Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Keputusan


__ADS_3

"Rasa sakit bukanlah penghalang besar namun keinginan untuk pulih adalah masalah utamanya."


******************#####****************


Setelah berhasil menangkap nona nya yang terlempar jauh, tanpa aba-aba dari siapa pun Dian dengan cepat membawa Senja pergi menuju Hutan Kegelapan. Tempat dimana Muna biasa melakukan latihan untuk meningkatkan kekuatannya.


Di rumah itu, Dian membaringkan Senja di salah satu kamar yang terhubung langsung dengan pemandangan danau di depannya. Danau itu sama seperti sebelumnya, tenang dan damai. Suasananya sangat cocok untuk bersantai dan sekedar menikmati suasana hutan.


Senja yang masih dipenuhi darah perlahan mulai membaik. Tubuhnya merestorasi dengan sendirinya. Namun sayangnya, itu tidak cukup untuk membuat seluruh darah di tubuhnya berhenti mengalir keluar.


"Bagaimana keadaan Nona saat ini?" tanya sebuah suara setelah sihir teleportasi di sekelilingnya menghilang.


"Kami masih berusaha untuk menghentikan pendarahannya," balas Dian sambil mengelap tubuh Senja yang dialiri darah yang sudah mengering.


"Kenapa kalian tidak memanggilku saat itu?" tanya suara itu lagi dengan kesal.


"Kau tahukan sifat Nona kita seperti apa? Jika kami lakukan itu, kau pikir ini akan merubah banyak hal?" tanya Lily kesal sembari menghilangkan rasa sakit di sekujur tubuh Senja.


"Sial," maki pria itu dengan membanting dirinya di atas kursi dekat ranjang.


"Arthur memberiku ini," lanjutnya sebelum melemparkan sekantong ramuan obat herbal.


"Katanya itu akan membantu Nona untuk menghentikan pendarahannya dan membuat tubuhnya kembali seperti semula."


Dian kemudian mengambil ramuan itu dan menggenggamnya dengan erat. Matanya masih tertuju pada Senja yang masih tertidur dengan darah yang tidak kunjung berhenti.


"Hah, aku harap ini akan bekerja dengan baik."


Dian hanya bisa menghela napas panjang sebelum mendekati tubuh lemah nona nya itu.


"Bagaimana bisa ini terjadi padanya? Dua tulang rusuk patah, salah satu pergelangan kaki hancur, kedua tangannya remuk..."


Perkataan pria itu terhenti saat melihat tubuh nona nya yang seperti habis jatuh dari ketinggian dan mengalami patah tulang hampir di sekujur tubuhnya.


"... Tidak hanya itu, bahkan jantungnya pun mulai hancur," lanjutnya sedih.


"Sudahlah Eza. Jika kau datang kesini hanya untuk mengatakan omong kosong seperti itu, sebaiknya kau pergi saja."


Nindia yang terlihat pucat mulai kesal dengan kejujuran Eza saat ini.


"Omong kosong katamu? Aku mengatakan yang sejujurnya. Meski Nona akan kesal dengan kehadiran ku disana, tapi setidaknya Nona tidak akan mengalami luka separah ini," bentak Eza kesal. Emosinya terus tersulut setiap kali mendengar erangan kesakitan dari bibir Senja.


"Jika kalian disini hanya untuk bertarung, keluar saja sana. Keadaan Nona sedang kacau dan kalian malah ribut mengenai hal yang sudah terjadi."


Dian yang sudah selesai memberikan ramuan obat pada Senja tampak kacau ketika mendengar kedua rekannya saling adu mulut.


Mereka lalu berhenti dengan saling menatap tajam satu sama lainnya. Mereka terlihat kacau dengan masih terus memantau keadaan Senja setiap detiknya. Sedikit saja ada gerakan dari tubuh Senja maka salah satu di antara mereka pasti bangun untuk memeriksanya.


Sudah lima jam sejak Nona mereka tertidur dengan tubuh seperti itu. Mereka sedikit bersyukur dengan adanya ramuan dari Arthur sehingga tubuh Senja kini sudah mulai berhenti mengeluarkan darah.


