
"Tidak semua cinta itu baik ada kalanya cinta hanya akan membuatmu jatuh dan hancur, namun dengan cinta juga kau bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya."
*****************#####*****************
"Sayang, kemarilah." Suara itu tampak sangat manis, ia terus memanggil Senja dengan penuh kehangatan.
"Sayang jangan lari, itu berbahaya."
"Sayang, makanlah yang banyak."
"Sayang, ambilah bunga ini."
"Sayang..."
Suara itu terus bergema membuat telinga Senja menjadi gatal. Ia ingin mengatakan sesuatu tapi sayangnya tidak ada satupun kata yang lolos dari bibirnya.
"Apa ini, aneh sekali."
Setiap kali Senja ingin berbicara setiap itu juga bibirnya membisu. Ia kesal dan ingin memberontak tapi lagi-lagi tidak ada reaksi apa pun.
"Siapa wanita ini, kenapa dia terus saja mengoceh tanpa henti."
Senja terus menggerutu, ia hanya bisa melihat pemandangan dihadapannya dengan tatapan penuh tanda tanya. Anehnya hanya bibir Senja saja yang diam, sedangkan tubuhnya terus bergerak bebas.
Senja yang pasrah mulai mengikuti apa yang ingin diperlihatkan oleh tempat ini padanya. Ia seperti melihat rekaman film klasik yang diputar terus-menerus.
Senja sempat berpikir bagaimana jika kasetnya rusak apakah ia akan mendengar suara berdecit yang memekakkan telinga, tapi untungnya hal itu tidak terjadi.
Sudah 2 jam lebih Senja melihat putaran film klasik tersebut dan entah bagaimana Senja mulai merasa familiar dengan suara dan wajah wanita tersebut. Ia juga mulai terbiasa dengan gerakan yang dilakukan oleh tubuhnya.
"Rasanya tidak asing, aku seperti melihat kenangan lama."
Senja yang mulai terbiasa akhirnya menyadari bahwa tubuhnya yang selama ini coba ia kendalikan terlihat seperti anak kecil. Perlahan tubuh itu tumbuh sedikit demi sedikit membiasakan perasaaan pemiliknya.
"Astaga, ini ingatan tubuh Senja asli."
Senja kaget mendapati ingatan tersebut, dan ia mulai berspekulasi tentang keadaannya saat ini.
"Jika ini ingatan Senja asli, artinya wanita itu adalah permaisuri Mawar." gumam Senja masih menikmati memori ingatan Senja asli.
Dari memori tersebut Senja dapat mengetahui betapa cintanya permaisuri Mawar terhadap Senja asli. Meski begitu anehnya Senja sama sekali tidak melihat sosok Duke disana.
Duke seakan-akan tidak pernah ada dalam hidup Senja asli. Hal ini dibuktikan dari masa kenangan masa kecil Senja asli yang hanya berfokus pada permaisuri Mawar saja.
Memori itu terhenti ketika permaisuri Mawar tiada. Seolah-olah kenangan indah Senja asli sudah berakhir tepat ketika ibunya pergi.
"Apa ini?" tanya Senja saat ia melihat sebuah memori aneh dalam ingatan Senja asli.
Memori itu memperlihatkan ladang rumput luas dengan berbagai macam pohon buah disekitarnya. Tidak hanya itu, terdapat sungai sejernih kaca yang mengalir disepanjang ladang rumput.
Selain pandang rumput, di tempat itu juga terdapat kebun coklat, bukan buah melainkan coklat yang bisa langsung di makan. Ada berbagai macam jenis coklat dan variannya.
"Siapa pun yang makan coklat itu pasti akan diabetes."
Senja juga melihat area lain dari tempat itu, ada berbagai macam makanan dan hewan yang bentuknya aneh namun terlihat sangat menggiurkan.
"Tempat ini layak disebut sebagai surga dengan berbagai keindahan alam dan keunikan yang ada di dalamnya."
