
"Kerusakan yang terjadi akan membuat mu sadar jika semua itu hanyalah sementara."
*****************#####***************
Dari jauh Lucas selalu melihat sosok seorang wanita mungil yang berwajah polos. Wanita itu sungguh menarik perhatiannya sejak pertemuan pertama mereka di pasar gelap.
"Dia lucu sekali," gumam Lucas pelan namun masih bisa didengar oleh Ariel, bayangannya.
"Tuan sudah waktunya pergi," bisik Ariel yang lelah dengan perilaku tuanya yang selalu bersembunyi seperti ini.
"Apa susahnya sih datang dan menyapanya," batin Ariel kesal setiap kali mendapati Lucas yang selalu memperhatikan Senja dari jauh.
Hal ini sudah dilakukan Lucas sejak lama, dan itu membuat Ariel tidak habis pikir dengan cara pemikiran tuannya tersebut.
"Kejadian yang paling buruk adalah ketika Nona Senja menghilang dan kami harus bekerja ekstra untuk mencarinya tanpa boleh istirahat atau pun kembali pulang," gumam Ariel pada dirinya sendiri.
"Aku rasa, cinta telah membuat seorang penjahat menjadi baik hati," lanjutnya yang kini terdengar samar oleh Lucas.
"Apa kau mengatakan sesuatu?" tanya Lucas yang masih memandang kearah Senja yang kini tengah berbicara dengan Luna.
"Tidak ada Tuan, saya hanya berkata jika ini sudah waktunya kita pergi," lirih Ariel mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah, mari kita pergi," balas Lucas sebelum pergi dari tempat itu.
"Aku yakin kau akan baik-baik saja dengan Luna disamping mu,"
Lucas lalu melafalkan mantra sihir teleportasinya dan pergi dari tempat itu. Jujur saja Lucas sangat kesal dengan perilaku pangeran kelima dan juga kembarannya Dira.
Mereka berdua adalah penyebab Senja menjadi bahan perbincangan seluruh kerajaan Green bahkan kerajaan tetangga pun mengetahuinya. Selain itu Senja juga terluka parah akibat ujian Akademik yang melibatkan banyak pembunuh bayaran.
"Lihat saja, aku pasti akan membalaskan perbuatan kalian karena telah berani menyakiti wanita ku," gerutu Lucas pelan sebelum benar-benar menghilang dari area tersebut.
Beberapa saat setelahnya, Lucas sudah berada di kota Ceko. Kota kedua terdekat dari ibu kota kerajaan Guira. Kota ini tampak sangat tenang dan damai, para pedagang berlalu lalang dengan santai dan teratur. Banyak sekali hal bagus yang bisa dilihat dari kota ini.
"Tuan, sumber mengatakan jika beberapa hari terakhir ini banyak sekali pendatang yang hilang dan meski begitu mereka bahkan tidak tahu siapa pelakunya," seru Ariel sambil memberikan dokumen informasi pada Lucas.
"Pasti ini ada kaitannya dengan Klan itu," lirih Lucas dingin ketika ia mulai membaca kata demi kata dari laporan yang ada pada dokumen tersebut.
Awalnya Lucas mendapati hal aneh pada saat ia tengah melakukan ekspedisi di hutan Teratai, banyak sekali hewan yang mati dengan kondisi mengenaskan dan tentu saja di setiap kematian mereka selalu ada mutiara hitam.
"Aku jadi teringat tentangnya," gumam Lucas yang teringat tentang bagaimana ia menemukan Senja yang sedang sekarat setelah melawan hewan magic yang telah menjadi monster tersebut.
"Untung saja aku cepat datang, jika tidak..."
Lucas mulai memikirkan kondisi terburuk Senja dan seketika ia mulai menggelengkan kepalanya asal.
"Sungguh Tuan ku sudah gila," batin Ariel yang sebelum keluar dari kamar hotel Lucas.
Malam harinya, Lucas dan Ariel bergegas dalam menyelidiki hilangnya para pendatang tersebut. Anehnya mereka tidak menemukan apa pun selain aura aneh yang mengarah kesatu tujuan.
"Tuan, saya akan menyelidikinya lebih lanjut," seru Ariel kemudian menghilang dari balik pohon.
Lucas yang ditinggalkan sendirian kemudian kembali ke kamar hotelnya untuk membereskan beberapa dokumen penting.
"Hah, ini akan sulit," gerutunya sebelum menelepon Luna melalui perangkat sihir panggilan.
"Ada apa?" tanya Luna ketus ketika melihat wajah Lucas yang ada didepan layar.
