
"Semuanya akan kembali seperti semula, dimana kamu, aku dan mereka semua akan memulainya dari awal."
******************#####****************
"Nona!" panggil Dian saat ia berlari masuk ke dalam kamar. Senja sendiri masih diam di tempatnya sambil menikmati suasana akademik.
Senja merasa malas untuk menjawab teriakan Dian yang terdengar buru-buru itu. ia tahu jelas apa yang akan di katakan pelayannya itu padanya setelah keributan ini.
"Nona Luna dan Nona Zakila sedang menuju ke kamar ini sekarang," lanjutnya panik.
Senja hanya bisa menghela napasnya lelah. Ia terlalu enggan untuk menanggapi sikap pelayannya yang sama sekali tidak bisa mengontrol diri.
"Hah, Dian. Sebaiknya kau persiapkan saja keperluan untuk acara nanti malam, biarkan mereka menjadi urusan ku."
Mendengar keluhan dari nona nya itu, Dian dengan segera kembali bekerja seperti biasanya. Ia tahu saat ini kondisi nona nya sedang tidak stabil maka dari itu, Dian berusaha untuk tidak membantahnya kembali.
Seperti yang diinfokan oleh Dian. Beberapa saat setelahnya, Luna dan Zakila sudah berada di kamar Senja. Mereka terlihat baik dengan senyum ramah di wajahnya seperti biasa. Namun Senja tahu saat ini mereka sedang kesal akan suatu hal.
"Dimana yang lain?" tanya Senja penasaran. Ia tahu jika Muna dan Maya sedang di kurung di ruang rahasia milik Kaira, namun siapa yang tahu mungkin saja kini berbeda.
"Uhm... Mereka, mereka...."
Zakila tampak bingung dengan pertanyaan Senja. Ia terlihat kaku saat hendak menjawab dimana keberadaan kedua temannya yang lain.
"Mereka sedang bersama Kaira," timpal Luna tegas sambil menginjak kaki Zakila dengan keras.
Tentu saja rasa sakit dari injakan itu bisa ditahan oleh Zakila namun Senja tidak sebodoh itu jika mereka berdua sedang berbohong padanya.
"Ah, iya benar. Mereka sedang bersama Kaira saat ini."
"Benarkah? Apa Kaira akan mengikuti pesta kedewasaan juga?" tanya Senja mencoba untuk terlihat polos.
"Tentu saja, karena kita sudah berpartisipasi dalam pesta rakyat miliknya. Maka ia memutuskan untuk berpartisipasi dalam pesta kedewasaan kali ini."
Luna menjelaskan dengan cepat seakan hal itu menjadi jelas di antara mereka.
"Berbicara mengenai pesta di Kerajaan El-Aufi. Aku sungguh minta maaf karena tidak perhatian padamu."
Wajah Luna tampak sedih, begitupun dengan Zakila. Mereka terlihat sangat bersalah tentang kejadian dimana mereka meninggalkan Senja sendirian pada saat itu.
"Tak apa, aku baik-baik saja. Seharusnya aku yang minta maaf karena harus pergi secara mendadak," balas Senja dengan wajah yang tak kalah sedihnya.
"Aku sejujurnya saat bersyukur karena kalian melupakan aku pada saat itu," lanjutnya dalam hati.
"Tidak, tidak. Kau sama sekali tidak salah," lirih Zakila panik.
"Benar kau sama sekali tidak bersalah dalam kasus ini," lanjut Luna sambil menggenggam kedua tangan Senja.
"Sejujurnya yang salah itu adalah Maya dan Muna. Merekalah yang membuat pikiran kami berantakan sehingga tanpa sengaja melupakan mu," batin Luna kesal.
Dian yang menyaksikan situasi saat ini hanya bisa tertawa secara internal. Ia mengejek kedua sahabat nona nya itu yang sama sekali tidak mengetahui bahwa nona nya sangat bersyukur saat mereka pergi meninggalkannya sendirian.
"Nona, anda memang sangat hebat untuk hal ini."
Dian mengancungkan kedua jari jempolnya pada Senja. Ia kemudian kembali lagi melakukan tugasnya.
"Sepertinya tidak ada lagi yang bisa kami katakan padamu," seru Luna sambil menyerahkan sebuah kotak persegi panjang pada Senja.
"Ini adalah hadiah. Aku harap kau menggunakannya pada saat pesta nanti."
Senja dengan santai menerima kotak tersebut. Ia sedikit bingung dengan isinya namun sebelum ia sempat bertanya, Luna dan Zakila sudah berdiri dari duduknya.
