Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Panik


__ADS_3

"Sampel dibutuhkan untuk mengetahui sebuah hasil, namun hasil selalu berjalan di luarnya."


*****************#####*****************


Ketika pertama kali membuka matanya, Senja sudah di sambut oleh Aslan dan Sean. Mereka kemudian membimbing Senja menuju ruangan yang sebelumnya ia masuki sebelum pergi ke wilayah timur.


"Semuanya sudah siap Nona," seru Sean sambil memberikan topeng rubah pada Senja.


"Bagus."


Senja kemudian memakai topeng tersebut sebelum ia memasuki ruangan. Disana, Senja bisa melihat dua pria tua yang sedang terikat di kursinya. Salah seorang diantara mereka mulai menetap tajam ke arah Senja sedangkan rekannya hanya duduk termenung di sampingnya.


"Siapa kau? Apa kau pemimpin dari mereka, hah?" tanya pria tua itu sambil berteriak.


"Apa kau tahu siapa aku ini hah? Aku adalah Count..."


"Count Pilgub."


Senja langsung memotong perkataan Count Pilgub yang terdengar begitu kosong baginya.


"Tentu saja aku mengenalmu dan rekan mu juga. Dia adalah Baron Vigui, yang merupakan bawahan setia mu."


Penjelasan Senja membuat bulu kuduk Count Pilgub bergetar. Wajahnya seketika berubah menjadi pucat dan kaku.


"Jika dia mengenal ku, itu berarti rencana kami sudah..."


"Apa kau sedang berpikir bahwa aku sudah mengetahui rencana mu atau bahkan pemimpin mu?" tanya Senja yang membuat wajah Count Pilgub menjadi semakin pucat.


"Apa pun itu, aku yakin kau sudah tahu jawabannya." lanjut Senja sambil melemparkan dua buah mutiara hitam di tangannya.


"Aku yakin kau juga tahu apa ini?"


"Sialan,"


Count Pilgub tidak pernah menyangka jika selama ini rencananya sudah di ketahui oleh orang lain. Ia sempat berpikir tentang beberapa bangsawan kelas atas kerajaan Guira yang memiliki dendam padanya.


"Apa ini ulah dari salah satu diantara mereka?"


Jelas Count tahu jika proyek besar ini hanya diketahui oleh para petinggi kerajaan Guira serta beberapa bangsawan pendukung saja. Tentunya jika ada kebocoran, hal itu berarti ada mata-mata diantara mereka saat ini.


"Apa kau sedang menyumpahi ku sekarang?"


"..."


Count hanya diam tanpa berkata apa pun. Ia tidak tahu bahwa setiap tindakannya selalu bisa dibaca oleh gadis di hadapannya itu.


"Padahal dia masih..."


"Apa kau sedang menghina ku karena aku masih muda?"


Pertanyaan Senja sontak membuat Count menelan saliva nya. Ia sangat kaget dengan pernyataan tegas dari gadis bertopeng di depannya saat ini.


"Dia terkejut lagi, padahal sudah jelas jika ekspresinya itu mudah dibaca,"


"Apa bangsawan kerajaan Guira begitu bodoh seperti ini? Atau hanya dia saja yang begini?"


"Apa mau mu?"


Senja yang sedang melihat wajah frustasi Count, hanya bisa tersenyum bahagia dari balik topengnya.


Wajah Count sekarang sangatlah lucu, ia terlihat mirip dengan kucing liar yang habis terjatuh dari got. Wajah nya pucat, tubuhnya kaku serta ekspresinya yang gelisah, membuatnya semakin terlihat berantakan.


"Aku hanya ingin mengetahui satu hal," seru Senja setelah beberapa saat diam.


"Kau gunakan kemana obat ini?" tanya Senja dingin dengan wajah datarnya.


"Itu, itu untuk keperluan pribadi."


"Obat pribadi?"


"Tentu, saya menggunakan obat tersebut untuk menyembuhkan penyakit dalam."


"Ah, jadi begitu."


"Apa kau pikir karena aku masih kecil jadi aku akan langsung mempercayainya begitu?"


Nindia yang mendengar jika nona nya di permainkan, mulai terlihat marah. Ia dengan kesal menarik gagang pintu dan berencana untuk menghajar pria tua sialan itu.


"Berani sekali dia menipu Nona," teriak Nindia kesal.

__ADS_1


"Jelas sekali jika itu adalah mana mati dan dia mengatakan mana mati sebagai obat? Orang bodoh mana yang menggunakan mana mati sebagai obat dalam tubuhnya?"


