Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Finish Games


__ADS_3

"Musuh yang kuat akan membuat mu belajar bahwa masih ada langit di atas langit lainnya."


*****************#####*****************


Suasana podium semakin riuh dengan adanya beberapa orang tua siswa yang meminta anak mereka untuk segera dikeluarkan dari ujian.


Mereka lebih memilih anaknya gagal dari pada harus mati karena para pembunuh bayaran itu. Prof Xei yang semakin bingung dengan keadaan mulai mengambil inisiatif untuk menenangkan para orang tua murid.


"Mohon perhatiannya semua, kami sedang berusaha untuk meteleportasikan siswa dari hutan namun karena adanya penghalang kami membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengeluarkan mereka. untuk itu saya mohon agar kalian semua tetap tenang dan..."


"Tenang apanya? Anda tidak tahu betapa paniknya kami saat ini?"


"Itu benar, mereka masih pemula namun ujian kali ini sudah kelewat batas."


Semua pihak saling menyalahkan satu sama lain namun kembali lagi pada dasarnya ujian di akademik ini memang sulit dari waktu ke waktu. Hanya saja belum pernah ada sejarah penyusup yang menggangu jalannya ujian.


"Kami akan berusaha sekuat tenaga, waktu ujian tinggal 2 jam lagi sebelum semuanya berakhir, saya mohon pengertiannya."


Segera setelah mengatakan hal tersebut, Prof Xei memutuskan untuk pergi mencari Miss Aila yang menghilang tanpa kabar setelah ditugaskan untuk mencari Prof Edward.


Disisi lain Raja yang sedang mencoba untuk menembakkan sihirnya ke dalam hutan juga ditolak, hal itu membuatnya sangat tertarik sehingga menyuruh bawahannya untuk memeriksa sekeliling akademik tanpa kehilangan apa pun.


"Kita harus mencari tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya."


"Baik, yang mulia."


"Awasi tempat ini dan laporkan kepada ku jika ada yang mencurigakan."


Bawahan tersebut segera pergi meninggalkan podium setelah mendapatkan tugasnya. Putra Mahkota yang berada tidak jauh dari Raja dapat melihat wajah tertarik ayahnya itu pada hutan.


Putra Mahkota juga memiliki perasaan yang sama seperti Raja. Jelas sekali bahwa kekuatannya bahkan tidak bisa menembus pertahanan pelindung untuk bisa masuk ke dalam hutan.


Ia tahu bahwa hal itu juga berlaku pada Raja. Disana ia bisa melihat adik tersayangnya sedang bertarung dengan salah satu pembunuh bayaran meski pun sudah mengeluarkan seluruh kekuatannya namun Luna masih tampak kesusahan dalam pertarungan.


"Tuan, kami menemukan hal aneh di dalam kamar putri ketiga Duke Ari. Itu adalah racun yang sebelumnya dibicarakan oleh Nona Senja."


"Begitu rupanya."


"Iya tuan."


"Kalau begitu, giring salah seorang Prof untuk memeriksa seluruh isi kamar siswa. Kita tidak boleh membuang kesempatan ini."


"Baik tuan."


****


"Luna, jaga fokus mu," teriak Senja ketika salah seorang pembunuh bayaran berhasil melewati batas keamanan Luna.


"Zakila, kau juga sama jangan larut dalam penyerangan, spesifikasi mu adalah pertahanan."


Senja terus memberitahukan sahabatnya itu untuk tetap fokus pada apa yang mereka kerjakan, terkadang karena kurang fokus beberapa dari mereka sempat terluka namun dengan adanya ramuan obat sihir sehingga luka itu dapat dengan mudah tertutupi.


"Waktu kita tinggal 2 jam lagi sebelum ini berakhir jadi lumpuhkan saja mereka," seru Senja sambil mengirim beberapa bola api kepada musuh.


"Kami mengerti," lirih keempatnya bersamaan.


Mereka sudah bertarung selama kurang lebih 8 jam penuh untuk memperlihatkan kepada para penonton apa yang sebenarnya sedang disembunyikan Dira dan kelompoknya di hutan ini.


"Lily, segera tutup sihir Kun dan yang lainnya setelah kita berteleportasi nanti."


"Baik, Nona."


"Ah, iya satu hal lagi. Ristia buat mereka semua lumpuh dengan racun mu, aku ingin adanya bukti dalam kasus ini."


"Baiklah."


Semuanya bekerja sesuai dengan rencana awal. Dengan ini balas dendam Senja yang sudah lama ia tunggu baru saja di mulai.


"Kita lihat saja, berapa lama kalian akan bertahan."