"Selamat bertemu kembali di pesta nanti," lirih Zakila sambil memeluk ringan tubuh Senja.
"Sampai ketemu lagi," lanjut Luna yang juga melakukan hal yang sama dengan Zakila.
Keduanya lalu pergi dari kamar Senja menuju kamar mereka masing-masing. Selepas kepergian mereka, Senja dengan rasa penasarannya membuka kotak tersebut. Dengan malas Senja melempar kotak tersebut ke atas kasurnya.
"Hah, ini menyebalkan."
Senja terlihat kesal dengan hadiah yang baru saja ia terima dari Luna. Ia ingin tahu berapa harga yang mereka keluarkan untuk hadiah gila seperti itu.
"Ada apa Nona?" tanya Dian saat melihat ekspresi kesal dari wajah nona nya itu.
"Oh wow, ini sangat indah," lanjutnya saat melihat isi kotak yang berserakan di atas ranjang.
"Mengapa Nona membuang mereka seperti ini?"
Dian lalu membereskan kembali hadiah tersebut dan menaruhnya sesuai urutan ke dalam kotak.
"ini sangat menyebalkan," teriak Senja sambil membanting dirinya ke atas ranjang.
"Mereka seperti sedang mengatur diriku," lanjutnya saat Dian hendak mengambil anting yang terjepit tubuh Senja.
"Mereka hanya berniat baik pada anda, Nona."
Dian mencoba menasihati Senja saat tubuhnya tidak mau bergerak dari anting tersebut.
"Apanya yang baik, mereka seakan-akan mengatur seluruh kehidupanku. Bahkan pakaianku saja diatur sebagian rupa."
Dian hanya bisa menghela napas atas kekesalan nona nya itu. Ia bingung harus bereaksi seperti apa untuk saat ini.
"Jadi bagaimana? Apa aku harus mengembalikan ini..."
Dian diam sesaat sebelum melanjutkannya kembali.
"...atau membuangnya?" tanya Dian menunggu keputusan nona nya.
"Hah, brengsek. Aku akan memakainya. Aku akan memakai ini agar mereka merasa puas dengan diriku yang baik dan polos ini."
Senja berkata sambil berpose seperti gadis polos yang sama sekali tidak mengetahui betapa kejamnya dunia yang ia tapaki ini.
"Terserah anda saja Nona, tapi sebelum itu. Menjauhlah dari ini."
__ADS_1
Dian tampak kesulitan saat hendak menarik manik-manik bunga yang masih di duduki oleh nona nya itu.
"Huh."
Senja lalu berdiri dari duduknya dan melangkah pergi menuju kamar mandi.
****
Senja Point Of View
Malam harinya aku memutuskan untuk tetap memakai hadiah yang diberikan oleh Luna. Ini cukup bagus karena aku tidak perlu memberikan alasan klise untuk mengelak mereka nantinya. Namun...
"Ini sangat berlebihan," batinku saat melihat gaun yang berwarna biru muda dengan paduan biru tua ini.
Warnanya gaun ini bukan masalah utamanya. Masalahnya adalah, berlian yang menghiasi hampir seluruh bagian bawah gaun tersebut. Berlian ini tidak akan menggangu langkah ku, tapi aku merasa tidak nyaman dengan perhiasan mewah yang menyertainya.
Selain itu, mahkota kecil yang ia berikan padaku adalah mahkota langkah yang hanya ada dua di dunia ini.
"Apa mereka sudah gila?" teriak ku kesal sat melihat batu zamrud merah tua melingkar di tengahnya. Lebih gilanya lagi adalah mutiara yang menemani zamrud tersebut.
"Mahkota ini mungkin seharga satu Kerajaan kecil."
Aku enggan sekali menggunakannya, karena aku tidak suka semua perhatian akan tertuju padaku nantinya.
"Sial, aku ingin mengganti gaun ini."
Sayangnya langkahku di hentikan oleh Dian. Ia berkata jika waktunya sudah terlambat untuk mengganti pakaian baru.
"Nona, kita akan telat lebih lama dari yang lain jika anda memutuskan untuk berganti pakaian."
Dian tampak frustasi denganku namun ini benar-benar sangat menyebalkan.
"Nona, seandainya saja pesta diadakan di akademik. Hal itu akan sangat memudahkan kita jika anda ingin berganti pakaian. Namun saat ini pesta di gelar di Istana Kerajaan jadi bisakah anda setidaknya tepat waktu."
Aku yang kesal hanya bisa mengeluh lebih panjang lagi. Aku tahu ini semua karena kejadian saat itu, dimana akademik tidak lagi menerima siapa pun untuk masuk ke dalamnya kecuali siswa dan siswinya saja. Sehingga pesta kedewasaan kali ini diadakan di Istana Kerajaan.
