Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Wilayah Timur Pt 3


__ADS_3

"Kota mati akan selalu membawa mu kepada dua hal, yaitu kedamaian atau kehancuran."


******************#####****************


Setelah menyelesaikan makan siangnya, Senja kemudian pergi mengikuti Agra menuju area terdalam wilayah tersebut. Area ini bisa dikatakan terpisah dari area luar yang artinya baik daerah penambangan mau pun area gedung baru yang akan dibuat Senja berada jauh di luar area tersebut.


Bagian wilayah timur sangatlah luas, meski yang terlihat hanyalah gurun pasir, namun karena luasnya daerah tersebut sehingga membuat Senja membaginya menjadi tiga area. Pertama adalah area terlarang, kedua adalah area dalam, dan ketiga adalah area lintas dagang.


Area terlarang adalah area tempat penambangan berlian dilakukan, sehingga yang bisa memasuki tempat tersebut hanyalah Agra dan juga penambang. Selain itu daerah terlarang sangat terisolasi dari luar, karena Senja dengan sengaja memasang halusinasi tipuan.


Hal ini bertujuan agar mereka yang melihat tempat tersebut hanya bisa melihat gurun pasir yang kering dan tandus. Namun pada kenyataannya, tempat itu sangatlah subur dan penuh dengan pohon kurma untuk menunjang aktifitas penambangan.


Yang kedua adalah area dalam yang merupakan area yang sama sekali tidak pernah disentuh oleh Senja karena disana terdapat mana mati yang jumlahnya bahkan jauh lebih banyak dari dua area yang lain.


Alasan mengapa wilayah timur tidak bisa dihuni adalah karena mana mati yang ada disana namun hal tersebut tidak banyak diketahui oleh pihak mana pun karena selama mereka datang dan pergi, mereka hanya berkeliaran di daerah lintas dagang saja.


Hal tersebutlah yang menjadikan Senja membuat pembatas transparan agar manusia biasa tidak terjebak di dalam area dalam. Untuk area lintas dagang, Senja sengaja membuat bangunan besar dengan lahan yang luas untuk Arthur dan kedua temannya.


Hal itu dilakukan agar mereka bisa membuat obat-obatan secara lebih efisien dan menjualnya langsung kepada para pedagang yang berlalu lalang antara kerajaan El-Aufi dan kerajaan Green.


Selebihnya karena kekuatan pemurnian yang dimiliki oleh Vanilla, area terlarang dan area lintas dagang bisa digunakan, sedangkan untuk area dalam, mereka butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa memurnikannya.


Oleh karena hal itu Senja mulai mengabaikan area tersebut.


"Sebelumnya aku sudah membuat perjanjian dengan mereka untuk jalur pertambangan tapi mendengar detail lebih jelas dari Agra membuat aku yakin bahwa mereka sangat membutuhkan tempat ini,"


Beberapa saat yang lalu, Senja sudah menginformasikan kepada Eza untuk membantu pembangunan karena perubahan jadwal yang mendadak dari akademik.


"Bantulah mereka selama kau berada disini," seru Senja datar.


"Akademik akan dibuka dalam kurun waktu dua minggu lagi dan aku ingin agar bangunan tersebut bisa selesai dengan cepat," lanjut Senja saat menaruh garpu di atas piringnya.


"Baik Nona, saya mengerti," balas Eza singkat kemudian pergi keluar bersama dengan Dian.


"Aku harus menyelesaikan masalah ini dengan cepat," gumam Senja saat itu sebelum ia pergi bersama Agra menuju area dalam.


"Selamat datang Nona," seru seorang pria tua dengan tongkat ditangannya.


"Selamat datang Nona," timpal beberapa orang yang ada dibelakang pria tua tersebut.


"Nona, mereka adalah rakyat dari kota tersebut dan dia..."


Perkataan Agra terhenti ketika si pria tua memotongnya.


"Nama saya Bazel, dan saya adalah walikota dari kota mati ini Nona," seru Bazel dengan senyum hangat mengembang diwajahnya.


"Oh begitu,"


"Ternyata di kota ini juga memiliki pemimpin, ya itu wajar sih,"


"Agra, pergilah dan cepat selesaikan urusan mu," lanjut Senja datar yang malah mendapatkan tatapan penuh tanda tanya dari bawahannya itu.


