
"Alam terkadang memberikan kita ilusi bahwa semua yang terlihat adalah sama namun pada satu titik itu berubah menjadi dua hal yang berbeda."
******************#####***************
"Kaira!"
Pangeran kedua mendatangi Kaira dengan wajah sendunya. Ia tampak sedih sekaligus kecewa dengan kondisi yang saat ini ada di hadapannya. Di satu sisi, ada kekasih lama yang di rindukannya sedangkan disisi lain ada tunangannya.
"Allen."
Suara Kaira tampak tertahan di tenggorokannya saat nama pangeran kedua lolos dari bibirnya.
"Ayah..., huhuhu..." Isak Dera sedih. Ia menangis sejadi-jadinya ketika Allen mendekatinya.
"Pangeran, aku mohon belas kasihan mu," lirih Dera sedih dengan wajah yang memelas.
"..."
Allen hanya diam mengabaikan Dera, ia hanya datang untuk melihat kondisi Marques untuk mengetahui seberapa parah luka yang ia terima saat ini.
"Pangeran," gumam Dera saat Allen memalingkan wajahnya dengan kasar.
"Pangeran kau mau kemana?" tanya Dera bingung saat Allen mengalihkan perhatiannya pada Kaira.
"Apa kau hendak menghukumnya?" tanya Dera sekali lagi dengan senyum indah terukir diwajahnya.
"..."
Namun sayang lagi-lagi Allen mengabaikannya. Ia lalu berjalan mendekati Kaira dan kemudian mengangkat tangannya ke udara terbuka.
Dera yang melihat hal tersebut mulai tertawa secara internal, ia lalu membayangkan apa yang akan terjadi pada Kaira selanjutnya.
"Hahaha, rasakan..." batin Dera terhenti karena syok mendadak.
"Apa-apaan ini?" teriak Dera secara internal, bibirnya lalu terbuka lebar karena tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.
Allen bukannya menampar Kaira, ia malah mengelus lembut rambut Kaira dengan senyum leganya. Tampak dengan jelas di wajahnya seperti berkata 'aku lega kau baik-baik saja'.
"Apa yang sedang kau lakukan Pangeran?" tanya Dera kesal sambil berdiri dari duduknya. Ia segera mendatangi Allen dan juga Kaira yang seolah-olah sedang mengenang akan masa lalu mereka.
"Pangeran!" teriak Dera dingin.
"Ada apa dengan anda? Bukannya Anda bisa melihat sendiri bahwa saya dan ayah saya yang mengalami keru..."
Perkataan Dera terhenti ketika mata gelap Allen menusuknya. Dera bergetar dengan hebat, tubuhnya menjadi kaku dengan kaki yang mulai jatuh dari tempatnya.
Der bingung sekaligus gelisah, ia takut dan juga marah. Segala situasi yang ia alami sekarang tampak sangat tidak masuk akal baginya.
"Apa ini?" batin Dera saat merasakan aura dingin yang keluar dari tubuh tunangannya itu.
"Bukankah aku ini tunangannya?" tanya Dera kembali.
Dera mulai menjadi gila dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Perlahan Dera mulai mengangkat kembali wajahnya, ia bisa melihat Allen dengan jelas menatap sendu pada Kaira yang kini hanya terpaku di tempatnya.
Dengan kesal Dera bangkit dari duduknya, tanpa aba-aba dia mendatangi mereka dan mulai menampar Kaira dengan tinjunya yang terkepal.
"Dasar ja*ang, berani sekali kau merebut tunangan ku!" teriak Dera kesal saat buku jarinya menyentuh kasar pipi Kaira.
"Menjauh darinya sekarang juga," teriaknya sekali lagi sambil mendorong tubuh Kaira jatuh ke tanah.
"Dera, hentikan itu!" pekik Allen dingin.
"Apa yang kau lakukan saat ini?"
"Tapi, tapi Pangeran. Aku, aku hanya..."
"Cukup. Menyingkir dari sini sekarang juga!" teriak Allen kesal sambil berjalan mendekati Kaira yang masih termenung dalam jatuhnya.
Mata para warga yang semula acuh kini menjadi sangat antusias. Mereka menjadi tertarik dengan apa yang tengah terjadi di depannya saat ini. Wajah pucat seorang putri Marques dan juga wajah panik Pangeran kedua menjadi saksi bisu bahwa hubungan mereka hanyalah palsu.
"Ini sangat menghibur," bisik mereka senang.
"Ini informasi yang besar. Kita harus membuat berita dengan ini."
"Hahaha, ada gosip baru rupanya."
