
"Segala sesuatu yang dilakukan secara konstan akan menimbulkan efek kebiasaan dan rasa bosan."
******************####*******************
Senja yang memang sejak awal tidak percaya pada Khalid segera menemukan hal yang ganjal. Ia menatap Khalid lekat-lekat sebelum memalingkan wajahnya.
"Apa aku salah liat?"
Senja secara tidak sengaja melihat senyum licik Khalid namun saat ia melihat wajah itu kembali, Khalid malah memasang senyum lega, dan itu membuat Senja sedikit bingung.
Ia ingin menanyakan banyak hal tapi kondisi tubuhnya sedang tidak baik-baik saja. Butuh waktu dua jam bagi Senja untuk bisa pulih kembali.
Meski begitu tidak seluruh kekuatannya kembali, ia seperti orang mabuk yang habis melewati perjalanan panjang. Sera yang menyadari hal itu segera mengirim Senja pulang.
"Kau harus beristirahat setidaknya 24 jam penuh untuk bisa kembali seperti sebelumnya. Kondisi Mana mu masih belum stabil jadi usahakan untuk tidak menggunakannya selama waktu itu."
Pesan Sera yang membuat Senja mau tidak mau harus menurutinya. Senja kemudian mengaktifkan sihir teleportasi untuk segera kembali ke kamar asramanya.
"Setidaknya satu portal tidak akan membuat ku matikan bukan?" gumam Senja ketika hendak memasuki portal.
Beberapa detik kemudian pemandangan padang rumput sudah digantikan dengan dekorasi kamar. Senja kemudian berjalan menuju kasurnya dan segera merebahkan diri.
"Hah,"
Senja menghela napas panjang saat seluruh beban di hatinya mulai hilang. Meski begitu Senja tidak lupa dengan sosok anak kecil yang sedari tadi mengikutinya.
"Khalid, pergi dari sini." seru Senja sambil menunjuk pintu keluar.
"Tidak mau, kenapa aku harus pergi."
Khalid mulai lagi dengan rengekan andalannya. Dan entah mengapa Senja sudah mulai terbiasa dengan kebiasaan Khalid itu. Ia dengan malas mengibaskan tangannya dan menyuruh Khalid diam.
"Aku ingin mandi, apa kau mesum?" tanya Senja tidak senang.
"Tidak! Aku, aku hanya..."
"Hanya apa? Keluar sana dan kembali lagi kesini dua jam kemudian. Terserah kau mau pergi kemana."
Senja menunjuk arah timur gedung asrama hingga barat ruang latihan bersama. Ia tidak peduli mau kemana Khalid pergi asalkan dalam waktu itu dia sudah tidak ada lagi disini.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan pergi." lirih Khalid pelan sebelum keluar dari kamar.
"Aku tidak terbiasa dengan ini," gerutu Senja sembari berdiri dari tidurnya.
Senja kemudian masuk ke dalam bathtub dan segera menanggalkan pakaiannya. Ia dengan nyaman berendam air hangat sebelum memilih untuk rileks sejenak.
"Kurasa ini sudah tidak dibutuhkan lagi." gumam Senja sambil melepaskan liontin kecil milik Sera.
"Apakah ini cukup dan akan baik-baik saja?"
Senja melihat tato bunga api kecil di pergelangan tangan kirinya. Tato itu berwarna merah gelap seperti bunga spider Lily versi kecilnya. Tidak ada hal yang spesial dari tato itu, hanya saja warnanya cukup mengganggu.
Setelah puas berendam Senja kemudian memilih untuk tidur dan memulihkan Mana miliknya. Ia akan kembali sehat esok paginya itupun dengan premis jika tidak ada keributan apa pun di tempat ini.
"Mungkin aku bisa izin kelas pagi tapi siangnya aku sudah harus kembali."
Dengan santai Senja merebahkan tubuhnya di atas kasur. Perlahan rasa kantuk mulai menghampirinya dan tidak lama setelahnya Senja pun tertidur.
****
Pagi harinya Senja dengan malas bangun dari kasur dan memakan sarapannya. Ia tidak ingin membuat Dian khawatir karena masalah semalam.
"..."
"Aku tidak sakit, hanya lelah saja akibat latihan semalam." lanjut Senja saat tidak ada respon apa pun dari bawahannya itu.
"Baiklah Nona tapi anda harus ingat bahwa ini sudah memasuki bulan ketiga sebelum ujian tengah semester dimulai."
"Aku tahu,"
"Hah, nona jika anda tahu seharusnya anda lebih berhati-hati lagi dalam menjaga kesehatan. Anda tahu bukan jika ujian tengah semester adalah ujian yang sangat penting untuk meningkatkan kelas anda."
