Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Pertemuan


__ADS_3

"Janji yang diucap seseorang adalah simbol kebenaran dirinya."


*****************#####*****************


Pagi harinya, Senja memutuskan untuk pergi meninggalkan ibu kota El-Aufi untuk menemui pedagang Weru di bar judi yang berada di pinggiran kota.


Jarak antara ibu kota dengan bar tersebut hanya memakan waktu selama tiga jam perjalanan, namun karena waktu yang sudah dijadwalkan membuat Senja pergi lebih cepat.


"Eza, kembalilah ke wilayah timur." seru Senja datar ketika ia tengah bersiap dalam perjalanan.


" ... "


"Jangan diam saja. Gantikan Dian dalam tugasnya dan suruh ia menemui ku segera."


Lanjut Senja saat melihat Eza yang masih diam ditempatnya.


"Nona"


"Pergilah."


Perkataan Eza terputus saat Senja menyuruhnya pergi dengan ekspresi wajah acuh tak acuhnya.


Eza kemudian pergi dari kamar tersebut dengan wajah sedihnya. Ia merasa bahwa Senja sudah berubah karena pengaruh dari Kaira, dengan kesal Eza menggenggam erat pedangnya sebelum merobek gulungan kertas teleportasi.


"Aku akan membunuhnya," lirih Eza sinis saat membayangkan senyum provokasi dari Kaira.


"Wanita sialan itu telah mengubah Nona ku."


Lanjut Eza sebelum dirinya benar - benar menghilang dari tempat tersebut.


Setelah kepergian Eza, Senja memutuskan untuk mengambil secarik kertas dan sebuah pena untuk menulis surat perpisahan bagi Kaira. Surat tersebut ditulis dengan rapi dan sopan, di dalamnya Senja mengatakan jika ia harus pergi karena ksatria nya sedang dalam masalah besar.


"Kurasa alasan ini sangat cocok, mengingat situasi antara Kaira dan Eza. Hal ini akan menjadi pendukung kuat kepergian ku," seru Senja sebelum mengakhiri isi suratnya.


"Nah, dengan ini suratnya sudah sempurna."


Lanjut Senja saat menaruh setangkai bunga di atas surat tersebut.


"Selamat pagi Nona," seru sebuah suara yang sudah lama dikenali Senja.


"Dian, bagus sekali kau datang tepat waktu," lirih Senja dengan senyum lebar diwajahnya.


"Apa lagi ini," batin Dian saat melihat senyum aneh di wajah nona nya itu.


"Antarkan ini ke resepsionis dan katakan padanya untuk memberikan ini kepada seorang wanita muda yang berwajah sexy bernama Kaira."


"Permainan apa lagi yang sedang Nona kerjakan," gumam Dian dalam hatinya saat melihat surat tersebut.


"Baiklah Nona,"


Beberapa saat kemudian, Dian kembali ke kamar dengan membawa nampan berisi teh hijau hangat dan juga beberapa cemilan lezat.


"Ini yang aku suka dari mu," seru Senja saat Dian menaruh nampan tersebut keatas meja.


" ... "


Dian hanya diam acuh tak acuh ketika Senja memujinya.


"Ah iya, bangunkan kucing malas itu karena kita akan segera pergi." lanjut Senja sebelum meminum teh yang ada dihadapannya tersebut.


Dian kemudian pergi menuju kasur dan mengangkat Kun yang masih tertidur di dalam pelukannya. Perlahan ia memasukan Kun ke dalam keranjang sebelum mengangkatnya dan menaruhnya keatas meja.

__ADS_1


"Astaga..." pekik Senja kaget saat Dian menaruh Kun dengan kasar di atas meja.


"Tidak bisakah kau bersikap baik pada Nona mu ini?"


Senja bertanya dengan wajah kesalnya sambil membersihkan serpihan kue yang tersebar di bajunya.


"Jika Nona sudah selesai, mari kita pergi."


Dian berkata dengan acuhnya saat melihat ekspresi kesal dari wajah Senja.


"Hah, mengapa aku mempunyai bawahan yang menyebalkan seperti ini," batin Senja pasrah ketika melihat Dian yang dengan acuhnya pergi membereskan keperluan perjalanan mereka.


"Dian. Bagaimana perkembangan konstruksi di wilayah timur?"


"Gedungnya akan siap dalam seminggu lagi, Nona."


"Cepat juga,"


"Itu bagus,"


Setelah Senja menyelesaikan cemilannya, ia dan Dian segera berangkat menuju pinggiran kota menggunakan kereta kuda yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Eza.


Sesuai dugaannya, ibu kota El-Aufi ini memang indah bahkan sepanjang jalan Senja tidak henti - hentinya menatap area luar jendelanya.


Bersamaan dengan itu, meski perjalanan memakan waktu tiga jam, namun selama perjalanan Senja sama sekali tidak merasa bosan. Baru kali ini ia menikmati perjalanan yang panjang tanpa mengeluh sedikit pun hal yang sama juga dirasakan oleh Dian dalam perjalanan ini.


"Nona, kita akan sampai dalam beberapa menit."


" ... "


"Kita akan singgah disalah satu kafe yang ada disana sebelum memasuki area bar."


Dian menjelaskan situasi yang ia terima dari Dennis sebelum datang ke kerajaan El-Aufi.


