
"Suara dapat membuat arti yang berbeda tergantung dengan frekuensinya."
*****************#####******************
Setelah mengetahui fakta jika dirinya sudah memecahkan rekor, Senja semakin pucat. Ia tidak ingin kekuatannya diketahui banyak pihak, maka dari itu Senja berjanji untuk tidak berlebihan di kedua sesi lainnya.
"Aku harus berhati-hati kali ini." batin Senja sambil menyeka sisa air di bibirnya.
"Amir, aku akan pergi ke toilet sebentar, jika nomor ku di panggil katakan saja untuk menunggu selama lima menit."
"Baiklah, tapi apa kau yakin baik-baik saja?"
"Tentu saja."
Senja kemudian berdiri dari duduknya dan melangkah pergi menuju sisi lain ruang tunggu. Beberapa menit kemudian Senja kembali dengan wajah yang lebih segar.
Tentunya saat Senja kembali ujian praktek sesi kedua sudah dimulai. Dengan santai Senja kembali duduk di kursinya dan menonton penampilan siswa tersebut.
Satu-persatu dari mereka dipanggil untuk tampil dan tentu saja tidak butuh waktu lama hanya kurang dari dua menit para siswa sudah berhasil membunuh goblin.
"Nomor 4," teriak staff yang menggantikan Prof Philip untuk memanggil peserta.
Dua menit telah berlalu dan staff tersebut kembali memanggil nomor peserta lain. Kali ini adalah giliran Amir yang tampil. Ia dengan tegas melangkah menuju podium.
Sama seperti siswa lainnya tidak butuh waktu lama bagi Amir untuk membunuh goblin tersebut. Ia terlihat begitu menikmati saat sihir anginnya dengan tajam menebas leher goblin itu.
"Seperti pisau," lirih salah satu siswa yang berada dua kursi disamping Senja.
"Dia memang kuat makanya banyak siswa yang tidak suka dengannya." balas siswa lain yang berada di belakang siswa tersebut.
"Dia itu kan memang bla...bla..."
Karena seruan tidak sengaja banyak siswa yang kini mulai bergosip tentang Amir. Mereka terlihat tidak suka dan entah mengapa ada perasaan takut terhadap sosok Amir tersebut.
Senja yang mendengar obrolan aneh mereka merasa bahwa Amir tidak seperti yang mereka ucapkan. Amir sangat baik dan polos, ia cukup pemalu dan ramah.
Meski pun sesekali Senja pernah memergoki Amir melakukan hal yang aneh tapi itu tidak bisa dijadikan sebagai motif untuk membencinya.
Saat Senja sedang asik memikirkan spekulasi tentang Amir, tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan suara Amir yang terdengar cukup lembut.
"Goblin adalah monster yang bodoh sehingga mudah bagi kita untuk membunuhnya." seru Amir sebelum duduk di kursinya.
"Ah, begitu." balas Senja kaget namun sedetik kemudian ia kembali seperti semula.
"Kau, kau terlihat baik-baik saja." lanjut Senja mencoba untuk mengalihkan pikiran negatifnya.
"Hahaha, tentu aku baik-baik saja. Apa kau ingin aku beri tips?"
"Tidak, aku bisa melakukannya sen..."
"Aku tahu itu, aku hanya bertanya saja pada mu jangan terlalu dianggap serius." potong Amir yang berhasil membuat wajah Senja memerah karena malu.
"Apa kau sering seperti ini?"
"Maaf?"
"Aku tanya apa kau sering bertingkah seperti ini? Menyebalkan sekali."
"Ugh, maaf aku sudah menggoda mu. Aku hanya ingin kita lebih dekat."
"..."
"Aku pikir karena kita sudah beberapa kali berbicara bahkan kau sampai berinisiatif untuk mendekati ku, sehingga aku pikir kita sudah menjadi teman."
Amir terlihat sedih dan itu cukup menggangu bagi Senja. Ia sangat tidak suka menjadi pusat perhatian semua orang tapi karena perilaku aneh Amir padanya, hal itu berhasil membuat beberapa siswa memperhatikan mereka.
"Apa kita bukan teman?" tanya Amir dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Ugh, jangan lihat aku seperti itu." batin Senja sesak.
"Lady, aku bisa membakarnya jika kau mau." bisik Khalid yang sejak tadi memperhatikan interaksi antara keduanya.
"Sial, jangan mulai lagi deh." gumam Senja kesal.
"Senja, apakah...."
"Nomor 9" teriak staff yang memanggil nomor ujian Senja.