"Hari sudah menunjukkan pukul 10 pagi, tapi Nona masih belum menunjukkan tanda-tanda kesembuhan," lirih Dian frustasi. Wajahnya terlihat pucat dengan kerutan halus disepanjang dahinya.


"Aku tidak peduli dengan apa pun tapi jika sahabatnya bertanya, aku harus menjawab apa? Aku tidak mungkin mengatakan jika Nona sedang sekarat bukan?" tanya Dian penuh kebingungan.


Pasalnya jika kali ini nona nya tidak sadarkan diri sebelum pesta kedewasaan maka semua yang mereka sembunyikan sejak awal akan terungkap.


Hal ini membuat rasa cemas Dian menjadi bertambah dua kali lipat. Ia berharap jika saat ini nona nya akan baik-baik saja, setidaknya cukup untuk membuatnya sadar.


****


SENJA Point Of View


Semuanya tampak kacau, pikiran ku sedikit berputar tidak menentu. Bayangan yang kulihat kabur dengan beberapa titik-titik hitam di setiap pandangan.


"Dimana aku? Kenapa semuanya terlihat gelap. Apa ini?" tanyaku bingung saat pertama kali membuka mata dan hanya melihat kekosongan di hadapan ku.

__ADS_1


Semuanya kosong, hanya ada diriku seorang serta bayangan hitam yang terus memperhatikan ku dari kejauhan. Rasanya aneh tapi juga sedikit familiar.


"Hal terakhir yang aku ingat adalah..."


Perkataan ku terhenti saat aku dengan sigap meraba dada kiri ku yang terasa sangat sakit.


Aku menghela napas lega setelah mendapati dada kiri ku yang masih sama seperti sebelumnya.


Tidak ada luka ataupun goresan yang mengganggu hanya saja, entah mengapa rasanya sakit, begitu sakit sampai aku lupa berapa kali ini sudah terjadi.


Aku merasa beberapa tulang ku patah serta jantung ku yang perlahan mulai hancur.


"Apa aku sudah mati?" tanyaku saat kurasa tubuh ku mendingin seperti baru saja masuk ke dalam kulkas yang membeku.


"Ini aneh," lanjut ku saat sayup-sayup aku mendengar suara tangisan seorang wanita muda.


Suara itu terlihat segitu sedih dan menyakitkan. Dengan perlahan aku mencoba mencari tahu asal suara tersebut. Lama aku berjalan, tapi tidak sekalipun aku menemukannya. Rasanya seperti mencari sesuatu di balik kekosongan ini.


Saat aku mulai lelah, aku melihat seberkas cahaya terang di sudut lorong hitam ini. Cahaya itu terlihat kecil tapi setelah aku mendatanginya, cahaya itu perlahan berubah menjadi pintu yang rasanya begitu sangat familiar bagi ku.


"Pintu ini," lirihku sembari mengelus permukaan pintu mungil itu.


Pintu yang dihiasi oleh bunga kering yang saling terajut satu sama lain. Aku ingat dengan jelas jika bunga ini adalah pemberian dari ibu ku saat kami sedang berlibur musim panas beberapa tahun yang lalu.


Dengan ekspresi senang aku membuka pintu itu. Namun apa yang aku lihat sungguh membuatku hancur. Aku tidak sanggup menahan kaki ku untuk tidak tergelincir dan jatuh ke lantai. Perlahan aku menutup mulut ku yang sama sekali tidak bisa berkomentar apa pun.


Air mataku terus mengalir seperti hujan tak bertuan. Aku sedih sekaligus bingung dengan apa yang saat ini aku lihat.


"Siapa dia?" gumam ku pelan saat aku melihat seorang gadis yang kini tengah tertidur lelap di ranjangnya. Gadis itu terlihat mirip dengan ku, wajah kami sama persis bahkan tidak ada perbedaan sama sekali.


