Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Kerajaan Guira Pt 4


__ADS_3

"Sembunyikan Lah apa yang harus disembunyikan karena tidak semua hal itu dapat diceritakan."


******************#####****************


"Nona!" panggil Eza saat mereka sudah sampai dititik temu awal.


"Kerja Bagus Lily."


Link Senja senang saat melihat Eza menggunakan topeng yang sama dengannya.


Tentu saja hal itu terjadi beberapa saat yang lalu ketika Senja menyuruh Lily untuk menyampaikan pesannya pada Eza sebelum mereka memasuki goa.


"Kita akan segera berteleportasi," seru Senja ketika Eza sudah berada disampingnya.


"Lily pergi dan kabari Dian segera," lirih Senja yang dijawab anggukan kepala oleh Lily.


Meski kini ketujuh orang tersebut sudah setuju untuk mengikutinya namun bukan berarti Senja harus membuka semua hal tentang dirinya.


"Nona, siapa mereka," bisik Eza sebelum Senja melafalkan mantra sihirnya.


"Kau akan tahu nantinya," jawab Senja datar setelah portal sihir muncul di bawah kaki mereka.


Segera portal sihir terhubung dan sinar cahaya terang pun menyelimuti tempat tersebut. Senja bisa merasakan aura mematikan sedang menuju kearahnya namun itu sudah terlambat karena Senja dan kelompoknya sudah benar-benar menghilang dari sana.


"Sampai jumpa lagi," ejek Senja dengan bibir yang bergerak tanpa suara pada salah pemimpin ksatria yang sedang berlari gila kearahnya.


Pemimpin itu tampak sangat kesal ketika genggaman eratnya hanya menyisakan angin saja. Kini Senja sudah benar-benar menghilang, terlihat cukup jelas wajah jengkel pemimpin tersebut.


"Sialan, berani sekali mereka mencuri di wilayah ku," teriaknya kesal ketika seluruh prajurit yang ia pimpin sedang menuju kearahnya.


"Cari ke seluruh kota dan periksa siapa saja pendatang baru yang tiba disini," lanjutnya masih dengan ekspresi wajah kesal.


"Aku harus melaporkan masalah ini pada Raja,"


Dari kejauhan seorang pria tampan dan juga bayangannya sedang menikmati kejadian tersebut. Pria itu terus saja menyunggingkan senyum nakal setiap kali pemimpin ksatria tersebut berteriak dengan kesal pada bawahannya.


"Aku penasaran sosok mana yang berani membuat keributan seperti ini," seru pria misterius tersebut.


"Apa aku harus menyelidikinya?" tanya bayangan disampingnya dengan raut wajah yang sama penasarannya dengan si majikan.


"Tidak perlu, kita akan tetap dalam rencana awal," lirih pria tersebut sebelum berbalik dan menghilang.


"Tetap awasi tempat ini sampai aku memutuskannya," lanjut pria tersebut sebelum menghilang dari pandangan si bayangan.


"Meski pun dengan adanya kejadian ini mereka akan memperketat penjagaannya namun hal itu bukan masalah besar bagi ku,"


****


Di dalam penginapan Dian yang tiba-tiba saja didatangi Lily terlihat sangat terkejut.


"Lily, sedang apa kau disini? Dimana Nona?" tanya Dian penasaran.


"Nona sekarang aman bersama dengan Eza dan aku datang kesini untuk menyampaikan pesan Nona pada mu. Nona menyuruh mu untuk segera menyiapkan ruangan dan tidak lupa pakai juga topeng mu itu," seru Lily saat sedang membuat perisai pelindung untuk Kun dan Vanilla yang masih tertidur lelap.


"Sial, mereka malah enak-enakan tidur sedangkan aku, huh." batin Lily kesal ketika melihat raut wajah Kun yang tertidur lelap.


Beberapa saat kemudian setelah Dian selesai menggunakan topeng dan jubah hitamnya, muncullah sinar terang disalah satu sudut ruangan tersebut. Sinar itu kemudian berubah menampakkan sosok Senja dan kelompok yang ia bawa.


"Hah, lelah sekali," seru Senja malas sambil melemparkan dirinya keatas kasur.


"Nona!" lirih Dian kesal dengan sikap serampangan nona nya itu.


"Ah baiklah, baik," gerutu Senja malas saat Dian menatapnya dengan kesal.


"Kalian bisa duduk disana," lanjut Senja sebelum duduk santai di atas kasurnya.


"Silahkan diminum," seru Dian setelah menyerahkan teko dengan beberapa gelas disampingnya.