Muna menyerang musuh dengan pedang besarnya, ia tanpa ampun menghancurkan tangan serta kaki musuh yang hendak menyerangnya.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Maya yang menggunakan pedang samurainya untuk menyerang titik vital pada tubuh musuh, semua saling beradu satu sama lain.


Zakila yang merupakan benteng pertahanan terus meluncurkan perisai untuk menghalangi sihir penyerangan musuh sedangkan Luna terus saja mengeluarkan panah apinya untuk menghancurkan pertahanan musuh.


Senja sendiri masih fokus menjaga punggung keempat sahabatnya itu, terkadang ia meluncurkan serangan bola api untuk memblokir serangan musuh yang berhasil masuk menembus pertahanan mereka.


Hewan magic antara pihak musuh dan pihaknya sedang bertarung sengit baik di langit mau pun di darat sedangkan energi Kun sudah lama ditutup sejak mereka mulai bertarung satu sama lain.


Hal ini lakukan Senja agar para musuh tidak kabur begitu saja ketika merasakan aura tajam dari tubuh Kun.


Disisi lain, Miss Aila yang sedang menikmati kopi hangat bersama Prof Edward didatangi oleh kepala sekolah.


"Oh astaga, apa yang sedang ku lihat sekarang?"


Prof Xei tampak tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat saat ini.


"Betapa santainya kalian saat ini, apa yang sedang terjadi adalah lelucon bagi kalian berdua hah? Tahukah kalian jika para orang tua murid sedang menuntut ku saat ini?"


Mendengar begitu banyaknya pertanyaan yang keluar dari mulut kepala sekolah membuat Prof Edward mengambil secangkir teh hangat beraroma mawar untuk menenangkannya.


"Duduk dan nikmati teh mu kepala sekolah," seru Prof Edward yang membuat mata kepala sekolah bergetar karena menahan marah.


"Itu benar, duduk dan nikmati saja pertarungan itu."


Sekarang Miss Aila yang tampak sangat bersemangat ketika melihat jendela layar yang menampakkan pertarungan antara Maya dan temannya.


"Hah, astaga."


" ... "


"Kalian membuat ku gila," gerutu Prof Xei sambil mengambil teh hangat yang ada di tangan Prof Edward.


Pada akhirnya Prof Xei memilih untuk ikut bergabung bersama keduanya, ia tahu pasti bahwa kedua guru tersebut memiliki alasan untuk tetap tenang saat ini.


Beberapa saat kemudian dari sisi Asrama Akademik mereka bisa mendengar suara aneh yang sangat keras. Ketiganya saling memandang satu sama lain sebelum memutuskan untuk pergi ke arah asal suara tersebut.


"Miss Aila," panggil Prof Edward saat menarik tangan Miss Aila yang hendak pergi mengikuti Prof Xei menuju asrama putri.


"Ada apa?"


Miss Aila sedikit kesal karena langkahnya dihalangi oleh Prof Edward.


"Lihat itu."

__ADS_1


Prof Edward menunjuk ke arah langit tempat dimana penghalang tiba-tiba menghilang begitu saja.


"Sudah waktunya, ini tepat dengan berakhirnya ujian."


"Baiklah, aku akan segera memindahkan mereka."


Segera Miss Aila pergi menemui para bawahannya.


*****


"Senja, kau?"


Kun merasakan keanehan dalam aura Senja yang mulai tidak beraturan.


"Ada apa?"


"Mana mu berantakan saat ini."


"Hah, ada apa dengan mana ku?"


"Itu rusak."


"Tapi aku merasa baik-baik saja."


"Tidak lebih tepatnya mana mu saat ini sedang kacau. Berapa banyak energi yang kau keluarkan saat bertarung tadi?"


"Itu..., entahlah aku tidak tahu."


"Kapasitas mana mu sangat kuat namun kondisi fisik mu saat ini sangatlah lemah. Kau juga baru sembuh dari recovery, jika terus dipaksakan, maka kau akan terluka nantinya."


"Aku tahu tapi aku tidak merasa mengeluarkan terlalu banyak energi."


"Tetap tenangkan diri mu, ada energi lain yang masuk dan mencoba membobol habis seluruh mana ditubuh mu."


"Energi lain, apa itu?"


"Aku juga tidak tahu tapi yang jelas jika hal ini terus berlanjut maka kau akan mengalami ledakkan mana."


"Sialan."


Senja yang tidak sadar jika energi es di dalam tubuhnya mulai mendominasi, merasa kesal dengan apa yang baru saja dikatakan Kun tentang meledaknya mana di dalam tubuhnya.


