
"Kepanikan hanya akan membuatmu lupa bahwa badai tidak selalu tenang, ia juga ganas dan mematikan."
******************#####****************
"Siapa itu?" teriak Dian sekali lagi.
"Siapa kau sebenarnya? Tunjukan dirimu padaku!" teriaknya dengan kesal.
Sayangnya, Dian tidak mendapatkan tanggapan dari suara tersebut. Dian yang semakin panik kemudian memutuskan untuk kembali ke dalam kamar, namun pada saat hendak menutup pintu kamar, tangannya terus bakar.
"Sial, siapa dia sebenarnya?" batin Dian saat memegangi tangannya yang memerah.
"Jika kau berani, tunjukan dirimu!" bentak Dian sambil menerawang ke sekeliling area kamar.
Sekali lagi, Dian tidak mendapatkan jawaban. Ia malah merasakan rasa perih di kakinya yang juga ikut terbakar. Dian yang kesal lantas mengeluarkan aura membunuhnya, ia lalu menerjang bagian pintu kaca kamar tersebut sebelum melepaskan energinya ke lantai kamar.
"Sialan," pekik Dian saat kaca pintu bertebaran di sekitarnya.
"Nona, hentikan itu. Kau bisa menghancurkan kamar ini jika terus mengamuk," link White yang saat ini sedang berada di atas kasur.
"Lihatlah ke bawah. Anda sudah membuatnya kesal." lanjut White yang membuat Dian kemudian menatap bagian bawah kakinya.
"Ada apa di bawah sana?" tanya Dian bingung.
Dian sama sekali tidak mengerti maksud dari White. Alasan mengapa White menyuruhnya melihat ke bawah.
"Memangnya ada apa disini?" tanya Dian sambil menyipitkan mata.
Dian mencoba untuk fokus melihat lantai. Ia kemudian berjongkok disana untuk bisa lebih memastikannya.
"Nona, anda sedang apa?" tanya White yang merasa aneh dengan tindakan Dian.
"Bukankah kau menyuruhku untuk melihat ke bawah?"
"Astaga Nona. Maksudku itu kaki mu, kaki."
"Oh, begitu."
Dian kemudian melihat ke arah kakinya, disana ia bisa melihat sosok hewan suci yang tengah menatapnya dengan tajam.
"Astaga, Ristia," pekik Dian kaget.
Dian kemudian mengambil Ristia dan menaruhnya di atas meja.
"Sedang apa kau di kaki ku?"
" ... "
Ristia hanya diam sambil menatap tajam ke arah Dian.
"Kau, apa kau sakit?"
"Tidak," jawab Ristia ketus.
"Lalu, ada apa denganmu?"
" ... "
Lagi-lagi Ristia hanya diam, ia kemudian melompat dari meja tersebut dan melangkah masuk ke dalam kamar Senja.
"Ada apa dengannya?" tanya Dian bingung.
"Nona, kau sudah membuatnya kesal."
"Hah, aku? Memang apa yang sudah kulakukan?"
"Apa Nona lupa, tadi Nona menghentakkan energi dalam padanya. Selain itu, Nona juga tidak merespon saat ia bertanya."
"Tunggu dulu, kapan Ristia bertanya dengan ku?"
"Nona, rasa takut mu itu membuatmu lupa bahwa yang bertanya tadi adalah Ristia."
Dian masih memikirkan suara yang sebelumnya bertanya tentang dimana Senja.
__ADS_1
"Sial, jangan bilang jika itu dia!"
"Kau benar Nona. Itu adalah Ristia."
Dian yang mendengar jawaban White, hanya bisa memegang kepalanya yang pusing.
"Sial," gumamnya pelan.
"Dan luka bakar yang Nona terima, itu semua dari Ristia. Dia kesal karena Nona terus mengabaikan pertanyaannya."
Dian lalu melirik ke arah luka bakar yang ada di tangan dan kakinya.
"Apa yang harus aku katakan pada mereka mengenai ini?" tanya Dian frustasi saat melihat kekacauan yang ia buat karena salah paham dengan Ristia.
"Kurasa, Nona akan memarahiku jika ia tahu bahwa aku berbuat sejauh ini,"
Jujur saja, Dian lebih takut dengan Senja dari pada Luna ataupun Kaira. Ia tahu jika nona nya marah, maka ia akan dalam masalah besar. Entah itu uang sakunya yang di potong, atau ia harus bekerja keras tanpa istirahat.
"Nona, sebaiknya anda memperbaiki ini sebelum pagi," seru White menyarankan.
"Hah, sialan. Apa aku harus begadang juga?"
"Aku tidak bisa tidur nyenyak karena Nona menghilang tiba-tiba, tidak hanya itu bahkan Keempat sahabatnya sedang menyiksaku dengan sifat mereka yang menyebalkan, di tambah dengan kehadiran Kaira yang mengganggu ku setiap saat."
"Dan sekarang..." Dian menjeda kalimatnya sambil melirik sekitarnya.
"Argh... Aku bisa gila jika begini terus," teriak Dian sambil mengacak-acak rambutnya.
"Sialnya nasibku ini."
Dian terlihat pasrah saat menyusun kembali jendela kaca dan lantai yang retak karena ulahnya.
"Hik, sial. Aku harus begadang semalaman sekarang," batin Dian sedih sambil menangisi keadaannya saat ini.
Keesokan paginya, Dian yang harus bergadang semalaman sudah disuguhi oleh pemandangan mencekam di depan matanya.
"Oh, tuhan. Apalagi ini?" batin Dian saat Luna dan ketika sahabatnya sedang mengerumuni di dalam kamarnya. Mereka melihat Dian aka Senja dengan pandangan bingung.
