Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
[S2E56] Teknik Baru


__ADS_3

"Setiap Proses selalu ada tantangan, begitu pula dengan hidup."


********************#####******************


Lantai Tiga Gedung Asrama


Setibanya Senja di kamar, ia tanpa buang waktu segera berganti pakaian dan bergegas menuju hutan kegelapan. Hari ini merupakan jadwal Senja untuk latihan.


Biasanya latihan dilaksanakan setiap tiga kali seminggu, namun karena Lucas memiliki pekerjaan lain yang harus diselesaikan, jadi sesi latihan akan disesuaikan menurut jadwal kosong Lucas.


"Dimana Dian?" tanya Senja saat tidak mendapati siapa pun di rumah tua itu.


Senja tahu akhir-akhir ini Dian terlihat sibuk tapi tetap saja ia tidak pernah melewatkan jadwal latihan Senja. Setiap saat ia selalu berada disisi Senja dan membantunya dalam segala urusan.


"Apa dia masih marah?" gumam Senja saat mencoba mengingat kembali kenangan terakhirnya dengan Dian.


"Tadi pagi dia masih ada di kamar dan membantu ku bersiap ke kelas, tapi..."


Saat Senja sedang asik berpikir, ia tanpa sadar memperhatikan sudut lapangan yang berkilau cahaya terang. Dari balik cahaya itu Senja dapat melihat tubuh Lucas yang berbalut mana merah.


"Lucas," lirih Senja yang kaget dengan begitu banyaknya bola mana mengitari tubuh Lucas.


"Aku tahu dia kuat, tapi ini..."


"Sangat berlebihan." lanjut Senja dalam hatinya.


"Senja, kau sudah sehat?"


"Bukanya menyapa dengan benar kau malah bertanya yang tidak jelas."


"Hei, aku bertanya karena khawatir."


"Benarkah?"


"Tentu saja, aku bahkan...."


"Sudah, sudah tidak usah mengomel lagi. Ayo cepat lakukan latihannya."


Senja terlalu malas meladeni omong kosong Lucas. Ia merasa kesal setiap kali melihat wajah Lucas yang selalu tersenyum aneh padanya.


"Aku senang kau sudah kembali seperti dulu," bisik Lucas saat hendak menyentuh helaian rambut Senja.


"Singkirkan tangan mu itu,"


Senja merasa risih dengan perilaku Lucas yang serampangan. Ia selalu saja menggoda dan membuat Senja malu. Karena alasan inilah Senja tidak suka dekat-dekat dengan Lucas.


"Hahaha, baiklah. Kucing liar ku sudah kembali rupanya." ejek Lucas dengan kedua tangan yang terangkat menyerah.


"Huh,"


****


Sesi latihan berkembang sedikit lebih jauh, yang sebelumnya hanya membuat bola mana. Kini latihan yang ditempuh Senja lebih mirip dengan pengendalian air di film avatar.


"Aku seperti Katara saja."


Senja saat ini harus mengendalikan elemen anginnya dengan menggoyangkan air danau secara perlahan.


"Hei, apa kau sedang mengerjai ku lagi?"


"Tidak, aku menyuruh mu melakukan itu agar kau bisa lebih mudah untuk menggerakkan benda lainnya."


"Lalu, kenapa harus dengan air?"


"Tentu saja karena air adalah elemen yang paling sulit untuk dikendalikan."


"Lalu apa ini?" tanya Senja sambil menggoyangkan kumpulan air danau ke kanan dan kiri.


"Hehehe,"


Mendengar tawa Lucas membuat urat nadi Senja berdiri. Ia cukup kesal karena harus membolak-balikkan air danau selama sesi latihan berlangsung.


"Tidakkah ada cara yang lebih mudah?"


"Tidak, ini adalah cara terbaik ku."


"Hah, astaga bisa gila aku."


Meski begitu memang benar yang dikatakan Lucas, air danau terasa sangat berat setiap kali Senja ingin membolak-balikkan mereka.


"Rasanya seperti berjalan di dalam lumpur, berat dan sulit untuk melangkah."


Sudah satu jam Senja berlatih membolak-balikkan Ari danau. Sekarang ia merasa lelah dan butuh istirahat.


"Hei Lucas, aku akan istirahat 10 menit saja." seru Senja sambil melepaskan teknik sihirnya.


"Tidak, lima menit sudah cukup."


"Huh, baiklah."


Senja tidak ingin berdebat dengan Lucas apalagi setelah berkutat dengan latihannya ia merasa begitu lelah dan tidak punya tenaga lagi meladeni tingkah Lucas tersebut.


Satu menit telah berlalu dan masih belum ada percakapan antara Senja dan Lucas. Mereka tetap diam sambil mengamati lingkungan sekitar yang tengah.


"Hmm, Lucas." panggil Senja setelah dua menit berlalu tanpa pembicaraan apapun.

