
"Penghancuran bukanlah akhir namun awal dari segalanya."
******************#####****************
Sudah lebih dari dua jam Lucas berada di hutan tersebut, hal ini membuat Ariel sangat tidak nyaman. Ia memutuskan untuk membawa tuannya tersebut pergi berkeliling agar tidak terlihat canggung.
"Yang Mulia, mari kita berjalan mengelilingi area ini, ada beberapa spot yang menarik selama saya berada disini," seru Ariel kemudian turun dari pohon tempat dimana ia mengawasi para penjaga.
"Akan sangat menarik jika anda bisa melihatnya," lanjut Ariel dengan senyum ramahnya.
Lucas yang juga merasa bosan akhirnya pergi mengikuti Ariel berkeliling di area tersebut. Lama mereka berjalan dan tiba-tiba saja terdengar bunyi alarm yang bergetar begitu kencang.
Dengan segera Ariel dan Lucas bergegas kembali ketempat asal suara tersebut. Mereka tidak bisa langsung memasuki area goa dikarenakan banyaknya prajurit yang tengah berlari menuju arah tersebut.
"Yang Mulia, ini akan sangat sulit," gerutu Ariel ketika para prajurit mulai berdatangan.
"Menghindar," lirih Lucas sehingga membuat keduanya pergi kearah barat untuk bisa mendapatkan spot yang lebih jelas.
"Ariel, kacaukan mana dibeberapa titik lokasi."
"Baik, Yang Mulia," balas Ariel sebelum pergi berpisah dari Lucas.
"Mereka sepertinya mengerahkan hampir seluruh prajurit kota untuk menangani hal ini."
"Apa yang sebenarnya telah terjadi?"
"Siapa mereka sebenarnya?" gumam Lucas ketika ia melihat beberapa prajurit yang sudah terkapar di tanah.
Beberapa saat kemudian setelah Lucas berhasil mengidentifikasi detail kejadian, ia melihat sebuah cahaya terang yang berjarak tidak jauh dari posisinya.
"Sial, cahaya apa itu?" gerutunya dengan kesal sebelum pergi menuju arah cahaya tersebut.
Sesampainya disana, Lucas hanya melihat seorang pemimpin pasukan yang tengah terlihat kesal, ia seperti mengutuk tajam pada cahaya yang samar-samar mulai menghilang.
"Apa mereka musuh?"
"Sepertinya ini akan rumit," lirih Lucas setelah mendengar perintah dari pemimpin prajurit tersebut.
Beberapa saat kemudian, Ariel datang menghampirinya Lucas untuk menginformasikan perihal keadaan mereka saat ini.
"Yang Mulia, kita harus segera pergi," seru Ariel yang merasa kesal karena rencana mereka telah terganggu.
"Baiklah, mari kita pergi,"
Lucas kemudian merapalkan mantra sihir teleportasinya sebelum ia melompat dari atas pohon.
Keesokan paginya, Lucas dan para bawahannya sedang berkumpul untuk mendiskusikan masalah semalam. Mereka terlihat sangat kesal dan juga khawatir dengan keadaan saat ini dimana para prajurit kota tengah gencar dalam meningkatkan keamanan.
"Yang Mulia, bagaimana dengan rencana kita kali ini," seru salah seorang bawahannya setelah melihat berita di koran pagi ini.
"Tetap seperti biasa,"
"Siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang sebenarnya terjadi malam tadi?"
"Iya, Yang Mulia. Siapa mereka? Apakah mereka sekutu atau musuh?"
"Cukup hentikan," seru Lucas dingin sebelum meletakkan dokumen investigasi keatas meja.
"Apa yang mereka lakukan hanya membebaskan para tahanan tersebut," lanjut Lucas sambil melepas kacamatanya.
"Aku sendiri tidak tahu apakah mereka musuh atau pun sekutu, namun satu yang pasti. Rencana kita akan tetap sama," lirih Lucas tegas sebelum meninggalkan ruangan tersebut.