"Tidak bisakah kau mengatakan ' Hai kakak, aku rindu pada mu,' begitu?" ejek Lucas yang kesal dengan sikap bar-bar adiknya tersebut.
"Hah, bagaimana bisa. Aku ini sangat kesal pada mu karena kau tidak mau untuk melepasnya," gerutu Luna yang tampak sangat kesal.
"Bukankah kau juga menyukainya? Akan sangat bagus jika dia menjadi kakak ipar mu bukan,"
__ADS_1
"Kakak, kau pasti tahu betul akibat dari semua ini bukan?"
"Iya, aku tahu."
"Lalu kenapa?"
"Akan sangat sulit jika dia lepas dari kita, mereka mungkin saja akan menyakitinya kapan pun dan sebelum hal itu terjadi, cara terbaik untuk melindunginya adalah tetap bersama kita," jelas Lucas yang terlihat begitu emosi ketika mengingat senyum licik Dira dan Helios.
"Sekarang, dimana dia?" tanya Lucas kembali yang malah mendapatkan helaan napas dari Luna.
"Sekarang Senja masih berada dikediaman Muna. Selain itu, kami berencana untuk pergi ke kerajaan Aruna untuk berpartisipasi dalam pesta kedewasaan si kembar."
"Hah, kenapa kau tidak mencegahnya?"
"Bagaimana bisa, mereka semua sudah setuju selain itu, sekarang aku tengah berada di istana untuk meminta persetujuan dari ayah."
"Lalu apa kata ayah?"
"Ayah setuju," lirih Luna yang membuat Lucas sakit kepala.
"Ah, kepala ku," erangnya sambil mengacak-acak rambut hitamnya tersebut.
"Baiklah, aku tahu kau bisa melakukannya,"
"Kau tenang saja, Senja akan aman dalam pengawasan ku," seru Luna dengan bangganya.
"Baiklah, aku percayakan dia pada mu," balas Lucas sebelum mematikan panggilan tersebut.
Beberapa saat kemudian Ariel datang dengan raut wajah merahnya, ia terlihat sangat kesal bahkan hampir terlihat meledak.
"Ada apa dengan mu?"
"Tuan, anda mungkin akan segera menghancurkan tempat tersebut," seru Ariel kemudian menyerahkan bola sihir yang berisikan video rekaman.
Setelah video rekaman selesai ditayangkan, wajah Lucas yang semula tenang kini terlihat mulai memerah karena menahan marah.
"Kumpulkan yang lainnya," seru Lucas yang dijawab anggukan kepala oleh Ariel.
"Aku akan menghancurkan mereka sampai ke akar-akarnya," batin Lucas kemudian menghubungi Prof Edward.
Beberapa kali bunyi beep, akhirnya panggilan itu pun tersambung. Tampak kini Prof Edward yang tengah berada di dalam ruangannya, ia tampak sibuk dalam mengatur banyaknya dokumen untuk keperluan akademik.
"Selamat malam Yang Mulia," seru Prof Edward dengan senyum ramah diwajahnya.
"Prof, seperti yang anda duga, ternyata kejadian di hutan Teratai berhubungan dengan klan Nara," lirih Lucas tanpa membuang waktu.
"Sepertinya mereka sudah mulai bergerak beberapa tahun terakhir ini," lanjutnya ketika mengingat tumpukkan tulang yang berserakan di tengah wadah mana mati.
"Apa anda yakin, Yang Mulia?"
Prof Edward tampak sangat terkejut dengan pernyataan yang dilontarkan oleh putra mahkota.
"Tentu saja, saya akan kirimkan videonya pada anda," jelas putra mahkota kemudian mengirimkan video tersebut ke perangkat sihir milik Prof Edward.
"Lihatlah, dan kau pasti tahu maksud ku," lanjut Lucas saat Prof Edward mulai membuka isi video tersebut.
"Ini tidak mungkin," pekik Prof Edward kaget ketika menonton video tersebut.
"Yang Mulia, kita harus menghentikan mereka segera."
"Ini akan sulit, Prof. Mereka berada dalam perlindungan kerajaan Guira yang notabenenya mendapatkan perlindungan dari kumpulan pedagang dunia. Kita tidak bisa sembarangan menyentuh mereka, harus ada bukti yang cukup jelas dan tentu saja bukti ini belum cukup karena mengingat posisi kita saat ini,"
"Yang Mulia, bagaimana jika saya membantu anda dalam masalah ini?"
