Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Penyamaran


__ADS_3

"Rahasia akan tetap menjadi rahasia apabila tidak terungkap."


******************#####****************


Wanita muda itu duduk dengan santai dihadapan Senja. Ia terlihat begitu asik dalam menikmati makanannya tanpa memperdulikan keadaan sekitar yang mulai ricuh.


"Dia dalam masalah besar kali ini," bisik salah seorang pembeli yang duduknya tidak jauh dari mereka.


"Tuan Muda yang malang." timpal yang lainnya dengan nada tabah.


Bisikan-bisikan itu semakin lama semakin aneh dan absure, ada yang mengatakan jika siapa pun yang berada disekitar wanita muda ini akan mengalami kesialan yang besar, ada juga yang mengatakan jika wanita ini sangat kasar dan tidak sungkan menghajar mereka yang mengganggunya.


"Apa mereka itu bodoh? Aku jadi mencurigai rumor itu. Jika memang dia sejahat itu, mengapa dia tidak membunuh kalian saat ini?"


"Semua yang kalian katakan, terdengar sangat jelas disini," gumam Senja pelan saat melihat wanita muda dihadapannya yang tetap tenang menikmati makanannya.


"Apa kau tidak terganggu dengan ini?" tanya Senja sebelum meletakkan cangkir tehnya keatas meja.


"Kaira,"


"Hah?"


"Nama ku Kaira,"


"Ah, iya Kaira. Maafkan aku tidak menanyakan nama mu terlebih dahulu," balas Senja canggung karena lupa tata krama dengan orang baru.


"Perkenalkan nama ku, Zain."


Kaira hanya tersenyum manis dihadapan Senja saat ia dengan sopan meminta maaf padanya.


"Tidak masalah, ini juga salah ku karena tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu," balasnya ramah dengan senyum simpul melingkar di bibirnya.


"Hahaha, sepertinya kau wanita yang sangat seru. Berbeda dari rumor," Seru Senja yang membuat banyak orang yang berada disana terdiam seketika.


Kaira adalah wanita muda yang sangat cantik, kulitnya yang eksotis membuatnya terlihat lebih rupawan. Bibirnya yang melengkung dengan indah membuat para laki - laki menjadi lebih tertarik padanya.


Tubuhnya yang tinggi dan ramping membuat Kaira terlihat lebih sempurna. Jelas sekali jika banyak wanita bangsawan yang berada di kerajaan El-Aufi ini membencinya.


"Mereka seperti itu karena aku sangat sempurna," seru Kaira tegas sambil memperlihatkan bentuk tubuhnya yang indah.


" Hahaha "


Tawa Senja nakal ketika melihat payudara Kaira yang besarnya melebihi dirinya.


"Sepertinya aku paham penderitaan mereka,"


"Baiklah, meski begitu bukankah rumor ini sangat gila?"


"Aku tidak terlalu peduli dengan itu, karena mereka sama sekali tidak mengenal ku," jawab Kaira santai sebelum menikmati kue coklat dihadapannya.


"Pria ini sangat kuat Nona, ia bisa terlihat santai begitu meski kau sudah menekannya," seru Opi, hewan magic milik Kaira.


Opi sendiri adalah seekor naga yang memiliki kekuatan mana sebanding dengan Phoenix milik Senja.

__ADS_1


"Aku tahu," jawab Kaira saat menatap lembut kearah Senja.


"Mereka bertingkah gila karena tekanan yang aku berikan, tapi pria muda ini bahkan tidak terpengaruh sedikit pun."


"Nona, apa yang kau lihat?" tanya Senja acuh tak acuh saat mengetahui bahwa Kaira tengah menatap dirinya.


"Nona, dia sepertinya mengetahui kekuatan mu, meski kau sudah menutupinya," lirih Ristia saat Kaira hanya menjawab pertanyaan Senja dengan senyum hangatnya.


"Sepertinya wanita ini ingin bermain dengan ku,"


"Apa ada yang salah dengan ku, Nona?" tanya Senja sekali lagi.


"Tidak, kau hanya terlihat cantik bagi ku."


"Nona, ada yang aneh dengan atmosfir di kafe ini," seru Ristia yang baru saja menyadari keadaan sekitarnya.


"Mereka seperti ditekan oleh kekuatan yang membuat mereka menjadi liar seperti itu."


Lanjut Ristia saat melihat sikap para pembeli yang terlihat tidak terkontrol namun tidak juga hilang kendali.


"ini sangat aneh," gumam Ristia saat mencoba untuk melihat sumber tekanan tersebut.


Senja yang tidak merasakan apa pun hanya bisa diam dengan apa yang baru saja dikatakan Ristia. Memang benar ketika wanita muda ini masuk, mereka yang berada di dalam kafe menjadi tidak terkontrol namun tidak juga menggila.