Ketika hendak melihat lebih jauh, ternyata ingatan itu berhenti dan menghilang begitu saja. Senja yang bingung mulai meraba-raba area di depannya.
Senja yang awalnya takut dengan kilas balik memori Senja asli kini merasa sangat penasaran dibuatnya. Ia bertanya-tanya dimana tempat terakhir itu berada dan bagaimana menuju kesana.
"Apa itu fatamorgana yang timbul akibat kehilangan ibunya? Atau tempat itu memang ada. Tapi sepertinya tidak mungkin, tempat seperti itu tidak pernah ada di dunia ini."
Senja mencoba untuk fokus kembali pada keadaannya. Ia mulai teringat kembali hal terakhir yang terjadi padanya sebelum masuk ke dalam memori kecil Senja asli.
"Aku harus segera pergi dari tempat ini,"
Senja mencoba untuk rileks, ia menarik napas dalam lalu membuangnya secara perlahan. Lama ia melakukan rileksasi tersebut sampai sebuah suara menghentikan dirinya.
"Hmm...!" seru suara itu tajam
Senja yang kaget mulai melihat ke sekeliling namun ia tidak berhasil menemukan apa pun. Jelas saja saat ini pemandangan dihadapan Senja hanya hitam yang pekat.
"Siapa itu?" teriak Senja mulai waspada.
"Kau..., siapa?" suara itu balik bertanya.
Senja yang juga bingung harus merespon apa mencoba untuk tetap tenang.
"Aku Senja, kau siapa?"
"Bohong!" teriak suara itu keras sehingga membuat dinding disekitar Senja bergoyang.
"Aku tidak bohong," balas Senja dengan sedikit nada takut.
"Kau bohong lagi. Kau bukan Senja, kau hanya mirip dirinya." bentak suara itu kembali.
Senja diam, ia bingung harus beraksi seperti apa. Perasaan aneh ini membuat Senja takut sekaligus rindu.
"Aku Bulan." kali ini Senja mencoba untuk jujur. Tidak ada salahnya jujur untuk keselamatan diri sendiri. Lagi pula yang ada disini hanya dirinya dan sosok suara misterius itu.
"Selain itu tempat ini juga gelap gulita, tidak mungkin ia akan...."
Senja diam, ia mulai berpikir negatif tentang sosok tersebut. Bagaimana bisa sosok itu tahu jika dia bukan Senja asli melainkan sosok yang hanya mirip dengannya.
"Apakah ia penunggu tempat ini? Hantu?"
__ADS_1
Senja mulai bergetar takut pasalnya baru kali ini ia bertemu dengan hantu sungguhan bahkan di dunianya yang dulu ia sama sekali belum pernah bertemu dengan hantu.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya sosok itu kesal.
"Tidak, bukan apa-apa." jawab Senja segera. Ia takut jika sosok itu mulai mencurigainya.
Tapi seperti yang Senja duga, meski ia tidak bisa melihat wujud sosok itu, ia tahu jika saat ini sosok itu tengah mengamatinya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan ekspresi wajah mengerut.
"Aneh, sungguh aneh." seru sosok itu setelah pengamatannya selesai.
"Kau tercium seperti dia tapi kau bukan dia. Kau mirip dengannya tapi juga bukan dia. Kau adalah makhluk aneh yang hampir 80% mirip dengannya."
Sosok itu mulai menjabarkan sosok Senja dengan seseorang yang bahkan Senja tidak tahu siapa orang itu.
"Kau bukan bagian dari darahnya yang ku tahu, tapi kau memiliki sedikit dari darahnya ditubuh mu." lanjut sosok itu setelah diam beberapa saat.
"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud." gumam Senja bingung.
"Apa yang tidak kau mengerti?" tanya sosok itu yang membuat Senja tanpa sadar menutup mulutnya.
"Sial, aku keceplosan."
Senja ingin mengabaikan pertanyaan sosok itu tapi ia tidak bisa. Sosok itu terus melihat Senja dengan tatapan tegas meminta jawaban.
