
"Emosi dapat membuat seseorang bertindak impulsif, untuk mengatasinya jadilah sedingin es."
******************#####***************
Setelah rencananya berhasil, Maya kemudian merobek gulungan kertas magic yang membuatnya menghilang dari area tersebut. Penonton yang melihat hilangnya Maya hanya bisa diam dengan pandangan beku.
"Sial, aku kalah." teriak hampir sebagian penonton yang ada di podium. Mereka merasa tertipu oleh apa yang baru saja terjadi pada Mari. Mereka tidak percaya bahwa semuanya sudah terencana sejak awal.
"Jangan bilang yang lain juga sama,"
Banyak spekulasi mengambang di antara para penonton. Ada yang tidak sabar dengan hasil ujiannya, ada juga yang sudah pasrah dengan hasil taruhannya.
"Itu seperti tanda 'jika kau berani pada ku maka inilah yang akan terjadi'," lirih wanita bangsawan yang sebelumnya masih duduk tenang namun kini terlihat raut pucat di wajahnya.
"Dia sengaja menyembunyikan kekuatannya hanya untuk mengelabui musuh agar masuk ke dalam perangkap. Aku yakin hal yang sama juga akan terjadi pada yang lain, tinggal menunggu waktunya saja," lanjut wanita itu sambil melihat ke arah layar kaca dimana sisa kelompok Mari berada.
Mendengar hal itu membuat selir Jina menjadi kesal. Ia terlihat tidak senang mendengar perkataan bangsawan tersebut yang meremehkan putrinya. Hal yang sama juga berlaku pada kedua selir Duke Ari yang sebelumnya masih mengoceh ria mengenai putri mereka.
Raja yang mendengar hal tersebut malah terlihat sangat tertarik dengan apa yang akan terjadi selanjutnya dan hal yang sama juga berlaku pada prof Xei dan guru lainnya, mereka semua sedang menunggu aksi hebat dari para siswa tersebut.
Disisi lain layar, Muna dan Tasya masih saling kejar - kejaran, terlebih lagi hari sudah malam namun stamina keduanya masih kuat untuk saling mengejar satu sama lain. Terlihat Tasya yang tampak marah melihat Muna yang terus berlari tanpa melawannya.
Rasa kesalnya sudah tidak tertahan lagi dan pada akhirnya Tasya memutuskan untuk mengambil langkah besar dimana ia harus mengeluarkan senjata baru yang ia beli sebelum ujian dimulai.
Senjata itu berupa anak panah dengan kekuatan khusus membidik. Kekutan yang besar tersebut berhasil membuat punggung Muna kepanasan namun itu tidak menghentikan gerakannya untuk terus berlari.
"Sampai kapan kau akan kabur seperti ini, hah?" teriak Tasya geram sambil tetap fokus dalam membidik punggung Muna. Muna terlihat acuh tak acuh dengan teriakan Tasya. Ia malah terlihat seperti enggan untuk terus bermain seperti ini.
Dengan satu gerakkan, anak panah tersebut langsung melesat tajam ke arah Muna dari belakang punggungnya. Muna yang sudah mengantisipasi hal ini menyuruh Ami untuk memblokir panah tersebut dan membuatnya melesat kearah yang berlawanan.
Melihat hal itu membuat Tasya semakin kesal, ia terus saja meluncurkan anak panahnya tanpa henti berharap bahwa salah satu diantara mereka setidaknya berhasil melukai Muna.
Melihat hujan panah datang padanya, Muna segera menghindari tempat tersebut dengan bersembunyi di atas pohon dan tentu saja Tasya sama sekali tidak menyadari hal tersebut.
Ia berfikir bahwa salah satu dari anak panah itu telah berhasil melukai Muna. Segera ia datang ke tempat itu untuk mengecek bagaimana situasinya namun hal yang tidak terduga pun terjadi.
Tasya sama sekali tidak menemukan Muna disana. Ia hanyalah melihat tumpukan anak panah yang menancap ke tanah tanpa tujuan. Melihat hal tersebut membuat Tasya semakin menggenggam erat busur panahnya.
Kini busur tersebut mendapatkan tekanan kuat dari majikannya sehingga tanpa disadarinya salah satu bagian busur mulai retak.
Retakan tersebut tidak disadari oleh Tasya karena rasa kesalnya. Tasnya lalu melihat ke sekeliling untuk menemukan keberadaan Muna. Langit malam yang gelap tidak membatasi pandangannya.
Ia semakin liar mencari jejak Muna sedangkan dari jauh Muna bisa melihat segalanya. Muna sangat tahu jika saat ini Tasya sedang kesal terhadapnya. Bagaimana bisa ia membuang seluruh anak panahnya tanpa tujuan seperti itu dengan hasil yang memalukan.
Sudut bibir Muna tertarik keatas membuat lengkungan indah, wajahnya bersinar tanpa dosa dibawah sinar rembulan. Kini semua mata tertuju padanya. Mereka bisa melihat Muna dari balik layar panggung.
