
"Energi alam yang tersimpan terkadang mampu membuat siapa pun menjadi takjub."
*****************#####*****************
"Luar Biasa," Lucas terlihat takjub dengan apa yang baru saja dilakukan Senja.
Ini baru dua hari sejak dimulainya latihan pertama namun Senja sudah berhasil menguasai dasar dari pengendalian elemen.
"Bagaimana bisa ini terjadi begitu cepat?" batin Lucas yang bahkan harus menunggu selama satu minggu untuk bisa menjadi seperti Senja sekarang.
"Hah," Senja menghela napas panjang saat ia merasakan energi mengalir di dalam tubuhnya. Energi itu begitu tenang seperti air, bahkan rasanya sangat hangat dan nyaman.
"Perasaan apa ini?" batin Senja yang bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya
Namun satu hal yang pasti perasaan ini membuatnya semakin fokus untuk terus membuat bola mana dari elemen angin dan api miliknya.
Rasa hangat dari api dan sejuk dari angin membuat tubuh Senja menjadi lebih tenang. Ia dengan perlahan membuat bola mana dari kedua elemen itu, perlahan namun pasti mana yang dikumpulkan kini sudah mulai menampakkan bentuknya.
"Bagus, tetap seperti itu," seru Lucas saat mana di tangan Senja sudah berbentuk kerikil kecil.
"Ini menyenangkan," gumam Senja saat merasakan aliran hangat dan dingin merayap dari telapak tangannya.
Melihat senyum Senja yang hangat membuat hati Lucas menjadi tenang. Ia merasa jika Senja sebenarnya sangat pintar, tidak bahkan ia bisa dikatakan jenius.
"Bagaimana rasanya?" tanya Lucas sambil memperhatikan seluruh gerakan Senja.
"Ini hebat, rasanya sangat menye... Ugh...!!"
Senja menjerit kesakitan, ia merasa tangannya seperti terbakar dan terkoyak di saat yang bersamaan.
"Perih sekali," seru Senja saat menggendong kedua tangannya itu.
"Kau sungguh ceroboh, aku senang melihat perkembangan mu tapi ini bisa sangat berbahaya jika kau tidak hati-hati."
Lucas marah, ia segera mengambil kedua tangan Senja dan mengobatinya.
"Untung aku membawa ini untuk jaga-jaga." lanjut Lucas sembari mengobati luka bakar di tangan Senja.
"Semua itu karena kau yang mengajak ku berbicara," Senja mengeluh, ia merasa bahwa apa yang ia lakukan adalah benar.
"Dasar bodoh," Lucas memukul ringan kepala Senja.
"Aduh, sakit tahu." Senja kesal namun ia tidak bisa membalas pukulan Lucas karena luka yang ada di kedua tangannya.
"Konsentrasi mu sangatlah buruk, memang sangat asyik menikmati fenomena itu, namun kau harus tahu jika tidak hati-hati maka kedua elemen itu akan memakan mu nantinya." lanjut Lucas saat hendak mengambil perban untuk menutupi lukanya.
"Kedua elemen ini sangat rentan apalagi dalam keadaan penyatuan seperti itu, jika kau tidak mampu mengendalikan mereka dengan benar maka mereka akan menyerang mu seperti ini."
__ADS_1
Lucas mengomeli Senja habis-habisan, ia kesal dan marah namun ia juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Senja akan hal itu, karena memang sejak awal itu juga merupakan kesalahannya yang lupa memberitahu Senja resiko di balik penyatuan kedua mana tersebut.
"Lalu aku harus apa?" Senja bertanya dengan sedih.
"Apa yang kau rasakan selama penyatuan itu?"
"Aku merasakan energi kuat yang mengalir di seluruh tubuh ku, energi itu sangat nyaman dan hangat namun alirannya sangat besar sehingga aku pun sedikit sulit mengendalikannya."
"Itu dia salahnya,"
Lucas terdiam beberapa saat, ia bingung mau mengatakan apa. Saat ia melihat ke arah danau kematian, Lucas pun akhirnya memikirkan sesuatu.
"Begini, anggap saja aliran energi di dalam tubuh mu sebagai air yang mengalir. Kau bisa mengatur aliran air tersebut sesuai keinginan mu, kau bisa membuatnya mengalir dengan deras dan kau juga bisa membuatnya mengalir dengan santai."
Senja yang mendengar penuturan Lucas terdiam sesaat. Ia bingung mau mencerna dari mana penjelasan Lucas. Memang benar semua yang dijelaskan Lucas dari awal adalah absurd namun kali ini lebih absurd lagi.
Lucas yang mengerti maksud dari ekspresi wajah Senja pun menjadi diam sesaat. Ia berfikir sejenak sebelum kembali berbicara lagi.
"Senja bagaimana cara kita mengatur air yang mengalir?"
"Pertanyaan bodoh macam apa itu? Jelas saja dengan keran, memangnya dengan apa lagi?"
"Nah itu kau tahu, aliran energi di dalam tubuh mu sama saja dengan aliran air di dalam keran. Untuk mampu mengatasi air yang keluar dengan banyak, maka keran itu harus di setel sesuai dengan kebutuhan si pemakai."
