
"Kesetiaan akan mudah didapat apabila harapan ada diatasnya."
*****************#####****************
Setelah selesai menandatangi dokumen hitam tersebut, Bazel kemudian menyerahkan cucu kesayangannya pada Senja.
"Nona, tolong bawalah Nindia sebagai penjaga mu," seru Bazel yang membuat Nindia kaget.
"Mengapa?" tanya Senja acuh tak acuh sambil memasukkan kembali dokumen tersebut ke dalam tas saku ajaibnya.
"Nindia, cucuku. Dia adalah gadis yang baik dan kuat, ia juga sangat ahli dalam melindungi. Saya memberikannya pada anda karena kemungkinan besar penyihir hitam akan mulai bergerak disekitaran kita nantinya dan dengan kehadiran Nindia, anda bisa terbebas dari tipu muslihat mereka," jelas Bazel dengan bangganya terhadap cucunya tersebut.
"Kurasa itu adalah ide yang sangat bagus, Nona," link Ristia saat Bazel sudah selesai dengan perkataannya.
"Gadis itu sangat kuat, bahkan ia sebanding dengan Eza," lanjut Ristia yang juga merasakan aura kental yang keluar dari tubuh Nindia.
"Aku juga tahu itu,"
"Baiklah, tapi sebelum itu. Apakah cucu mu mau menjadi pelayan setia ku?" tanya Senja acuh tak acuh sambil menikmati teh miliknya.
"Aku tidak ingin seseorang yang berada dekat disamping ku adalah pengkhianat," lanjutnya sarkasme.
"Ah, tentu saja tidak Nona. Mana mungkin cucu ku adalah pengkhianat," balas Bazel kaget dengan sikap Senja yang blak-blakan.
"Siapa tahu," gumam Senja tidak terlalu percaya.
Nindia yang mendengar hal buruk tentang dirinya, kemudian berjalan kesamping Senja sambil berlutut dihadapannya.
"Sedang apa dia?"
"Saya Nindia, bukanlah pengkhianat Nona. Saya dan keluarga saya sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran. Meski kami adalah peri hitam, mami tetaplah makhluk yang tidak akan memberontak terhadap alam yang telah membuang kami," tutur Nindia menjelaskan segalanya.
"Begitukah?"
"Benar Nona,"
"Jika begitu, buktikan dengan sumpah mu," lanjut Senja setelah menaruh cangkir tehnya keatas meja.
Nindia yang mendengar kata sumpah dari Senja, mulai mengangkat kepalanya. Ia kemudian menekuk kakinya masuk seperti posisi seorang ksatria yang tengah melakukan sumpah.
"Saya Nindia, bersumpah untuk terus setia kepada satu majikan yang telah memberikan kehidupan nyaman pada kaum kami. Saya Nindia dengan nyawa dan harga diri seorang prajurit, memberikan senjata ini kepada anda yang saya akui sebagai tuan sekaligus pemilik jiwa ini," teriak Nindia dengan berani sambil menyerahkan sebuah pedang besi dengan ukiran Naga emas di setiap sisinya.
Senja yang melihat hal tersebut lantas mengambil pedang berwarna perak itu lalu menariknya keluar dari sarungnya.
"Aku Senja de Ari, dengan sumpah jiwa ini. Aku menerima mu sebagai ksatria ku yang abadi," seru Senja kemudian mengembalikan pedang tersebut ke sarungnya.
"Berdirilah Nindia, ambil ini dan jangan sampai hilang," lanjut Senja sambil menyerahkan pedang tersebut yang kini sudah terdapat lambang bulan sabit di gagangnya.
"Baik Nona,"
Bazel yang melihat cucunya yang sudah melakukan sumpah setia, hanya bisa tersenyum bangga karena cucunya tidak lupa akan prinsip hidup keluarga mereka.
__ADS_1
"Aku bangga pada mu Nindia, cucu ku," gumamnya pelan dengan senyum hangat yang masih mengembang lebar di wajahnya.
"Baiklah Nona, apa ada lagi yang anda butuhkan disini?" tanya Bazel setelah perjanjian sumpah tersebut selesai.
"Tidak ada, aku akan segera keluar," seru Senja singkat, namun ketika ia hendak keluar. Suara yang sebelumnya menghilang kini mulai berteriak aneh di telinganya.
"Dia sangat kuat," teriak salah satu suara yang bergerak seperti angin.
"Dia hebat dan juga cantik," lanjut yang lainnya sambil terbang di sekitaran bahu Senja.
"Aku tahu dia hebat, dia bahkan mendengar suara kita," timpal yang lainnya dengan gembira.
"Sialan, siapa sih mereka,"
Pada awalnya suara itu terdengar samar ketika ia pertama kali memasuki kota bawah tanah ini, namun ketika ia sudah berada lama disini, suara itu semakin lama semakin jelas dan terasa banyak.
Suara itu sebenarnya berasal dari para elemental milik peri hitam. Elemental adalah makhluk yang hidup berdampingan dengan peri, mereka jugalah yang sering membantu para peri dalam pekerjaannya.
Ada elemental yang memiliki kekuatan air, api, angin, dan tanah, semua kekuatan itu pada dasarnya sama seperti milik manusia namun kekuatan elemental lebih kuat dari pada manusia.
"Sialan, bisa diam tidak sih kalian," teriak Senja kesal sambil mengibaskan udara kosong disekitarnya.
"Ada apa Nona?" tanya Nindia yang kaget ketika mendengar suara teriakan Senja.
"Siapa mereka? Suara mereka sangat menggangu pendengaran ku," teriak Senja sekali lagi.