Lanjutnya kesal dan hendak menarik pintu itu agar terbuka, namun sayangnya Sean menghentikan Nindia untuk tidak menggangu diskusi nona nya.


"Hei, anak baru. Sebaiknya kau diam dan menyaksikannya saja," seru Sean sambil menarik tangan Nindia menjauh dari gagang pintu.


"Kau bisa menggangu diskusi Nona nantinya."


"Tapi kau tahu jelas bukan, jika saat ini Nona sedang ditipu?"


"Hah, astaga. Apa kau pikir Nona itu bodoh? Nona bahkan lebih pintar dari kita semua."


"..."


Nindia perlahan mulai diam sambil memikirkan perkataan Sean. Ia kemudian menatap kembali ke arah pintu sebelum menjauhinya.


"Aku hanya kesal karena dia mengatakan bahwa mana mati adalah obat. Bagi manusia mana mati adalah racun yang sangat mematikan," lirih Nindia pelan.


"Aku tahu itu, dan tentu saja Nona juga mengetahuinya," balas Aslan singkat.


"Syukurlah jika begitu." lanjut Nindia lega sebelum kembali ke posisi semula.


****


Disisi lain, Dian yang saat ini sedang menyamar sebagai Senja, terlihat begitu frustasi. Ia mendapatkan kabar dari Eza jika nona nya itu sedang berada di wilayah timur bersama dengan Nindia.


"Sial, sial, sial." teriak Dian frustasi.


"Harus berapa lama aku seperti ini?" gerutunya sambil menjambak rambut.


"Nona, kau sungguh..."


Dian menghentikan perkataannya ketika ia melihat Kaira dan para sahabat Senja yang sedang berjalan menuju gedung hotel.


"Astaga, apa lagi ini?"


Dian terlihat sangat panik, mungkin ia bisa membohongi sahabat Senja namun bagaimana dengan Kaira.


"Sialan, dia sudah terlanjur mengetahui aura ku saat di bar waktu itu."


Wajah Dian semakin memucat saat Kaira dan yang lainnya semakin mendekati gedung hotel.


"Nona, kumohon kembalilah dengan cepat."


Beberapa menit kemudian, Dian dapat mendengar langkah kaki dari luar kamarnya. Ia merasa sangat gelisah bahkan hampir gila, jika memikirkan nasibnya malam ini.


"Jika aku ketahuan, apa aku masih bisa hidup?" tanya Dian sambil memegang lehernya yang jenjang.


"Kuharap ini hanyalah mimpi." lanjut Dian yang mulai menutup matanya dengan kuat. Ia memejamkan matanya seakan-akan, jika mata itu terbuka maka ia akan segera berkahir dari dunia ini.


"Aku berharap, bisa terlahir kembali dengan keberuntungan yang melimpah," batin Dian saat ia mendengar pintu kamarnya dibuka.


Dian hanya mendengar suara samar dari luar pintu kamarnya. Suara itu terus berbicara dan terkesan berdebat. Dian yang panik mulai meneteskan keringat dingin di dahinya.


"Kenapa mereka tidak masuk? Apa mereka sudah menyadarinya dan berencana untuk menunggu ku bangun, begitu?"


Saat ini Dian sedang dihadapi oleh dilema yang mematikan. Ia takut untuk bangun dari kasurnya dan juga takut untuk membuka matanya itu.


"Jika bisa memilih, aku lebih baik masuk ke dalam lubang tikus dari pada harus tidur di kasur yang empuk ini," batinnya saat ia merasakan sentuhan hangat di wajahnya.


"Mati aku!" pekik Dian dalam hatinya namun masih mempertahankan wajah polos gadis yang tengah tertidur.


"Sepertinya, Senja benar-benar lelah."


"Kau benar, bukannya aku sudah bilang pada kalian sebelumnya?"


"Itu seperti suaranya Maya," batin Dian saat mendengar percakapan mereka.


"Hah, iya iya. Aku tahu."


"Kali ini suara Luna. Matilah aku," gumam Dian saat ia menyadari bahwa orang yang memegangi wajahnya adalah Luna.


"Dia masih saja cantik ketika tidur," seru Luna masih mengelus rambut Dian.


"Astaga, berapa lama lagi aku harus menahan ini?" Dian terlihat begitu panik dan ketakutan setiap kali Luna menyentuh dirinya.


"Apa Nona sadar kelakuan ekstrim sahabatnya ini?" tanya Dian saat memikirkan jika Senja berada di posisinya saat ini.


"Sebaiknya kita pergi sekarang," seru Muna yang sedari tadi melihat sikap Luna.