"Terima kasih," jawab salah seorang diantara mereka.


"Eza periksalah area sekitar sini," seru Senja acuh tak acuh sambil mengelus bulu halus Kun.


"Baik Nona."


"Tapi sebelum itu, jangan buat keributan apalagi terlihat mencolok."


"Baik Nona, saya mengerti," jawab Eza tegas kemudian keluar dari kamar tersebut melalui pintu masuk.


Sekarang di dalam kamar hanya tersisa Senja dan ketujuh orang tersebut serta Dian yang tengah menjaga balkon atau lebih tepatnya mengawasi jikalau adanya penyusup yang masuk.


"Siapa nama mu?" tanya Senja datar.


"Nama saya..."


Perkataannya terputus ketika Senja tiba - tiba saja mengangkat tangannya.


"Aku tidak peduli," gumam Senja pelan namun masih bisa didengar oleh mereka bertujuh.


"Jika tidak peduli mengapa anda bertanya tadi," gerutu mereka dalam hatinya.


"Sekarang kalian akan berada di bawah kekuasan ku dan karena hal itu, kalian harus patuh dengan apa yang akan aku katakan," seru Senja sambil melemparkan dokumen hitam serta tujuh botol kecil.


"Ini adalah bukti dari kesetiaan kalian pada ku," lanjut Senja.


Ia kemudian melemparkan sebuah belati yang sama yang telah ia berikan kepada keluarga Amel sebelumnya.


" ... "


Mereka bertujuh hanya bisa melihat kearah meja tanpa bisa berkata apa pun.

__ADS_1


"Perjanjian gila macam apa ini? Apa dia ingin menjadikan kami budak?" batin mereka penuh tanda tanya.


Senja yang melihat keraguan dari ketujuh orang tersebut hanya bisa menghela napas panjang.


"Jika kalian tidak suka maka kembali lagi saja ke goa itu, aku tidak membutuhkan sampah dalam kelompok ku ini," gerutu Senja kesal sebelum meminum teh hijau pesanannya.


"Apa yang harus kami lakukan?" tanya salah seorang diantara mereka dengan raut wajah gelisah.


"Apa kami akan dijadikan budak?" timpal yang lain masih dengan raut wajah yang sama.


" ... "


Senja hanya diam menatap mereka dengan pandangan dingin. Anehnya tubuh mereka seketika kaku ketika pandangan dingin itu mulai menusuk masuk ke dalam rongga-rongga tulang terkecil mereka.


"Tekanan gila macam apa ini? Mengapa aku tidak bisa bergerak,"


Dian yang berada di balkon pun ikut merasakan aura mencekam dari balik punggungnya.


"Nona, hentikan. Apa anda ingin mereka menyadari keberadaan kita?"


Link Lily dengan kesalnya.


Perlahan Senja mulai menurunkan aura dominasinya namun hal itu masih tetap membuat tubuh mereka bergetar hebat.


"Apa aku terlihat seperti penjahat di mata kalian?" tanya Senja acuh tak acuh.


"tid, tidak Nona," jawab salah seorang dari mereka dengan gugup.


"Kalau begitu apa aku terlihat akan menjadikan kalian budak?"


" ... "


"Memang apa yang bisa aku dapatkan dari orang lemah seperti kalian? Kalian bahkan tidak mampu menandingi seperempat dari kekuatan ku."


" ... "


"Dengan tubuh lemah seperti itu kalian hanya akan menyusahkan aku saja," seru Senja dingin yang kini malah membuat tubuh mereka semakin bergetar.


"Kalian memang tidak akan berguna dalam pertarungan tapi dengan kemampuan apoteker itu kalian akan membuat ku kaya-raya."


Saat ini mereka semua dalam dilema yang besar, memang benar adanya mereka tidak akan berguna bagi wanita muda di depan ini namun mereka juga tidak bisa begitu saja menerima hal itu mentah-mentah.


"Kami memang lemah tapi kami bukanlah pengecut," gumam salah seorang dari mereka yang terdengar samar ditelinga Senja.


"Apa kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Senja acuh tak acuh.


"Nona, kami akan setia pada mu," teriak si pria muda dengan wajah yang tegas.


"Iya Nona, kami akan membantu anda karena anda telah membebaskan kami dari neraka itu." timpal wanita dewasa yang mendapatkan anggukan kepala dari yang lainnya.


"Neraka?" tanya Senja penasaran.


"Ah, jadi begitu," lirih Senja acuh tak acuh.