"Meski akan sulit bagi kita karena mereka sudah mewaspadai hal ini, namun keputusan ku sudah bulat,"
****
Dua hari kemudian Lucas dan kelompoknya sudah siap dalam aksi mereka di keesokan harinya. Mereka terlihat sangat siap dengan beberapa bom mana dan juga gulungan sihir teleportasi untuk setiap anggotanya.
"Kita akan menyerang mereka malam ini, jadi persiapkan diri kalian sebaik mungkin," seru Lucas sebelum rapat berakhir.
"Baik, Yang Mulia,"
"Ariel, tetap awasi tempat itu," lirih Lucas pada perangkat sihir panggilannya.
"Baik, Tuan," jawab Ariel singkat sebelum memutuskan panggilan mereka.
Setelah segala urusan selesai, Lucas mendapatkan panggilan baru dari Luna. Segera Lucas menjawab panggilan tersebut sembari menaruh dokumennya ketempat semula.
"Kakak," sapa Luna singkat.
"Aku dan yang lainnya berencana untuk mengunjungi Senja di wilayah timur kekuasan Duke Ari."
"Kapan waktu keberangkatannya?"
"Siang ini."
"Berhati-hatilah, jarak dari kerajaan Aruna menuju wilayah timur sangat jauh, itu memakan waktu setidaknya tiga hari. Luna pastikan diri mu aman dalam perjalanan tersebut," jelas Lucas panjang lebar.
"Aku mengerti Kakak,"
"Kabarkan pada ku segera, bagaimana kondisinya disana."
"Aku mengerti."
"Baiklah kalau begitu, semoga kau selamat dalam perjalanan."
"Terima kasih," lirih Luna sebelum panggilan tersebut berakhir.
__ADS_1
"Akhirnya, perasaan ini lega juga," batin Lucas sedikit tenang karena kekasihnya dalam keadaan aman saat ini.
"Aku akan segera membereskan urusan ku disini, sebelum nantinya kembali untuk mempersiapkan pesta kedewasaannya," gumam Lucas kemudian kembali berkutat dengan dokumen yang ada dihadapannya tersebut.
Pada malam harinya Lucas dan kelompoknya sudah bersiap untuk menyerang. Mereka terlihat cukup bersemangat untuk penyerangan tersebut.
"Masuk dalam posisi," seru Lucas yang kemudian membuat mereka menyebar ke beberapa titik yang ada di pintu masuk goa.
"Ariel dan Kyle akan menuju pintu masuk ke dua, sisanya akan menunggu diluar sesuai aba-aba," lanjut Lucas yang dijawab anggukan kepala oleh mereka semua.
"Yang Mulia, apa yang akan kita lakukan dengan mana mati ini nantinya?" tanya Ariel sebelum mereka berpencar.
"Pindahkan saja dengan portal sihir yang sudah aku berikan."
"Baik, Yang Mulia," balas Ariel kemudian pergi mengikuti Kyle dari belakang.
Setelah semua pihak sudah berada di posisinya masing-masing, kini giliran Lucas untuk menyelamatkan para tawanan sebelum goa tersebut diledakkan.
"Jack, kau akan masuk dengan ku ke dalam."
"Baik, Yang Mulia,"
Di dalam tampak sangat tenang, beberapa prajurit bahkan ada yang tengah bermain dan ada juga yang sedang makan. Mereka terlihat santai untuk situasi saat ini.
"Ini sedikit aneh," batin Lucas sebelum menyuruh Jack untuk menyebarkan bom asap menuju mereka.
"Apa informasi ku salah? Mengapa mereka begitu santai?" gumam Lucas pelan pada dirinya sendiri.
"Aku harus segera menyelesaikan ini,"
Segera setelah bom asap dilemparkan, para prajurit yang tengah berjaga di dalam tertidur dengan pulas.