"Akhirnya aku selamat juga," batin Senja dengan senyum lega merekah di bibirnya.
Senja kemudian pergi meninggalkan kursinya, ia sengaja tidak menunggu lanjutan dari pertanyaan Amir karena itu bisa membuatnya stres.
Amir yang melihat punggung belakang Senja menjauh mulai terlihat murung. Matanya menajam dengan cahaya merah pekat mengitarinya.
"Hah, lelah sekali." batin Amir sembari mengibaskan rambutnya kebelakang.
****
"Sudah siap?" tanya Prof Philip dengan senyum seperti biasa.
"Sud... tunggu Prof, anda tidak mencoba menguji kesabaran saya lagi kan?" tanya Senja menyelidiki.
"Pfft, tidak."
__ADS_1
Prof Philip mencoba untuk menahan tawanya namun hal itu dapat dilihat jelas oleh Senja dan beberapa staff penjaga disana.
"Prof saya serius, jangan berlebihan." keluh Senja tidak senang.
"Baiklah, baiklah. Kau bisa mulai sekarang."
"Huh,"
Senja dengan malas mengatakan start dan segera hologram menampilkan goblin kecil dengan belati hitam di tangan kirinya. Tampak jelas jika goblin ini sedikit lebih kecil dari goblin biasanya.
"Tidak seperti goblin panggilan siswa lain, goblin ini terlihat lebih kecil dan kidal." gumam Senja sembari menatap kesal ke arah Prof Philip.
Namun lucunya Prof Philip hanya mengangkat kedua bahunya acuh sebelum berkutat kembali dengan catatan penilaiannya.
"Aku harus mengadukan protes setelah ini, harus."
Meski kesal Senja tetap melanjutkan ujiannya, ia dengan handal membidik titik vital goblin tersebut namun hal itu berhasil di hadang oleh belati hitam yang terlihat menarik.
"Aku yakin itu pasti bukan belati sembarangan." gumam Senja pelan.
Senja terus saja menyerang dan berguling ke kanan dan kiri untuk mendapatkan posisi yang sempurna. Disaat Senja merasa bahwa dirinya sudah cukup dekat dengan goblin itu, ia segera mengeluarkan belati simpanannya.
Senja mencoba untuk membuat lubang indah di dada kiri goblin itu, namun sayang hal itu tidak cukup dalam dan hanya membuat bekas goresan saja.
Sudah lebih dari satu menit Senja melakukan manufer untuk menjatuhkan goblin itu hingga di lima belas detik sebelum waktu habis, Senja akhirnya mampu melumpuhkan goblin itu.
Tidak seperti sesi pertama, disesi kedua ini tidak ada seorang pun yang bertepuk tangan atas kemenangan Senja. Meski tidak ada pendukung Senja tetap merasa puas.
Senja kemudian turun dari podium untuk kembali ke ruang tunggu. Saat melewati kursi juri, Senja tidak sengaja mendengar perkataan Prof Philip yang berhasil mengguncang hatinya.
"Dengan ini kau dapat menutupi kemampuan mu itu."
Dengan refleks Senja membalikkan tubuhnya namun yang ia lihat hanyalah wajah masam Prof Philip yang tengah sibuk dengan buku catatan nilai.
"Apa aku salah dengar? Tapi tidak mungkin jika aku..."
"Aku akan menghabisi goblin itu lebih cepat dari mu," seru seorang siswa yang membuat Senja kembali dari lamunannya.
"..."
"Lihat saja nanti," lanjut siswa itu saat tidak mendapati respon apa pun dari Senja.
Siswa itu tampak sangat arogan dengan mata abu-abu nya yang tajam sehingga Senja bisa melihat betapa bertekadnya dia dalam menghabisi goblin itu.
"Apa Ben menggangu mu?" tanya Amir saat Senja baru saja duduk di kursinya.
"..."
"Aku tidak peduli," balas Senja acuh tak acuh.
Senja sudah cukup pusing dengan hidupnya dan kini ia harus peduli dengan kehidupan orang lain. Itu sangat merepotkan jadi apa pun yang dilakukan mereka padanya, Senja sama sekali tidak peduli.
"Uhm itu, itu. Apakah kita teman?" tanya Amir sekali lagi.
"Hah, entahlah. Bagaimana menurut mu?"
Senja sengaja bertanya balik, ia tidak ingin membuang tenaganya untuk hal ini. Jujur saja Senja tidak terlalu peduli dengan hubungan pertemanannya. Baginya asalkan mereka bukan menggangu itu sudah cukup.
