
"Sebaik apa pun kamu jika tidak kenal akan tetap dianggap menggangu."
********************####********************
Sepanjang malam yang sunyi seorang gadis masih berkutat pada sihirnya. Ia dengan kasar membolak-balikkan tinta pena sebelum memutuskan untuk menulis kembali suratnya.
Gadis itu terlihat bimbang setiap kali mulai menulis. Ia sudah beberapa kali meremas dan membuang surat yang baru saja ditulisnya. Gadis itu tidak lain adalah Senja, ia meras frustasi setiap kali hendak menulis surat.
"Aku ingin mereka mewaspadai pelayan itu," gumam Senja sebelum penanya kembali meluncur di kertas.
Kali ini Senja menulis kalimat panjang yang tidak sesuai dengan kepribadiannya. Kalimat itu disertai dengan potret seorang wanita pelayan yang tersenyum aneh.
"Aku harus tahu siapa saja yang di jumpainya selama dua bulan terakhir ini."
Lima belas menit telah berlalu dan Senja masih terus berkutat pada suratnya. Butuh waktu 25 menit baginya untuk bisa menyelesaikan surat tersebut. Senja kemudian menstempel surat itu dengan lambang rubah merah milik guild.
"Akhirnya aku bisa istirahat juga." lirih Senja saat bangkit dari duduknya.
Ia kemudian berjalan menuju kasur dan langsung merebahkan diri. Tidak butuh waktu lama, kali ini Senja langsung tertidur pulas.
Esok paginya Senja terbangun dengan senyum merekah di bibirnya. Ia merasa segar karena dapat tidur dengan nyaman tadi malam. Sudah lama Senja tidak tidur seperti itu semenjak terus bergadang setiap malamnya.
"Sudah diantar rupanya," gumam Senja saat melihat tumpukan surat yang menghilang dari atas mejanya.
Biasanya surat-surat itu akan dikirim Dian menuju guild. Disana surat itu akan diberi sihir pelindung sebelum dikirim kembali pada pemilik aslinya.
Hal ini dilakukan agar tidak ada seorang pun yang dapat melihat isi surat itu kecuali sang penerima yang dituju. Begitulah sistem keamanan guild yang dibuat oleh Senja.
"Nona, silahkan." seru Dian setelah menaruh wadah air cuci muka.
"Hari yang membosankan dengan rutinitas yang sama."
****
Hari demi hari dilalui Senja seperti biasanya dan tidak terasa seminggu pun berlalu. Ia merasa cukup bosan karena harus mengulangi hari yang sama tanpa adanya perubahan apa pun.
"Hmm, setidaknya ada satu yang berubah," gumam Senja sambil melirik kearah Kira yang duduk jauh darinya.
Entah karena alasan apa tapi yang pasti setelah Kira kembali dari kediaman Count Difani, ia terlihat seakan menjauhi Senja.
Tentu saja hal itu sangat disyukuri Senja karena tidak perlu bersusah payah bersandiwara di depannya. Meski begitu Senja tetap waspada karena bisa saja ada tujuan lain di balik itu semua.
"Ayo Senja, mari kita fokus," lirih Senja sambil menepuk ringan kedua pipinya.
Ia kemudian kembali fokus dengan pelajaran ilmu sihir pertolongan. Bisa dikatakan ilmu ini lebih fokus pada healing system untuk keadaan darurat.
Senja tidak begitu tertarik karena tentu saja semua luka dan cideranya dapat diobati oleh Ristia. Meski begitu Senja tetap memperhatikan pelajaran hingga selesai.
"Apa ada pertanyaan?" seru Prof Aina sambil membereskan buku tulis miliknya.
"Jika tidak ada akan saya anggap kalian sudah memahami semuanya." lanjut Prof Aina sebelum keluar dari kelas.
Para murid terlihat senang karena hanya Prof Aina lah yang tidak suka basa-basi dan mempersulit siswanya. Meski begitu Prof Aina juga termasuk ke dalam salah satu Prof killer selain Prof William dan Prof Andrew.
"Ah iya, sepertinya saya lupa sesuatu."
Prof Aina kembali lagi menuju mimbar dan membuka tas kecil miliknya. Di dalam tas itu terdapat beberapa kantong kecil dengan berbagai warna. Hanya dengan satu gerakan tangan seluruh kantong itu kini menyebar ke beberapa meja siswa.
"Di dalam kantong terdapat biji tanaman herbal, saya tahu tidak semua dari kalian mahir dalam teknik sihir penyembuhan. Jadi sebagai gantinya saya ingin kalian menumbuhkan tanaman itu."
"Permisi Prof, kenapa saya tidak mendapat biji tanaman itu?" potong siswa yang di mejanya tidak terdapat bungkusan kantong.
"Seperti yang saya katakan tadi bahwa tidak semua dari kalian memiliki kemampuan healing. Jadi mereka yang tidak mendapatkan kantong adalah siswa yang memiliki potensi dalam healing system."
"..."