Senja bertanya dengan antusias, ia terlihat sangat bergairah ketika membicarakan bar ketimbang para pedagang Weru.


"Sama seperti yang anda dengar. Bar itu tidak ada bedanya dengan Bar Tarot di kerajaan Guira hanya saja sistem mereka sedikit lebih unik," jelas Dian sebelum kereta kuda berhenti tepat di depan sebuah kafe.


"Hahaha, itu menarik." tawa Senja pelan pada dirinya sendiri namun masih bisa di dengar samar oleh Dian.


"Nona pasti akan berulah lagi," gumam Dian dalam hatinya saat melihat senyum nakal yang melingkar di wajah Senja.


"Nona, anda akan istirahat sampai waktunya tiba. Saya dengar kondisi anda buruk akhir-akhir ini."


Senja hanya menatap aneh pada perkataan Dian yang mengatakan bahwa kondisinya sedang buruk saat ini.


"Itu tidak mungkin," balas Senja membantah pernyataan Dian sambil melirik sekilas pada gedung bar yang berada tidak jauh darinya.


"Saya sudah mendengar semuanya dari Eza. Jadi, anda tidak perlu menutupinya," lirih Dian sebelum menarik tangan Senja untuk memasuki kafe.


"Apa yang Eza katakan pada dia dibelakang ku"


"Selamat datang Nona, ada yang bisa saya bantu?" seru pelayan kafe saat melihat Senja dan Dian melewati pintu masuk.


"Ini, ambilah."


Dian kemudian memberikan secarik kertas kepada pelayan tersebut. Sedetik kemudian, pelayan tersebut tersenyum simpul sambil membimbing Senja dan Dian naik ke lantai dua.


"Silahkan masuk Nona, semuanya sudah dipersiapkan," seru pelayan tersebut sebelum ia meninggalkan Senja dan Dian disana.


"Sudah waktunya untuk makan."

__ADS_1


"Iya, aku tahu," cicit Senja kesal kemudian duduk disalah satu kursi yang sudah dipersiapkan.


"Apa kau yang menyiapkan ini semua?"


Senja melihat begitu banyak makanan dan juga berbagai macam cemilan di atas meja dihadapannya itu.


"Tidak, ini semua sudah disiapkan Eza sebelumnya."


Dian menjelaskan dengan ekspresi acuhnya sambil mengeluarkan Kun dari keranjang.


"Eza sangat khawatir dengan anda, oleh karena itu dia menyiapkan ini semua." lanjut Dian saat menaruh Kun di atas meja makan tersebut.


"Begitu rupanya."


Senja kemudian menatap lemah makanan yang ada dihadapannya sambil teringat wajah Eza yang masam.


"Tidak perlu khawatir mengenai dirinya Nona. Nindia sudah membujuk Eza agar dirinya menjadi lebih baik," jelas Dian saat melihat raut wajah sedih dari nona nya itu.


"Itu bagus."


Senja kemudian mengambil garpu dan mulai memakan makanannya. Ia terlihat menikmati makanan tersebut sambil menatap ke luar jendela dimana gedung bar berada.


Gedung itu tampak sangat kecil dari luar namun sebenarnya ia sangat besar di dalam. Gedung tersebut menggunakan manipulasi ruang untuk bisa membuat para tamunya merasa nyaman bila berada di dalam sana.


"Sebenarnya itu trik yang sangat lucu. Pada dasarnya mereka hanya ingin mengikat para tamunya agar menghabiskan uang tanpa mereka disadari,"


"Sayangnya itu tidak berlaku bagi ku. Meski Lily tidak berada disini namun..."


Senja sekilas melirik pada Ristia yang sedang menyelam di dalam kue favoritnya.


"Aku memilki kartu AS dimana aku bisa terus menikmati permainan tanpa mengalami kerugian."


Senja lantas menyunggingkan senyum liciknya saat memikirkan berapa banyaknya uang yang bisa ia dapatkan dari tempat tersebut.


"Nona, wajah Anda terlihat sangat aneh saat ini."


"Apa anda sedang merencanakan suatu hal yang gila?" lanjut Dian saat Senja hanya menatap lembut kearahnya.


"Siapa tahu,"


"Saya harap Nona bisa mengontrol diri."


"Kau tenang saja, kali ini aku akan bermain dengan lembut."


"Saya harap juga begitu."


"Ah, iya Dian. Bagaimana dengan Olaf saat ini?"


"Seperti biasa, tidak ada yang berubah. Selain itu, subjek A hanya melatih para prajuritnya dengan gigih."


"Tidak ada kabar lain?"


"Tidak ada,"


Senja hanya mengangguk tanda mengerti, ia kemudian kembali menyantap makanannya.


"Yah, meski aku berharap lebih darinya namun ini sudah cukup,"


"Terus informasikan pada ku jika ada perubahan."


"Baik Nona,"

__ADS_1


"Sayang sekali, padahal aku sudah menyiapkan banyak hal untuk ini," batin Senja saat melihat Dian memasuki gedung bar tersebut.


"Yah tidak masalah, aku bisa melakukannya malam nanti." lanjutnya sebelum kembali menyantap hidangan penutup yang sudah disiapkan sebelumnya.


__ADS_2