"Aku..., aku tidak mengerti maksud dari bagian darahnya." Senja terlihat gugup, ia sampai kaku mengucapkan kalimat tersebut.
"Darah? Itu artinya kau bagian dari manusia itu."
"Bagian? Apa kau pikir aku ini mutan?"
"Oh begitu," jawab Senja seadanya. Ia ingin mengungkapkan pikirannya disini tapi Senja tahu jika hasilnya akan buruk.
"Hmm, sudah larut. Sebaiknya kau datang lagi besok ke tempat ini." Seru sosok itu sambil mengeluarkan kabut hitam dari tubuhnya.
"Besok, ta..."
Belum selesai Senja menyelesaikan kalimatnya, ia sudah dikirim keluar dari tempat itu. Seketika pemandangan gelap yang ia lihat beberapa saat yang lalu kini berubah menjadi pohon besar dengan sulur yang mengelilinginya.
"Aku keluar." gumam Senja saat melihat ke sekelilingnya.
"Hahahaha, aku keluar begitu saja," lanjutnya frustasi sambil mengacak sedikit ujung rambutnya.
Setelah cukup menangkan diri, Senja pun mencoba untuk memahami situasinya saat itu. Ia yang beberapa saat lalu terlihat gugup dan kaku kini mulai bisa berbicara lancar dan bergerak dengan bebas.
"Aku harus kembali," lirih Senja saat ia melihat malam yang sudah mulai memudar.
Di perjalanan pulang terlihat cahaya hitam merambas masuk telapak tangan Senja. Cahaya itu kemudian berubah menjadi segel naga hitam dan menghilang dengan cepat tanpa disadari oleh si pemilik tubuh.
****
Di pagi hari paviliun tulip begitu ribut sangat kontras dengan keadaan malamnya. Ditambah lagi suara teriakan para ksatria yang sedang berlatih di area hutan pinus membuat tempat ini seperti konser paduan suara. Suara tapak kaki kuda pun ikut memeriahkan konser tersebut.
"Sekarang aku mengerti mengapa hutan itu terlihat penuh dengan goresan pedang." balas Muna yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Apa biasanya memang seperti ini?" tanah Luna pada Dian yang baru saja keluar dari kamar Senja.
"Maaf Nona, saya kurang tahu. Tapi biasanya memang sering seperti ini bahkan hujan pun mereka terus berlatih." jawab Dian tegas.
Masalahnya apa yang dipertanyakan Luna bukan latihan prajurit, melainkan keributan yang dibuat oleh mereka. Tentunya seorang wanita bangsawan harus tidur cukup dan nyaman sebelum kembali beraktivitas di pagi hari.
"Meski begitu Nona, malam hari tempat ini sangatlah nyaman." lanjut Dian dengan senyum sopannya.
Luna yang ingin bertanya lagi pun berhenti, seperti yang dikatakan Dian. Malam hari di paviliun begitu sepi layaknya berada di antah-berantah.
"Bagaimana dengan Senja? Apa dia tidak pernah protes?" Pertanyaan yang tidak jadi ditanyakan Luna kini malah ditanya balik oleh Maya.
"Protes? Untuk apa Nona? Bukankah wajar saja jika seorang prajurit berlatih di pagi hari?"
Bukannya menjawab Maya, Dian justru bertanya balik dengan ekspresi wajah kebingungan.
"Bukan itu maksud ku, tapi sudahlah."
Maya menyudahi sesi tanya jawab nya dan mempersilahkan Dian untuk melanjutkan kembali aktifitas.
"Bagaimana menurut mu?" Tanya Maya saat Dian sudah pergi menjauh dari mereka.
"Entahlah, sebaiknya kita tanya langsung saja pada Senja." balas Muna acuh tak acuh.
20 menit kemudian salah seorang pelayan dari kediaman utama Duke datang ke paviliun Tulip. Ia datang bersaman dengan surat dan perintah untuk mereka dan Senja.