"Waktu untuk menumbuhkan tanaman itu hanya sepuluh hari saja. Dalam waktu itu saya akan mengadakan sesi praktek langsung pelajaran ini. Jadi bagi mereka yang tidak mendapatkan biji harus mencari setidaknya satu teknik penyembuhan untuk dapat lulus."
"Apa? Bagaimana bisa?"
"Apa Prof Aina sudah gila?"
Para siswa saling berdebat satu sama lain, mereka merasa dirugikan dengan tindakan pilih kasih Prof Aina kali ini.
__ADS_1
"Prof, saya rasa itu tidak adil. Mereka hanya perlu menumbuhkan biji itu sedangkan kami.."
"Hei, apa kau cemburu? Apa yang dikatakan Prof Aina sudah benar."
Potong siswa lain yang tidak terima dengan argumen teman sebangkunya. Ia merasa jika penilaian Prof Aina sudah benar dan tidak perlu di ragukan lagi.
"Akan sangat bagus jika Prof Aina tidak menarik kembali keputusannya." batin pria itu dengan wajah kesal.
Para siswa yang menerima kantong merasa senang. Mereka tidak perlu bersusah payah mencari teknik penyembuhan untuk bisa lulus praktek kali ini.
"Kegagalan praktek di mata pelajaran Prof Deru sudah cukup." batin seluruh siswa yang menerima kantong biji.
"Pikiran batin mereka terlihat begitu jelas," gumam Senja saat melihat wajah para siswa yang sedang melotot tajam sambil menggenggam kantong biji dipelukkan masing-masing.
Prof Aina yang melihat kekacauan di depannya hanya bisa menggelengkan kepala sebelum memutuskan untuk keluar dari kelas.
"Dasar bodoh, mereka pikir itu akan mudah." batin Prof Aina dengan senyum licik diujung bibirnya.
Senja sedikit kaget saat melihat senyum sekilas Prof Aina sebelum ia keluar dari kelas. Menurut Senja senyum itu tampak aneh dan mencurigakan.
"Apa aku salah lihat? Tapi sepertinya tidak begitu." gumam Senja saat melihat beberapa siswa mengejar Prof Aina.
"Prof tunggu, ini tidak adil. Saya tidak bisa menerimanya."
Teriak beberapa siswa yang tidak terima dengan kondisinya. Mereka marah sambil mengejar punggung Prof Aina dari belakang. Namun seperti yang diduga mereka hanya mendapatkan ceramah panjang setelah berhasil mendekati Prof Aina.
****
Senja yang berhasil kabur dari kelas setelah perjuangan panjang akhirnya bisa bernapas lega. Ia bersyukur bisa kabur disaat yang tepat sebelum amarah Prof Aina meledak di kelas itu.
"Aku rasa ada beberapa orang lagi yang lolos dari kelas, kemana mereka?"
Senja melirik ke kanan dan kiri namun tidak mendapati seorang pun. Ia dengan lega melihat kembali lantai empat gedung sihir. Disana ia bisa melihat kobaran cahaya biru yang sesekali menyinari kelas itu.
"Prof Aina pasti sangat marah," seru suara bariton yang muncul dari samping Senja.
"Siapa?"
Senja terlihat kaget, ia tanpa sadar menggenggam dadanya yang berdetak kencang.
"Sejak kapan Amir ada disitu? Aku sudah mengeceknya tempat ini dan tidak ada seorang pun disana."
"Ah tidak, aku hanya bingung saja." balas Senja setelah menenangkan hatinya.
"Bagaimana kau bisa sampai disini?" tanya Senja setelah diam beberapa detik.
"Aku, aku tadi tersesat dan akhirnya bisa kabur dari kelas. Waktu ingin kembali ke asrama aku melihat mu disini."
"Oh begitu, apa yang kau dapat tadi dikelas?" tanya Senja sembari melirik gedung asrama pria yang berada tidak jauh dari posisi mereka.
"Aku dapat ini,"
Amir mengeluarkan kantong biji miliknya, ia terlihat begitu percaya diri dan tidak mewaspadai Senja sama sekali.
"Kenapa kau menunjukkan itu padaku? Apa kau tidak takut aku akan mencurinya?"
"Eh, tidak. Sama sekali tidak."
Kenangan pahit kembali menghantam Amir saat melihat kantong biji teman sekelasnya yang direbut. Itulah alasan mengapa kelas kini menjadi kacau dan kenapa juga Prof Aina kembali lagi ke kelas setelah pergi begitu lama.
"Kau tidak seperti mereka." lanjut Amir dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Tapi jika kau mau aku bisa..."
"Tidak perlu, aku tidak sejahat itu."
Senja dengan tegas memotong perkataan Amir. Ia tidak ingin berurusan dengan pria aneh di depannya ini.
"Sudah cukup aku merasa pusing dengan kelas tadi, dan ini. Hah tidak, aku ingin kembali saja."
Senja kemudian pergi dari tempat itu meninggalkan Amir yang diam melihatnya. Senja tidak peduli dengan apa pun yang dipikirkan Amir tentangnya.