Menurut Raja itu lebih baik daripada harus mengulang kejadian yang sama untuk kedua kalinya.
"Nona, pakailah ini."
Dian lalu memberiku sebuah sepatu yang juga tidak kalah mewahnya dengan gaunku ini.
"Astaga!" pekik ku saat Dian dengan santainya memakaikan sepatu itu padaku.
Setelah perjuangan yang panjang, akhirnya aku memutuskan untuk segera pergi menuju Istana Kerajaan. Aku bosan dengan omelan Dian yang menasihati ku tentang gaun aneh ini.
Jalan yang aku lalui cukup lapang karena seluruh rakyat kini sudah berada di Istana Kerajaan. Mereka sudah berada lama di sana hanya untuk melihat para putri bangsawan yang akan merayakan hari kedewasaan mereka.
"Nona, sebaiknya anda lepaskan saja sihir itu."
Dian terlihat kecewa saat mengetahui bahwa aku dengan sengaja membaluri pakaianku dengan sihir perubah wujud. Hal ini aku lakukan agar mereka tidak bisa melihat kemewahan gaun yang tidak ada akalnya ini.
Sesampainya di depan pintu masuk Aula utama. Aku yang di bantu oleh Eza, kemudian turun dari kereta kuda. Para warga dan bangsawan lainnya tampak bingung dengan pakaian yang aku pakai.
Menurutku ini cukup bagus karena gaun ini sangat sesuai dengan seleraku. Tentu saja itu bukan selera mereka namun ini sudah cukup bagiku. Setelahnya, aku memutuskan untuk memasuki aula besar tersebut.
Saat hendak masuk, para penjaga dengan cepat meneriaki namaku. Mereka melakukan itu untuk menginformasikan seluruh bangsawan yang ada di dalam aula atas kehadiran ku ini.
"Perhatian. Putri Utama Duke Ari, Senja de Ari akan memasuki ruangan."
Teriakan penjaga sukses membuat semua mata kini tertuju padaku. Mereka melihat aku dengan tatapan aneh yang sama sekali tidak pernah mereka lihat seumur hidupnya.
Ketika aku masuk ke dalam ruangan, entah mengapa gaunku tiba-tiba saja bersinar dengan terang. Ia memancarkan warna yang sesungguhnya dan kini penampilanku berubah total seperti sebelumnya. Aku sangat kesal dengan hal ini.
Kini seluruh mata menatapku dengan tajam, ada yang melihatku seperti malaikat yang jatuh dari langit, ada juga yang melihatku seperti iblis yang akan memangsa pria kesayangan mereka.
"Sial, siapa yang melakukan ini padaku?" gerutu ku pelan.
Aku yang kesal terus berjalan masuk ke dalam aula tanpa memperdulikan mereka yang sedang membicarakan aku secara terang-terangan. Setelah aku mencapai sisi yang nyaman, Luna dan Kaira datang menghampiriku.
Mereka tampak cantik dan anggun dengan pakaian mereka saat ini. Terlebih lagi Kaira yang secara jelas memancarkan aura keseksiannya.
"Sial, dia sangat seksi malam ini."
Aku terlihat kecil dihadapan Kaira yang begitu sempurna ini. Seluruh bentuk tubuhnya seperti patung Dewi Yunani namun dengan kulit kecoklatan yang menggoda.
"Aku akhirnya menemukan mu juga," seru Kaira dengan senyum nakalnya.
"Aku kira mereka salah mengatakan bahwa kau sangat cantik namun saat ini aku melihatnya dengan kepala mataku sendiri. Kau memang cantik," lanjutnya dengan ekspresi menggoda.
"Senja jangan kau dengar omong kosongnya, saat ini dia sedang mabuk."
Luna mencoba untuk menjelaskan situasinya. Jujur saja aku sudah mencium bau alkohol yang kuat pada tubuh Kaira. Ternyata, Kaira sama sekali tidak tahan dengan alkohol, kadar minumnya sangatlah rendah. Sehingga hanya dengan satu gelas saja, ia sudah menjadi gila seperti ini.
"Baiklah, tidak masalah. Hmm, dimana yang lain?" tanyaku bingung. Aku sama sekali belum melihat ketiga sahabatku yang lain di aula ini.
"Mereka sedang ada urusan penting, sehingga hanya aku dan Kaira yang bisa datang."
"Begitukah? Sayang sekali."
Aku dan mereka berdua lalu berbicara seperti biasanya, meski kami rada bingung dengan tindakan Kaira yang terus saja minum meski dirinya sudah tidak sanggup lagi.