"Aku lebih senang sendiri,"
Amir yang mendengar perkataan Senja mulai berpikir serius. Tentu saja baru kali ini Senja melihat wajah serius Amir. Dan ternyata itu cukup menghibur baginya.
"Aku menganggap mu sebagai teman, tapi kau..."
Amir diam sesaat ia seperti siap menangis kapan saja. Senja yang melihat raut wajah Amir yang sedih sedikit merasa bersalah tapi Senja hanya diam tidak mengatakan apa pun.
"Tapi, tapi bagaimana dengan mu? Apa kau juga menganggap ku sebagai teman?"
"Aku? Uhm, entahlah." balas Senja dingin.
"Dia mengingatkan aku pada seseorang," batin Senja sambil melirik sekilas kearah Khalid.
"Senja," panggil Amir sedih.
"Aku... Aku..."
"Tentu saja kita teman, aku hanya bercanda saja tadi." potong Senja yang sudah tidak tahan lagi diperhatikan oleh siswa disekitarnya.
"Benarkah? Senang sekali."
Anehnya Amir dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya. Ia seperti 180 derajat berbeda dari sebelumnya. Ia terlihat begitu bersemangat bahkan saat namanya di panggil menuju podium untuk sesi ketiga, ia pergi dengan senyum merekah di bibirnya.
"Dia sangat Manipulatif, anda harus berhati-hati dengannya."
"Bukankah kalian berdua mirip?"
"Hei, jangan samakan aku dengan manusia lemah sepertinya. Aku sangat..."
"Tapi menurutku kalian berdua sama saja."
"Lady, aku mengatakan sejujurnya. Biasanya orang dengan sifat seperti itu lebih berbahaya dari pada mereka yang menunjukkannya secara langsung."
"Baiklah, aku mengerti."
__ADS_1
Senja kemudian menghentikan percakapannya dengan Khalid. Ia masih harus fokus dengan sesi ujian ketiga ini. Pasalnya sudah lima orang gagal menyelesaikan sesi ini termasuk dengan Amir.
"Aku tahu pasti ada yang tidak beres dengan sesi ketiga ini." batin Senja saat melihat peserta nomor 14 berdiri kaku di depan slime.
Jika dilihat dari ukuran tubuh dan kekuatan fisik maka tentu saja siswa itu lebih unggul dari pada slime di depannya tapi entah mengapa baru satu menit pertarungan dimulai, siswa itu sudah tidak bisa bergerak hingga waktu ujian berakhir.
"Bahkan Amir tidak mengatakan sepatah kata pun pada ku saat ia kembali dari podium." lirih Senja saat melihat wajah pucat Amir yang sedang terpaku diam dengan minuman dingin di tangannya.
"Aku yakin ada sesuatu yang terjadi disana."
Senja dan beberapa siswa yang masih menunggu giliran mencoba untuk tetap tenang. Mereka tidak menyangka jika sesi ketiga begitu sulit dan saat ada yang berhasil menyelesaikannya, siswa itu malah dikirim segera ke ruangan lain.
"Apa-apaan itu? Bahkan kita tidak diizinkan untuk bertanya pada mereka yang telah berhasil."
Banyak siswa merasa frustasi menghadapi sesi ketiga ini. Dan saat ketika Senja dipanggil, ia sudah menyadari bahwa ini tidak akan mudah.
"Start," seru Senja dan segera slime kecil berwarna biru cerah muncul di depan matanya.
Slime itu begitu imut dengan senyum manis dan mata besar yang bersinar seperti kucing. Sayangnya Senja tahu jelas bahwa slime ini sangat berbahaya, ia juga tahu jika level monster ini berbeda dari level monster siswa lainnya.
"Aku tidak boleh gegabah, aku harus..."
Perkataan Senja terhenti saat suara nyaring meledak disekitarnya. Suara itu begitu besar sehingga membuat gendang telinga Senja sakit seperti masuk ke dalam air yang sangat dalam.
Rasanya begitu sesak dan entah mengapa Senja tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Ia sadar bahwa saat ini tubuh dan pikirannya sedang dikendalikan oleh monster itu.
"Apakah ini alasan mengapa Prof Philip membunyikan alarm aneh itu." batin Senja yang kembali teringat dengan wajah nakal Prof Philip.
"Aku harus kuat, bagaimana pun caranya aku tidak ingin gagal di sesi ketiga ini." gumam Senja sembari mencoba untuk membatalkan serangan slime tersebut.
