
"Apa yang terlihat, bukan berarti itu yang terjadi. Terkadang, karena rasa penasaran membuat seseorang salah paham."
*****************#####*****************
Senja masih terdiam kaku saat Muna terus saja memuntahkan omong kosong yang sama sekali tidak ia mengerti.
"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang Muna katakan. Memang benar, jika aku sedang bekerja namun bukan mengenai wilayah timur."
"Apa yang sebenarnya telah terjadi," batik Senja sambil melirik sekilas pada Dian yang sedang bersembunyi.
"Nona, sepertinya dia salah paham dengan anda. Dia pikir Anda selama ini menghilang, karena sedang bertugas mengurus wilayah timur," seru Ristia yang entah dari mana sudah berada di pergelangan kaki Senja.
"Bagaimana dia bisa tahu bahwa aku menghilang?"
"Aku tidak tahu persis soal itu, tapi yang pasti. Muna menduga bahwa selama ini anda telah bekerja keras. Hal itu juga di dasari karena Dian yang terus mengalami kelelahan beberapa hari terakhir."
"Hah, sepertinya aku mulai mengerti."
Senja tampak sangat pusing dalam menghadapi emosi Muna yang meluap-luap. Ia berusaha untuk menenangkannya namun Muna sama sekali tidak bisa diajak berdiskusi.
"Baiklah aku minta maaf," seru Senja menghentikan amarah Muna.
"Apa kau pikir dengan maaf mu itu, ini semua akan selesai?"
"Aku tahu kau melakukan ini karena tidak ingin kami ikut campur dalam masalah mu, tapi kami juga merasa khawatir dengan keadaan mu yang kacau akhir-akhir ini," lanjutnya sedih.
Senja hanya diam, ia tidak tahu harus merespon seperti apa. Perlahan Senja mengambil kedua tangan Muna dan menggenggamnya.
"Ini sedikit sulit bagi ku. Mari kita bicarakan baik-baik." Usul Senja sambil membawa Muna duduk kembali ke sofa.
"Tidak salah untuk khawatir, namun aku tidak butuh rasa itu dari kalian," batin Senja dingin ketika ia hendak duduk di sofa.
"Ini adalah urusanku, biar aku yang menyelesaikannya," lanjut Senja sambil memasang senyum hangat di wajahnya.
"Alasan apa lagi yang hendak kau katakan?" tanya Muna tanpa memberi Senja jeda untuk bernapas.
"Baiklah, begini. Aku melihat hal yang menguntungkan di wilayah timur, dan jika aku berhasil mendapatkannya maka aku tidak perlu lagi bergantung dengan Duke."
Senja mulai menjelaskan maksudnya.
"Bangunan yang aku rancang berada di jalur yang strategis untuk membangun bisnis. Itu adalah jalur lintas satu-satunya yang menuju kerajaan El-Aufi dari benua barat."
Senja sedikit menjeda penuturannya sambil melihat sekilas pada Muna yang tengah serius mendengarkannya.
"Aku berencana membangun toko obat disana. Meski sulit namun itu masih bisa aku lakukan. Selain itu dengan adanya toko obat tersebut, maka mereka yang terluka akan terobati meski harus menempuh jarak yang jauh."
"..."
"Aku juga sedang berencana untuk membangun hotel disana nantinya," lanjut Senja yang sontak membuat Dian panik.
"Apa Nona akan membuat ku bekerja lagi?" batin Dian frustasi.
Muna yang mendengar penjelasan Senja, perahan mulai menghela napas panjang. Ia tahu bahwa yang dikatakan Senja ada benarnya dan karena hal itu, ia menjadi sangat kesal dan juga bimbang.
"Aku hanya sedih karena tidak bisa membantu teman ku yang sedang kesusahan," batin Muna bingung.
__ADS_1
"Meski begitu. Aku bisa membantu mu dengan mud..."
"Tidak bisa, aku tidak ingin tempat itu mendapatkan sorotan karena bantuan dari mu atau pun keluarga mu."
Senja memotong perkataan Muna dengan tegas.
"Tempat itu adalah wilayah yang diberikan Duke Ari pada ku sebagai hadiah pesta kedewasaan. Jika aku membangunnya dengan bantuan mu ataupun yang lain, maka itu akan membuat Duke kehilangan muka," lanjut Senja menjelaskan situasinya.
Muna lagi-lagi hanya bisa menghela napas panjang dengan sikap Senja yang menurutnya terlalu baik. Muna sama sekali tidak berpikir jika Senja melakukan hal itu demi reputasi Duke yang bahkan tidak peduli dengannya.
"Mengapa kau tidak meminta wilayah lain saja? Bukankah Duke Ari seharusnya memberikan wilayah subur pada putri utamanya?"
"Bagaimana bisa aku membuang kesempatan bagus itu," batin Senja sambil memikirkan ladang berlian miliknya.
"Tak apa, aku hanya tidak ingin ada keributan di keluarga kami nantinya." Mendengar jawaban Senja, membuat hati Muna semakin teriris.
"Wilayah timur kekuasan Duke Ari adalah tempat yang sangat dihindari. Meski tanah itu berdekatan dengan kerajaan El-Aufi, namun keadaannya jauh lebih buruk dari kerajaan El-Aufi sendiri."
"Bagaimana bisa ia memilih wilayah yang bahkan tidak menghasilkan apa pun. Lagi pula meski toko obat di bangun di tengah jalur lintas. Masalahnya terdapat pada seberapa banyak pedagang yang akan melewati jalur tersebut, tidak jarang para pedagang lebih memilih berteleportasi dari pada harus berjalan ribuan kilometer dengan cuaca yang buruk dan panas."
"Apa yang sedang Muna pikirkan?" tanya Senja dalam hatinya ketika melihat Muna menangis.