Nindia dan Bazel yang mendengar penuturan Senja hanya melihat kearah elemental dengan pandangan aneh.
"Pantas saja sejak awal Nona datang, mereka terlihat cukup bersemangat," batin Bazel dengan senyum aneh diwajahnya.
"Biasanya para manusia tidak bisa mendengar suara elemental tapi saya tidak tahu dengan kondisi anda saat ini, Nona,"
"Itu mungkin saja, saya dulu pernah bertemu dengan seorang pria yang bisa berbicara dengan elemental dan ternyata dia juga seorang elementalis sama seperti saya," seru Bazel dengan senyum ramah diwajahnya.
"Mungkin saja keadaan Nona sekarang sama seperti dirinya," batin Bazel sambil mengingat wajah pria muda yang tengah berbincang dengan elementalnya.
"Pria itu sangat baik dan dermawan, ia bahkan tidak takut terhadap saya yang merupakan peri hitam ini," lanjut Bazel menjelaskan memorinya pada saat itu.
"Ia sangat mirip dengan anda, mungkin jika saya melihat wajah anda. Saya bisa saja melihat dirinya disana," gumam Bazel pada dirinya sendiri.
"Lalu dimana pria itu sekarang?"
"Saya tidak tahu Nona, pria itu menghilang ketika kerajaan yang ia pimpin dihancurkan oleh tangan kanannya sendiri."
" ... "
"Dia dan istrinya serta kedua bayi kembarnya tersebut menghilang tanpa jejak," lanjut Bazel yang kini mulai terlihat sedih.
"Ah, begitu rupanya," balas Senja acuh tak acuh.
Bazel hanya tersenyum miring dengan tanggapan dingin yang diberikan oleh Senja, namun ia yakin bahwa kedua putri kembar pria tersebut masih hidup sampai sekarang.
__ADS_1
"Nona, bagaimana jika anda menerima para elemental sebagai teman anda?" tanya Bazel dengan penuh semangat.
"Aku tidak mau,"
"Akan sangat merepotkan jika aku sampai berteman dengan mereka," gerutu Senja yang masih diganggu dengan suara berisik dari para elemental.
"Nona, saya rasa anda akan segera memiliki salah satu dari mereka," ejek Lily yang sejak tadi hanya diam di dalam kantong saku pakaian Senja.
"Diam kau," gerutu Senja kesal yang memutuskan sepihak link diantara mereka.
"Ristia, menurut mu bagaimana?" tanya Lily nakal ketika linknya diputus dengan sepihak.
"Aku rasa kau benar, mungkin saja Nona akan sering berhadapan dengan mereka," jawab Ristia setuju dengan pendapat Lily.
Nindia sendiri yang mendengar suara elemental miliknya hanya bisa tersenyum aneh dengan sikap Senja.
"Nona, kau akan mendapatkan satu diantara mereka nantinya," gumam Nindia ketika Senja memutuskan untuk segera kembali keatas permukaan tanah.
"Bazel satu hal lagi, jangan biarkan siapa pun untuk memasuki area dalam ini, kecuali mereka yang aku izinkan," seru Senja sebelum ia benar-benar keluar dari ruangan tersebut.
"Baik Nona," balas Bazel sopan sambil membungkuk kearah Senja.
"Kakek, sepertinya bocah elemental nakal itu menyukai Nona," bisik Nindia pelan pada Bazel sebelum dirinya keluar dari ruangan tersebut untuk mengikuti Senja.
"Seperti yang kau lihat, nak," gumam Bazel singkat kemudian kembali duduk ke kursinya.
Beberapa saat kemudian, Senja sudah keluar dari area dalam di ikuti oleh Nindia dibelakangnya. Saat hendak pergi menuju area penambangan, Senja dikagetkan dengan kehadiran Eza yang sudah berdiri tidak jauh dari posisinya saat ini.
"Nona!" panggil Eza setelah jarak diantara mereka menipis.
"Saya mendapatkan berita menarik disini," lanjut Eza sambil melirik sekilas kearah Nindia.
"Namanya Nindia," seru Senja ketika melihat ekspresi tanda tanya dari wajah Eza.
"Dia sekarang ksatria ku sama seperti mu," lanjut Senja kemudian mengambil koran yang sejak tadi ingin diberikan Eza padanya.
"Bicaralah jika penting," lirih Senja sebelum pergi menjauh dari keduanya.
"Nindia," seru Nindia sambil mengulurkan tangannya.
"Eza...," balas Eza aneh ketika meraih uluran tangan tersebut.
Senja yang melihat keduanya tampak sangat acuh dan tidak peduli. ia kemudian membuka koran tersebut untuk melihat isinya.
"Hahahaha, ini gila," pekik Senja kaget ketika ia baru saja membaca judul yang tertera di koran tersebut.
"Bagaimana bisa tempat itu hancur hanya dalam waktu tiga hari saja sejak aku meninggalkannya," lanjut Senja kesal mengingat apa yang ada disana saat itu.
"Apa mereka berencana untuk menutupinya?" tanya Senja saat melirik sekilas pada Arthur dan temannya.
"Namun apa pun itu alasannya, sekarang akan sulit bagi ku untuk menyelidiki mereka,"
__ADS_1
"Aku harus menanyakan hal ini pada mereka nantinya," gumam Senja sambil memikirkan keluarga Cloe yang bertugas di kerajaan Guira saat ini.
"Berani sekali dia mengacaukan rencana ku ini. Aku pasti akan membuatnya menyesal," gerutu Senja tanpa sadar membakar koran yang ada ditangannya tersebut.