
"Kecerobohan memang sering terjadi namun jika itu terus berulang maka tidak ada kesempatan kedua untuk memperbaikinya."
*****************#####*****************
"Jelaskan pada ku, apa ini?" bentak Senja kesal.
"..."
Eza hanya bisa diam, ia tidak tahu harus berkata apa. Ia juga bingung mau menjelaskan seperti apa pasalnya surat itu bukan miliknya. Ia hanya ditugaskan untuk menyampaikan surat itu pada nona nya. Jujur saja ia tidak berharap nona nya akan semarah ini.
Lagi pula Eza sama sekali tidak tahu apa isi surat itu. Ia hanya menerima surat dan tugasnya adalah menyampaikannya. Adapun perihal di dalamnya bukan lagi wewenang Eza untuk di tangani.
"Eza...!"
"Maaf Nona, saya sama sekali tidak tahu. Saya hanya melakukan tugas seperti biasanya. Setiap surat yang datang akan saya kirimkan pada Nona."
"Hah," Senja kesal. Ia berharap Eza dapat menjelaskan maksud dari surat ini namun seperti yang dikatakan Eza bahwa ia tidak memiliki wewenang dalam surat itu.
Pengirim surat juga tidak menjelaskan dengan detail, sehingga informasi yang di dapatkan jadi tidak sempurna.
Senja kembali menatap surat yang kini sudah tidak berbentuk lagi. Ia kembali meremas surat itu dengan kejamnya sampai rasa marah di hatinya mereda.
"Pergilah," lirih Senja yang kemudian melafalkan mantra teleportasi di bawah kakinya.
Eza yang melihat hal itu sedikit khawatir. Ia berdiri dari duduknya dan perlahan menjauh. Ia tidak tahu apa yang ingin dilakukan oleh nona nya itu.
"Nona," seru Eza saat cahaya teleportasi mulai menghilang dari pandangannya.
Bersamaan dengan hilangnya cahaya itu, Senja pun ikut pergi. Ia menghilang dari kamarnya hanya dengan sepersekian detik sejak portal sihir di aktifkan.
"Apa lagi ini?" Eza terlihat panik, ia segera keluar dari kamar Senja dan pergi dari kediaman itu.
Para pengawal dan pelayan yang sejak tadi tidak bisa menahan tekanan emosi Senja kini mulai bisa bernapas seperti biasanya. Mereka terlihat panik dan buru-buru menemui Senja di kamarnya.
Namun yang mereka lihat hanyalah tumpukan selimut yang berjatuhan ke lantai. Para pengawal panik, mereka pun segera mengikuti Eza untuk dimintai keterangan.
"Dimana Nona? Dan apa yang kau lakukan pada Nona sampai ia bisa semarah itu?"
"..."
Melihat Eza yang tetap diam membuat kedua penjaga itu kesal. Mereka kemudian menarik lengan Eza untuk memukulnya namun belum sempat melakukan hal itu mereka sudah membeku di tempatnya.
"Aku tidak tahu," seru Eza dengan wajah dinginnya.
Ia juga menatap keduanya dengan sinis sambil mengeluarkan aura intimidasi yang kuat di sekitarnya. Mereka yang melihatnya pun merasa takut dan tanpa sadar berjalan mundur.
Melihat kedua penjaga itu tidak maju untuk menuntutnya lagi, membuat Eza dengan mudah naik ke atas kudanya dan pergi meninggalkan mereka yang saat ini masih melihatnya dengan tatapan takut.
__ADS_1
****
Padang rumput yang tandus kini sudah berubah menjadi kota kecil yang penuh dengan interaksi manusia. Mereka bertukar makanan dan obat-obatan, bahkan diantaranya ada yang menginap sebelum melanjutkan kembali perjalanannya.
"Wilayah ini jadi sangat berbeda," gumam salah satu pedagang yang dulu sering melewati tempat ini untuk bisa sampai ke kerajaan El-Aufi.
Pasalnya wilayah timur merupakan jalur utama untuk menuju ke negara itu. Selain itu juga wilayah timur merupakan jalur perdagangan besar dimana banyak pedagang yang sering berhenti di sana hanya untuk sekedar istirahat.
