Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
[S2E40] Senjata Makan Tuan


__ADS_3

"Jadilah kuat karenanya kau bisa bertahan untuk hidup."


*****************#####*****************


Selama pelajaran kedua wajah Kira terlihat pucat. Sepertinya efek racun sudah mulai bereaksi. Tapi itu terlihat aneh, karena Senja tidak pernah mengalami efek seperti itu meski pun ia sudah makan banyak racun.


"Detoksifikasi tubuh ini sangat cepat." lirih Senja yang mulai memahami kondisi tubuhnya.


"Nona, racun di tubuh anda bisa terdetoksifikasi dengan cepat karena pengaruh dari perjanjian kita," seru Ristia melalui mind link diantara keduanya.


"Karena saya ahli dalam racun dan pertahanan, sehingga sangat mudah bagi saya untuk menghilangkan racun di tubuh Nona. Namun itu juga bisa terjadi dengan cepat karena tubuh anda sudah terikat dengan saya." lanjut Ristia menjelaskan.


"Jadi begitu. Hmm, lumayan." gumam Senja acuh tak acuh.


"Tapi Nona, tetap saja jika anda terus-terusan memakan racun itu maka tubuh anda tidak akan stabil, karena racun itu akan menghalangi aliran darah dan energi anda."


Senja diam beberapa saat, ia masih mencerna maksud dari pemberian racun itu pada makanannya. Ia paham jika racun akan membunuh siapa pun, namun ada alasan lain dibalik hal itu.


"Kembali menjadi sampah, apa itu tujuan mereka?" batin Senja sambil melirik sekilas pada Kira yang terlihat ingin muntah.


"Ristia, dimana racun yang selama ini kita buang?" tanya Senja tiba-tiba.


"Racun? Sebenarnya racun itu tidak terbuang, melainkan dirubah menjadi energi."


"Apa maksudnya itu?" tanya Senja penasaran.


"Begini Nona, tidak semua racun yang masuk ke dalam tubuh akan merusak tubuh itu sendiri, karena ada juga beberapa racun yang malah akan membuat tubuh itu menjadi sehat." jelas Ristia.


"Bagaimana bisa?"


"Semua itu tergantung seberapa banyak kadar racun yang digunakan. Jujur saja Saya sendiri pun memiliki racun di dalam tubuh, tapi racun itu tidak berbahaya bagi saya namun sebaliknya itu akan sangat berbahaya bagi orang lain."


"Kau?" Senja terkejut, ia tahu jika Ristia ahli racun namun ia tidak pernah tahu bahwa Ristia juga memiliki racun.


"Ada apa Nona? Apa ada yang salah?" tanya Ristia bingung.


"Ternyata memang benar, aku tidak tahu banyak mengenai mereka," batin Senja menyadari kebodohannya.


"Tidak ada, coba jelaskan lagi." Senja kembali melanjutkan mind link nya.


"Ada sebuah hukum yang mengatakan jika seorang manusia ingin ahli dalam racun maka ia harus memiliki racun di tubuhnya."


"Lalu?"


"Tapi banyak yang salah sangka dengan perkataan itu. Maksud dari perkataan itu adalah, jika kita ingin menjadi seorang ahli maka kita harus tahu apa itu racun yang sesungguhnya, belajar tidak hanya menyakiti tepati juga mengobati."


Ristia berhenti sesaat, ia mencoba untuk menyusun kalimat yang baik dan benar untuk di sampaikan pada nona nya.


"Sayangnya masih banyak yang mengira jika racun digunakan sebagai alat membunuh. Mereka menyalahgunakan racun untuk hal yang tidak baik. Jadi kalimat itu lama-kelamaan menghilang seiring berjalannya waktu."


"Jika begitu, apa maksud dari 'racun di dalam tubuh mu' itu?" tanya Senja bingung.


"Banyak yang menyalahartikan kalimat itu, mereka berfikir jika makna dari 'racun di dalam tubuh mu' adalah kau harus menjadi jahat untuk bisa seutuhnya ahli dalam racun. Tapi sejujurnya itu salah."


"..."


Senja diam dan mulai mendengarkan dengan serius.


