Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
[S2E60] Informasi Baru


__ADS_3

"Informasi adalah pondasi terpenting dalam menipu seseorang."


******************#####*******************


Para siswa terlihat lesu saat berjalan pulang menuju kamar masing-masing. Mereka terlihat pucat seperti zombie yang berjalan kelaparan. Hal itu cukup membuat Senja tertawa tapi kondisinya pun sama.


"Aku tidak tahu jika setiap mata pelajaran harus ada kelas prakteknya." gumam Senja sembari menggendong pelan tas ranselnya.


Senja merasa mana miliknya akan berkurang drastis jika dalam satu hari akan dilakukan dua ujian praktek sekaligus.


"Apa aku izin sakit saja ya?"


"Tapi untung saja aku tidak mendapati masalah dari mereka." lirih Senja sambil melirik sekilas pada lantai lima gedung asrama.


"Lupakan saja, aku mendengar jika Kira akan kembali tiga hari kemudian." lanjutnya dengan wajah sedih.


Senja kemudian memasuki lobby asrama dan saat hendak naik tangga ia tidak sengaja berpapasan dengan Tasya. Terlihat jelas dari iris Tasya jika ia sedang dalam masalah besar.


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Senja saat Tasya melewatinya dengan santai.


"Apa rencana Luna sudah berhasil?" lanjut Senja yang mencoba acuh tak acuh dengan kondisi musuhnya itu.


Beberapa saat kemudian Senja sudah berada di dalam kamarnya. Ia dengan santai melepaskan seragamnya dan segera memasuki kamar mandi.


"Apa itu Dian," gumam Senja saat melihat cahaya putih teleportasi yang mulai menghilang.


Dan benar saja beberapa saat kemudian Dian sudah berdiri di depan pintu kamar mandi sambil memegang handuk putih bersih. Ia kemudian menyerahkan handuk itu saat Senja menyulutkan tangannya.


"Nona, ada surat untuk anda." seru Dian ketika Senja sudah keluar dari kamar mandi.


"Letakkan saja di meja," balas Senja sambil memilih pakaian latihannya.


Hari ini adalah hari dimana Senja akan berlatih memindahkan batang pohon untuk menguji kekuatan level anginnya.


Lima belas menit kemudian Senja meninggalkan kamarnya dan menuju hutan kegelapan. Tidak lama kepergian Senja, Dian pun bergegas menghilang dari kamar tersebut.


Karena wejangan dari Senja sebelumnya, kini seluruh anggota guild sedang bersiap memulai latihan rutin dan gila dibawah kepemimpinan Kun.


Meski pengajaran Kun untuk sementara, tapi ia tidak suka melihat manusia yang menganggap remeh kekuatannya apalagi tidak patuh terhadap pelatihannya.


Tentu saja untuk mendukung mereka, Senja sudah menyiapkan beberapa mana stone dan segala makanan lezat dari ruang bawah tanah milih permaisuri Mawar.


Menurut Senja dan Kun makanan dari ruang bawah tanah memiliki nutrisi dan mana alam murni yang akan menaikkan sedikit tingkatan level mereka secara perlahan.


Karena alasan itulah kini Lily dan Vanilla begitu sibuk memindahkan suplai makanan dari ruang bawah tanah menuju guild.


****


"Apa kau sudah siap?" tanya Lucas saat Senja sudah mengambil aba-aba nya.


"Tentu,"


Senja kemudian mengeluarkan sihir anginnya, ia dengan tenang mengarahkan sihirnya pada balok kayu yang ada dihadapannya itu. Perlahan balok kayu mulai terangkat ke udara dan mengambang tidak jauh dari tanah.


"Yea, berhasil." seru Senja puas dengan kerja kerasnya tapi senyum itu segera hilang ketika Lucas dengan mudah mendorong balik kayu jatuh ke tanah.

__ADS_1


"Lucas...!"


"Dalam kejadian nyata hal itu sering terjadi. Kau harus bisa mengendalikan sihir angin mu agar batang pohon itu tidak mudah dijatuhkan."


"Kau, tidak bisakah kau membiarkan aku senang sebentar saja? Kau bisakan mengatakan hal itu setelahnya."


"Hahaha, aku hanya ingin menunjukkan kejadian lapangan pada mu. Jadi jangan memasang wajah cemberut seperti itu."


Lucas kemudian menjelaskan sesi lanjutan dari latihannya. Meski Senja sudah mampu mengangkat balik kayu, tapi kekuatan pegangannya terlalu lemah.


"Kau butuh berlatih sekali lagi, buatlah kayu itu tetap kokoh di udara apa pun yang terjadi." lanjut Lucas sebelum duduk kembali.


Senja yang mendengar ocehan Lucas segera melakukan seluruh perintahnya. Ia tidak ingin kalah dari manusia mesum itu. Apalagi sampai dipermalukan seperti ini.


"Sial, aku tidak bisa membiarkannya menginjak-injak harga diri ku lagi."


Senja segera mengangkat kembali balik kayu itu tapi hasilnya sudah bisa dipastikan. Setiap kali ia mengangkat balok kayu itu ke udara, tidak sampai lima detik balok itu sudah jatuh kembali ke tanah.


"Sabar Senja, sabar." gumam Senja yang enak kenapa terdengar manis ditelinga Lucas.


30 menit sudah berlalu dan Senja tetap saja kembali sama seperti sebelumnya. Hanya saja kali ini balok kayunya berhasil bertahan selama satu menit di udara sebelum jatuh kembali ke tanah.


Senja sedikit puas namun itu tidak bisa membuang amarahnya pada Lucas. Ia ingin menunjukkan pada Lucas bahwa ia bisa melakukan lebih dari itu.