Biasanya mereka akan membangun tenda untuk beristirahat selama satu malam. Kurangnya air dan makanan membuat para pedagang jarang berlama-lama di tempat itu.
Namun kini entah mengapa wilayah itu menjadi sangat maju. Terdapat sumber air yang melimpah dan juga makanan yang banyak. Selain ada kurma di sana juga ada buah-buahan eksotis lainnya.
Mereka juga tidak perlu menyiapkan tenda untuk bermalam karena di sana sudah ada hotel mewah yang bisa menampung banyak pedagang yang lewat. Mereka juga tidak perlu khawatir untuk jatuh sakit karena disana juga terdapat toko obat yang cukup besar.
Mereka tidak tahu isi di dalam toko itu seperti apa karena mereka hanya melakukan transaksi di ruang depan saja, sedangkan halaman belakang di tutupi oleh barier pelindung.
"Siapa sangka jika tempat tandus yang dulu sering diabaikan kini menjadi surga dunia." sambung pedagang yang lain.
"Siapa pun pemilik dari tempat ini, pasti ia sangat pintar karena mampu membuat wilayah ini menjadi sangat kaya." lanjut pedagang di sampingnya.
"Siapa pun dia, aku penasaran untuk bisa bertemu dengannya. Mungkin bermitra dengannya adalah ide yang bagus." seru salah satu pedagang yang mendapatkan anggukan dari yang lain.
Para pedagang asyik dengan obrolan mereka sedangkan para karyawan di tempat itu hanya bisa menghela napas. Mereka bahkan sudah lelah mendengar begitu banyak pertanyaan mengenai pemilik tempat ini.
Namun begitu tidak satu pun dari mereka bisa menjawab. Mereka bahkan tidak memiliki hak untuk menyebut nama dari pemilik tempat ini. Mereka hanya ditugaskan untuk bekerja bukan untuk ikut campur dalam urusan di dalamnya.
Mereka di tugaskan untuk membantu wilayah timur sebagai ganti dari tempat tinggal mereka. Jika mereka menolak maka mereka akan di usir atau lebih parahnya lagi di bunuh.
"Wali kota mengatakan untuk terus fokus pada pekerjaan ketimbang mengurusi urusan manusia." lirih pelayan di sampingnya yang saat ini sedang membersihkan meja.
"Tidak ada yang menyangka jika pemilik tempat ini adalah putri seorang Duke. Putri buangan yang di benci oleh banyak bangsawan."
"Jika mereka mengetahuinya mungkin saja mulut mereka akan berbusa." lanjut yang lain sambil memikirkan para tamu yang sering bergosip ria di rumah makan.
Banyak dari para tamu juga berasal dari kalangan bangsawan. Alasan mereka singgah di wilayah timur karena kunjungan wisata ataupun istirahat sebelum pergi ke Negera El-Aufi.
Para bangsawan itu sering kali bergosip ria mengenai keadaan negaranya. Mereka bahkan tidak peduli dengan keberadaan para pelayan dan terus berbicara dengan gampangnya.
"Salah satu bangsawan sempat membicarakan pemilik tempat ini," gumam pelayan yang saat ini tengah memberikan minuman kepada para pedagang yang sebelumnya bertanya tentang siapa pemilik tempat ini.
"Mereka menghina pemilik tempat ini karena berteman dengan para anak bangsawan ternama. Mereka juga menyebarkan gosip tidak benar mengenai pemilik tempat ini." lanjutnya yang hanya bisa di dengar oleh rekan kerjanya saja.
"Mereka sangat naif..." pelayan itu menghentikan perkataannya saat melihat cahaya putih bersinar di area itu.
Setelah cahaya putih itu menghilang munculah sosok gadis muda yang terlihat begitu kesal. Gadis itu melangkah masuk menuju area terlarang yang hanya boleh di masuki oleh para petinggi saja.
"Siapa dia?" gumam pedagang yang kaget saat melihat seorang gadis berjalan melewatinya.
__ADS_1
Jujur saja selama mereka berada di sana belum ada seorang pun yang muncul dengan cara seperti itu. Biasanya mereka datang menggunakan kuda ataupun gerobak.