"Arti sesungguhnya dari kalimat itu merupakan wujud aslinya. Mereka harus menanamkan racun di tubuh mereka..."


Ristia diam saat ia melihat wajah nona nya yang mulai semakin kebingungan.

__ADS_1


"Maksudmu mereka harus meminum racun begitu?"


"Kurang lebih seperti itu, tapi bukan itu juga maksudnya?"


"Jadi bagaimana?"


"Begini Nona, jika seorang ahli racun terkena racun dari miliknya sendiri bukankah itu sangat tidak lucu?"


"Iya kau benar."


"Jadi untuk menghindari hal itu, ia harus memiliki kekebalan tubuh yang bisa menandingi racun itu. Dan untuk memiliki kekebalan tubuh yang baik, ia harus menggunakan racun sebagai pelindungnya."


"Tunggu dulu, jadi maksud mu adalah racun melawan racun begitu?"


Ristia diam, ia bingung harus menjelaskan seperti apa. Tapi ia mencoba yang terbaik agar nona nya bisa paham dengan benar.


"Kurang lebih seperti itu, tapi belum bisa dikatakan tepat juga. Begini Nona, saya ahli dalam racun dan saya juga memiliki racun di dalam tubuh."


"Terus?"


"Jika saya terkena racun, maka racun di dalam tubuh saya akan semakin kuat dan nantinya racun yang masuk itu akan berganti menjadi energi baru bagi tubuh saya. Namun ada syaratnya untuk bisa melakukan hal itu."


"Apa syaratnya?"


"Syarat yang paling utama adalah, racun di dalam tubuh harus lebih kuat di bandingkan dengan racun yang masuk. Dan yang kedua adalah yang paling penting yaitu tubuh kita harus kuat untuk bisa menahan rasa sakit saat racun itu menggerogoti anggota tubuh. Jika kita lemah maka racun itu yang akan menang dan kita nantinya akan mati." jelas Ristia panjang lebar.


"Intinya kita harus memiliki racun di dalam tubuh untuk melawan racun yang masuk begitu?" tanya Senja memastikan.


"Hah, ya bisa di bilang begitu." Ristia bingung mau meluruskan pemahaman nona nya dari mana. Ia bingung karena apa yang dikatakan nona nya tidak salah namun juga tidak sepenuhnya benar.


"Menarik," lirih Senja tanpa menyadari apa yang baru saja terjadi di dalam kelas.


"Ada apa ini?" tanya Senja bingung saat semua orang terlihat panik.


"..."


Senja hanya diam sambil melihat ke sekelilingnya dengan bingung.


"Ada apa ini memangnya?" batin Senja saat melihat kerumunan siswa di sisi kirinya.


"Kira muntah darah, dan itu banyak sekali." seru siswa yang malas melihat reaksi bingung dari wajah Senja.


"Segera bawa ke UKS," teriak salah satu siswa yang berada di dalam gerombolan itu.


"Astaga, apa yang terjadi padanya?" tanya siswa lain saat Kira sedang dibawa keluar dari kelas.


"Bukankah tadi pagi Kira baik-baik saja?" lanjut yang lain kebingungan.


"Apa yang ia makan saat istirahat tadi?" tanya siswa yang masih berdiri di dalam kerumunan.


"Tunggu dulu, bukankah tadi Kira makan siang bersama Senja!" seru seorang dari mereka.


Seketika seluruh siswa di dalam kelas memperhatikan Senja. Bukannya mereka tidak tahu bahwa masa lalu Senja dulunya adalah anak yang nakal.


Mereka tahu seberapa jahatnya Senja dari rumor yang beredar di keluarga Duke Ari. Bahwa Senja selalu saja mengganggu saudari-saudarinya. Ia juga sering mengacau di pesta teh dan membuat banyak anak bangsawan lainnya terluka.


"Kau, apa yang kau berikan pada Kira saat istirahat tadi?" tanya siswa yang sejak tadi memelototi Senja.


"..."


"Aku tahu kau tidak akan pernah berubah, sejak awal sifat mu itu memang buruk."

__ADS_1


Senja bahkan belum mengatakan apa pun dan mereka langsung mengambil kesimpulan seenaknya.