"Umm, aku..."
"Sepertinya kau beneran lelah." potong Muna saat Dian ingin menjelaskan alasannya.
"Ah, iya kau benar," jawab Dian kaku.
"Yah, tidak salah juga sih. Aku kan memang lelah karena harus begadang," batin Dian sambil memikirkan tugasnya semalam.
"Apa kita undur saja untuk hari ini?" tanya Zakila kembali.
"Kurasa tidak," jawab Luna yang masih fokus pada Dian.
"Memangnya kita mau kemana?" tanya Dian yang bingung dengan arah pembicaraan mereka saat ini.
"Kita akan pergi ke mansion Kaira. Dia mengundang kita untuk bermain disana," jawab Maya singkat.
"Sial," batin Dian gelisah mulai gelisah.
"Sebaiknya kita tunda saja kunjungan itu."
Usul Muna yang membuat wajah Dian berubah senang.
"Muna benar, kita tunda saja untuk sementara."
"Sampai Nona kembali ke sini." sambung Dian dalam hatinya yang tidak ingin diungkap.
"Tidak bisa," seru Luna tegas.
"Waktu kita sudah tidak banyak disini, sebentar lagi akademik akan dibuka dan sebelum itu, akan ada pesta kedewasaan di kerajaan Green." lanjut Luna menjelaskan.
"Sebagai putri bangsawan tertinggi, kita tidak boleh telat, apalagi sampai tidak datang."
Luna kemudian menjelaskan dengan ringkas resiko apa yang akan dihadapi oleh mereka nantinya.
"Kau benar, waktu kita hanya tinggal dua hari lagi disini. Kaira sendiri akan mengalami kesibukan setelah besok, karena kota ini akan mengadakan festival nantinya."
__ADS_1
Muna menimpali perkataan Luna saat ia teringat bahwa besok adalah hari pertama festival rakyat kerajaan El-Aufi.
"Akan sulit bagi kita untuk bertemu Kaira setelah ini." lanjut Muna yang mendapatkan anggukan kepala dari yang lain.
"Sial, tamatlah riwayat ku,"
"Kalau begitu, bagaimana jika sore ini kita menjumpainya?" tanya Maya.
"Sepertinya itu ide yang bagus," jawab Luna setuju.
"Kita bisa sekalian makan malam disana." lanjut Luna yang mendapatkan persetujuan dari yang lain.
"Sepertinya inilah akhir dari kisah hidup ku."
Wajah Dian terlihat sangat sedih dan gelisah namun tidak seorang pun dari mereka yang menyadari hal itu.
"Nona, kapan kau kembali?" tanya Dian pelan pada dirinya sendiri namun masih bisa di dengar oleh Muna.
"Kembali kemana?" tanya Muna.
"Astaga, jantungku," gumam Dian kaget dengan pertanyaan Muna yang tiba-tiba.
"Aku, aku..."
Wajah Dian tampak sangat pucat, ia begitu gelisah sekaligus kesal karena nona nya yang menghilang mengharuskan dirinya berada di situasi ini.
"Senja, kau pucat sekali!" seru Luna panik.
"Aku, sepertinya aku hanya butuh istirahat," balas Dian kaku.
"Kurasa begitu. Kau memang harus beristirahat karena sore nanti kita akan bertemu Kaira."
Muna kemudian mengantarkan Dian menuju kamarnya. Di perjalanan Dian tampak sangat lelah, bukan karena di buat-buat namun itu sungguhan.
"Aku ingin ini segera berakhir," batin Dian pasrah.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di dalam kamar Senja. Muna lalu mendudukkan Dian di atas sofa dan mengambilkannya secangkir teh.
"Senja, istirahatlah dulu. Aku tahu kau pasti lelah karena urusan di wilayah timur, tapi kumohon jangan paksakan dirimu sampai seperti ini."
Perkataan Muna sontak membuat Dian terkejut. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa Muna mengatakan hal tersebut.
"Itu tidak benar," balas Dian jujur.
"Baiklah, aku mengerti."
Muna terlihat kecewa dengan jawaban yang diberikan oleh Dian.
"Aku harap kau bisa jujur dengan kami," gumam Muna sambil memikirkan betapa beratnya pekerjaan Senja dalam mengurus wilayah timur.
"Lihat itu, kau sampai memiliki kantung mata."
lanjutnya sedih karena tidak bisa membantu urusan sahabatnya.
Dian yang melihat wajah sedih Muna, menjadi semakin bingung. Ia tidak tahu bahwa saat ini Muna sedang salah paham dengannya. Anehnya semakin Dian membantah, semakin besar pula kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka.
"Aku tidak tahu apa yang sedang Muna pikirkan namun kurasa itu adalah hal yang baik untuk Nona,"
"Jagalah kesehatanmu, jangan terlalu dipaksakan," seru Muna sambil memegang gagang pintu.
"Aku akan senang hati membantu mu jika kau membutuhkan nya." lanjutnya sebelum benar-benar keluar dari kamar.
"Hah, sayang sekali. Tapi Nona tidak butuh bantuan kalian dalam urusan wilayah timur atau apa pun," balas Dian saat ruangan hanya menyisakan dirinya seorang.
"Aku begini karena harus membetulkan itu" gerutu Dian sambil melirik ke arah pintu kaca balkon.
"Selain itu, kalian juga membuat ku tertekan setiap saat." lanjut Dian ketika memikirkan wajah keempat sahabat nona nya yang mengerubunginya.
"Kuharap urusan Nona cepat selesai," gumam Dian sebelum menjatuhkan dirinya di atas kasur.
"Seperti ini saja aku sudah lelah."
Dian kemudian memejamkan matanya dan segara tidur.
__ADS_1