"Jadi ini alasannya mengapa mereka sekarang setuju,"


Setelahnya ketujuh orang tersebut melakukan hal yang sama dengan apa yang sebelumnya dilakukan oleh keluarga Amel. Senja hanya bisa menahan tawa licik dari balik topengnya.


"Bagus, jika begitu keluarlah. Kita akan membicarakannya kembali esok pagi," seru Senja setelah ia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 3 malam.


"Baik Nona," jawab pria dewasa yang sebelumnya terlihat diam.


"Dian, antarkan mereka ke kamarnya," lanjut Senja yang dijawab anggukan kepala oleh Dian.


"Lily, suruh Eza kembali dengan cepat. Sudah waktunya istirahat,"


****


Pagi harinya Senja yang sedang menikmati teh hijau kesukaannya sudah disuguhi oleh pemandangan ketujuh orang tersebut. Mereka terlihat rapi dan bersih setelah Senja menyuruh Dian untuk membereskan mereka semalam.


"Bagaimana rasanya menjadi terkenal?" tanya Senja setelah ia menaruh cangkir teh keatas meja.


"Hahahaha, ini sangat menggelikan," jawab salah seorang dari mereka dengan tawa menggelegar.


"Berani sekali mereka menulis berita seperti itu," teriaknya kembali sambil membuang koran yang sedari tadi mereka baca.


"Itu sangat wajar, mereka tidak ingin masalah penculikan ini menyebar sehingga mereka butuh tersangka untuk disalahkan," seru Senja acuh tak acuh.


"Tapi kalian tidak perlu khawatir karena setelah ini tidak akan ada seorang pun diantara mereka yang dapat mengenali kalian," lanjut Senja sebelum melakukan link batin dengan Kun.


"Ubah mereka segera," lirih Senja santai yang hanya dijawab helaan napas kesal oleh Kun.


Segera setelahnya warna mata dan rambut mereka berubah secara signifikan. Mereka terlihat seperti orang yang sangat jauh berbeda dari pada sebelumnya.


"Ah, apa ini?" tanya wanita muda sambil berdiri kaget dari kursinya.


"Cahaya apa ini?" timpal yang lain sama kagetnya dengan wanita muda tersebut.


"Berubah!" teriaknya kembali setelah melihat warna rambutnya berubah menjadi hitam pekat.


"Aku memberikan sihir pada kalian dan sihir ini tidak akan hilang selama aku baik-baik saja," jelas Senja acuh tak acuh.


"Sekarang mereka tidak akan bisa mengenali kalian," lanjutnya sambil meminum teh hijau.


"Nona, kau sungguh..."


"Cukup omong kosongnya, sekarang mari kita mulai bisnis," seru Senja kemudian melirik sekilas pada Dian.


"Sebelum itu, aku ingin mendengar apa yang kalian maksud dengan neraka dari tempat tersebut?" tanya Senja masih kepikiran tentang pembicaraan semalam.

__ADS_1


"Begini Nona, pada dasarnya bukan hanya kami yang tertangkap."


"Itu benar Nona, awalnya kami datang kesini karena beberapa murid yang kami kirim menghilang secara tiba-tiba."


" ... "


"Pada akhirnya kami memutuskan untuk datang mencari mereka namun ketika kami sedang mencari, mereka menangkap kami dan memenjarakan kami di goa tersebut."


"Gua itu sangat aneh, kami bisa merasakan mana mati yang sangat banyak disana namun kami sama sekali tidak tahu lokasi pastinya," jelas mereka secara bergantian.


"Mana mati? Jelas seperti apa yang diterangkan Eza semalam,"


"Nona, di goa kedua saya menemukan begitu banyak tabung yang berisi mana mati dan kemungkinan besar aura aneh yang kita rasakan berasal dari mana mati tersebut," seru Eza setelah semua orang meninggalkan kamar Senja.


"Apa ada hal lain lagi yang kau lihat?" tanya Senja masih penasaran.


"Tidak banyak Nona namun aku juga melihat beberapa tulang manusia yang sudah kering, sepertinya tempat itu sudah lama dibangun Nona."


"Hmm, sepertinya kita perlu menyelidiki lebih lanjut tentang hal ini," balas Senja yang dijawab anggukan kepala oleh Eza.


"Ah iya Nona satu hal lagi, saya juga menemukan ini disana," lanjut Eza sambil menyerahkan satu butir mutiara hitam.


"Ini..., bukannya ini mutiara hitam yang ada di tubuh Hyena saat itu," batin Senja kaget namun tetap terlihat santai di luarnya.


"Kerja bagus Eza, sekarang kau bisa pergi," seru Senja kemudian menutup tirai jendelanya.