"Memang reputasi yang buruk sulit untuk di hilangkan," batin Senja tidak mau ambil pusing.


"Lihat itu, betapa santainya dia. Bukannya menjelaskan ia malah duduk dengan wajah acuh tak acuhnya."


"Dasar penjahat!" teriak yang lain marah.


"Sudah-sudah, hentikan itu. Kita tidak tahu apa yang terjadi pada Kira. Mungkin saja ia mengalami hal yang buruk dan terluka, jadi kalian semua jangan menyalahkan Senja untuk hal yang belum bisa dipastikan."


Prof Lila pusing dengan keributan yang ada. Ia bukannya sengaja membela Senja, ia hanya tidak ingin kelasnya ricuh karena masalah seperti ini. Lagi pula Prof Lila juga tahu jika Senja sama sekali tidak memahami situasinya.


"Sejak awal ia hanya diam dan tidak mengatakan apa pun, lagi pula jika memang dia pelakunya maka ia sudah panik sejak tadi." batin Prof Lila saat melihat reaksi acuh tak acuhnya Senja.


"Profesor jangan membelanya begitu saja, kita tidak tahu sejahat apa dia. Meski dia kelihatan polos begini, namun dalamnya belum tentu." teriak siswa yang tidak mau kalah.


"Kenapa kalian tidak bertanya pada Kira saja yang sebenarnya? Mengapa kalian begitu bodoh dan gegabah?" tanya Senja ketus.


"Kau...!"


Salah seorang siswa ingin berteriak pada Senja namun ia berhenti saat melihat tatapan Senja yang tajam. Tatapan itu sangat mengintimidasi sehingga mereka yang semula melihatnya dengan marah kini mulai menunduk takut.


Bahkan Prof Lila sedikit bergeming dari posisinya saat melihat tatapan tajam yang begitu mematikan itu. Wajahnya memang polos namun sifat dan kekuatannya jauh berbeda.


"Insting ku mengatakan bahwa dia bukanlah gadis biasa. Lagi pula bagaimana bisa seorang gadis yang hanya berada di tingkat 3 memiliki kekuatan sebesar itu." batin Prof Lila takut sekaligus bingung.


Tidak lama setelahnya bel pun berbunyi, sudah waktunya kelas berakhir. Senja yang tidak mau ambil pusing segera pergi dari tempat itu.


"Kalian bisa pergi dan menanyakan hal itu padanya sekarang," lanjut Senja sebelum pergi meninggalkan kelas.


Setelah kepergian Senja, beberapa siswa terjatuh dari duduknya. Mereka terlihat lega sambil mengambil napas panjang yang dalam.


"Akhirnya bebas juga," gumam salah satu siswa yang akhirnya bisa menghirup udara segar.


****


"Menjengkelkan sekali!" teriak Senja sambil melemparkan dirinya ke atas sofa.


"Siapa yang sebenarnya diracuni dan siapa pula yang marah." gerutu Senja kesal.


"Ada apa ini?" tanya Lucas yang memang sejak tadi sudah berada di dalam rumah tua itu.


"Bukan apa-apa," balas Senja acuh tak acuh.


"Apa ada masalah di sekolah?" tanya Lucas sekali lagi.


"..."


Senja hanya diam sambil memperhatikan wajah Lucas yang tenang namun entah mengapa matanya terlihat sangat marah.


"Ayo mulai saja latihannya," seru Senja sambil berjalan meninggalkan ruang tamu.


Lucas yang masih diam di tempatnya kemudian melirik ke arah salah satu pohon yang berada di sisi kanannya. Ia menatap pohon itu dengan wajah datarnya sebelum mengangguk dengan pelan.


"Lucas...!" teriak Senja saat Lucas masih belum beranjak dari duduknya.


"Iya sayang, aku datang." jawab Lucas yang kemudian segera merubah ekspresi wajahnya dengan senyum hangat.


"Ih jijik tahu, jangan panggil sayang." teriak Senja dengan wajah ingin muntah.


"Hahaha...."

__ADS_1


Lucas hanya tertawa lepas saat melihat wajah konyol Senja yang tidak ingin di panggil sayang.


"Baiklah, mari kita mulai." seru Lucas setelahnya.


__ADS_2