"Tapi Nona, saya..."


Perkataan Agra terputus ketika Senja mengangkat tangannya.


"Aku datang kesini bukan untuk mengambil waktu kerja mu, jadi kerjakan apa yang sudah aku perintahkan sebelumnya," lirih Senja kesal.


Agra yang mengetahui jika nona nya sedang kesal hanya bisa mengangguk pelan sebelum pergi keluar dari area dalam.


"Nona, sebentar." lirih Agra sebelum ia benar-benar keluar dari area tersebut.


"Bawalah Nindia, dia adalah salah satu orang kepercayaan saya. Setidaknya anda akan aman bersamanya," bisik Agra sebelum menghilang dari pandangan Senja.


Sebenarnya Agra bukan mengkhawatirkan Senja karena takut disakiti oleh warga kota atau pun ditipu oleh mereka hanya saja, tidak baik membiarkan seorang nona bangsawan pergi sendirian tanpa pengawalan seorang pun.


Setelah Agra keluar dari daerah terlarang, Senja kemudian dibawa oleh Bazel masuk ke dalam kota bawah tanah bersama dengan Nindia dan juga rakyatnya yang lain.


"Nona, inilah tempat tinggal kami," seru Bazel ketika penampakkan kota bawah tanah mulai terlihat.


"Cantik," gumam Senja pelan namun masih bisa didengar oleh Bazel dan yang lainnya.


Mereka hanya tersenyum bahagia ketika mendengar komentar Senja mengenai tempat tinggal mereka tersebut. Kota bawah tanah ini terlihat sangat cantik dan megah, bangunannya bergaya klasik dengan batuan dan kayu yang dipahat dengan rapi.


Ada juga beberapa hiasan indah seperti patung dan lukisan yang berada disekitaran bangunan dan juga jalan yang penuh dengan batuan kerikil indah.


Selain itu penerangan kota bawah ini menggunakan lampu sihir berwarna kuning keemasan sehingga itu menambahkan kesan artistik didalamnya.

__ADS_1


"Kota ini sudah ada sejak ratusan tahun, dan kami telah tinggal disini lebih dari tujuh keturunan," jelas Bazel saat mereka tengah berjalan melewati bangunan indah tersebut.


"Karena kami hidup dengan menggunakan mana mati sebagai kekuatan, tempat ini sangatlah cocok bagi kami untuk ditinggali," lanjut Bazel penuh semangat.


"Tempat ini mirip cerita dongeng yang sering dibacakan oleh mama,"


"Bagaimana cara kalian membangun tempat ini?"


"Kami membangun tempat ini dengan sihir, selain karena sebagian besar diantara kami berspesialis sebagai arsitektur sehingga mudah bagi kami membuatnya dengan indah," jawab Bazel dengan bangganya.


Senja juga sudah mengetahui sedikit informasi tentang mereka dari Agra pada saat perjalanan menuju area dalam.


"Begitu rupanya,"


"Pantas saja sebagian besar dari penambang berasal dari mereka. Tentu ini sangat menguntungkan karena mereka bisa mengambil berlian untuk ku tanpa takut rusak,"


Setelah puas mengelilingi kota tersebut, akhirnya Bazel membawa Senja masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Siapkan teh dan juga makanan ringan untuk Nona," seru Bazel kepada bawahannya yang pada saat itu sedang menjaga pintu masuk ruangan tersebut.


"Baik, tuan," balas si penjaga sebelum menghilang dari balik pintu.


"Silahkan duduk Nona," lanjut Bazel ketika mereka sudah berada di dalam ruangan.


"Nindia, kau juga duduklah," lirih Bazel kepada Nindia saat melihatnya masih setia berada di belakang Senja.


"Tidak perlu kakek, saat ini saya sedang bertugas,"


"Kakek?"


"Sepertinya tuan Agra lupa menceritakan ini pada anda," seru Bazel dengan dengan raut wajah kaku.