"Aku benar-benar harus menyelidiki tempat itu,"


****


Setelah mengenang kejadian semalam Senja semakin erat menggenggam buku jari telapak tangannya sebelum kembali normal seperti biasa.


"Agar lebih mudah dalam penyamaran, aku akan memberikan kalian identitas baru."


Senja lalu menunjuk ke seorang pria dewasa yang terlihat cukup kompeten.


"Nama mu kini Arthur, Arthur Terra." lanjut Senja dengan ekspresi datar diwajahnya.


"Terima kasih Nona," jawab Arthur tegas.


Senja kemudian melirik wanita muda yang ada di samping Arthur. Wanita ini cukup cantik dan terlihat sexy meskipun tubuhnya mungil.


"Nama mu Kinan Terra."


Senja lalu melirik wanita tinggi yang berparas manis dengan warna mata biru cerah. Ia terlihat anggun namun masih terlihat sedikit sisi sombong dari balik tatapan matanya itu.


"Nama mu Risa Terra."


"Kau dan Arthur serta Kinan akan pergi ke wilayah timur bersama dengan Dian." lanjut Senja sambil memasukkan Vanilla ke dalam keranjang hewan.


"Dian, urus mereka untuk ku dan ingat untuk mengajari mereka apa yang harus dilakukan." bisik Senja sebelum menyerahkan Vanilla pada Dian.


"Tapi Nona," perkataan Dian terpotong saat Senja mengangkat tangannya dengan dingin.


"Lakukan saja," seru Senja yang membuat Dian terdiam beberapa saat sebelum membawa ketiga anak baru itu keluar kamar.


"Nama mu Berry Terra," tunjuk Senja pada Pria muda yang sedari tadi diam mengamati mereka.


"Nama mu Gabriel Terra," lanjut Senja sambil menunjuk kearah pria dewasa yang berada tepat di samping Berry.


"Selanjutnya kau, nama mu Louis Terra dan Kau, nama mu Serina Terra."


"Terima kasih Nona," seru Louis dan Serina secara bersamaan. Sedangkan Berry dan Gabriel baru sadar setelah mendengar teriakan kedua temannya itu.


"Kalian berempat akan berada di bawah naungan Morreti dan Dennis di Guild Moonlight." jelas Senja sebelum mengalihkan pandangannya pada Eza.


"Untuk detailnya dapat kalian tanyakan pada mereka disana." lanjut Senja kemudian mengusir mereka dari kamarnya.


Sebelumnya Senja sudah mengatakan hal ini pada Eza. Ia sengaja merahasiakan ini dari Dian karena takut pelayannya itu akan bereaksi secara berlebihan.


"Eza, kirim mereka sesuai rencana awal."


"Baik Nona,"


Eza kemudian keluar dari kamar nona nya itu dan pergi menghampiri mereka. Butuh waktu seharian penuh agar mereka sampai di gedung Guild. Untung saja tadi malam Eza sudah mengirim surat pada Dennis untuk menjemput keempatnya di desa terdekat.


Eza hanya perlu mengirim mereka melalui portal sihir ke desa tersebut dan sisanya akan menjadi urusan Dennis dan Hazel.


Tepat setelah portal sihir menghilang, sekitar area penginapan Senja sudah dikerubungi oleh para ksatria kerajaan Guira. Ksatria itu berpakaian lengkap dengan pedang ditangan mereka.


"Nona," seru Eza yang buru-buru masuk ke dalam kamar Senja.


"Sudah?"


"Kita tepat waktu Nona,"


"Baguslah, kita tidak perlu khawatir lagi dengan pemeriksaan itu."


Saat ini Senja sedang mengawasi para ksatria dari balik jendela kamarnya. Ia bisa melihat mereka memasuki gedung penginapan di depannya dengan membawa alat magic aneh dengan warna hitam kecoklatan.


"Aku tahu ini akan terjadi," gumam Senja saat melihat alat magic tersebut.


Alat itu merupakan alat pelacak tubuh yang digunakan untuk memburu penjahat yang kabur dari penjara. Meski pun penjahat itu sudah menyamar dan mengganti identitasnya, namun alat itu bisa dengan mudah mendeteksi mereka.


Alat itu dirancang khusus menggunakan sistem magic rumit dimana hanya membutuhkan darah korban untuk menemukan mereka.


Jelas Senja menyadari hal itu sebelumnya sehingga ia memutuskan untuk mengirim mereka pergi dari kerajaan ini sesegera mungkin.


"Sungguh alat yang menakutkan,"

__ADS_1


__ADS_2