"Jack, ikuti aku."
"Baik, Yang Mulia," balas Jack singkat sebelum mengikuti Lucas menuju bagian terdalam goa tersebut.
Baru beberapa langkah saja, Lucas sudah menemukan rakyat yang diculik. Kondisi mereka cukup mengenaskan, kaki dan tangan mereka dirantai dengan besi.
"Tuan...," perkataan Jack terputus ketika Lucas menebas rantai tersebut dengan auranya.
"Pindahkan mereka," seru Lucas ketika para budak tersebut jatuh ke lantai.
"Baik," lirih Jack kemudian memindahkan mereka menggunakan portal sihir yang sudah disiapkan.
Satu-persatu dari setiap penjara sudah dihancurkan oleh Lucas, ia juga menanam bom waktu di setiap sudut tempat yang ia lewati selama menyelamatkan para korban.
"Tuan, hanya tersisa satu lorong lagi," seru Jack setelah ia selesai memindahkan seluruh budak yang tersisa.
"Baiklah, kalau begi...," perkataan Lucas terputus saat ia mendengat ledakan dari luar.
"Sial, apa ini? Aku sudah menyetel waktu ledak sekitar 15 menit dan ini baru 10 menit dari waktu yang tersisa," pekik Lucas kaget dengan ledakkan yang baru saja timbul.
Sebuah panggilan suara menyala dari balik saku pakaian Lucas.
"Ariel,"
"Yang Mulia, mereka datang dan saat ini sedang bertarung dengan yang lainnya di luar," lirih Ariel panik saat portal sihir baru saja memindahkan dua wadah mana mati.
"Keluar dari sana segera," seru Lucas kemudian mematikan panggilan tersebut.
"Jack bantu mereka dan jangan biarkan ada yang masuk ke dalam sini kecuali setelah aku keluar," lanjut Lucas yang mendapatkan anggukan kepala dari Jack.
Setelah Jack keluar dari lorong tersebut, dengan gesit Lucas menuju lorong terakhir tempat dimana korban yang lain tersisa. Betapa terkejutnya Lucas saat melihat tumpukkan dokumen di ruangan tersebut dan setelah diperhatikan ternyata itu adalah ruang kerja bukannya sel penjara.
"Hahaha, apa ini?" tawa Lucas ketika mendapatkan hal yang tidak terduga didepannya.
"Apa mereka berencana untuk memusnahkan benua?" lanjutnya saat ia menemukan gambar struktur golem dengan beberapa kerangka gambar lainnya.
"Mereka memang gila," gerutu Lucas sambil menggenggam salah satu gambar struktur golem dihadapannya.
"Mereka bahkan sudah membuat rumus gabungan untuk menghancurkan titik mati penyihir dan ksatria,"
"Ini akan sangat kacau, ternyata mereka sudah siap dalam berperang."
"Bahkan ini bisa dikatakan perang skala besar," lanjutnya masih dengan ekspresi dingin.
"Oho, apa yang aku temukan ini," seru sebuah suara yang datang dari belakang punggung Lucas.
"Berani sekali tikus kecil seperti mu masuk ke dalam sarang ular," lanjut suara tersebut yang membuat Lucas membalikkan wajahnya.
"Kau, siapa kau?" tanya Lucas bingung ketika melihat sosok anak kecil bertubuh mungil berada dihadapannya.
Anak itu tampak sangat polos namun senyum licik diwajahnya membuat ia terlihat jahat dalam waktu bersamaan.
"Siapa aku? Seharusnya aku yang bertanya siapa kau," seru anak tersebut sambil menjeda perkataannya.
"Berani sekali kau menyentuh milik ku," lanjut anak tersebut dengan dinginnya.
"Sial, dia seperti pria tua dengan nada bicaranya,"
"Sialan!" teriak Lucas sambil melemparkan seluruh dokumen dan gambar dihadapannya.