__ADS_1


"Iya, ada apa sayang?" balas Lucas dengan godaan seperti biasanya.


"Dih, jangan panggil sayang dasar gila."


Senja merinding tidak karuan dan wajahnya memucat saat Lucas memanggilnya sayang. Tentu saja Lucas hanya membalasnya dengan tertawa riang.


"Sudahlah, berhenti tertawa."


"Baiklah, baiklah."


"Lalu, ada apa?" tanya Lucas yang mencoba menutupi ekspresi geli di wajahnya.


"Huh, kenapa kau menghilang beberapa hari ini?"


"Astaga, apa kau merindukan ku?"


"Lucas! Sudah aku bilang jangan bercanda. Aku bertanya dengan serius."


"Tidak, aku hanya sedang banyak pekerjaan saja." balas Lucas dengan senyum anehnya.


Entah mengapa kali ini Senja melihat senyum itu sedikit berbeda. Ia merasa Lucas sedang menutupi sesuatu darinya.


"Apa karena baji**an itu?"


Senja ingin muntah setiap kali mengingat wajah pangeran kelima. Ia merasa perlu memukul keras kepala orang itu dengan keras barulah Senja merasa puas dan tenang.


"Pekerjaan apa yang begitu sibuk? Apa kau sedang bergelut sesuatu pangeran?" tanya Senja yang membuat bulu kuduk Lucas berdiri.


"Kau, kau sudah tahu?"


"Tentu saja, apa kau pikir aku ini bodoh?"


"Wajahnya bahkan tidak bisa berbohong," batin Senja saat melihat mulut Lucas yang menganga lebar.


"Kenapa, tidak sejak kapan itu?"


"Hah, Lucas putra Marques mana yang bersujud dihadapan pria lain jika pria tersebut tidak sebanding dengan dirinya?"


Lucas kembali teringat kejadian saat pesta kedewasaan berlangsung. Disana ia melihat Cavil dengan sembarangan meminta wanitanya untuk berdansa. Tentu saja Lucas marah dan segera merebut Senja dari pria itu.


"Di kerajaan ini tidak ada putra seorang Duke selain Noah." lanjut Senja setelah diam beberapa detik.


"Hahaha, ku kira kau bakalan takut dengan ku," seru Lucas sambil mengelus pelan rambutnya.


"Kenapa harus takut, aku juga putri seorang Duke. Lagi puka Duke di kerajaan ini hanya satu, ayah ku seorang. Duke of Ari."


"Yaya, yang mulia put..."


BHUK....!


"Sudah aku bilang jangan mengejek ku Lucas!" teriak Senja sebelum berdiri dari duduknya.


Senja lalu pergi meninggalkan Lucas menuju danau. Ia kemudian melakukan kembali latihannya dan membuatkan Lucas menjerit kesakitan di belakanganya.


"Rasakan itu," gumam Senja kesal.


Senja tidak tahu bahwa apa yang baru saja ia lakukan membuat beberapa bawahan Lucas merinding. Mereka belum pernah melihat ada wanita yang berani memukul Lucas selain Luna dan permaisuri.


"Wanita itu sungguh berani, apa dia tidak takut kapten akan marah?"


"Hush, diamlah. kau bisa mati jika kapten mengetahui ini."


"Maksud mu?"


"Hah, anak magang memang susah. Apa kau tidak kuat betapa kapten sangat mencintai wanita itu."


"Terus?"


"Jika dia tahu kau mengatai wanitanya maka kau akan segera, MATI." seru Nike sambil mempraktekan lehernya yang putus.


"Ikh..."


Bayangan itu bergidik ngeri, apalagi saat ia melihat mata kaptennya yang memelototi mereka dengan tajam.


"Baru saja dibilang," batin Nike dengan wajah pucatnya.


****


Sudah lebih dari dua jam Senja melatih kekuatannya tapi baru sedikit saja air danau yang bisa ia gerakan. Meski begitu Senja tidak putus asa, ia terus melakukannya hingga tidak terasa sesi latihan pun berakhir.


"Senja," panggil Lucas sebelum sihir teleportasi diaktifkan.


"Kamis aku baru bisa datang menjumpai mu, jadi..."


"Apa ingin menyuruh ku untuk tidak berlatih sampai diri mu datang?"


"..."


Melihat Lucas diam, Senja sudah tahu apa yang sedang dipikirkannya. Senja tahu dia suka berlebihan tapi perilaku Lucas yang protektif membuat Senja tidak senang.


"Aku tidak begitu bodoh sampai harus menyakiti diri sendiri."


"Benarkah? Tapi nyatanya kau selalu begitu."


"Ugh.."

__ADS_1


"Entah mengapa perkataannya tepat menusuk jantung."


"Tidak, aku tidak akan seperti itu lagi," balas Senja sambil menyeka keringat di wajahnya.