"Surat apa itu?" tanah Luna saat melihat Senja baru saja selesai membaca surat itu.
"Duke mengundang kalian untuk makan siang." jawab Senja sembari memberikan surat tersebut kepada Luna.
"Hanya kami?" tanya Luna ketika sudah membaca beberapa kalimat dari surat tersebut.
"Sepertinya begitu," lirih Senja sambil menuangkan teh lemon ke dalam cangkirnya.
"Aku bisa sendiri," bisik Senja pada pelayannya.
"Bagaimana dengan mu?" Muna yang sedari tadi diam ikut bertanya karena penasaran.
"Aku ada urusan lain." jawab Senja sebelum menyesapi teh nya.
"Urusan apa?"
"Apa seperti ini biasanya mau diperlakukan oleh Duke?"
__ADS_1
Luna dan Maya bertanya secara bersamaan, hal itu membuat Senja pusing harus menjawab yang mana terlebih dahulu.
"Hahaha, tidak seperti itu. Aku ada urusan dengan Duke sebelum pergi makan siang dengan kalian." jawab Senja setelah mencerna apa yang baru saja ingin ditanyakan kedua temannya itu.
"Duke ingin bertemu dengan ku, dan setelahnya mungkin kami akan pergi bersama ke ruang makan. Lagi pula yang tamu di kediaman ini adalah kalian bukan aku. Jadi wajar saja jika surat itu hanya di tunjukkan untuk kalian berdua." jelas Senja.
Biasanya Senja akan sarapan pagi, makan siang dan makan malam di rumah utama. Tapi jika ia malas, maka makanan akan diantarkan ke paviliun ini.
"Tadi malam, karena kedatangan mendadak kalian, aku belum sempat membicarakan hal ini pada Duke. Terlebih lagi karena insiden kemarin aku jadi lupa menyampaikan kedatangan kalian."
"Lalu bagaimana Duke bisa tahu kami ada disini jika kau tidak memberitahunya?"
"Mungkin saja ada pelayan yang melihat kalian pagi ini."
"Aku mengerti," tutur Luna dan yang lainnya.
****
Mansion Duke Ari
Ketika waktu makan siang hampir mendekati, Luna dan dua temannya segera dijemput oleh dua pelayan kediaman utama. Mereka kemudian dibawa menuju ruang makan yang dimana disana sudah ada Selir Reliza dan Selir Amarilis bersama Bella.
Mereka bertiga duduk di kursi paling dekat dengan Duke, yang dimana seharusnya kursi itu ditempati oleh mereka yang memiliki kedudukan tinggi di kediaman ini.
"Mereka hanya selir, tapi berani duduk disitu." gumam Maya pelan namun masih bisa didengar oleh Luna dan Muna.
"Mereka terlalu lancang," lirih Luna yang masih berdiri di tempatnya.
Ketika kedua selir itu melihat kedatangan sahabat Senja. Mereka dengan sopan menyapa Muna dengan senyum paling hangat di pagi ini. Sedangkan Luna dan Maya hanya disapa seadanya saja.
Hal itu mereka lakukan karena menganggap bahwa sahabat yang dibawa Senja tidak lebih dari bangsawan kelas rendah. Kedua selir itu bahkan tidak tahu jika salah keduanya adalah seorang putri kerajaan.
"Mereka terlalu arogan," bisik Maya yang dijawab anggukan kepala oleh Luna.
"Kurasa mereka tidak mengenal siapa kalian," lirih Muna yang mendapatkan tatapan aneh dari Luna dan Maya.
"Bukankah mereka melihat acara pengujian akademi saat itu? Bahkan aku masih mengingat wajah sombong mereka dari bawah podium." balas Maya kesal.
"Mungkin saja mereka lupa, apalagi kau bukan dari kerajaan ini." jelas Muna dengan senyum mengejeknya.
"Bagaimana dengan aku?" tanya Luna sama bingungnya.
"Ya anggap saja mereka memiliki ingatan ikan Moli." jawab Muna acuh tak acuh.