"Nona!" pekik Ristia keras yang membuat telinga Senja sedikit berdengung.


"Ugh," erang Senja sambil menyentuh telinganya yang sakit.


"Ada apa?" tanya Kaira saat melihat ekspresi kesakitan pada wajah Senja.


"Hmm, baiklah,"


"Ada apa?" tanya Senja kesal.


"Nona, ternyata Kaira lah yang membuat mereka tertekan sehingga tanpa sadar mereka menghinanya," jelas Ristia dengan gugup.


"Tunggu, maksud mu dia sengaja melakukan itu untuk membuat mereka menghinanya?"


"Iya Nona."


"Omong kosong macam apa itu?"


"Nona, ini sungguhan. Mungkin saja ia melakukan itu untuk membuat mereka menjadi tertekan tanpa harus menjadi gila,"


"Baiklah, kalau begitu apa alasannya melakukan ini semua?"


"Bisa saja dia melakukan itu untuk mengetahui kekuatan musuh. Lihat saja dari sekian banyak orang hanya Nona yang tidak terpengaruh kekuatannya," jawab Ristia dengan serius.


"Hah, jadi maksud mu. Kaira menghampiri ku bukan karena aku ketahuan menyamar tapi karena aku tidak terpengaruh kekuatannya."


"Iya, bisa saja begitu," jawab Ristia singkat.


"Ini gila," lirih Senja sambil melihat kearah Kaira yang masih asik dengan makanannya.

__ADS_1


"Apa kau tahu hewan magic apa yang sedang bersamanya?"


"Saya tidak bisa memastikannya Nona, namun kekuatan mana yang keluar dari hewan tersebut hampir sebanding dengan Vanilla," jawab Ristia memastikan aura Opi saat ini.


"Namun, auranya berbeda dari Phoenix. Ia lebih mirip naga dibandingkan Phoenix."


Lanjut Ristia yang masih bingung dengan aura milik Opi.


"Mungkin saja itu salah satu dari keduanya,"


"Ah, iya Ristia. Kabarkan pada Kun untuk menjauh dari jangkauan ku sekarang."


Lanjut Senja sambil memikirkan Kun dan Nindia saat ini.


"Mereka memiliki kekuatan yang berbeda, jika Nindia bertemu dengan Kaira maka masalahnya akan semakin besar selain itu, Kun juga akan sulit mengontrol kekuatannya saat tidak ada Lily disini."


"Baik Nona,"


"Sepertinya aku harus kembalikan Nindia ke wilayah timur dan membawa Eza kesini," gumam Senja sebelum meletakkan cangkir tehnya yang sudah kosong keatas meja.


Senja sudah berada cukup lama di kafe tersebut sampai cangkir tehnya sudah di isi berulang kali. Ia tidak bisa pergi karena Kaira masih menikmati makanannya dan mereka juga sedang mengobrol ringan pada saat itu.


"Nona, sepertinya kau sangat menikmati makanan ini?" tanya Senja saat cangkir tehnya di isi kembali.


"Makanan di kafe ini sangatlah lezat, aku bahkan datang kesini hampir setiap harinya," jawab Kaira dengan mulut yang masih penuh dengan makanan kering.


"Ah, begitu,"


"Tuan Zain, maaf membuat anda bosan. Jika tidak keberatan maukah anda menemani saya sampai selesai?"


"Sayang sekali, aku tidak bisa melakukannya. Saat ini aku sedang sibuk dan harus bergegas pergi." Senja menjawab dengan ekspresi kecewa di wajahnya.


" Begitukah?"


"Iya itu benar."


"Kucing sialan itu tidak mau mendengar ku dan sekarang dia tengah menuju kesini."


Senja terlihat kesal ketika mendengar kabar dari Ristia bahwa Kun tengah menuju kearahnya.


"Maafkan aku untuk ini," seru Senja kemudian memanggil salah satu pelayan untuk membayar tagihan.


"Sebagai tanda maaf, saya akan mentraktir anda hari ini." lanjutnya sambil membayar seluruh makanan yang ada di meja.


"Tidak perlu Tuan Muda Zain, saya..." perkataan Kaira terhenti saat melihat senyum ramah dari Senja.


"Tidak masalah, ini bukan apa - apa bagi saya," seru Senja ramah sebelum berdiri dari kursinya.


"Sampai jumpa lagi."


Lanjutnya kemudian pergi meninggalkan kafe tersebut.


"Dalam mimpi mu."

__ADS_1


"Aku harap ini yang terakhir," gumam Senja pada dirinya sendiri dengan ekspresi dingin diwajahnya.


__ADS_2