna sambil menunjukan area sekitar plaza.
"Disini juga ada gedung teater, jadi kita bisa menonton film di malam harinya." lanjut Senja ketika mereka sudah melewati jalan utama ibu kota.
"Senja, apa sesuatu terjadi dengan mu?" tanya Muna secara tiba-tiba.
"Tidak, sama sekali tidak ada."
"Benarkah?"
"Tentu."
"Ini aneh," gumam Muna pelan namun masih bisa di dengar oleh Senja.
"Apanya yang aneh?"
Muna terlihat kaget saat mendengar pertanyaan Senja.
"Ah, bukan apa-apa?"
"Apa kau yakin? Katakan saja pada ku," seru Senja mencoba untuk menyakinkan Muna.
"Entahlah Senja, ini terasa aneh."
"Apa itu?"
"Aku selalu bisa merasakan aura mu namun kini, aku tidak bisa melihatnya lagi," lirih Muna bingung dengan apa yang ia rasakan.
"Tunggu dulu, maksudmu aura ku menghilang begitu?"
"Itu tidak sepenuhnya menghilang, namun terlihat seperti tertutupi. Seperti ada tembok yang menghalangi aura mu untuk keluar."
"Apa maksudnya? Apa ada yang memblokir aura ku?"
__ADS_1
"Maka dari itu, apa kau merasa baik-baik saja?" tanya Muna sekali lagi.
"Aku tidak merasakan hal aneh apa pun. Aku merasa baik dan sehat," jawab Senja yang juga kelihatan bingung dengan kondisinya.
"Jika apa yang dikatakan Muna benar, bagaimana bisa aku menutupi aura ini?"
"Apa ini alasan mengapa Kaira tidak menyadari kehadiran ku."
" Senja, kurasa kau harus memeriksanya. Aku takut jika ada masalah dengan ini."
"Baiklah, aku akan menanyakan ini pada Prof Edward nantinya."
Senja dan Muna kemudian berjalan menuju pasar untuk melihat apa saja yang dijual disana. Mereka terlihat seperti pengunjung pada umunya, melihat dari satu toko ke toko lainnya.
"Muna, apa kau suka ini?" tanya Senja sambil menunjuk kearah gelang batu murni berwarna biru muda.
"Itu cantik."
Muna lalu mengambil gelang tersebut dan menyodorkannya kearah sinar matahari.
"Indahnya," Lirih Senja saat gelang tersebut memantulkan cahaya.
" Pak, saya pesan ini dua."
Muna kemudian menyerahkan gelang tersebut pada si penjual.
"Baik Nona,"
"Pak, saya ambil ini tiga." lanjut Muna ketika si penjual sedang membungkus gelangnya.
Setelah membeli gelang tersebut, Muna dan Senja bergegas kembali menuju hotel. Mereka tiba beberapa saat setelah Luna dan Maya sampai disana.
"Kalian dari mana saja?" tanya Luna menyelidiki.
"Habis berjalan santai," jawab Muna datar.
"Wah, apa ini?"
Maya bertanya saat melihat bungkusan yang di genggam oleh Muna.
"Nanti kau juga tahu,"
Muna lalu berjalan menaiki lift menuju kamar Senja. Disana, mereka sudah disambut oleh Zakila yang tengah bermain dengan Kun. Tampak jika Kun sangat terganggu dengan kelakuan Zakila yang tengah menggangunya tidur.
"Bukankah aku sudah mengatakan padanya, jika dia tidak akan bisa tidur nyenyak selama disini," batin Senja sambil menahan senyum nakalnya.
"Apa ini?" tanya Zakila saat Muna melemparkan sebuah kotak berukuran kecil untuknya.
"Bukalah."
Muna kemudian memberikan hal yang sama pada Luna dan Maya.
"Ini adalah hasil dari jalan-jalan kami." lanjut Muna acuh sambil membuka kotak tersebut.
"Cantiknya," seru Zakila setelah memakai gelang tersebut.
"Pintar juga pilihanmu," lirih Luna senang saat gelang ditangannya bersinar karena pantulan cahaya.
"Itu, pilihan Senja," jelas Muna acuh.
"Tunggu dulu," lirih Maya dengan tatapan curiga.
"Kenapa gelang mu dan Senja sama sedangkan kami berbeda." lanjutnya dengan mata yang menyipit sambil melihat gelang yang dikenakan oleh Muna.
"Terserah pada ku."
Muna masih terlihat acuh saat Zakila menarik tangannya.
"Ini tidak adil," teriak Zakila kesal.
"Sudahlah, bukankah bentuknya sama."
Luna mencoba untuk menerima meski pun ia juga terlihat kesal.
"Tapi warnanya berbeda," gerutu Zakila dengan tatapan sedihnya.
"Kalau begitu, mau bertukar dengan ku?" tanya Senja polos.
"Tidak perlu, dia akan memakainya suka atau tidak suka," Jelas Muna datar.
Setelah perdebatan yang panjang, akhirnya mereka memutuskan untuk menerima apa yang sudah mereka dapat. Meski awalnya Zakila kesal namun ia akhirnya menerima dengan lapang dada.
__ADS_1
"Lain kali, aku akan membeli barang yang sama dengan Senja."