"Nindia adalah cucu saya, dia juga merupakan sahabat tuan Agra sejak lama dan karena itu juga, tuan Agra mengangkatnya sebagai sekretaris manajemennya," lanjut Bazel sedikit panik dengan sikap Senja yang acuh tak acuh terhadap penjelasannya.


"Ah, jadi dia yang dimaksud Agra semalam,"


"Baiklah, aku juga tidak begitu peduli,"


"Tuan Bazel pasti tahu maksud kedatangan ku kesini bukan?" tanya Senja ketika penjaga sebelumnya sudah kembali dengan nampan berisi teh dan juga beberapa cemilan.


"Lalu apa kalian juga suka melakukan itu?"


"Seperti yang Nona ketahui, kami memang peri gelap namun bukan berarti kami setuju dengan segala tindak kejahatan,"


"Itu bagus," lirih Senja sambil melemparkan sebuah kotak hitam kearah Bazel.


"Apa ini Nona?" tanya Bazel penasaran ketika melihat kotak hitam tersebut.


"Bukalah, maka kau akan mengetahuinya,"


"Astaga!" teriak Nindia kaget ketika kakeknya sudah membuka kotak tersebut.


"Bagaimana anda bisa mendapatkan ini?"


Sejujurnya saja Bazel sama sekali tidak mengetahui akan hal tersebut karena Agra sama sekali tidak memberitahukannya sebelumnya.


"Aku menemukannya,"


"Tidak mungkin,"


"Mengapa tidak? Memangnya ada apa dengan benda itu?"


"Nona ini sangatlah polos, bahkan ia tidak mengetahui bahwa benda yang ia bawa adalah malapetaka besar bagi dunia sihir," batin Nindia yang juga mendapatkan anggukan kepala dari Bazel.


Bazel dan Nindia yang melihat sikap santai Senja hanya bisa menahan napas saja.


"Sungguh Nona Muda yang baik hatinya," gumam Bazel singkat ketika melihat Senja yang mengibas-ngibaskan tangannya ke kiri dan kanan.


"Nona, saya akan menceritakan semuanya yang saya ketahui," seru Bazel dengan senyum hangat diwajahnya.


"Baguslah,"


"Nona, mutiara ini adalah buatan dari Klan Nara. Mereka adalah Klan terkutuk yang selalu melawan alam demi mendapatkan kekuatas," jelas Bazel dengan raut wajah serius namun masih tetap tersenyum ramah pada Senja.


"Seperti yang diceritakan Agra sebelumnya,"


"Mereka adalah manusia yang sangat dibenci oleh peri hitam seperti kami. Selain karena mereka dan kami sama-sama menggunakan mana mati sebagai kekuatan, mereka menyalahgunakan kekuatan tersebut untuk mendapatkan lebih dari keputusasaan manusia biasa."

__ADS_1


" ... "


"Mereka mengekstraksi para manusia biasa untuk mengambil mana keputusasaan yang keluar akibat percobaan gila tersebut. Mereka juga menjadikan diri mereka sebagai Lich yang akan hidup abadi dengan tubuh yang bercahaya gelap."


" ... "


"Karena hal itu pula para manusia lainnya menyamakan kami, para peri hitam sebagaimana mereka menyebut penyihir hitam hanya karena kami sama-sama menggunakan mana mati sebagai sumber kekuatan," jelas Bazel dengan raut wajah kesalnya.


"Kami membenci mereka karena tanpa alasan jelas kami juga dijauhi dan dibenci karena ulah yang mereka lakukan," lanjutnya dengan gigi yang saling bertaut.


"Iya itu sangat jelas, mereka akan takut kepada apa yang mereka yakini sebelumnya,"


"Apa benda ini bisa membuat seseorang menjadi gila?" tanya Senja penasaran, apalagi setelah kejadian terhadap Hyena dan juga Macan Kumbang saat itu.


"Tentu saja, selain itu juga mereka bisa mengendalikan siapa pun yang sudah memakan benda ini serta kekuatan yang didapatkan akan semakin kuat nantinya," jawab Bazel yakin dengan pengetahuannya.


"Namun Nona, ada yang aneh dari mutiara ini. Mereka terlihat tidak sempurna dan akibat dari memakannya, bukan hanya akan menjadi gila, mereka juga akan kehilangan kesadaran penuh dan kemudian mati. Meski pun pada dasarnya mereka juga akan mati," lanjut Bazel menjelaskan keadaan mutiara hitam tersebut.