"Bagaimana bisa aku mengalami ledakkan mana? Aku tidak merasakan apa pun sebelumnya."


Senja panik, namun ia masih bisa mengobrol ekspresi wajahnya tetap tenang. Ia tidak ingin musuh melihat perubahan ekstrim di wajahnya itu.


Anehnya suhu tubuh Senja mulai menurun sedikit demi sedikit. Ia merasa panas sekaligus dingin disaat yang bersamaan.


"Berapa lama lagi?" tanya Luna saat dirinya bertemu mata dengan Senja.


"Tinggal 15 menit lagi sebelum berakhir."


"Baiklah, kita akan segera akhiri ini," seru Luna sambil mengeluarkan tombak api besar dari tangannya.


"Tetap fokus apa pun yang terjadi," tutur Senja setelahnya.


Muna dan Maya mulai menyerang secara bersamaan. Mereka menggunakan teknik pedang pembunuh untuk melumpuhkan musuh. Pedang yang dikendalikan oleh Muna menyerang bagian dalam pertahanan musuh sedangkan Maya menyerang bagian luar pertahanan mereka.


Setelah pertahanan musuh hancur, Luna lalu menyerang mereka dengan ribuan anak panah api yang berhasil menghantam seluruh formasi musuh. Senja juga mengeluarkan bola apinya untuk mencegah musuh menyerang balik sedangkan Zakila mengeluarkan perisainya untuk melindungi tubuh Muna dan Maya yang sedang fokus dalam menghancurkan pertahanan musuh.


Tubuh Senja tanpa sadar mulai mengeluarkan suhu dingin setiap kali ia memblokir serangan musuh dengan bola apinya. Meski transparan namun Kun yang menggendong Senja di punggungnya bisa merasakan perubahan suhu tersebut.


"Kau sudah sampai pada batas mu, berhentilah," bentak Kun sekali lagi namun ia masih tetap diabaikan oleh Senja.


Waktu pun berakhir, perisai penghalang yang dipasang Lily mulai menghilang. Para pembunuh bayaran yang terus-terusan diserang pada akhirnya mulai lelah, mereka terlihat sangat kacau dengan kerudung yang koyak di setiap bagiannya.


"Apa ini?"


Zakila mulai bertanya ketika lingkaran sihir muncul dibawah kakinya, hal yang sama juga ada di masing-masing mereka.


"Miss Aila," seru Muna yang membuat tanda tanya pada wajah sebagian besar sahabatnya itu sebelum mereka menghilang.


"Ristia," seru Senja ketika tubuhnya mulai menghilang dari hutan bersamaan dengan ke empat sahabatnya itu.


"Baik, Nona."


Ristia lalu menyebarkan racun pelumpuhannya melalui udara sebelum mereka benar-benar menghilang.


"Ada apa ini? Kemana perginya mereka?" tanya salah seorang dari pembunuh bayaran tersebut.


"Ugh"


"Agh, apa ini? Racun?" lirih yang lainnya ketika kesadarannya mulai menghilang.


"Sialan, kita harus segera kab..."


Seluruh pembunuh bayaran itu tertidur secara tiba-tiba tepat ketika sinar teleportasi menghilang.


*****


Pada akhirnya seluruh siswa sudah di pindahkan menuju lapangan podium. Disana tampak masing-masing dari mereka sudah selesai mengerjakan tugasnya. Ada yang terlihat bahagia karna berhasil mendapatkan dua gulungan.


Ada juga yang sedih karena gagal dalam ujian dan harus mengulang di tahun depan, sedangkan sebagian dari mereka ada juga yang gelisah karena harus bertarung kembali untuk bisa mendapatkan satu gulungan yang tersisa.


Semua emosi bercampur satu sama lain, mereka tidak sadar apa yang telah terjadi. Mereka sama sekali tidak mengetahui bahwa adanya pertarungan sengit di dalam hutan.


Hal itu juga menjadi aneh bagi para penonton dan juga guru akademik.


"Ada apa ini?" tanya salah satu siswa yang merasa ganjal dengan tatapan para penonton.


"Kenapa suasananya begini?" timpal yang lain ketika mereka mulai fokus pada area sekitarnya.


"Lihat itu."


Salah seorang murid menunjuk pada Dira dan kelompoknya yang tampak sangat kacau. Tubuh mereka terluka di setiap sisinya, bajunya pun koyak dan berlumuran darah namun yang lebih parah nya lagi tidak ada satu pun gulungan ditangan mereka.


"Itu kacau," seru yang lainnya.


