Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Pulih pt 2


__ADS_3

"Kembalinya takdir tidak dapat mengubah apa pun, baik itu cinta ataupun kebenaran."


*****************######****************


"Rasanya sepi sekali," cicit Zakila dengan raut wajah bosan. Maya yang melihat tingkah laku Zakila hanya bisa diam menatap luar jendela. Ia sedang bingung dengan keadaan yang begitu tenang tanpa adanya keributan dari Dira atau teman-teman geng nya itu.


"Perasaan ku tidak tenang akhir-akhir ini,"


Maya lalu menatap nanar ke arah Zakila yang tengah asik mengemil kue kering.


"Aku akan keluar sebentar untuk menemui Luna. Kau diam saja dikamar jangan melakukan apa pun," seru Maya lalu melangkah keluar dari kamar meninggalkan Zakila dan Mia berdua saja.


"Eh, tapi...."


Belum sempat Zakila menyelesaikan kalimatnya Mia sudah berdiri dihadapannya sambil berkata.


"Sudahlah Nona, sebaiknya anda istirahat saja seperti yang di katakan Nona Maya."


Mia lalu menuangkan teh hangat baru ke dalam cangkir minuman Zakila dengan wajah datarnya.


Sebenarnya Mia sudah bosan menghadapi tingkah laku Zakila yang kekanak-kanakan tidak seperti Maya yang lebih dewasa, meski begitu ia sangat menyayangi Zakila karna mereka sudah tumbuh besar bersama. Mia tidak ingin hal buruk terjadi pada Zakila untuk kedua kalinya di asrama ini.


Karena itulah ia sangat mendukung perkataan Maya untuk mengisolasi Zakila beberapa hari di kamar sampai ia benar-benar dinyatakan sembuh total.


****


Disisi lain Senja yang sudah lima hari berada di rumah hutan kedatangan Dian bersama ketiga hewan suci miliknya.


Mereka masuk ke dalam hutan atas perintah Lucas sebab ia merasa jika Senja harus bersama pelayan pribadinya untuk mempermudah kesembuhannya.


"Dian," seru Senja ketika Dian baru saja turun dari kereta kudanya.


"Nona Senja."


Dian yang senang melihat Senja lantas berlari menuju ke dalam rumah untuk memastikan kesehatan nona nya.


"Apa Nona baik-baik saja? Apa ada yang terluka? Bagian tubuh mana yang sakit?"


Pertanyaan demi pertanyaan keluar dari bibir merah Dian tanpa henti.


Senja bingung harus menjawab pertanyaan yang mana terlebih dahulu dan belum sempat ia menjawab Dian sudah bertanya lagi.


"Dia baik-baik saja," seru Lucas memecahkan suasana yang sedang damai itu.


Dian lalu membalikkan tubuhnya dan hendak berterima kasih namun Lucas langsung memotongnya dan menyuruh Dian untuk bersikap santai.


"Ariel, tolong kau antar Dian ke kamar Senja dan bantu dia untuk merapikan barangnya?" Lucas dengan senyum hangat menyuruh bawahannya itu segera pergi.


Ariel awalnya tidak mengerti dengan senyum yang diberikan oleh lucas sebab selama ia berada di dekat tuannya, Ia sama sekali tidak pernah melihat tuannya tersenyum bahkan dihadapan adik tersayangnya.


Lucas yang menyadari kebingungan Ariel lalu menggerakkan wajahnya sebagai kode agar Ariel pergi membawa Dian masuk ke dalam rumah dengan segera.

__ADS_1


"Ayo kita masuk kau pasti lelah melalui perjalanan yang jauh bukan?" tanya Ariel sembari mengangkat tas yang dibawa oleh Dian keatas pundaknya.


"Benar, tapi itu bukan masalah."


Para ksatria yang sedang berjaga di sekeliling rumah hampir pingsan melihat tingkah laku Lucas yang aneh beberapa hari ini. Mereka terlihat pucat setiap kali melihat tuannya itu tersenyum hangat kepada Senja.


Terlebih lagi ketika tuannya itu mengeluarkan kata-kata manis yang membuat mereka semua bergidik ngeri dengan perut yang bergejolak minta dikeluarkan isinya.


"Tuan, anda sungguh Bulol." gumam salah satu diantara mereka yang sama sekali tidak percaya dengan perubahan sikap yang dialami tuannya itu.


"Aku ingin muntah," cicit seorang ksatria berbadan besar dengan wajah yang pucat pasi menahan mual ketika Lucas mengatakan bahwa hari ini begitu indah hanya untuk menarik perhatian Senja.


"Sama, aku juga merasa mual setiap kali mendengar tuan berkata manis seperti itu," timpal ksatria baju hitam yang berada di atas pohon sedangkan ksatria lainnya hanya mengangguk tanda setuju.


"Aku malah kasihan pada Ariel yang harus tersiksa setiap harinya," lirih ksatria lainnya sambil melihat wajah Ariel yang tampak kaget setiap kali Lucas berkata manis didepan Senja.


Di dalam kamar Dian yang kebingungan mulai berbincang-bincang ringan dengan Ariel.


"Apa yang dilakukan tuan Lucas selama nona ku disini?" tanya Dian penasaran.