Bahkan mereka tidak tahu jika di tempat ini bisa menggunakan sihir seperti sihir teleportasi. Selain tidak adanya portal, disini juga kekurangan mana alam. Bahkan mana murni di tempat ini sangatlah tipis.
Mereka tidak tahu apa penyebabnya namun yang pasti mereka tidak bisa sembarangan menggunakan kekuatan sihir di tempat itu.
"Dia...! Bukankah dia Putri utama Duke Ari?" salah satu bangsawan berteriak keras saat melihat Senja yang sejak tadi menjadi pusat perhatian semua kalangan di tempat itu.
"Astaga, kau benar. Dia adalah putri utama Duke Ari, anak yang selalu menempel di antara putri Luna dan Nona Muna." lanjut yang lain dengan kaget.
Mereka tahu jika Senja memiliki posisi yang tinggi karena dia adalah putri utama seorang Duke dan juga sahabat dari para putri ternama. Namun fakta mengenai dirinya yang buangan selalu saja menutupi kelebihannya itu.
"Putri buangan itu bertingkah lagi," gerutu wanita aristokrat yang sejak tadi menatap Senja dengan pandangan dingin.
"Dia menjadi sangat sombong karena hubungan pertemanan itu."
"Benar, aku bahkan menjadi kasihan pada Putri Luna dan Nona Muna. Mereka harus di manfaatkan oleh sampah sepertinya." balas yang lain dengan kesal.
Mereka semua melihat ke arah Senja dengan berbagai pandangan. Ada yang benci, kesal, jijik, marah, dengki, cemburu dan masih banyak lagi. Mereka hanya melihatnya sebagai hama yang mengganggu penglihatan mata.
Sedangkan para pelayan yang mendengar ocehan mereka mulai terlihat marah. Pasalnya yang mereka hina itu adalah pemilik dari tempat ini. Bahkan rumor yang beredar pun adalah palsu.
Sayangnya mereka tidak bisa berteriak ataupun marah karena wali kota memerintahkan mereka untuk tidak ambil andil dalam urusan manusia. Mereka hanya di tugaskan untuk bekerja dan fokus pada hal itu saja.
Jika boleh jujur permintaan untuk tidak ikut campur merupakan permintaan utama Senja pada wali kota sebelum ia menyuruh rakyatnya untuk membantu. Meski pun wali kota sudah mencoba untuk menolaknya namun Senja tetap kekeh atas keputusannya itu.
"Astaga lihat itu?" salah satu bangsawan berseru kaget saat melihat para pelayan bersikap sopan pada Senja.
Para pelayan itu membungkuk dengan hormat saat Senja melewati mereka. Meski wajah mereka tetap datar sama seperti biasanya namun perlakuan mereka sangat berbeda.
Itu jauh berbeda saat menyambut para tamu yang hadir di wilayah itu. Biasanya mereka hanya akan menyambut tamu dan membantu mereka seperlunya.
"Mengapa mereka melakukan hal itu? Jangan bilang jika si sampah itu memiliki hubungan dengan pemilik tempat ini?" teriak bangsawan yang sejak tadi memperhatikan Senja.
"Gila, ini gila!" teriak yang lain dengan heboh.
Sedangkan para pedagang hanya melihat hal itu dengan pandangan sinis. Bukan karena mereka benci ataupun tidak suka, hanya saja mereka cemburu karena tidak diperlakukan seperti itu.
Mereka adalah pedagang kaya raya yang bahkan tidak segan-segan dalam mengeluarkan uangnya namun tetap saja mereka di perlakukan sama seperti tamu pada umumnya.
"Siapa nama gadis itu tadi?" gumam salah satu pedagang sambil mendengarkan ocehan para bangsawan di sekitarnya.
"Kalau tidak salah putri Senja de Ari." lanjutnya setelah mengingat lama.
"Aku rasa gadis itu bukanlah gadis biasa," sambung teman di sampingnya yang sejak tadi melihat keseluruhan kejadian di tempat itu.
"Mereka akan muntah darah jika mengetahui bahwa gadis itu bukanlah teman dari pemilik tempat ini melainkan pemiliknya langsung." batin para pelayan yang sedang membungkuk hormat pada Senja.
__ADS_1