Beberapa saat kemudian Duke dan Senja memasuki ruang makan. Betapa terkejutnya Duke saat melihat Luna yang notabenenya putri kerajaan masih berdiri di depan meja makan sedangkan kedua selirnya sudah duduk disana dengan tenang.
"Senja." panggil Luna saat melihat Senja melihat Senja memasuki ruang makan.
"Ada apa ini?" tanya Duke kesal yang berhasil menghancurkan suasana tenang di tempat itu.
Kedua selir tersebut berpikir jika Duke marah pada sahabat Senja yang langsung menyapa anak itu ketika masuk ketimbang Duke yang berada di sampingnya.
"Rasakan itu," batin keduanya senang. Wajah mereka tersenyum seri sebelum berdiri dan untuk menyapa Duke.
"Putri kenapa kamu berdiri disana?" tanya Duke kemudian yang dengan jelas mengabaikan sapaan kedua selirnya itu.
"Putri?" tanya Bella tidak paham.
"Ayah, kenapa kam..."
"Maaf putri atas kelancangan selir dan anak ku." Duke sengaja memotong perkataan Bella sebelum ia dibuat tambah malu oleh anak dan istrinya itu.
"..."
Luna hanya diam menatap Duke, ia tahu bahwa Duke saat ini sedang memegang erat kehormatannya.
"Senja kemarilah." Luna dengan santai tersenyum pada Senja sambil mengulurkan tangannya.
Duke yang melihat itu kemudian melirik kearah Senja dan menyuruhnya untuk menyambut tangan Luna. Setelah melihat Luna tenang, Duke dengan tajam memelototi kedua selir nya tersebut.
"Salam Duke," lirih Selir Reliza bersamaan dengan Selir Amarilis.
"Kalian berdua sangat bodoh, mengapa kalian duduk dengan tenang sedangkan putri Luna berdiri disini." teriak Duke kesal.
"Ayah, itu..."
"Diam Bella, kamu tidak seharusnya ikut campur, dan sebelum itu berdiri dari kursi mu sekarang juga."
Bella terlihat menangis, ia ingin pergi dari ruang makan namun berhasil ditahan oleh Selir Reliza. "Jangan membuat ayah mu semakin kesal nak," bisik Selir Reliza tepat ditelinga Bella dan itu berhasil membuatnya diam.
"Sudahlah Duke, mereka saja lupa pada ku." Ejek Luna sambil melirik kearah Maya.
Meskipun Maya berasal dari kerajaan kecil namun kekayaan alam disana tidak kalah hebatnya dengan milik kerajaan ini. Tapi sayangnya karena kerajaan Maya terlalu tertutup untuk urusan politik sehingga mereka ditinggal dan diabaikan oleh kerajaan lain.
"Maafkan kelakuan selir dan anak saya putri. Mereka sepertinya perlu di didik kembali." balas Duke dengan wajah tabah.
"Jika begitu aku memiliki rekomendasi tutor yang baik untuk mereka," seru Luna dengan senyum penuh arti.
"Terima kasih putri, saya sangat bersyukur dengan perhatian anda."
"Sama-sama Duke."
Setelah obrolan basa-basi selesai, mereka pun segera duduk dan mulai makan. Tapi berbeda dengan sebelumnya kali ini posisi duduk sudah ditetapkan oleh Duke.
Duke akan duduk ditempatnya seperti biasanya sedangkan bagian kananya akan diisi oleh Luna dan bagian kirinya akan diisi oleh Senja. Untuk kursi setelah Luna diisi oleh Maya dan disamping Senja barulah Muna.
Posisi duduk ini membuat selir Reliza dan Selir Amarilis mengerti betapa tingginya posisi dari ketiga sahabatnya Senja.
__ADS_1
Mereka merasa menyesal, jika sejak awal Duke mengatakan bahwa Maya dan Luna adalah seorang putri kerajaan. Mungkin saja mereka sejak awal akan memuji dan menyanjung keduanya sampai mulut mereka berbusa.