"Aku tahu, sudahlah pergi sana sampaikan saja pesan ku."
"Huh, nona selalu saja bolos aku khawatir anda tidak akan bisa menaikkan kelas dengan mudah." keluh Dian sebelum keluar dari kamar.
Ujian tengah semester adalah ujian khusus dimana para siswa akan menaikkan point mereka untuk bisa naik menuju kelas lanjutan. Ujian ini biasanya menjadi momen sakral bagi siswa yang gagal di semester sebelumnya.
Bisa dikatakan jika ujian ini adalah ujian penentu agar mereka bisa mengejar ketinggalan dari temannya yang sudah naik tingkat.
__ADS_1
Seperti masa percobaan, jika beruntung maka mereka akan naik kelas sesuai dengan level yang seharusnya. Tapi jika gagal mereka akan tetap berada dikelas yang sama meskipun level mereka tinggi.
"Akademi Adeline memiliki tujuh kelas dengan berbagai level yang berbeda. Meski aku dan Luna berada di angkatan yang sama namun jika level kami berbeda maka kelas kami pun akan dipisahkan."
Kelas satu dikhususkan untuk siswa baru sehingga mereka akan mempelajari hal yang sama di kelas umum. Sedangkan kelas dua sampai kelas tujuh memiliki peraturannya sendiri.
Kelas dua terbagi menjadi dua sisi yaitu kelas dua pemula dan kelas dua akhir. Kelas dua pemula diisi oleh siswa level empat sedangkan kelas dua akhir akan diisi oleh siswa level lima.
"Peraturan ini juga berlaku untuk kelas dua awal seperti ku. Jika aku berhasil menaikan point pada ujian kali ini maka aku akan berada di kelas yang sama dengan Luna."
Namun premis kemenangan dalam ujian tengah semester ini sangatlah kecil. Pasalnya semua siswa akan berlomba-lomba untuk menaikkan point mereka setinggi mungkin untuk bisa naik kelas.
"Sistem point ini juga gila, peraturannya jauh lebih sulit dibandingkan kenaikan kelas. Para siswa harus mendapatkan nilai sempurna di setiap mata pelajaran."
"Setidaknya harus lulus empat dari lima mata pelajaran wajib untuk bisa naik menuju tingkat selanjutnya. Jika gagal maka siswa yang levelnya tinggi sekali pun akan terus berada di kelas bawah hingga kesempatan lain datang."
Selain lulus dari semua mata pelajaran wajib mereka juga harus mengikuti final test terakhir. Final test ini biasanya lebih brutal dari pada sesi lainnya.
Para siswa akan mendapatkan nomor khusus untuk menantang kating yang sudah berada di kelas enam. Hal ini dilakukan untuk merebut point mereka yang sebenarnya sudah tidak diperlukan lagi.
Hal ini dikarenakan para kating yang sudah menjadi magang sehingga point mereka jarang digunakan untuk kenaikkan kelas. Biasanya mereka akan naik kelas apabila sudah berhasil menyelesaikan misi yang telah ditentukan oleh akademi.
"Menurut Prof Edward point para kating akan menjadi sampah apabila tidak digunakan maka dari itu akan lebih baik jika point itu diberikan pada adik kelas yang membutuhkan."
Tentu saja syarat yang diberikan setiap kating selalu berbeda tergantung siapa orangnya. Mereka akan mengajukan berbagai macam syarat untuk membuat adik kelas sengsara sebelum menyerahkan sisa point yang mereka butuhkan.
"Untuk bisa menaikkan kelas setidaknya harus memiliki 125 point. Jika setiap mata pelajaran diberi 15 point artinya sisa point akan diambil dari para kating tersebut."
Karena alasan point inilah yang membuat sebagian siswa malas menaikkan kelasnya. Menurut mereka akan lebih mudah naik kelas memalui ujian akhir semester dibandingkan harus menjadi budak para kating.
Tidak jarang siswa dengan level tinggi masih berada di kelas bawah karena bermasalah dengan kating. Mereka tidak akan bisa naik kelas sebelum ujian akhir semester dimulai.
Sistem ini sedikit ambigu namun tetap diterapkan karena dianggap mampu menaikkan motivasi siswa. Namun menurut Senja sistem ini memiliki pro dan kontra bagi setiap siswa.
"Jika level mereka cukup tinggi, maka mereka hanya perlu memanipulasi kating untuk bisa naik ke kelas yang lebih tinggi."
"Yah, itupun dengan premis jika kating yang mereka dapat bisa dikibuli." gumam Senja saat merasakan hawa keberadaan Khalid di sekitarnya.
"Ku kira dia tidak akan kembali lagi." lirih Senja sambil menyeruput teh hitam miliknya.
__ADS_1