"Kapten, kami sudah menemukan lokasi bunganya." link salah satu bawahan Lucas yang baru saja keluar dari kedalaman hutan.


"Tapi kapten, kami tidak bisa mengambilnya karena bunga itu dijaga oleh Falcon." lanjut si bawahan yang membuat Lucas terdiam.


"Apa kalian selemah itu? Falcon tidak terlalu berbahaya jadi seharusnya kalian..."


Bawahan itu segera mengirimkan detailnya pada Lucas. Ia tidak bisa terus berbicara sembunyi-sembunyi seperti itu sementara Senja masih ada disana.


"Gadis itu sangat peka, aku tidak percaya dia berhasil melihat jejak ku." batin bayangan itu sebelum menghilang dari balik pohon.


"Lucas," panggil Senja setelah beberapa balok berhasil di pindahkannya.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Senja setelah jarak diantara mereka menipis.


"Kenapa kau disini?"


"Aku lelah, istirahat lima menit." balas Senja sebelum duduk disebelah Lucas.


"Kau, kenapa diam tadi?"


"Aku? Hahaha, tidak ada."


"..."


"Setelah kau selesai latihan, kita akan kembali lagi satu minggu berikutnya."


"Kenapa lama sekali?"


"Aku baru saja mendapatkan tugas baru dan sepetinya akan sedikit lama."


"Hah, terserah kau saja."

__ADS_1


Senja tidak ingin ambil pusing dengan kesibukan Lucas. Ia tidak suka ikut campur dalam urusan pribadi orang lain, maka dari itu Senja memutuskan untuk diam dan melihat perkembangannya dari jauh.


Lima menit telah berlalu, Senja pun kembali lagi pada latihannya. Ia tidak ingin berbicara atau menanyakan apa pun pada Lucas setelahnya.


Senja terus fokus memindahkan balik kayu meski sesekali Lucas menjahilinya dengan menjatuhkan balok kayu tersebut tapi Senja tetap diam dan tidak menggubris nya.


Dua jam pun berlalu tanpa adanya perubahan yang pasti. Senja yang lelah memilih untuk segera pergi dari hutan kegelapan meninggalkan Lucas yang masih tetap diam ditempatnya.


"Entah apa yang dia pikirkan, aku sudah tidak peduli," gumam Senja tepat saat sinar teleportasi membawanya pergi.


Ketika membuka mata kembali Senja sudah berada di dalam kamarnya. Segera ia melepas penatnya dengan berendam air hangat di bathtub.


Beberapa menit kemudian seperti yang sudah diprediksi sebelumnya, Dian datang kembali ke kamar dan menyiapkan segala keperluan Senja.


"Nona, saya akan pergi sekarang." seru Dian setelah semua pekerjaannya selesai.


Senja hanya mengangguk pelan sebelum meninggalkan ruang ganti dan menuju meja makan. Disana terlihat sudah ada berbagai hidangan lezat beberapa desert manis.


Selesai makan, Senja memutuskan untuk memeriksa surat yang sebelumnya diberikan oleh Dian. Ada tiga surat yang tergelar manis diatas meja belajarnya.


"Hmm, menarik." lirih Senja saat hendak mengambil surat yang tidak ada logo pengirimnya.


"Dear Moon


Seperti yang anda perintahkan sebelumnya, kucing terus berada disisi tulip. Keseharian tulip sama seperti biasa, tidak ada hal khusus. Tapi kucing merasa ada yang salah, tulip selalu saja mengunci dirinya bersama tangkai.


Keduanya sering mengunjungi rumah gelap pusat kota. Anehnya setelah keluar dari rumah itu tulip terlihat segar dan auranya semakin tajam. Hal ini sering terjadi setidaknya dua minggu sekali di hari dan tanggal yang sama.


Kucing melihat tulip sering menerima surat dari taman. Tulip terlihat begitu tertekan setiap kali surat taman sampai. Kucing tidak tahu isi surat tersebut tapi tulip selalu menggerutu tajam.


Kucing akan terus menjaga tulip dan akan selalu mengirimkan perkembangan setiap bulan.


Salam hormat, Kucing."


Surat yang kali ini Senja dapat tidak jauh berbeda dari surat sebelumnya, hanya saja apa yang dilakukan tulip pada rumah gelap menjadi perkembangan terbaru.


Segera Senja membakar habis surat tersebut menggunakan sihir apinya. Setelah itu ia segera menulis surat balasan untuk kucing, dan satu surat lagi untuk keluarga Amel yang tengah berada di kerjaan Guira.


"Mereka setidaknya harus tahu apa isi dari rumah itu," gumam Senja sebelum menempelkan cap miliknya pada surat yang dituju untuk keluarga Amel.


"Selanjutnya ini,"


Senja memilih surat yang sepertinya berhubungan dengan tulip. Ia segera membuka surat itu dan seperti yang sudah diduga bahwa surat itu tidak banyak menampilkan informasi.


"Merasa marah dengan kondisi ku, aneh sekali." gumam Senja sebelum membakar habis surat tersebut.


Senja kemudian mengambil surat terakhir yang sengaja ia sisakan setelah menulis surat balasan untuk surat sebelumnya.


Isi surat ketiga begitu mencengangkan, Senja tidak pernah berharap bahwa permintaanya akan begitu berbahaya. Ia tidak tahu jika pelayan Sarah memiliki latar belakang yang misterius.


"Ini gila, aku tidak menyangka jika dia keturunan Klan Nara." gumam Senja dengan senyum nakalnya.


Senja hanya penasaran dengan cerita Amel mengenai Ira. Tapi seluruh informasi ini begitu gila baginya. Menurut Senja Klan Nara adalah klan yang bahkan lebih berbahaya dari pada Helios.


"Aku harus mewaspadainya."

__ADS_1


__ADS_2