"hah, baiklah. Apa pun itu terus kabari aku." seru Lucas sambil mendekati Senja. Ia kemudian menyeka wajah Senja dengan ujung lengan kemeja.


"Aku tidak ingin kau terluka lagi," bisik Lucas setelah jarak diantara mereka sudah tidak ada lagi.


"Sial," batin Senja sebelum mendorong Lucas menjauh dari tubuhnya.


"Sudahlah pergi sana, bukannya kau sibuk."


"Baiklah, sampai jumpa lagi."


Lucas segera berteleportasi dan meninggalkan Senja yang masih memerah ditempatnya. Meski begitu Lucas senang melihat wajah Senja yang tersipu malu karena dirinya.


Setelah kepergian Lucas, Senja segera berteleportasi menuju ruang bawah tanah guild. Ia ingin segera mendapatkan informasi mengenai kejelasan surat Klein.


"Selamat malam Nona," sapa Hazel saat sinar portal sudah menghilang.


"Dimana Dennis?"


"Tuan Dennis sedang di rumah pertarungan Nona. Ada yang bisa saya bantu?"


Senja diam sesaat sambil memperhatikan area ruang bawah tanah. Terlihat jelas jika para bawahannya sering berlatih di ruangan ini tapi entah kenapa hari ini mereka tidak ada.


"Kebetulan yang aneh,"


"Nona?" panggil Hazel sekali lagi saat tidak ada respon dari nona nya itu.


"Siapa saja yang ada di guild saat ini?"


"Hanya ada saya, Serina, dan Louis Nona."


"Hmm..."


"Aslan, Hana dan Gabriel sedang bertugas bersama Tuan Morreti dalam mengawal serikat dagang. Sedangkan Sean sedang bertugas sebagai resepsionis di atas Nona."


"Dimana Berry?"


"Tuan Berry sekarang ditugaskan bersama Nona Rima di toko Sun Forest Nona."


"Kenapa?"


"Beberapa Minggu yang lalu terjadi masalah saat seorang tamu jatuh sakit ketika sedang berbelanja. Demi kenyamanan, Tuan Dennis memutuskan memindahkan Tuan Berry kesana."


"Bagus,"


Setelah selesai dengan informasi guild, Senja segera naik menuju lantai tiga dan beristirahat di kamarnya. Lima belas menit kemudian pintu kamarnya diketuk oleh tamu yang tidak diundang.


"Siapa?" tanya Senja malas.


"Maaf nona, ini saya Dennis."


"Hah, masuklah." lirih Senja sambil berdiri dari tidurnya.


Dennis yang mendapatkan izin masuk dari Senja segera membuka pintu. Di dalam ia bisa melihat wajah nona nya yang sudah sehat tidak seperti rumor yang beredar.


"Syukurlah nona sudah kembali sehat."


"Nona, maafkan saya baru mengabari anda sekarang. Saya mendengar rumor..."


"Duduklah," potong Senja yang membuat bulu kuduk Dennis naik tanpa sebab.


"Baik,"


Segera setelah duduk Dennis langsung menceritakan seluruh kejadian yang terjadi beberapa Minggu terakhir ini. Jujur saja Senja sedikit bosan karena apa yang diceritakan Dennis sudah disampaikan oleh Hazel padanya.


"Saya tidak ingin membebankan pikiran nona akan masalah itu." seru Denis mengakhir pidatonya.


"Baiklah, kau bisa keluar."


"Hah, nona maafkan saya...!!"


Dennis yang selalu ceria kini menetaskan air matanya. Sedangkan Senja yang melihatnya sedikit terganggu dan tidak suka.


"Ada apa dengannya?" batin Senja saat mendorong tubuh Dennis menjauh dari kakinya.


"Nona, saya salah. Mohon jangan keluarkan saya."


Dennis terus saja menangis tersedu-sedu hingga membuat Senja geram.


"Siapa yang ingin mengeluarkan mu? Aku hanya menyuruh mu untuk pergi dari kamar ini karena aku ingin beristirahat." seru Senja yang membuat air mata Dennis mengering seketika.


Wajahnya kini terlihat bingung dengan mata yang sembab. Tanpa bisa berpikir untuk menjernihkan pikirannya, Dennis sudah didorong keluar dari kamar Senja.


"Mereka lebih aktif dari yang aku kira."


Senja menekan pelan kepalanya karena pusing. Jujur saja ia tidak marah dengan sikap Dennis yang kompeten karena mampu mengatur segala urusan administrasi dan permasalahan guild.


Ia malah senang jika masalah sepele seperti itu bisa diselesaikan tanpa campur tangannya. Tapi para bawahan Senja merasa bersalah jika segala tindakan mereka tidak dilaporkan.


Mereka seperti memiliki kewajiban untuk selalu melaporkan setiap kejadian yang menimpa guild pada nona nya itu.


"Aku harus segera menulis surat untuk Agra."

__ADS_1


__ADS_2