Bisikan demi bisikan terus terdengar disana. Suasana yang awalnya tenang kini menjadi sangat riuh dan kacau.
"Keadaan menjadi sangat kacau."
__ADS_1
Luna yang sudah berdiri tegak dari dorongan Kaira sebelumnya kini mencoba untuk mengkondisikan dirinya. Ia perlahan bangkit untuk melihat keadaan sekitarnya.
"Dimana Zakila? Apa dia masih belum juga menemukan Kian," gumam Luna gelisah.
Luna lalu melihat Kaira yang sedang terduduk manis di tanah dengan wajah pucatnya, disisi lain ia juga bisa melihat Dera yang tengah terpaku kaku dengan kondisi yang jauh lebih buruk dari Kaira sedangkan Marques tampak kacau dengan darah yang terus saja mengalir di lengannya.
"Sial," gerutu Luna saat Allen mencoba mendekati Kaira.
"Kaira!" teriak Luna saat hendak menarik Kaira dari pelukan Allen.
"Siapa kau?" tanya Allen tidak senang.
"Maaf Pangeran kedua, dari pada anda bertanya mengenai saya, lebih baik anda melihat kondisi sekitar."
Allen yang bingung sedikit melirik kearah para rakyat dan juga area plaza yang saat ini sedang gaduh dengan keberadaannya.
Allen yang sadar akan kondisinya kini menjadi sangat kesal. Ia lalu menatap Marques yang sedang mengeluarkan banyak darah dengan emosi yang tidak terbaca.
"Apa yang kalian lakukan, hah? Segera bawa Marques of Sein ke rumah sakit!"
Teriakan Pangeran Kedua sontak membuat para penjaga segera bergerak dalam menolong Marques. Mereka tampak sangat buru-buru untuk membawanya pergi.
"Cih!" gerutu Allen dingin. Ia kemudian kembali lagi menatap kearah Luna yang sedang menyadarkan Kaira dari keterkejutannya.
Perlahan Kaira mulai sadar dengan apa yang terjadi dihadapannya. Ia merasa sangat pusing dan perutnya terus berputar dengan hebat namun setelah Luna membisikan kata-kata yang menenangkan, ia berhasil kembali sadar.
"Luna," gumam Kaira bingung.
"Apa yang sudah terjadi?" lanjutnya.
"Kau bisa melihatnya sendiri."
Luna lalu mendirikan Kaira dari duduknya, meski begitu ia masih menopang Kaira agar tidak terjatuh.
"Allen," lirih Kaira pelan.
Kaira kemudian melihat kekacauan apa yang sedang terjadi saat ini. Sungguh sulit bertemu kembali dengan kekasih lamanya namun ia tidak menyangka jika kesulitannya bisa separah ini.
"Sial, aku terjebak," gumam Kaira kaku.
Allen yang melihat bahwa Kaira sudah sadar kini mencoba untuk mendekatinya namun sebelum ia berhasil melangkah, Kaira sudah menghentikannya terlebih dahulu.
"Tetap disana," seru Kaira tajam.
Mata Allen tampak terpukul dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Kaira. Ia hendak membantah tapi tidak bisa, ia saat ini dalam kondisi yang buruk dimana tunangannya sedang dalam keadaan kacau sampai tidak bisa berdiri dari jatuhnya.
"Hah, kenapa aku?" tanya Allen pada dirinya sendiri.
"Kaira, kita harus berbica..."
"Tidak terima kasih."
Kaira menjawab dengan cepat. Ia sama sekali tidak memberi kesempatan pada Allen untuk membalasnya.
"Tidak ada lagi hubungan yang bisa kita bicarakan," lanjutnya dingin.
Dera yang menyadari situasinya sekarang mencoba untuk memanfaatkannya. Ia dengan tergesa-gesa bangkit dari duduknya dan mulai menangis dengan sedih.
"Kenapa? Kenapa kau kembali? Apa ini tujuan mu yang sesungguhnya?"
Pertanyaan Dera sontak membuat para penonton menjadi lebih penasaran.
"Jika aku menggiring opini publik, maka apa yang bisa kau lakukan kali ini, Kaira?" batin Dera puas dengan wajah memelasnya.
"Kau sengaja datang kesini untuk mengacaukan hubungan ku dengan Pangeran Kedua bukan? Benar begitu?"
Kaira hanya diam dengan wajah penuh kerutan di dahinya.
"Kau senga..."
"Hentikan Dera!" teriak Allen kesal.
"Apa yang sudah kau katakan?"