Sudah dua menit Senja berusaha namun hasilnya tetap nihil. Ia sama sekali belum bisa menggerakkan tubuhnya bahkan pikirannya mulai mengambang dan nyaris pingsan.
Dengan segenap kekuatan yang ada Senja mulai melafalkan mantra sihir penyembuhan pada dirinya. Menurut Sera mantra sihir penyembuhan tidak hanya menyembuhkan tubuh yang terluka tapi itu juga dapat mengembalikan mental seseorang.
Perlahan tapi pasti cahaya hijau mulai keluar dari tubuh Senja. Cahaya itu seperti pelindung yang melindungi Senja dari pengaruh frekuensi getaran yang dikeluarkan oleh slime.
Butuh waktu satu menit bagi Senja untuk bisa dengan sempurna mendapatkan kembali kendali atas tubuhnya. Segera setelah Senja berhasil merebut kembali fisik dan mentalnya, ia pun kemudian menyerang slime tersebut.
Meski pun kecil namun slime itu cukup lincah dalam menghindari serangan Senja. Tidak hanya itu saja bahkan cairan di tubuhnya pun cukup reaktif sehingga benda apa pun yang bersentuhan langsung dengannya akan meleleh saat itu juga.
"Sangat asam," lirih Senja saat ujung gaunnya meleleh karena semprotan cairan dari tubuh slime.
Butuh waktu satu 46 detik bagi Senja untuk menghabisi slime itu. Di detik terakhir sebelum slime itu menghilang, Senja dapat melihat Khalid yang tengah berdiri tepat di ujung podium.
Khalid terlihat cukup khawatir, ia memandang Senja dengan wajah sedih seakan-akan takut Senja akan terluka lagi.
"Ada apa dengannya?" gumam Senja sebelum turun dari podium.
"Selamat kamu telah berhasil, untuk keseluruhan nilai akan diumumkan saat sesi ujian berakhir." seru staff yang kemudian membimbing Senja menuju ruangan lain.
"Terima kasih," balas Senja pelan.
"Kamu bisa istirahat disini atau langsung kembali ke asrama. Semua terserah pada mu." lanjutnya ketika mereka sudah sampai di pintu masuk ruangan tersebut.
"Baik,"
Senja kemudian membuat pintu tersebut dan masuk ke dalamnya. Disana cukup sepi hanya ada Senja seorang. Melihat dari perkataan terakhir staff tersebut Senja yakin jika peserta lain sudah pada kembali ke kamar mereka masing-masing.
Tanpa membuang waktu Senja segera pergi dari ruangan itu. Ia tidak ingin membuang waktu lagi dan segera menuju kamar asramanya.
Tepat ketika Senja sudah memasuki kamarnya, ia tiba-tiba saja dikagetkan dengan penampakan Khalid yang sedang menangis di pojok ruangan.
"Astaga jantungku!" teriak Senja yang membuat Dian kebingungan.
"Ada apa nona? Apa anda sakit?" tanya Dian sembari membawa segelas air hangat untuk Senja.
"Tidak, aku hanya kaget saja." balas Senja sambil mengambil gelas tersebut.
"Aku terkejut saat melihat kau berada di ruangan ini." lanjut Senja setelah selesai meminum air tersebut.
"Hah?"
Dian terlihat bingung, ia tidak tahu sejak kapan nona nya sudah seabsurd ini. Memang sejak awal nona nya sudah aneh tapi kali ini setelah pulang dari ujian nona nya menjadi lebih aneh lagi.
"Sudahlah, aku tidak apa. Kau bisa pergi sekarang." seru Senja saat hendak pergi ke kamar mandi.
"Aku bisa melakukannya sendiri, lanjutkan saja sesi latihan mu itu." lanjutnya yang membuat Dian sedikit kaget.
"Baik nona,"
Beberapa menit kemudian Senja yang sedang berendam di bathtub melihat cahaya biru samar dari balik pintu kamar mandi. Disaat itu Senja yakin jika Dian sudah pergi meninggalkan tempat ini.
"Khalid, kau kenapa?" tanya Senja setelah diam beberapa saat.
"..."
"Khalid, aku tidak akan mengulanginya untuk kedua kalinya. Jadi jawab saja."
Mendengar perkataan Senja tersebut membuat Khalid sedikit bergetar. Ia dengan lemah membuka mulutnya namun tidak ada satu kata pun yang keluar. Merasa kesal Senja pun memanggilnya lagi.
"Khalid..."
"Aku melihat hantu," lirih Khalid pelan.
__ADS_1