Ada yang melihat Muna dengan tatapan suka ada juga yang sebaliknya namun yang pasti sebagian besar dari mereka berharap adanya pertunjukkan besar disana.
****
Hari sudah mulai pagi, awan hitam kini mulai menampakkan sinar cerahnya. Disana tepat di tempat yang masih penuh dengan anak panah. Seorang gadis tetap setia menatap sekelilingnya hanya demi mencari musuh yang telah ia buru semalaman. Tasya tanpa sedikit pun lelah berdiri disana masih memegang busur kosong, ia yakin bahwa Muna masih berada disekitar area ini.
Busur yang ia genggam semalaman kini terlihat sudah siap meledak kapan saja. Tasya yang masih tidak sadar dengan hal itu terus saja menggenggamnya dengan erat.
Pada akhirnya busur itu pun pecah berkeping-keping ditangannya karena tekanan yang hebat dan tanpa peduli dengan darah yang mengalir keluar Tasya terus saja memelototi area sekitarnya dengan tajam.
Muna yang masih memantau Tasya terus melengkungkan senyuman nakal. Ia perlahan turun dari atas pohon dan mendekati Tasya secara diam-diam.
"Aku kasihan terhadap mu," cicit Muna nakal ketika jarak diantara keduanya sudah dekat. Tasya yang mendengar suara Muna segera berbalik dan melihatnya dengan sinis.
__ADS_1
"Kau, pel**ur sialan."
"Hahahaha," tawa Muna menggema ditempat itu.
"Kau terlihat sangat lucu ketika mengatakan omong kosong tersebut."
"Omong kosong mana yang kau maksud, hah? Apa dengan menjadi pecundang dan melarikan diri semalaman adalah keahlian mu saat ini?"
Sudut bibir Tasya mengembang dengan lebar ketika ia melihat raut kesal pada wajah Muna.
"Aku hanya sedang melakukan pemanasan saja. Aku penasaran sejauh mana musuh ku bisa melangkah."
"Kau, sombong sekali!" bentak Tasya marah sebelum menyerang Muna dengan agresifnya.
"Hahahaha, memang bodoh," batin Muna bahagia ketika gerakan Tasya tidak stabil saat menyerangnya.
Sudah saatnya bagi Muna untuk menyelesaikan ini semua, ia lalu menggiring Tasya lebih jauh ke dalam hutan sebelum benar-benar mulai bertarung. Ketika tujuannya sudah sampai tanpa basa-basi Muna langsung menyerang ke arah Tasya untuk membalas serangannya yang sebelumnya.
Pertarungan itu sangatlah ganas dimana Tasya menggunakan pedang besarnya dalam menyerang Muna sedangkan Muna, ia hanya menggunakan belati kecil untuk melawan Tasya kali ini. Muna jadi teringat diskusi mereka sebelum memulai ujian saat itu.
"Sebisa mungkin untuk tidak menggunakan tenaga terlalu banyak." seru Senja kepada keempat temannya dengan serius.
"Kita butuh banyak stamina setelah bertarung melawan Dira dan kelompoknya. Aku yakin mereka sudah merencanakan hal lain di dalam hutan." lanjutnya sebelum menjelaskan hal yang mungkin saja terjadi nantinya.
"Muna," panggil Senja santai ketika Muna masih tetap diam disudut meja tanpa berbicara sepatah kata pun.
"Aku tahu jika aku menggunakan pedang maka stamina ku akan terkuras dengan cepat," lirih Muna tabah ketika pandangan semua temannya menatapnya saat itu.
"Tidak perlu menggunakan pedang mu. Kau hanya perlu membuatnya kehilangan arah lalu menyerangnya disaat kewaspadaannya menghilang," jelas Senja sambil menyerahkan dua buah belati tajam ke arah Muna.
"Gunakan ini untuk menyerangnya, kau hanya perlu membuatnya lumpuh dan menggiringnya dalam perangkap."
Muna terlihat ragu sebelum mengambil belati yang ada di atas meja.
****
Melihat adanya peluang dalam pertarungan tersebut membuat Muna segera mengambil tindakan. Ia menyerang pergelangan kaki Tasya yang kosong tanpa penjagaan ketat.
Disaat Tasya mengerang kesakitan Muna lalu menyerangnya kembali tangan Tasya yang bebas. Muna membuat goresan besar pada kedua tangan itu sebelum membantingnya jatuh ke tanah.
"Sialan kau."
Muna hanya tertawa nakal ketika mendengar sumpah serapah Tasya. Segera setelahnya Muna lalu menekan dada Tasya sehingga gerakkannya terbatas.
"Kau, apa yang ingin kau lakukan?"
Muna hanya diam menatap kosong pada mata Tasya sebelum menekan kakinya. Tasya merasakan sakit yang hebat pada dadanya, ia merasa ada sesuatu yang patah dalam tubuhnya tersebut.
"Muna, hentikan ini. Kau..., kau mematahkan tulang rusuk ku, sialan!" teriak Tasya kesal namun yang keluar dari mulutnya hanyalah darah hitam yang pekat.
Semakin banyak Tasya berbicara maka semakin banyak pula darah yang mengalir dari mulutnya.