"Sepertinya, aku harus membawa Kaira pergi dari sini," seru Luna saat hendak membawa Kaira menuju ruang istirahat.
Sayangnya, langkah Luna terhenti saat ia di panggil untuk memulai acara kedewasaan. Semua gadis kini tengah menunggunya untuk memulai acara. Sehingga aku yang pada akhirnya membawa Kaira pergi menuju ruangan tersebut.
Setelah menempatkan Kaira di salah satu kamar istirahat, aku memutuskan untuk menghindari aula pesta yang saat ini sedang dibacakan pidato oleh Raja. Aku dengan malas pergi menuju balkon aula dan tetap berada disana meski pesta dansa sudah di mulai.
"Hah, ini lebih baik." lirihku saat melihat Luna yang sedang berdansa dengan Kak Jacob.
Aku tidak tahu jika Luna dan Kak Jacob bisa sedekat ini namun bagiku itu sama saja.
"Siapa ini?" aku mendengar sebuah suara yang rasanya sangat familiar. Dengan malas, aku membalikkan tubuh dan melihat Cavil yang tengah berdiri gagah di depan pintu masuk balkon. Ia terlihat cukup baik dengan setelan baju hitamnya dan rambut yang disisir rapi ke belakang.
__ADS_1
"Kau dari dulu tidak pernah berubah, sama seperti tikus yang selau bersembunyi di tempat-tempat gelap seperti ini," lanjutnya sinis.
"Lalu kau sendiri sedang apa disini, hah? Menemui tikus lalu mengajaknya berperang begitu?" tanya ku kesal.
Cavil bukannya menjawab pertanyaan ku, ia malah melangkah masuk dan mendekati ku.
"Sedang apa kau?" tanya ku saat jarak diantara kami sudah dekat.
"Sial," makinya pelan namun masih bisa terdengar oleh ku.
"Kau, kau sedang apa?" tanya ku bingung saat tanpa aba-aba Cavil menundukkan tubuhnya seperti seorang ksatria.
Ia lalu menatap ku sambil mengangkat tangan kanannya. Aku yang kebingungan memutuskan untuk mundur satu langkah darinya.
"Dasar bodoh, aku saat ini sedang mengajak mu untuk berdansa bersama," bentaknya kesal saat aku melangkah mundur.
"Hey, siapa yang melakukan hal aneh ini sambil membentak gadis yang hendak ia ajak dansa, huh."
Aku kesal padanya namun Cavil dengan cepat menarik telapak tanganku dan hendak menciumnya.
"Diam dan lakukan saja," lirihnya disaat hendak mencium punggung tangan ku.
Anehnya mereka yang berada di dalam aula hanya melihat kami dengan pandangan malu-malu. Hal ini lantas membuat ku semakin kesal. Entah apa yang mereka pikirkan tentang ku dan Cavil, namun ini semua salah.
"Hentikan itu!"
Sebua suara tegas menghentikan apa yang hendak Cavil lakukan. Suara itu datang bersamaan dengan angin sejuk yang membuatku merasa hangat. Namun anehnya, angin itu malah mendorong tubuh Cavil menjauh dariku.
"Apa ini?" lirih ku kaget saat sebuah tangan memeluk erat pinggang ku.
Tangan itu dengan posesifnya mengikat aku ke dalam tubuh seorang pria yang aku tidak tahu siapa dia.
"Menjauh dari wanitaku!" ancam pria itu sekali lagi.
Aku memutuskan untuk melihatnya, betapa terkejutnya aku saat melihat Lucas yang ternyata adalah pria itu. Lucas dengan posesifnya mengatakan pada Cavil bahwa aku adalah miliknya dan meminta Cavil untuk pergi meninggalkan kami.
Syok yang aku alami akibat perkataan itu teryata juga dialami oleh Cavil dan juga bangsawan yang sedang memperhatikan kami dari dalam.
Mereka tampak bingung sekaligus antusias dengan kejadian yang ada di depan mata mereka saat ini. Aku yang berada di tengah-tengah antara itu semua hanya bisa menutup wajahku ke dalam dada Lucas.
"Tidak bisakah kau melepasku?" bisik ku padanya. Bukannya melepaskan aku, Lucas dengan kejamnya tersenyum ke arah ku dan mengikatku lebih dalam lagi ke pelukannya.
"Tidak akan dan tidak akan pernah," jawabnya tegas.
Setelah kepergian Cavil, Lucas lalu meluncur terbang dari gedung aula tersebut. Ia membawaku pergi entah kemana, namun ada yang aneh disini. Aku merasakan ada sesuatu yang mengganjal di dada Lucas. Seperti bekas luka baru yang terjadi beberapa hari sebelumnya.