Jantungku berdetak dengan ritme yang kencang. Rasanya begitu sesak saat melihat kedua orang tuaku yang tengah tertidur pulas di samping gadis itu. Kulihat juga kakak ku, Farel yang saat ini sedang memegangi tangan gadis itu dengan wajah sedihnya.


Aku belum pernah melihat kakak ku berwajah sedih seperti itu. Dulu ia pernah menangis saat aku tidak sengaja terjatuh dari sepeda yang ia bawa, namun ini terlihat sangat berbeda. Aku yang sudah tidak tahan dengan pemandangan ini, segera mendatangi mereka.


"Ibu, ayah. Aku Bulan, aku disini," teriak ku sekali lagi, tapi mereka masih tetap setia di tempatnya.


Mereka sama sekali tidak menoleh apalagi melirik ku. Ini seperti bukan dunia ku, mereka bahkan tidak bergerak meski aku sudah berada tepat di hadapan mereka.


"Ini tidak nyata!" bentak ku kesal. Aku melihat gadis itu dengan tatapan menyelidik.


"Aku saat ini sedang berada di tempat yang berbeda. Tapi apa ini?" tanya ku saat melihat bahu gadis itu yang menunjukkan simbol setengah matahari.


"Ini jelas tidak mungkin terjadi," lanjut ku kaget saat menyadari jika saat ini yang ada dihadapan ku adalah gambaran dari dunia ku yang sesungguhnya.


"Apa takdir sedang bermain-main dengan ku sekarang?" teriak ku penuh urgensi.


Rasanya kesal tidak karuan, melihat keluarga ku yang bersedih dengan diri ku yang sebenarnya bukan aku, itu membuat ku muak dengan takdir yang mengikat ku saat ini.


"Apa kau puas melihat ku seperti ini, hah?"


betak ku jijik pada dinding kosong yang saat ini sudah berubah kembali menjadi hitam. Pemandangan sedih di hadapan ku perlahan mulai hilang seperti kaca yang pecah.


"Sungguh ironis melihat ini semua," gumam ku saat semuanya menghilang dan kegelapan kembali lagi mendatangi ku.


Aku dengan malas menjatuhkan diri ku ke lantai yang gelap. Aku sudah bosan dengan ini semua namun hal yang tidak terduga terjadi. Langit yang semula hitam, entah mengapa kini mulai menampakkan gambar demi gambar tentang kehidupan Senja yang sesungguhnya.


Gambar itu terlihat seperti rekaman film tua dengan berbagai adegan yang berbeda namun saling terhubung satu sama lainnya. Mulai dari ia kecil sampai ia dewasa, semua gambaran tentang hidupnya terlihat di atas kepala ku. Semua terlihat biasa saja namun akhirnya sangat mengejutkan.


"Apa maksud dari ini semua?" tanya ku saat melihat adegan pertukaran di antara kami berdua.


"Apa kau bermaksud supaya aku membalaskan seluruh dendamnya?" tanya ku lagi saat seluruh adegan mulai menunjukkan akhirnya.


"Heh, ini lucu sekali."


Aku tampak kacau saat semuanya perlahan mulai menghilang. Aku biasanya hanya membaca ini semua dari diary yang Senja asli tulis di buku tuanya namun saat ini aku menyaksikannya sendiri seperti sedang menonton film.

__ADS_1


"Aku muak dengan ini semua," lirih ku sembari menutup kedua mata.


Aku ingin ini berakhir dengan cepat namun saat aku merasa bahwa semuanya telah usai, entah mengapa kali ini aku mendengar suara tangisan yang terasa sangat nyata.


"Aneh, aku tahu takdir memang gila tapi apa ini?" tanya ku saat merasakan tetesan air yang menetes di atas wajah ku.


Rasanya begitu nyata dan tentu saja sangat tidak masuk akal. Perlahan aku membuka mata ku dan kali ini bukannya bayangan hitam yang terlihat namun cahaya putih yang sangat menyilaukan mata. Cahaya putih itu perlahan berubah menjadi warna yang membentuk setiap bagiannya.