__ADS_1


"Senja sedang tidur, jadi jangan ganggu dia." lanjut Muna yang mendapatkan anggukan batin dari Dian.


"Itu benar, keluarlah kalian sekarang,"


"Baiklah, aku akan pergi."


Luna lalu mencium dahi Senja aka Dian sebelum mengikuti Muna keluar dari kamar.


"Aku juga mau," lirih Zakila yang sedang menunggu di luar pintu.


"Tidak bisa," balas Maya yang sedari tadi memegangi tangan Zakila.


Maya melakukan hal itu, agar Zakila tidak berlari liar masuk ke dalam kamar Senja dan membangunkannya.


"Ayo pergi," seru Luna saat dirinya sudah berada di depan pintu kamar.


"Ayo," balas Maya sambil menarik Zakila masuk ke dalam kamar hotel mereka.


"Luna, menyingkir sedikit," lirih Muna yang hendak menutup pintu kamar Senja.


Pintu kamar itu terhalang oleh tubuh Luna yang sebenarnya masih berada di dalam kamar.


"Ada yang aneh," bisik Luna ketika ia melangkah keluar.


"Aku tahu," balas Muna sebelum mereka meninggalkan area kamar Senja.


Keduanya merasa bahwa Senja sama sekali tidak menyadari kehadiran mereka. Faktanya Muna dan Luna tahu, jika Senja sangat sensitif dengan sentuhan, sehingga aneh saja jika Senja tidak bangun dengan keadaan seperti tadi.


"Apa dia sangat lelah, sehingga tidak menyadari kehadiran kita disana?" tanya Luna khawatir.


"Aku tidak tahu, mungkin saja iya dan mungkin saja tidak," jawab Muna yang sama bingungnya dengan Luna.


"Aku mengetahui sedikit tentang rahasianya namun aku tidak tahu bahwa yang ia katakan adalah jujur atau tidak," batin Muna sambil memikirkan obrolannya dengan Senja di rumah latihan miliknya.


"Kita akan lihat besok pagi, karena ini sudah malam."


"Baiklah," balas Luna kemudian memasuki kamarnya.


"Karena ini sudah malam." Ulang Muna dalam hatinya saat memasuki kamar.


Disisi lain, Dian yang sudah memastikan bahwa sahabat nona nya sudah tidak ada di depan kamar, dengan sigap segera berdiri dari tidurnya.


"Hah, astaga. Selamat juga."


Dian terlihat sangat lega saat mencoba menghirup udara di sekitarnya.


"Akhirnya, mereka pergi juga." lanjut Dian kemudian berdiri dari duduknya. Ia lalu berjalan mendekati balkon untuk mendapatkan udara malam yang lebih segar.


"Jika aku terus begini, mungkin saja umur ku cepat berakhir," gumam Dian sambil melirik ke area bawah bangunan hotel.


Disana, Dian bisa melihat berbagai aktifitas dari berbagai kalangan warga yang masih setia dengan suasana malam ibu kota.


"Aku ingin bebas seperti mereka," lirih Dian yang mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.


" Nona, kumohon cepat lah kau kembali..."


"Memangnya Nona pergi kemana?" tanya sebuah suara yang berhasil mengagetkan Dian.


"Astaga, jantung ku!" teriak Dian sambil memegangi jantungnya.


"Lama-kelamaan aku bisa mati karena serangan jantung jika terus begini," batin Dian panik sambil melirik kesana-kemari.


"Siapa itu? Siapa disana?" tanya Dian gelisah sambil mencari asal suara tersebut.


"Jika itu Nona Kaira, maka matilah aku," batin Dian yang tidak mendapati kehadiran Kaira saat keempat sahabat itu berada di area kamar Senja.


"Sial, dia sudah tahu aura ku. Jadi akan sulit untuk menipunya."


Dian jadi kepikiran tentang pertemuan pertamanya dengan Kaira di bar.


"Terlebih lagi, Kaira sangat ahli dalam mengidentifikasi musuhnya." lanjut Dian semakin gelisah.


"Kemana Nona pergi?" tanya suara itu kembali.


"Hah, sialan," pekik Dian yang semakin panik.


Pasalnya sampai sekarang, Dian sama sekali tidak melihat siapa pun berada di sekitarnya.


"Apa dia memakai sihir transparan?"

__ADS_1


Dian tentu saja mengetahui tentang sihir itu karena Senja sering menggunakannya untuk bisa keluar dari asrama.


"Siapa pun itu, tunjukan dirimu?" bentak Dian kesal. Meski Dian panik, tapi ia tidak boleh gegabah karena hal ini juga menyangkut tentang kehidupan nona nya.


__ADS_2