"Sungguh pemandangan yang mengerikan," jawab Ariel dengan ekspresi wajah ingin mual.


"Mual...!" bentak Dian marah.


"Kenapa? Apa itu salah?"


"Jelas salah, bagaimana bisa kau mengatakan hal menjijikan seperti itu. Nona ku sangat manis tentu saja."


"Wanita ini sudah gila."


Melihat Ariel yang acuh tak acuh membuat Dian semakin kesal, ia pun mencubit lengan Ariel hingga berdarah.


"Aduh, sakit tahu," cicit Ariel ketika lengannya mengeluarkan sedikit cairan merah.


"Jika sakit, maka dengarkan aku dengan baik. Dasar bujangan." ejek Dian kesal.


"Ternyata sifat tuan dan pelayannya tidak jauh berbeda, sungguh keberadaan yang saling melengkapi." gumam Ariel ketika mengingat Senja yang selalu saja dingin dan kasar kepada tuannya.


"Apa katamu?" tanya Dian kesal ketika mendengar gumaman Ariel terhadapnya.


"Tidak ada."


Dian memicingkan matanya tajam ke arah Ariel. Ia tahu jika Ariel baru saja mengatainya. Dan sontak hal ini membuat Ariel hanya bisa tersenyum pasrah.


Dian yang masih kesal pun memutuskan untuk menendang Ariel keluar dari kamar. Ia pun kemudian melanjutkan kembali aktivitas yang tertunda.


Di luar rumah Ariel sudah disambut dengan tatapan tajam dari para ksatria lainnya.


"Dimana tuan?" tanya Ariel ketika ia sama sekali tidak bisa menemukan wajah Lucas.


"Tuan sedang membawa putri jalan-jalan," jawab Jiko, ksatria bayangan Lucas.

__ADS_1


"Oh begitu," gumam Ariel sambil mengelus bokongnya.


"Kau kenapa?" tanya Jiko ketika Ariel tidak henti - hentinya mengelus bokong.


" ... "


Ariel hanya diam sambil melirik sekilas ke dalam rumah dengan ekspresi wajah yang tidak bisa didefinisikan.


"Apa mungkin wanita itu," gumam Jiko memahami situasi.


"Ada apa dengannya sampai kau bisa seperti ini?" tanya Jiko kembali mencoba untuk mendapatkan informasi lebih.


"Aku berpikir bahwa sulit sekali memahami wanita. Padahal Aku hanya menyentuh buntalan bulu itu," tutur Ariel pilu seolah sedang tersakiti.


"Tapi, dia malah memukul ku dengan kuat dan menendang ku dari kamar," lanjut Ariel tidak habis pikir dengan perilaku Dian terhadapnya.


"Apa kau tahu peraturan yang dimiliki kaum hawa untuk kaum adam seperti kita?" tanya Jiko sambil mencoba untuk menjelaskan keadaan dan situasi yang tengah dialami oleh Ariel sekarang.


"Apa itu?" tanya Ariel penasaran.


"Pertama, wanita itu selalu benar," jelas Jiko sambil memukul ringan pundak Ariel lalu menatapnya.


"Karena itu jangan pernah menanyakan eksistensi mereka dalam pertengkaran. Tentu saja mereka akan selalu benar," lanjut Jiko yang malah mendapatkan tatapan bingung dari Ariel.


"Mengapa begitu?"


"Karena merekalah ratunya," jawab Jiko santai ketika melirik ke dalam rumah.


"Mereka itu mahluk lemah karna hal itu kita sebagai pria yang harus bisa memahaminya," jelas Jiko yang malah mendapatkan gelengan kepala dari Ariel.


"Tapi jika mereka yang salah bagaimana?"


"Maka masuklah ke peraturan kedua. Wanita tidak pernah salah dan tidak akan salah," jelas Jiko yang semakin membuat otak Ariel kebingungan.


"Huh, aku tidak mengerti." seru Ariel bingung. Ia sama sekali tidak bisa mencerna penjelasan Jiko yang panjang kali lebar itu.


"Aku tahu kau itu ahli pedang namun aku tidak tahu jika kau seburuk ini dalam analisa."


Jiko mencoba untuk menahan emosinya agar tidak meledak. "Maka itu aku sarankan agar kau tidak perlu bersusah payah menggunakan otak kecil mu dalam berfikir." lanjut Jiko sarkastik dengan senyum datar diwajahnya.


"Hah, apa?" Ariel masih tidak bisa membaca situasi yang ada dan hal itu membuat Jiko semakin kesal.


"Lupakan saja," Jawab Jiko malas sambil melangkah pergi.


"Hey Jiko jawab dulu, ada apa sebenarnya?" teriak Ariel ketika Jiko mulai menghilang dari balik rindangnya pohon Pinus.


"Sekarang Aku mengerti mengapa wanita itu sampai mengusirnya, jika saja otaknya lebih berguna pasti ia akan mudah untuk memahami hal tersebut,"


Jiko yang kesal memutuskan untuk pergi dengan teleportasinya.


Ariel yang kebingungan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa Jiko dan Dian memiliki tempramen yang sangat buruk.

__ADS_1


"Aku hanya bertanya, mengapa Jiko begitu kesal," gerutu Ariel sambil menendang-nendang batu kerikil yang ada di hadapannya.


__ADS_2