"Hubungan kami bukanlah hubungan dekat yang harus saling berbagi satu sama lain."
__ADS_1
Beda cerita jika itu dengan Kira, Senja akan dengan senang hati menerima biji itu dan membuat Kira menangis setelahnya. Cukup bagus melihat wajah Kira yang menangis kesal karena rencananya yang gagal.
Setelah kepergian Senja dari tempat itu, Amir segera menuju kamar asrama miliknya. Sepanjang jalan ia terus saja tersenyum nakal sambil memikirkan wajah Senja.
"Ekspresi yang bagus, aku suka itu." gumam Amir saat mengingat wajah Senja yang memerah karena kaget.
Sesampainya Amir di kamar, ia dengan malas membuang kantong biji itu ke tong sampah. Ia kemudian duduk santai di sofa dan mulai memperhatikan gerak-gerik siswa lain dari luar jendela kamarnya.
****
"Nona, anda terlihat aneh." seru Dian saat melihat Senja yang masuk kamar dengan wajah jutek.
"Dian, aku ingin kau menyelidiki seseorang." balas Senja yang tidak mau ambil pusing dengan perkataan bawahannya itu.
"Selidiki pria ini," lanjutnya sambil menyerahkan poster Amir pada Dian.
"Baik Nona,"
Dian segera menghilang dari kamar dan menyisakan Senja seorang disana.
"Aku sama sekali tidak merasakan hawa keberadaanya saat itu, aneh sekali."
Senja kembali teringat pertemuannya beberapa saat yang lalu dengan Amir. Sangat aneh Senja yang peka tidak dapat menyadari hawa keberadaan Amir pada mereka begitu dekat.
"Sihir apa yang dia gunakan?" gumam Senja sebelum melepaskan pakaiannya.
Sambil terus berpikir Senja masuk ke dalam bak mandi dan mengistirahatkan otaknya. Meski ini masih siang hari namun Senja terlalu malas untuk kembali ke kelas setelah kejadian tadi.
"Pelajaran selanjutnya adalah Ilmu lanjutan teknik tempur. Meski aku tidak datang hari ini, itu tidak akan menjadi masalah besar."
Senja malas bertemu lagi dengan Amir dan teman sekelasnya yang lain. Ia ingin istirahat menggunakan dalih sakit. Tentu saja semua guru tahu jika kondisi Senja lemah jadi mereka akan dengan senang hati membiarkannya istirahat di kamar.
Segera setelah mandi, Senja memilih untuk istirahat di rumah tua. Sekaligus menunggu jadwal sesi latihan bersama Lucas.
"Dian, kirim surat ini pada Prof Darwin. Katakan padanya aku demam akibat keributan tadi."
"Baik Nona,"
Dian dengan patuh mengambil surat itu dan segera keluar dari kamar. Senja yang melihat kepatuhan Dian hanya bisa menghela napas panjang sebelum pergi meninggalkan asrama.
Setelah cahaya portal menghilang Senja dapat melihat berbagai furniture rumah tua. Semuanya tetap sama dan tidak ada perubahan sama sekali.
Senja kemudian berjalan melewati ruang tamu untuk menuju kamarnya. Saat baru masuk ke dalam ruang tamu, Senja melihat sepucuk surat dengan setangkai bunga Krisan diatasnya.
"Apa ini?" tanya Senja sambil mendekati meja.
"Siapa yang mengirimkan bunga dan surat ini."
Senja dengan malas menyingkirkan bunga Krisan sebelum mengambil surat yang ada dibawahnya. Ia kemudian membuka surat itu dan membaca isinya.
"Apa Lucas sudah gila?" maki Senja dengan raut wajah kesal.
Ia kemudian melirik sekilas pada bunga Krisan yang masih terlihat segar meskipun sudah diperiksa beberapa saat yang lalu.
"Apa dia menyuruhku memakan bunga ini? Apa dia tidak tahu jika aku alergi bunga Krisan?"
Senja sedikit marah, ia ingin menghancurkan bunga itu segera. Namun Ristia yang ada dipergelangan tangan Senja berhasil menghentikan aksi nona nya itu.
"Nona, bunga ini sangat langka dan khasiatnya cukup baik bagi kesehatan dan mengembalikan vitalitas."
"Terus?"
"Dari pada anda membuangnya, lebih baik menjualnya saja bukan?"
"Hmm, ide yang bagus. Tapi sepertinya aku tidak bisa menjual bunga ini di pasar gelap."
"Kenapa nona tidak menjualnya di tempat lain saja."
"Hah, kau pikir itu mudah."
Senja memukul ruangan kepala Ristia dan kemudian mengambil bunga itu untuk disimpan di tas sihir miliknya. Tas itu mampu menyimpan berbagai macam makanan dan tumbuhan agar tetap awet sampai dua tahun lamanya.
"Nona mau kemana?"
__ADS_1
"Tidur, aku lelah."
Seperti rencana awal, Senja dengan malas datang ke kasur dan merebahkan dirinya. Ia akan memikirkan kembali tentang kejadian hari ini setelah semua rasa penatnya hilang.