Ketika melihat Lucas melemparkan seluruh miliknya, anak kecil tersebut pun terlihat kesal kemudian mengeluarkan mantra sihir untuk menyerang Lucas.
"Berani sekali kau mengacaukan rencana ku," teriak anak tersebut dengan bola api ditangannya. Lucas yang menyadari bahaya datang mulai membentengi dirinya dengan pedang aura.
"Sialan," teriak anak kecil tersebut setelah seluruh miliknya terbakar oleh api yang ia luncurkan untuk Lucas.
__ADS_1
"Hahaha, hei nak. Sebaiknya kau ingat kata ibu mu untuk tidak menggunakan api sembarangan," ejek Lucas kemudian menyerang anak tersebut dengan pedangnya.
"Dasar sampah, akan aku habisi kau disini," pekik anak tersebut penuh emosi.
Pertarungan pun terjadi diantara keduanya. Lucas yang merupakan seorang ksatria hanya bisa menggunakan aura miliknya untuk melindungi diri dari segala bentuk serangan sihir yang dikeluarkan oleh anak kecil tersebut.
"Sial, siapa dia sebenarnya,"
Pasalnya Lucas yakin tidak mungkin seorang anak bisa menyerang dengan begitu lihai diusianya yang masih terbilang bocah.
"Dia pasti melakukan sihir perubahan wujud,"
"Hahaha... Dasar lemah," pekik anak kecil tersebut setiap kali ia menyerang Lucas.
"Kau itu hanyalah bocah ingusan, berani sekali kau mengganggu ku," teriaknya sekali lagi saat Lucas meluncurkan serangannya.
"Kau pikir dengan berlindung seperti itu, bisa lolos dari ku hah?" lanjutnya penuh penekanan.
Lucas terus saja menghujani anak kecil tersebut dengan pedang auranya namun karena gua tempat bertarung sangatlah kecil sehingga menyulitkan Lucas dalam bergerak bebas, hal itu malah menguntungkan anak kecil tersebut karena tubuhnya yang mungil memudahkan ia berpindah ke segala arah.
"Kau tidak akan bisa kabur dari ku," teriak anak kecil tersebut sambil mengeluarkan aura membunuhnya.
"Sial, anak ini terlalu kuat,"
"Seharusnya aku membawa Ace kesini tadi" gumam Lucas pelan pada dirinya sendiri.
Waktu sudah berjalan cukup lama, bagian luar gua sudah mulai hancur karena ledakan bom sihir yang sebelumnya dipasang oleh Lucas.
"Aku harus segera mengakhiri ini," lirih Lucas sebelum kembali menyerang anak kecil tersebut.
"Sudah tidak ada waktu lagi,"
"Sialan!" teriak anak itu ketika kulit luar tubuhnya hancur karena serangan pedang aura dari Lucas.
"Kau..., berani sekali kau menghancurkan tubuh kesayangan ku ini!" teriaknya sekali lagi saat kulit luar tubuhnya mulai terkelupas.
"Apa itu?"
"Sial, mana mati," pekik Lucas kemudian berlari keluar gua saat mendapatkan celah akibat ledakan bom sihir.
"Mau lari kemana kau," teriak anak itu kembali saat mengejar Lucas yang kabur melakui celah gua yang runtuh.
"Lich, bocah itu ternyata seorang Lich," batin Lucas kaget ketika seluruh kulit anak tersebut sudah menghilang dan kini hanya menampilkan wujud Lich nya.
"Sudah aku duga, jika ada yang tidak beres dari bocah sialan itu," lirih Lucas sebelum bom sihir terakhir miliknya meledak di dalam gua.
"Lihat wajah menyeramkannya itu," lanjut Lucas saat melihat kedua mata Lich yang bercahaya hitam kebiruan.
Keadaan sekitar cukup kacau, banyak dari mereka yang bertarung dengan tubuh yang terluka, terlebih lagi para prajurit yang datang bagai hujan. Mereka terlihat cukup kewalahan menghadapi banyaknya prajurit saat ini.