"Jadi maksud mu, benda ini sedang dalam tahap pengembangan begitu?"


"Iya Nona, dan resiko dari mengkonsumsinya sangatlah parah."


"Baiklah aku mengerti," seru Senja dingin kemudian mengambil kembali kotak hitam tersebut.


"Akan kuberikan satu pada mu untuk diteliti," lanjut Senja sambil menyerahkan salah satu mutiara hitam pada Bazel.


"Selain itu apa saja yang bisa dilakukan mutiara ini?" tanya Senja memikirkan bahwa jika mereka bisa menjadi Lich, besar kemungkinan jika mereka juga bisa membuat monster lainnya.


"Selain Lich, mereka juga bisa membuat Golem dengan mutiara ini, Nona," balas Bazel saat memasukkan mutiara tersebut ke dalam kantong magic miliknya.


"Golem? Bukankah itu hanya mahkluk mitos saja?"


"atidak Nona, dulu pada saat pembantaian besar, mereka menggunakan Golem sebagai Senja utama untuk mengalahkan musuh," jawab Bazel sambil mengingat kejadian pada saat Klan Nara dibantai.


"Sepertinya, pada saat itu sebagian dari mereka berhasil melarikan diri dan sekarang sepertinya mereka sudah mulai bergerak untuk menunjukkan dirinya kembali." gumam Bazel pelan namun masih bisa didengar oleh Senja.


"Jadi mereka Klan yang sebelumnya dibicarakan oleh Dian," batin Senja mengingat cerita Dian tentang penyihir hitam yang dibantai habis.


"Sayang sekali, ternyata harapan Dian belum terkabulkan,"


"Golem, penyihir hitam, dan sihir... Sepertinya aku memang sudah masuk ke dalam cerita dongeng yang setiap malam dibacakan mama,"


"Melelahkan sekali, huh. Ini apa lagi ribut-ribut dari tadi," gerutu Senja kesal kemudian memukul - mukul udara kosong disekitarnya.


"Bisa diam tidak sih?" bentak Senja Kesal yang malah membuat Bazel dan Nindia kaget.


"Ada apa Nona? Apa ada masalah?" tanya Nindia bingung dengan teriakan Senja yang tiba-tiba.


"Hah, tidak ada,"


"Bagaimana jika kita selesaikan ini dengan cepat,"


Senja kemudian mengeluarkan dokumen perjanjian dari balik saku sihir penyimpanannya yang diberikan oleh Lily sebelum datang kesini.


"Apa ini Nona?" tanya Bazel penasaran saat melihat dokumen hitam tersebut.


"Perjanjian."


"Perjanjian?"


"Tentu saja, kalian tidak berpikir untuk tinggal secara gratis bukan?" tanya Senja dingin masih dengan ekspresi kesalnya.


"Tentu saja, untuk bisa tinggal di wilayah ku, selain bekerja dengan keras kalian juga harus membayar uang sewanya bukan,"


Bazel kemudian mengambil dokumen tersebut lalu membukanya. Awalnya Bazel terlihat gugup namun perlahan ia mulai terlihat santai karena perjanjian yang dibuat Senja sangat menguntungkan baginya.


"Aku mengira jika Nona ini licik dengan memanfaatkan wajah polosnya, ternyata dia memang benar-benar polos," batin Bazel setelah mengetahui syarat dari perjanjian tersebut.


"Tentu saja Nona, saya akan sangat setuju dengan ini," seru Bazel kemudian mengambil pena dari kantong bajunya.


"Saya akan menepati seluruh isi perjanjian ini," lanjut Bazel setelah menandatangi dokumen tersebut.


"Itu sangat bagus, dan dengan ini aku mendapatkan sekutu baru,"


Tentu saja perjanjian tersebut hanya menyebutkan jika para peri hitam harus selalu membantu Senja dalam keadaan apa pun.


"Kami akan siap menolong Nona, karena Nona telah mengizinkan kami tinggal disini tanpa harus takut akan pengusiran,"

__ADS_1


__ADS_2