__ADS_1
"Tidak perlu, akademik sebentar lagi akan pulih. Kita harus fokus dalam pemulihan karena sudah lama akademik vakum dari mengajar,"
"Baiklah, kalau begitu. Semoga anda sukses dalam menjalani misi kali ini," balas Prof Edward sebelum menutup panggilannya.
Dua jam kemudian, Ariel kembali dengan beberapa orang kepercayaan Lucas. Mereka tampak begitu kesal ketika sampai disana, seperti orang yang sudah siap dalam peperangan.
"Apa Ariel sudah menceritakan segalanya? Lalu apa yang sudah ia sampaikan?"
"Sepertinya kalian sudah mendengar banyak hal dari Ariel," seru Lucas sambil melirik sekilas pada Ariel yang terlihat berpaling darinya.
"Entah apa yang dikatakan bocah itu, namun satu hal yang pasti bahwa klan Nara sudah mulai melebarkan sayapnya kali ini,"
"Kami siap menghancurkan mereka jika dibutuhkan," lirih salah seorang dari mereka saat sudah duduk di kursinya.
"Kami siap korbankan nyawa," timpal yang lainnya penuh semangat.
"Hah, entah apa yang mereka dengar tapi yang pasti ini semua ulahnya," batin Lucas yang saat ini masih menatap tajam kearah Ariel.
"Baiklah, baiklah. Kita tidak akan membunuh siapa pun disini karena kita hanya akan menghancurkan markas mereka saja. Selain itu jika pun harus ada korban jiwa, itu pasti harus dari pihak mereka," seru Lucas yang membuat bawahannya diam dan saling menatap satu sama lain.
"Kalau begitu mari kita mulai diskusinya,"
****
Empat hari setelahnya, Lucas dan Ariel sudah sepakat bahwa mereka akan menghancurkan tempat tersebut dalam tiga hari setelahnya.
"Tuan, malam ini saya akan berpatroli untuk melihat keadaan," seru Ariel ketika mereka tengah berada di pasar untuk mencari informasi.
"Terserah kau saja,"
"Ada apa dengan Tuan, ia tampak tidak bersemangat pagi ini,"
Lucas terlihat sangat khawatir karena ia baru saja mendapatkan kabar dari Luna jika Senja meninggalkan kerajaan Guira di pagi buta dan hanya meninggalkan sepucuk surat. Di dalam surat itu mengatakan jika dirinya harus kembali karena ada urusan mendesak dengan Duke Ari.
"Aku takut jika ini adalah jebakan lain dari Helios atau pun saudarinya," batin Lucas tidak tenang terlebih lagi ketika ia mengingat wajah Sarah yang seakan siap menghabisi Senja kapan saja.
"Apa aku harus pergi menyelidikinya? Tapi bagaimana dengan hal ini?" gumam Lucas pada dirinya yang terlihat sangat dilema.
" Apa sesuatu terjadi pada Tuan?"
Tanya salah satu bawahannya pada Ariel.
"Entahlah, mungkin saja Tuan rindu dengan Nona Senja," jawab Ariel asal yang malah mendapatkan anggukan kepala dari bawahan tersebut.
Tentu saja mereka semua tahu, bagaimana sifat tuannya tersebut jika sudah menyangkut Senja.
"Cinta memang gila," lirih salah satu bawahan tersebut.
Ketika mengingat kejadian dimana Lucas tidak mau melepaskan Senja untuk kembali kerumahnya atau membiarkan mereka mencari Senja tanpa istirahat setelah menghilangnya ia dari ujian akademik membuat mereka sadar betapa gilanya tuan mereka jika sudah menyangkut wanita itu.
Malam harinya saat Ariel tengah mengawasi tempat tersebut, Lucas yang bosan di kamarnya mulai berjalan keluar untuk menghirup udara segar. Lama ia berjalan, pada akhirnya Lucas memutusakan untuk menemui Ariel di hutan tersebut.
Sesampainya disana Lucas bisa melihat beberapa penjaga yang tengah menjaga area kosong yang merupakan pintu masuk menuju goa.
"Tuan, mengapa anda ada disini?" tanya Ariel penasaran dengan kehadiran mendadak dari tuannya tersebut.
"Kenapa?"
"Tuan, ini sudah tengah malam. Anda istirahat saja di hotel, biarkan saja saya yang mengawasi mereka,"
"Hah, baiklah Tuan," gumam Ariel pelan ketika melihat raut wajah tuannga yang sedang kesal.
"Mau bagaimana lagi jika Tuan memaksa," batinnya sambil terus memandang kearah penjaga goa tersebut.
__ADS_1