"Yah, meski wilayah timur itu gersang tapi di bagian bawahnya terdapat begitu banyak berlian yang bahkan cukup untuk membangun sebuah kerajaan besar yang tidak kalah hebatnya dengan kerajaan El-Aufi," lanjut Senja yang sama sekali tidak mengerti jalan pikiran sahabatnya itu.
"Jadi alasan apa yang membuatnya sampai terlihat seperti ini?"
"Aku tidak tahu bahwa kau selama ini selalu dalam kesulitan," seru Muna di sela-sela tangisannya.
"Hah, apa lagi maksudnya?"
"Aku minta maaf karena telah memarahi mu tadi," lirih Muna sambil memeluk hangat tubuh Senja.
"Aku pikir kesalahpahaman ini tidak akan pernah berakhir," batin Senja sambil memasang senyum canggung di wajahnya.
****
Disisi lain, Luna dan Kaira tengah berjalan santai di sekitaran plaza setelah mereka memutuskan untuk meninggalkan si kembar di ruang makan gedung hotel. Luna tampak sangat kaku karena harus menemani Kaira sendirian. Ia bingung sekaligus panik setiap kali Kaira bertanya tentang Senja.
"Bagiamana kalian bisa sedekat itu?" tanya Kaira sekali lagi pada Luna.
"Bukankah aku sudah menjawab pertanyaan mu itu beberapa saat yang lalu."
"Benarkah? Tapi aku masih penasaran tentangnya."
"Mengapa kau tidak bertanya langsung saja pada orangnya?"
"Tapi aku ingin mendengar pendapat adik kesayangan ku ini dulu," jawab Kaira sambil mencubit kedua pipi Luna hingga memerah.
"Hah, kau menyebalkan sekali."
Luna terlihat kesal sambil mengelus pelan pipinya yang memerah.
"Bukankah aku sudah bilang kalau aku pertama kali bertemunya di akademik, sama seperti kau pertama kali bertemu dengan kakak ku,"
"Hahaha, kau lucu sekali."
__ADS_1
Luna yang sadar akan dicubit kembali memutuskan untuk menjaga jarak dari Kaira.
"Kau sama sekali tidak berubah."
"Kau juga sama," balas Luna kesal.
"Hahaha"
Luna hanya mendengar tawa Kaira di sepanjang jalan kembali menuju gedung hotel.
"Apa kau bisa diam?"
"Hahaha, baiklah. Baiklah."
Kaira mencoba untuk menahan tawanya, meski sulit tapi ia mencoba untuk terlihat sedikit tenang.
"Tapi aku serius dengan pertanyaan ku barusan. Aku benar-benar ingin tahu bagiamana sahabat mu itu." lanjut Kaira ketika tawanya mereda.
"Apa yang ingin kau ketahui tentang nya?"
"Seperti apa dia? Aku sangat penasaran dengan wajah polosnya yang tanpa dosa itu,"
Jawab Kaira sambil membayangi wajah Senja yang sedang tersenyum hangat padanya.
"Ia tampak seperti akan ditelan kegelapan jika kita salah membimbingnya." lanjut Kaira serius.
"Ia terlihat sangat rapuh, bahkan aku berpikir jika dia disentuh sekali saja, mungkin dia akan segera hancur."
Kaira mencoba mendeskripsikan sosok Senja yang terkahir kali ia lihat.
"Kau benar, maka dari itu kami ingin selalu melindunginya dari kejamnya dunia ini," seru Luna setuju dengan apa yang dikatakan Kaira.
Jika di lihat dari penampilan dan wajahnya, Senja sangat mirip dengan seorang anak yang baru saja melihat dunia. Ia begitu polos bahkan tatapan dinginnya sangatlah lucu bagi mereka.
Senja menurut mereka lebih mirip seperti anak kucing yang imut, meski pun ia tengah memperlihatkan taringnya. Mereka juga menganggap, jika rahasia yang sedang ditutupi oleh Senja adalah rahasia seorang anak yang sedang menyembunyikan permen, tidak buruk namun juga tidak baik.
"Tapi yang lebih anehnya, aku sama sekali tidak bisa merasakan aura dari tubuhnya itu. Auranya sangat tipis dan lemah." lanjut Kaira yang masih bingung dengan apa yang ia rasakan dari Senja.
"Kurasa hal itu terjadi karena penyakitnya. Senja sering terluka ketika ia menggunakan kekuatannya secara berlebihan," balas Luna sambil memikirkan wajah Senja yang bermandikan darah pada ujian akademik.
"Kasihan sekali dia," gumam Kaira sedih.
"Tapi, Senja bukanlah gadis yang suka di kasihani. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan sahabatnya dan karena itulah kami menjadi bingung harus berbuat apa padanya yang selalu menutup diri."
Luna terlihat sedih setelah mengatakan bahwa Senja tidak pernah membutuhkan bantuannya dalam hal apa pun, meski sekalipun ia lemah.
"Kurasa ia hanya tidak ingin menyusahkan kalian saja," seru Kaira menyemangati Luna.
"Kau benar dan itulah alasan mengapa kami selalu memperhatikannya. Kami takut, jika sekali saja berpaling darinya maka ia akan menghilang."
"Sama seperti sekarang," lanjut Luna dalam hati yang tidak dapat ia katakan pada Kaira.
"Baiklah aku mengerti," lirih Kaira yang juga sedih dengan keadaan Luna.
Selama perjalanan kembali ke hotel, Luna dan Kaira hanya diam tanpa berkata apa pun. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Luna sibuk dalam memikirkan apakah Senja sudah kembali atau belum, sedangkan Kaira berpikir mengapa ia tidak bisa merasakan energi Senja meski pun hanya samar.
__ADS_1
"Aku harus menyelidiki tentangnya lebih dalam,"