"Lihatlah wujud jelek mu itu," ejek Lucas saat Lich tersebut mulai terbang kearahnya.
"Kau, sialan. Aku akan membuat mu menjadi milik ku, dan akan aku ubah kau sebagai boneka mana nantinya," teriak Lich saat salah satu prajuritnya meledak.
"Apa itu?" tanya Lucas kaget ketika prajurit yang meledak malah mengeluarkan mana mati ditubuhnya.
"Itu adalah boneka ku, dan kau akan menjadi salah satu dari mereka setelah ini," seru Lich tersebut dengan senyum liciknya.
"Brengsek,"
Beberapa diantara para prajurit musuh saling melukai prajurit lain sehingga yang terkena ledakan akan langsung mati ditempat.
"Tidak perlu terlihat pucat seperti itu. Jika kau takut, aku akan senang hati untuk menjadikan mu tubuh baru Lich ku," lirih Lich tersebut sebelum menyerang Lucas dengan sihirnya.
"Aku harus segera pergi dari sini," gumam Lucas sambil memblokir serangan sihir dari Lich itu.
"Semuanya, segera kembali," teriak Lucas kuat sehingga bawahannya mendengar perintah tersebut.
"Hahaha, apa kau pikir bisa dengan mudah kabur dari ku hah?"
Lucas yang sadar akan posisinya disana lantas menghantam Lich saat ia tengah mengendalikan anak buahnya tersebut.
"Pergilah kau ke neraka," teriak Lucas kasar kemudian mendorong Lich hingga menghantam gua.
"Tinggal sedikit lagi,"
"Kau, manusia sialan seperti mu berani sekali terhadap ku," teriak Lich kesal saat melihat wajah penuh kemenangan dari Lucas.
"Ini belum berakhir," teriaknya sekali lagi saat memfokuskan serangannya pada Lucas.
Saat hendak menyerang Lucas, area sekitar Lich mulai terguncang hebat. Perlahan, sebuah ledakan besar keluar dari pintu masuk gua yang kedua. Area dimana mana mati tersimpan kini hancur dan menyebabkan seluruh mana yang berada disana meledak dan menyebar ke segala arah.
"Sialan kau, berani sekali kau menghancurkan makanan ku," pekik Lich tersebut sambil terbang dengan cepat ke arah Lucas.
"Hahaha, nikmatilah neraka mu," teriak Lucas sebelum mengirimkan pukulan telak pada Lich sehingga membuatnya terjatuh lagi ke tanah.
Lucas sudah mendapatkan konfirmasi jika seluruh bawahannya sudah berteleportasi dengan selamat.
"Saatnya kembali," gumam Lucas dalam hatinya sambil merobek gulungan kertas teleportasi miliknya.
"Tempat ini sangat kacau, banyak sekali yang akan mengalami kerugian dengan kejadian ini. Selain itu, hutan ini pun tidak akan bisa digunakan kembali karena mana mati telah menyebar disekitarnya,"
"Untung saja tempat ini sangat jauh dari perumahan warga Jika tidak, mungkin saja akan banyak warga biasa yang tidak berdosa akan mati karena mereka,"
Lich tampak sangat kesal saat melihat tubuh Lucas yang mulai menghilang dari pandangannya.
"Sampai jumpa lagi," seru Lucas dengan senyum polosnya sebelum benar-benar menghilang dari tempat tersebut.
__ADS_1
"Sialan....!" teriak Lich yang hanya menggenggam udara kosong di tempat dimana Lucas berada sebelumnya.
"Aku akan membunuh mu, bocah sialan," pekik Lich tersebut seraya mengedarkan pandangannya ke bawah, ke tempat dimana seluruh kerja kerasnya selama 10 tahun hancur dalam semalam karena kedatangan seorang bocah ingusan.