Lucas melihat Senja yang sedang mendengarkan penjelasannya dengan seksama. Ia pun kemudian melanjutkannya kembali.
"Tunggi dulu, maksudmu mengendalikan elemen sama saja seperti kita mengendalikan air begitu?"
"Kurang lebih seperti itu,"
Senja berfikir sesaat, ia memikirkan apa yang baru saja Lucas katakan padanya.
"Jika seperti itu, maka..."
Senja tanpa sadar memejamkan matanya, ia memikirkan energi di dalam tubuhnya sesuai dengan apa yang dikatakan Lucas.
"Seperti air," gumam Senja pelan.
Lama Senja memikirkan air yang mengalir di tubuhnya, sampai akhirnya ia pun melihat sebuah air terjun yang mengalir deras. Airnya begitu hangat dan nyaman, namun juga terasa sejuk karena udara disekitarnya begitu lembab.
"Ini api, dan itu angin." batin Senja saat merasakan perpaduan dari kedua elemen itu. Rasa sejuk dari udara lembab dan hangat dari air membuat hati Senja meleleh. Ia merasa senang dan bahagia.
"Akhirnya aku menemukan cara ku sendiri dalam mengendalikan elemen ini." lanjutnya penuh kemenangan.
Sayangnya kesenangan itu tidak berlangsung lama. Air yang sejuk anehnya berubah menjadi es yang membeku. Melihat hal ini membuat Senja mengerutkan alisnya.
"Bagaimana bisa?"
__ADS_1
Wajah Senja yang semula tersenyum kini berubah menjadi kecut. Ia terlihat pusing dan kacau. Hal itu pula yang membuat Lucas menjadi panik.
"Ada apa? Apa ada yang salah?"
Lucas bahkan tidak tahu jika Senja yang sedang memejamkan matanya saat ini sedang bergelut dengan ketiga elemennya sendiri. Ia hanya berfikir jika Senja sedang menelaah kalimat yang baru ia katakan itu.
"Senja, kau tidak perlu memikirkannya terlalu serius. Kau bisa memikirkan hal itu kapan saja."
Lucas mencoba untuk membuat Senja sadar, namun perasaan aneh yang ia rasakan malah membuatnya semakin panik.
"Apa ini? Mengapa tubuhnya seketika menjadi sangat dingin?" tanya Lucas kebingungan.
"Senja sadarlah, ayo sadar."
Tanpa disadari olehnya, Lucas sudah melihat apa yang ingin disimpan oleh Senja sejak tadi.
"Apa ini?" Lucas terlihat marah, wajahnya menjadi sangat pucat dan kesal.
"Apa-apaan ini?" teriak Lucas emosi. Ia bahkan siap menghancurkan apa pun dihadapannya saat melihat kulit tubuh Senja yang sepucat zombie.
"Tubuh sehalus porselen ini, mengapa bisa begini?" tanya Lucas tidak henti-hentinya.
Lucas sadar bahwa hari ini Senja menjadi begitu tertutup, memang sejak awal Senja sangat tertutup padanya namun itu tidak dengan pakaiannya saat ini.
Dari ujung rambut hingga ujung kaki, tidak satupun yang menampakan kulit pucatnya. Semuanya tertutup oleh pakaian Senja yang panjang.
"Aku berfikir style ini bagus untuknya, aku tidak pernah tahu bahwa ia menutupi ini semua dari ku."
Geram dan marah, itulah yang dirasakan Lucas saat ini. Ia ingin Senja dapat terbuka padanya, namun ia juga sadar jika hal itu membutuhkan waktu.
"Aku, aku..."
Lucas hanya bisa diam melihat kondisi Senja yang seperti itu. Sekarang tubuh Senja terbaring dengan lemas. Tubuhnya menjadi sangat dingin seperti es dan kulitnya menjadi sangat pucat lebih dari sebelumnya.
"Dingin," gumam Senja saat merasakan suhu ditubuhnya meningkat pesat.
Senja bingung dengan kondisi fisiknya sendiri yang semula tidak bisa merasakan energi apa pun sampai tiba-tiba ini semua terjadi.
"Tubuh ku menjadi aneh setelah apa yang dilakukan oleh monster itu."
Senja berfikir sesaat mengenai kejadian dengan monster itu. Kejadian dimana tubuhnya menjadi sangat hancur dan sakit bahkan untuk bernapas saja sulit, namun setelah melewati itu ia menjadi begitu sehat lebih dari pada sebelumnya.
"Meski kulit ku menjadi lebih pucat namun kekuatan ku sepenuhnya terbangkit. Aku merasa sehat dan bahkan aku tidak merasa lelah meski melakukan aktifitas dua kali lebih banyak daripada sebelumnya."
Itu adalah perubahan yang nyata yang dialami Senja sejak kejadian saat itu.
"Ini aneh, aku harus menanyakan hal ini padanya."
__ADS_1
Meski Senja sudah bertekad untuk tidak pernah datang lagi ke ruang bawah tanah itu, namun ia juga penasaran dengan kodisi fisiknya. Ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya saat ini.