"Mereka berhasil." teriak penonton yang mengalihkan mata seluruh siswa pada kelompok yang disoraki.


"Itu benar, mereka benar-benar hebat," teriak para penonton sambil melirik ke arah Luna dan kelompoknya.


"Mereka bisa mengalahkan musuh yang tingkatannya bahkan tidak diketahui."


"Formasi mereka hebat, ada penyihir dan ada juga ksatria serta penjaga."

__ADS_1


"Benar, dengan formasi seperti itu mereka akan bisa mengalahkan musuh sekuat apa pun."


Para penonton saling memuji Luna dan sahabatnya. Hal itu menarik bagi siswa lainnya yang sama sekali tidak menyadari situasi apa yang sedang terjadi saat itu.


"Lihat itu, mereka lulus."


"Aku tahu mereka akan mudah lulus, selain berasal dari keluarga bangsawan hebat mereka juga dikenal kuat."


"Aku ingin sekali berada di kelompok itu."


"Hah, itu mustahil. Formasi mereka benar-benar hebat."


Para siswa saling bisik-berbisik memuji kelompok Luna yang membuat wajah Dira semakin menghitam. Dira dan kelompoknya melirik tajam ke arah Luna dan yang lainnya. Ada dendam tersembunyi dari pandangan itu.


Para orang tua murid yang senang anaknya baik-baik saja turun dari podium sambil berlari. Mereka memeluk putra dan putrinya bahagia, baik mereka lulus atau pun tidak.


"Ibu, ada apa ini?"


"Tidak biasanya kalian seperti ini?" seru para siswa yang merasa aneh dengan sikap orang tuanya. Biasanya mereka akan kesal jika anaknya gagal atau merasa malu namun kini mereka terlihat bahagia.


Beberapa saat kemudian Prof Xei sudah berada di atas mimbar podium untuk memberikan pengumuman penting namun hal aneh tiba-tiba saja terjadi.


"GHUAR....!!"


Kun mengaum keras membuat seluruh perhatian penonton mengarah padanya dan hal itu bukan karena suaranya namun karena aura yang dipancarkan Kun membuat seluruh penonton yang berada disana merasa takut.


"Aura intimidasi yang sangat kuat," seru salah seorang bangsawan yang tidak sadar menundukkan kepalanya karena tekanan yang hebat.


"Ada apa ini?"


"Apa yang terjadi?"


Mereka semua bertanya-tanya satu sama lain namun ketika perhatiannya tertuju kearah Kun. Mereka bisa melihat seorang gadis yang tengah mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Senja!" teriak Luna kaget ketika Senja mengeluarkan banyak darah dari bibirnya.


"Senja!"


Hal yang sama juga dilakukan oleh Muna dan Maya serta Zakila yang segera berlari liar menuju Senja yang mulai oleng.


Ketika Luna hendak pergi untuk menopang tubuh Senja yang mulai jatuh, ia kalah cepat dari Dian yang sudah berada disana terlebih dahulu. Dian tidak sendirian, disana ia ditemani Eza yang sedang menopang tubuh Senja agar tidak jatuh ke tanah.


Kun yang merasa kesal membentengi area sekitarnya menggunakan ekor. Mereka yang berada disekitar Senja mulai menjauh termasuk Luna dan ketiga sahabatnya yang lain.


Dian tampak sangat kesal ketika ia menyeka darah dari mulut Senja dengan sapu tangannya. Eza yang tidak dapat menahan amarah mulai mengeluarkan pedang yang sebelumnya dihadiahkan oleh Senja kepadanya.


Eza sambil menatap tajam ke arah Dira sebelum lanjut melirik ke arah samping kuria Raja. Ia menatap tajam ke arah selir Jina yang merupakan dalang di balik peristiwa ini.


Eza yang marah mulai turun dari punggung Kun meninggalkan Dian yang sedang membersihkan darah dari mulut dan hidung Senja. Darah tersebut terus mengalir keluar dari hidung Senja dan sangat susah untuk dihentikan. Dian tampak sangat sedih melihat wajah pucat nona nya yang sedang pingsan.


Eza sempat melirik sekilas pada Dian dan Kun sebelum menganggukkan kepalanya. Segera setelah itu Dian dan Kun menghilang dari lapangan tanpa meninggalkan jejak sehingga membuat semua pihak yang berada disana kebingungan.


"Aku tidak mengerti, mengapa akademik ini membiarkan siswanya melakukan tindakan berbahaya seperti itu," teriak Eza pada Prof Xei yang berada di atas mimbar.


"Mereka membiarkan Nona ku diracuni dan bahkan membiarkan penyusup masuk ke dalam ujian untuk membunuhnya."