"Lihat, Pangeran bahkan membela mu setelah ia melihat dengan sendiri apa yang sudah kau perbuat dengan keluarga kami."
Perkataan Dera seketika membuat para penonton kini mencibir Kaira dengan kasar.
Lucunya, semakin pangeran kedua membelanya maka semakin tinggi pula hujatan yang akan di terima oleh Kaira.
__ADS_1
"Hentikan itu Allen. Aku muak dengan ini."
Kaira yang dibantu oleh Luna kemudian pergi dari tempat tersebut. Sayangnya mereka dihentikan oleh para penjaga yang diperintahkan oleh Allen sendiri.
"Kaira, kumoho..."
"Huhuhu!"
Perkataan Allen terhenti saat Dera mulai mengeraskan suaranya. Dengan malas Allen mengarahkan pandangan dinginnya pada Dera. Ia dengan kasar menarik tangan Dera agar membuatnya berhenti menangis.
"Sakit Pangeran, sakit!" pekik Dera dengan ekspresi wajah kesakitan yang hebat.
"Apa kau akan terus menyakiti ku demi dia?" tanya Dera sedih.
"Sialan."
Kesabaran Allen sudah habis dengan ini, ia menekan dengan kuat pergelangan tangan Dera sehingga membuatnya hendak patah.
"Apa ini? Apa ada rahasia dibalik ini semua?" tanya para penonton penasaran.
"Apa mereka punya hubungan khusus?" tanya yang lainnya.
Mendengar pertanyaan-pertanyaan aneh itu membuat Kaira menjadi sangat kesal dan juga gelisah.
"Sialan Dera, trik kotor apa lagi yang sedang kau mainkan kali ini?" tanya Kaira sambil memelototi mereka.
"Luna, kita harus segera pergi. Hancurkan saja mereka," bisik Kaira sambil melirik penjaga yang tengah menghalangi mereka.
"Apa kau yakin?"
"Tentu."
Luna kemudian bersiap untuk menyerang para prajurit tersebut sebelum sebuah suara mengagetkan mereka semua.
"Permisi!" seru suara aneh itu.
"Apakah anda Nona Kaira?" tanya suara itu kembali.
Kaira dan mereka yang berada disana kemudian menatap kearah asal suara. Tampak seorang pria dewasa dengan tubuh besarnya sedang berdiri bersamaan dengan kereta kuda di sampingnya.
"Apa anda Nona Kaira?" tanya pria itu sekali lagi.
"Iya benar itu saya," jawab Kaira tegas.
"Syukurlah akhirnya saya menemukan Anda. Saya sudah bersusah payah mencari anda disini namun itu bukan masalah lagi."
Perkataan pria itu sontak membuat Kaira bingung. Ia merasa tidak pernah membuat janji apa pun dengan pria yang berdiri tegak disana sama sekali sebelumnya.
"Ah, saya sampai lupa. Ada surat dari Tuan saya untuk anda."
Pria itu lalu memberikan sepucuk surat dengan setangkai bunga mawar merah diatasnya.
"Tuan saya juga mengirimkan ini sebagai permintaan maaf."
Pria itu kemudian membuka gerbong kereta yang dipenuhi oleh berbagai macam hadiah.
"Nona, Tuan saya deng..."
Perkataan pria itu terputus saat Allen menarik kerahnya.
"Siapa kau?" tanya Allen ganas.
"Apa tujuan mu datang kesini?" tanyanya sekali lagi.
"Ugh, Tuan. Apa yang terjadi pada mu? Mengapa kau begitu marah?" tanya Pria tersebut bingung.
"Hentikan itu Allen!" teriak Kaira kesal.
"Dia adalah tamu ku!" lanjut Kaira dingin.
"Apa? Tamu? Apa kau sedang bercanda dengan ku, Kaira?" tanya Allen penuh emosi.
"Apa yang kau ketahui tentang ku, hah? Sebaiknya kau urus saja tunangan mu yang cengeng itu."
"Sial!"
Allen dengan kasar melepaskan genggamannya dari pakaian pria tersebut. Ia lalu mendatangi Dera dengan wajah terdistorsinya. Para warga yang sejak awal menonton perkelahian itu, kini mulai terfokus pada pria yang saat ini sedang merapikan pakaiannya. Pria itu tampak seperti seorang kstaria bangsawan ternama dengan pakaian mewah yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Siapa dia? Dan apa hubungannya dengan Putri Kaira?"
__ADS_1
mereka terlihat begitu penasaran pada
sosok pria tersebut atau lebih tepatnya pada sosok Tuan Muda yang berada di balik pria itu.