Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
[S2E57] Bully


__ADS_3

"Jika ingin memukul mundur musuh, sebaiknya lakukan dengan rencana matang."


*****************#####********************


Gedung Sihir


Kelas terasa sangat nyaman dan tenang saat Senja tidak mendapati Kira di kursinya. Entah apa alasannya Kira memutuskan untuk kembali ke rumahnya dan ini sudah satu Minggu setelah kepergiannya dari akademi.


Senja sangat senang, ia bahkan merayakan hari kepergian Kira dengan makan berbagai hidangan lezat yang mahal. Meski ia kaya raya namun untuk mengajukan banyak uang dengan boros bukanlah gaya Senja.


Tapi hari dimana ia bebas adalah hari dimana ia akan membelanjakan semua uangnya tanpa takut. Hidup hanya sekali jadi nikmati saja itulah prinsip Senja selama ini.


"Meski aku tidak bisa makan siang dengan mereka tapi ini sudah cukup," gumam Senja sambil memikirkan keempat sahabatnya itu.


"Apa rencana mereka akan berhasil ya?"


Senja merasa kasihan dengan keadaan temannya tapi ia dilarang ikut campur karena mereka tidak ingin melibatkan Senja para rencana itu.


"Ugh, sudahlah." lirih Senja sambil menyesap teh hitam nya.


Suasana akademi begitu tenang apalagi taman belakang gedung sihir. Taman ini begitu tenang dan hanya beberapa murid saja yang ada disekitarnya.


Alasan mengapa taman ini begitu sepi bukan karena bentuknya yang aneh tapi kebanyakan siswa sihir lebih memilih duduk di depan gedung ksatria atau perpustakaan.


"Para gadis lebih menyukai otot dari pada otak," ejek Senja saat mengingat wajah teman sekelasnya yang meleleh saat melihat bentuk badan siswa kstaria yang berlatih di lapangan tanding.


BRUK


Lagi enak-enaknya makan Senja malah dikejutkan dengan suara benda jatuh membuatnya kaget. Suara itu begitu keras sehingga membuat Senja dengan reflek bangun dari duduknya.


"Apa itu?"


Senja mencoba mencari sumber suara tersebut dan betapa kagetnya ia saat melihat hamburan kertas yang berserakan di lorong taman.


Saat hendak menghampiri lokasi kejadian Senja malah dikejutkan kembali dengan sinar terang yang menerangi lorong itu.


"Apa yang sedang terjadi," gumam Senja ketika hendak sampai di pintu masuk lorong.


"Hei sampah, kau tidak seharusnya berada di tempat ini."


"Hahaha, benar sekali. Berani saja kau makan enak menggunakan uang orang tua kami."


"Tempat ini bukan tempat yang cocok untuk anak rendahan seperti mu."


Senja yang mendengar omong kosong itu merasa marah. Baru kali ini ia melihat pembullyan di akademi. Setahu Senja akademi sangat melarang pembullyan karena itu akan menghambat pertumbuhan siswanya.


"Aku tahu jika kubu Luna dan Dira sering berselisih, tapi tidak pernah secara terang-terangan bertarung seperti ini."


Senja tidak pernah melihat Luna dan temannya diserang secara langsung oleh kelompok Dira. Buktinya saja saat ini Luna dan temannya hanya dikerjai melalui guru dan siswa lainnya.


"Itupun dengan verbal dan bukan fisik."


Tentu saja Senja tidak tahu jika temannya pernah bertarung gila-gilaan dibelakang Senja saat melawan kubu Dira. Saat itu Senja sedang terbaring sakit dan tidak ada di lokasi kejadian sehingga ia tidak menyadari jika pembullyan itu wajar di akademi ini.

__ADS_1


Meski peraturan melarang hal tersebut tapi tetap saja para siswa sering melakukan bully karena mereka memiliki kekuatan untuk itu.


"Kau itu hanya anak panti asuhan, kenapa kau begitu sombong," teriak salah satu anak yang pipinya memerah habis ditampar.


Senja yang mendengar teriakan itu kembali sadar ke kenyataan. Ia tidak tahu sudah sejauh mana pertarungan itu terjadi.


"Sial, bisa-bisanya aku melamun di situasi seperti ini." gumam Senja kesal dengan kondisinya.


"Aku harus segera..."


Belum sempat Senja beranjak pergi dari lorong itu, ia sudah dikagetkan dengan teriakan aneh yang melewati kepalanya.


"Apa itu?"


BRUK


Belum selesai rasa kagetnya Senja sudah dibikin melongo dengan sosok tubuh yang jatuh tidak jauh dari dirinya. Dengan panik Senja melihat sosok itu untuk memastikan kondisinya.


"Apa dia yang tadi berteriak keras melewati atas kepala ku?"


Ketika Senja memperhatikan dengan teliti, anak yang baru saja jatuh dan pingsan ini merupakan salah satu sahabat dari si perisak.


"Sial, tubuhnya besar sekali. Jika saja kembarannya sedikit pendek mungkin aku sudah terseret jatuh bersamaan dengannya."


Senja yang penasaran dengan si korban bully mencoba untuk mendekati kembali lorong tersebut. Namun sebelum sempat sampai di pintu lorong ia sudah dikagetkan dengan sosok yang terlempar jauh menuju arahnya.