"Apa ini?" batin ku saat mendengar suara ribut-ribut yang membuat ku merasa sangat kesal.


"Ribut sekali, sebenarnya ini dimana?" tanya ku lagi dalam hati.


Aku mencoba untuk melihat ke kanan dan kiri namun yang aku lihat hanyalah ruangan yang penuh dengan perabotan serta pemandangan danau yang diterangi cahaya mentari.


"Vanilla!" lirih ku saat melihat Vanilla yang masih menangis dengan lucunya. Wajahnya memerah keheranan saat melihat aku yang sudah terbangun dari tidur.


"Dimana ini?" tanya ku sekali lagi sambil menyeka air mata di wajah hewan suci ku itu.


"Jangan tidur lagi, huhuhu..." serunya sedih sambil memegangi tanganku yang pucat. Aku hanya bisa mengerutkan wajah ku aneh saat melihat kulit wajah ku yang putih seperti mayat hidup ini.


"Baiklah, tapi dimana ini?" tanya ku lagi saat berusaha untuk berdiri dari kasur.


"Huhuhuhu..."


Vanilla hanya bisa menangis tanpa menjawab satupun pertanyaan ku. Dia tampak syok sekaligus bahagia dengan keadaan ku saat ini.


"Vanilla, bisakah kau menyuruh mereka untuk diam?" tanya ku ketika rasa pusing mulai menghantam kembali.


"Aku merasa pusing mendengar teriakan mereka yang seperti orang gila itu," lanjut ku kesal.


Vanilla kemudian keluar dari kamar ku dan entah apa yang ia katakan, namun yang pasti setelah itu mereka semua masuk ke kamar ku seperti orang kesetanan.


Wajah mereka tampak pucat saat melihat diri ku. Aku tidak bisa memaksakan diri untuk menatap mereka karena kepala ku rasanya sangat berat, seperti ada sesuatu yang sedang menimpa di atasnya. Aku juga merasakan ada sesuatu yang mengalir keluar dari hidung ku ini.


"Astaga Nona!" teriak Dian yang dengan cepat menopang diri ku yang perlahan mulai kehilangan keseimbangan.


"Anda berdarah, hidung anda mimisan," teriaknya lagi sambil menyeka hidung ku dengan kedua tangannya.


"Aku akan bawakan obat," seru Eza yang dengan cepat menghilang dari kamar ku.


"Aku akan menjaga bagian luar," timpal Nindia sambil membawa Kun dan juga Lily keluar dari kamar.


Rasanya aneh, tapi entah mengapa aku suka. Perlahan aku tersenyum pada Dian saat melihat dirinya yang berwajah panik.


"Sudah berapa lama aku tertidur?" tanya ku pelan.


Dian yang mendengar jawaban ku hanya menangis dengan sedih. Ia terus membersihkan darah di hidung ku tanpa berkata apa pun.


"Baiklah, maafkan aku karena sudah membuat kalian khawatir."


"Nona, anda sangat kejam kali ini," balas Dian setelah beberapa saat hening.


"Kami sangat takut jika anda tidak akan bangun dalam waktu dekat, tapi lihat ini."


"Hahaha..."


Aku hanya bisa tertawa lucu saat melihat wajahnya Dian yang menangis. Rasanya lucu melihatnya seperti ini, karena biasanya Dian hanya memasang wajah dingin dengan raut cemberutnya.


"Jangan tertawa, ini sama sekali tidak lucu."


"Aku tahu, tapi entah mengapa aku tidak bisa berhenti."


Akhirnya aku kembali sadar disaat yang tepat. Kali ini aku sudah memantapkan hati untuk melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Apa yang terjadi sebelumnya adalah sebuah kesalahan dan apapun yang di lakukan oleh Pangeran Kelima ataupun ibunya, itu adalah perbuatan yang salah.


"Mereka layak mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan. Hukum adalah hukum dan kematian adalah hal yang paling baik untuk keduanya."

__ADS_1


__ADS_2