"Mungkin juga, luka ini baru saja terjadi semalam," batinku saat mencoba mencari tahu berapa lama luka itu sudah ada di tubuhnya. Ini aneh, pasalnya bekas lukanya mengingatkan ku pada seseorang yang juga terluka di area yang sama.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya ku saat kami sudah mendarat di sebuah taman.
"Hahaha," bukannya menjawab, Lucas malah tertawa mendengar pertanyaan ku itu.
"Ini adalah hasil dari menyelamatkan kucing liar." katanya sambil memegang tanganku untuk menyentuh dadanya.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku?"
"Hahaha, kau lucu sekali. Kucing liar ku," bisiknya tepat di telinga ku.
"Sialan, cepat lepaskan ini," maki ku kesal saat napas hangatnya menyentuh masuk ke dalam telinga ku. Entah mengapa wajah ku memerah dan sekujur tubuhku mendidih secara tidak wajar.
Lucas yang melihat hal itu, terus melakukannya tanpa henti. Ia terlihat begitu terhibur dengan diriku yang memerah seperti udang rebus.
"Sial, aku bisa gila jika terus begini," batinku yang sudah tidak tahan lagi.
"Lihatlah dirimu ini. Kau tampak siap untuk meledak." ledeknya padaku.
"Ini karena ulah mu itu, brengsek." maki ku kesal.
"Kau yang membua..."
Perkataan ku terhenti saat benda lembut dan kenyal menyentuh masuk ke dalam mulut ku ini.
Benda itu dengan kasar mencium ku dan mencoba untuk masuk lebih dalam lagi. Aku yang bingung tampak siap mendorong sumbernya, namun Lucas terus mengunci diriku dengan kekuatannya.
Napas kami saling beradu satu sama lain, ia terus menghisap dalam bibir ku seperti tidak ingin melepasnya lagi. Aku yang awalnya hendak menolak, namun entah mengapa kini bermain bersamanya. Lucas adalah pemain yang handal yang terus memimpin meski aku mencoba untuk melawannya.
Saat ini aku sudah benar-benar kehilangan akal karena nya. Ia sungguh membuat ku gila dengan segala hal yang saat ini ia lakukan padaku.
"Apa kau senang?" tanyanya saat kami sudah berhenti berciuman.
"Huh," aku tidak ingin menjawab pertanyaannya karena ini sangat membingungkan.
Aku memutuskan untuk duduk di bawah salah satu pohon yang ada di taman tersebut. Lucas kemudian mengikuti ku dari belakang sambil bertanya hal yang sama terus-menerus.
"Bisa kau hentikan itu?" tanyaku saat hendak duduk di pohon tersebut.
"Hahaha, apa kau malu?" tanyanya kembali.
"Entahlah."
Lucas lalu duduk bersamaku di bawah pohon itu. Kami seterusnya hanya diam dan tidak berbicara apa pun lagi. Ini seperti akhir yang bahagia, dimana saat ini pangeran kelima sedang sibuk mengenai wilayah ibunya yang diserang.
Ia secara pribadi terjun ke wilayah itu dan menanganinya secara langsung. Hal ini membuat Arina harus berdiam diri seperti patung selama acara pesta karena tidak ada seorang pun yang berencana untuk mengajaknya berdansa.
Disisi lain, baik Maya ataupun Muna. Mereka saat ini sedang sibuk berjuang dalam kurungan Kaira di dalam kamarnya Luna. Untuk Zakila sendiri, ia ditugaskan untuk mengawasi keduanya agar mereka tidak bertindak gila saat pesta masih berjalan.
Kini semua orang pada sibuk dengan dirinya masing-masing. Dira yang saat ini sedang berlatih di kediaman kakeknya serta Sarah yang sudah mulai belajar ilmu sihir hitam dengan Ira. Mereka terus meningkatkan kekuatannya untuk melawan kami di kesempatan lainnya.
Tasya dan Mari yang juga sedang gencar-gencarnya mencari sekutu untuk menambah kekuatan baru untuk memulai revolusi baru di Kerajaan ini.
Apa yang akan terjadi selanjutnya masih menjadi rahasia. Namun setelah ini, mereka akan memilih jalan apa yang akan mereka tapaki kelak. Jalan itu jugalah yang akan menentukan nasib mereka kedepannya.
Nasib yang akan membawa mereka pada kehidupan damai, atau kematian yang menyedihkan. Itu semua tergantung pada pilihan mereka saat ini.
__ADS_1