Dengan sigap Senja menunduk dan membuatkan tubuh itu bertemu dengan temannya yang tadi.


"Huft, hampir saja."


"Jika aku berdiri di ujung lorong seperti tadi, mungkin aku akan terbang bersama mereka." tunjuk Senja pada dua sosok yang kini sudah pingsan kehilangan rohnya.


"Menyedihkan sekali mereka. Baiklah mari kita liat siapa dia yang sudah menerbangkan mereka berdua."


Saat Senja sudah mendapati posisi yang pas, ia pun segera melirik ke dalam lorong. Betapa kagetnya Senja saat melihat Amir yang tengah dikepung oleh empat orang pria.


Tapi anehnya yang Senja lihat bahwa keempat pria itu terintimidasi oleh sosok Amir. Mereka sedikit gemetaran namun masih terlihat sombong.


"Jangan bilang kalau Amir lah si perisak itu?"


"Tidak, tidak mungkin. Apa yang baru saja aku pikir..."


Sempat sempat Senja menyelesaikan perkataannya ia sudah mendengar kembali omong kosong yang sebelumnya.


"Anak yatim seperti mu seharusnya berada di panti asuhan bukan disini."


"..."


"Kau hanya anak ya..."


Pria yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya sudah dikirim keluar oleh Amir menuju kedua temannya yang lain.


"Jadi begitu rupanya."

__ADS_1


Senja tidak begitu peduli dengan pangkat siswa lain di akademi ini. Menurutnya selama orang itu tidak menggangu maka terserah saja. Tapi itu hanya pemikiran Senja bukan siswa lainnya.


Mereka sangat tergila-gila pada kedudukan dan penghormatan sehingga rakyat biasa yang masuk akademi ini sering ditindas dan dilecehkan seperti Amir contohnya.


"Tapi aku rasa, aku tidak perlu bertindak untuk itu." gumam Senja saat melihat betapa hebatnya Amir menghajar para perisak itu.


"Kukira dia pemalu, ternyata... Ah sudahlah."


Senja segera meninggalkan tempat itu dan membiarkan kejadian ini. Menurut Senja jika guru saja tidak bisa bertindak apalagi dia. Takutnya semakin Senja membela para korban maka si perisak akan semakin gila dalam aksinya.


****


"Akhirnya selesai juga," seru Senja sambil meregangkan tubuhnya.


Sejak kejadian di taman belakang ia sudah tidak melihat Amir dikelas untuk pelajaran selanjutnya. Meski begitu Senja sama sekali tidak merasa bersalah karena para perisak juga tidak hadir.


"Entah apa yang terjadi selanjutnya, aku terlalu lelah untuk memikirkan itu." gumam Senja sebelum pergi meninggalkan kelas.


Selama perjalanan Senja tidak mendapati rumor apa pun. Ia tidak tahu apakah perkelahian di taman belakang sudah beredar atau belum tapi yang jelas para siswa terlihat acuh tak acuh dengan itu semua.


Setelah sampai di kamar asrama, Senja segera melepaskan penatnya dengan berendam air hangat. Ia butuh mengembalikan staminanya untuk sesi latihan sore ini.


"Dian, bagaimana?" tanya Senja saat Dian hendak memakaikan pita di rambutnya.


"Belum ada jawaban Nona, mungkin besok baru akan tiba."


"Terlalu lama, aku butuh malam ini juga."


"Baik nona, akan saya usahakan."


****


Setelah latihan berat bersama Lucas, akhirnya Senja berhasil mengendalikan air danau. Meski belum sempurna setidaknya ia tidak merasa pegal dan berat ketika membolak-balikkan air tersebut.


Senja merasa usahanya terbayar sudah saat ia dengan senang menunjukkan hal itu pada Lucas. Dan tentu saja seperti biasa Lucas selalu memberikan acungan jempol pada setiap progresnya.


"Bagus, besok kau sudah bisa mengujinya dengan memindahkan itu."


Lucas menunjuk kearah batang pohon yang ada di sisi lain lapangan latihan. Batang pohon yang sebelumnya sangat susah digerakkan oleh Senja kini menjadi ujian akhir apakah ia sudah bisa masuk ketahap selanjutnya dari pelatihan ini.


"Sekarang?" tanay Senja dengan wajah malasnya. Ia sudah lelah berlatih membolak-balikkan air danau selama dua jam dan kini ia sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk itu.


"Tidak, besok juga bisa." balas Lucas yang membuat wajah Senja kembali senang.


"Baiklah, terima kasih Lucas."


Baru kali ini Lucas mendapatkan ucapan terima kasih dari wanitanya itu. Betapa bahagianya Lucas hingga rasanya ia ingin menculik Senja kembali ke istananya.


"Ekspresi menjijikan apa itu?" tanya Senja sambil melepaskan gumpalan air pada wajah Lucas.


"Huft, astaga sayang kau bisa buat aku kebasahan." balas Lucas dengan wajah mesumnya.


"Ih, jijik tahu. Jangan berpikir yang macam-macam, dasar mesum."

__ADS_1


"Hahaha, aku hanya bercanda."


Lucas segera mengeringkan pakaiannya dengan sihir api. Ia juga sempat bermain sesekali dengan Senja sebelum sesi latihan berakhir.


__ADS_2