Semua orang yang berada disana menjadi gempar, tentu saja masalah Senja diracuni oleh pelayannya adalah kasus penting yang tidak bisa didiamkan, terlebih lagi yang terlibat kasus ini adalah adik tirinya sendiri yaitu Sarah.


"Kalian telah membiarkan para penjahat masuk ke dalam akademik ini dan mengacaukan Nona ku."


" ... "


Semua mata kini tertuju pada Sarah yang masih kaku di tempatnya.


"Kami akan..."


Perkataan Prof Xei terputus ketika Eza mulai memproklamirkan protesnya.


"Apa yang akan kalian lakukan setelah ini adalah penebusan atas kesalahan namun aku tidak akan membiarkan Nona ku di rawat ditempat dimana musuh bisa bergerak sesuka hatinya. Aku tidak ingin nyawa Nona ku hilang karena akademik ini telah lalai memilih siswanya."


Eza melirik sekilas pada Sarah dan Dira sebelum melanjutkan perkataannya kembali.


"Aku ingin keadilan yang nyata bagi Nona ku. Nona sendiri adalah putri utama seorang Duke, kematiannya bisa sangat menguntungkan bagi sebagian besar orang namun juga merupakan kerugian bagi sebagian lainnya."


Eza kini melirik ke arah Luna dan temannya.


"Beri hukuman yang setimpal atas perbuatan mereka, itu adalah balasan yang sesuai dengan apa yang telah mereka lakukan pada Nona ku," teriak Eza lantang sebelum menghilang secara tiba-tiba dari lapangan.


Semua mata menatap pada tempat dimana Eza menghilang, mereka kini merasa khawatir akan adanya musuh yang bisa membahayakan nyawa putra dan putrinya. Melihat apa yang baru saja terjadi pada saat ujian sudah cukup menjadi bukti nyata.


Terlebih lagi bahwa seorang siswa yang terluka tidak dibiarkan untuk dirawat di dalam akademik yang memiliki pertahan paling kuat serta dokter paling hebat membuktikan bahwa tempat ini sudah gagal.


Akademik akan mengalami penghinaan terbesar kali ini sejak ia didirikan di kerajaan ini. Baru kali ini seorang murid akademik tidak di izinkan untuk dirawat di dalamnya karena masalah keamanan yang jelas sekali sudah terjamin.


"Ini memalukan," seru seorang Profesor yang menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Baru kali ini ada insiden memalukan bagi Akademik. Selain itu selama akademik ini berjalan tidak pernah ada penyusup yang masuk sekali pun itu adalah seekor semut.


Prof Xei yang saat ini menjabat sebagai kepala sekolah mengalami sakit kepala yang hebat. Ia kemudian menyuruh seluruh penjaga untuk menangkap Sarah dan Dira berserta kelompoknya untuk dimintai keterangan.


Tentu saja selir Jina merasa terhina karena putrinya dicurigai namun hal yang berlawanan malah ditunjukkan oleh Raja.


"Tangkap semua pelaku yang ada, kita akan mengadili mereka dengan seadil - adilnya di istana kerajaan."


"Baik yang mulia."


Melihat Raja yang setuju dengan kepala sekolah membuat hati selir Jina menciut. Ia sangat kesal dengan keadaan saat ini, bahkan suaminya sendiri mengabaikan putrinya.


"Sayang, putri kit...."


Raja menghentikan perkataan Selir Jina yang terlihat tidak senang di ekspresi wajahnya.


"Sesuai aturan," seru Raja sambil melangkah pergi bersama permaisuri untuk menemui Luna. Melihat hal tersebut membuat wajah selir Jina semakin hitam.


"Sialan," gumamnya marah. Ia lalu melirik pangeran kelima sebelum meninggalkan podium.


"Kita akan mengambil keuntungan yang sangat besar dari situasi ini tapi sebelum itu pastikan dimana posisi Senja berada sekarang," seru putra mahkota yang khawatir dengan kondisi wanitanya.


Sejak pertama kali melihat Senja bertarung hatinya mulai terasa sakit dan hal itu diperparah lagi ketika Senja mengalami muntah darah yang serius.


"Cari sampai ketemu dan tidak ada yang boleh kembali tanpa informasi apa pun mengenai dirinya."


" ... "


"Cari disudut kota terdalam bahkan jika perlu bongkar semua tempat yang berkemungkinan tinggi terdapat keberadaanya."

__ADS_1


"Baik tuan."


Bayangan itu segera menghilang setelah melihat kekacauan di wajah tuannya.


__ADS_2