"Hehehehe."
Muna tersenyum jahat ketika masih menekan kakinya dengan kuat agar Tasya tidak mampu bergerak kali ini.
Selir Jena yang merupakan kakak Tasya terlihat sangat marah. Ia mengepalkan kedua tangannya yang bebas sambil melirik tajam ke arah jendela layar.
"Kurang ajar kau Winter," gerutu selir Jina yang berhasil dilihat oleh putra mahkota.
__ADS_1
"Pemandangan yang indah," seru putra mahkota yang dibalas anggukan kepala oleh ksatria penjaganya.
Marques Callira yang melihat putri bungsunya dikalahkan seperti itu terlihat tidak senang. Ia menatap tajam ke arah Marques Winter yang duduk tidak jauh dari kursinya.
Wajah Marques Winter terlihat tenang tanpa emosi hal yang sama juga terjadi pada Cavil, kakak laki-laki Muna.
Cavil merasa bahwa adiknya telah banyak berubah, baru kali ini ia melihat Muna menggunakan belati dalam pertarungan dan tentu saja ia senang melihat adiknya baik - baik saja.
"Mereka sudah tamat," lirih Noah santai sambil melihat kearah jendela layar. Ia memperhatikan keadaan podium yang tegang kali ini ketika kedua putri Marques kerajaan saling bertarung satu sama lain.
"Ayah, menurut mu siapa yang akan menang kali ini?"
Noah bertanya pada Duke Ari ketika melihat wajah Duke yang sangat antusias berbeda dengan beberapa waktu yang lalu.
"Belum bisa dipastikan namun ayah yakin bahwa kemenangan kali ini sudah pasti berada pada kelompok Putri Luna," jawab Duke santai tanpa memperhatikan wajah kesal kedua selirnya.
****
Setelah hampir setengah jam Tasya berada di bawah kaki Muna. Ia segera ditarik dan dilemparkan jauh menuju salah satu pohon besar sehingga benturan keras pun terjadi padanya.
Tasya yang mulutnya masih berdarah, melirik kearah Muna sebelum mengambil ramuan obat ajaib disaku bajunya.
"Aku akan membuat mu membayar hal ini!" bentak Tasya marah dengan mulut yang ditutupi oleh darah segar.
Segera ia menghabiskan isi botol tersebut sebelum bisa melihat senyum lebar pada wajah Muna.
"Apa yang sedang direncanakannya kali ini," batin Tasya khawatir ketika Muna menggantungkan gulungan Ying dan Yang di tangannya.
"Kau, brengsek," pekik Tasya geram sambil menghapus darah dari mulutnya menggunakan pergelangan tangan.
Segera Tasya melangkah maju menuju Muna namun hal yang tidak ia sadari pun terjadi. Pijakan tanah pada kakinya mulai runtuh, ia merasakan jatuh pada tubuhnya.
"Argh, apa-apaan ini?" teriak Tasya tajam ketika tubuhnya mulai jatuh ke dalam lubang yang ada dibawahnya.
"Sialan kau Muna!" maki Tasya sekali lagi.
"Hahaha, dasar bodoh," seru Muna sebelum mengeluarkan gulungan kertas teleportasi yang sama dengan Maya.
Muna pun menghilang dari pandangan semua orang yang ada di podium. Ia menghilang sama seperti Maya tadi malam. Mereka tidak tahu dimana keberadaan keduanya saat ini.
"Lihatlah Nona Muna menghilang sama seperti yang terjadi pada Nona Maya setelah merobek gulungan kertas tersebut," teriak salah seorang dari penonton yang masih bingung kemana perginya kedua nona tersebut.
Mereka bahkan tidak peduli dengan keadaan Tasya yang dikelilingi oleh para monster di lubang perangkap.
"Itu benar."
"Itu benar," bisik semua penonton yang ada di podium sehingga membuat Marques Callira tidak senang.
"Putri ku tengah mengalami kesulitan namun kalian malah peduli pada mereka yang menghilang, huh."
Hal yang sama juga dirasakan selir Jina yang semakin terlihat jengkel dengan tangan terkepal erat.
"Sialan," lirihnya tajam masih melihat ke arah Tasya yang sedang bertarung dengan sengitnya.
Prof Xei yang melihat penonton pada ribut memutuskan untuk mengangkat suaranya.
"Mereka masih berada di dalam hutan."
Keheningan pun terjadi ketika Prof Xei mulai berbicara.
__ADS_1
"Mereka masih terdeteksi oleh alat pelacak yang kami tempelkan pada masing-masing siswa yang sedang melakukan ujian di hutan. Hutan tersebut memiliki setidaknya 4 titik buta yang tidak bisa dijangkau oleh kamera pengawas, mungkin saja mereka berdua sedang berada di salah satu di antara titik buta tersebut."
Penjelasan dari Prof Xei membuat para penonton menjadi tenang, meski mereka kesal karena tidak dapat melihat Muna dan Maya saat ini namun hal itu menjadi hilang ketika mereka melihat pertarungan diantara Luna dan Dira yang sedang berlangsung.