
"Kemenangan sesaat kadang membuat mu lupa bahwa itu hanya sementara."
*****************#####*****************
Sesampainya di kamar asrama, Senja segera merebahkan dirinya diatas kasur. Ia lelah dan ingin istirahat dengan cepat. Sementara itu Ristia segera pergi menemui Lily yang berada di Guild Moonlight.
"Kau tampak pucat," lirih Kun acuh tak acuh.
"Berisik," balas Senja sama acuhnya.
"Hah, orang lain akan salah paham dengan diri mu yang seperti ini," lanjut Kun sambil melangkah pergi menuju sofa yang ada di sampingnya.
"Tapi itu cukup bagus," serunya sekali lagi saat sedang memutarkan tubuhnya melingkar di sofa tersebut.
"..."
Senja hanya diam saat mendengar perkataan Kun. Ia sadar akan hal itu, namun ia mencoba untuk acuh terhadapnya.
"Lagi pula tidak akan ada yang terlalu peduli." gumam Senja dalam hatinya.
Setelah mengatakan hal itu, Senja memutuskan untuk tidur. Ia terlalu lelah untuk memikirkan itu semua. Terlebih lagi tubuhnya sudah mengalami guncangan hebat setelah dua kali hampir di bunuh oleh monster aneh di ruang bawah tanah Permaisuri Mawar.
"Sial, rasanya bikin menggigil saja," lirih Senja saat hendak menutup matanya.
Beberapa menit kemudian, Dian kembali ke kamar dan terkejut saat melihat Senja sudah berada di kamarnya. Hal yang membuat Dian tambah syok adalah kondisi Senja yang bahkan tidak bisa di katakan hidup.
Wajah yang pucat, kulit yang rapuh serta rambut yang lusuh menambahkan kesan kematian untuk nona nya itu.
"Ada apa dengan Nona?" tanya Dian panik. Ia bahkan tidak sanggup untuk menopang dirinya sendiri saat hendak menuju kasur nona nya.
"Apa yang terjadi dengan Nona selama aku tidak ada..."
"Dia baik-baik saja. Hanya kondisi fisiknya saja yang tampak seperti mayat hidup, namun jiwanya sehat." potong Kun saat ia merasa terganggu dengan suara Dian yang bahkan jauh lebih buruk daripada kondisi Senja.
"Apa seburuk itukah kondisi Nona saat ini?" Dian menangis saat mendengarkan kondisi Senja. Ia merasa gagal karena tidak mampu melindungi nona nya itu.
"Ada apa dengannya?" batin Kun tidak mengerti mengapa Dian menangis seperti itu.
"Hik...Hik..Hik..."
Karena kesal Kun akhirnya memutuskan untuk pergi dari kamar Senja. Ia tidak tahan harus terus mendengar tangisan Dian. Ia bahkan tidak mengerti alasan mengapa Dian menangis seperti itu.
Meski Kun sudah mengatakan dengan jelas bahwa Senja baik-baik saja, namun Dian sama sekali tidak bisa mempercayainya. Ia berfikir jika tubuh nona nya dalam bahaya karena terlihat begitu pucat.
"Aku akan berlatih dengan keras agar Nona tidak terluka lagi seperti ini." gumam Dian sambil mengingat masa lalu mereka saat Nona Nya itu terbaring sakit.
__ADS_1
Dengan keputusan yang teguh, Dian pun pergi meninggalkan kamar Senja. Ia kemudian menuju Guild Moonlight untuk berlatih di ruang bawah tanah Guild.
****
"Pukul berapa ini?" tanya Senja saat ia terbangun dari tidurnya.
"Sudah berapa lama aku tidur, mengapa tidak ada yang membangunkan ku?" gumam Senja saat menyadari bahwa kondisi kamar masih kosong. Hanya ada dirinya seorang di dalam kamar tersebut.
"Kemana semua orang?" tanya Senja sekali lagi.
"Risti...!" Senja diam. Ia baru sadar jika Ristia juga tidak ada di tempatnya.
"Pergi kemana mereka?" tanya Senja lagi sambil melangkah pergi dari kasurnya.
"Hah," Senja hanya menghela napas panjang saat ia menutup gorden yang masih terbuka.
Hari sudah malam, kondisi asrama tampak sunyi menandakan para siswa masih terlelap dalam tidurnya masing-masing.
"Ini masih pukul 10 malam, tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan di tempat ini." lirih Senja sambil melirik jam dinding yang ada di atas dinding kasurnya.
Segera setelah ia menutup semua gorden, ia pun bergegas pergi ke kamar mandi. Tidak lupa sebelum mandi ia melakukan link dengan Ristia untuk membawa Dian kembali ke asrama.
Beberapa saat setelah Senja memasuki kamar mandi, tampak jelas cahaya portal teleportasi menyinari kamarnya. Sinar itu perlahan menghilang sehingga menampakan Dian dan Ristia yang sedang berjalan keluar dari portal.
Setelah selesai mandi, sama seperti biasa Dian segera membantu Senja memakai pakaiannya. Ia juga telah mempersiapkan segala hal kebutuhan Senja saat nona nya itu masih mandi.
"Maaf telah membuat Nona menunggu, saya sedang ada urusan sebelumnya." balas Dian sopan.
"Selain itu, ada juga informasi penting yang ingin saya sampaikan pada Nona." lanjut Dian menjelaskan.
"Apa itu?" tanya Senja sambil memilih hiasan rambut untuk dikenakan.
Dian terlihat berfikir sejenak, jujur saja ia ingin mengatakan segalanya namun ia khawatir nona nya itu akan terganggu dan malah membuatnya tambah sakit karena beban pikiran yang berlebihan.
"Apa itu?" tanya Senja sekali lagi saat melihat Dian yang terdiam tanpa jawaban.
"Ah itu, sebenarnya kondisi Sun Forest sedang tidak baik." jawab Dian pelan.
"Jelaskan,"
"Baik Nona. Jadi seperti ini, karena perhiasan yang setiap hari dijual oleh toko merupakan bahan yang bagus, sehingga banyak dari para membeli yang sering berebutan untuk memiliki perhiasan tersebut."
"Lalu?"
"Karena hal itu, mereka sering berkelahi dan akhirnya toko kita sering mendapatkan teguran oleh pihak istana."
__ADS_1
"Begitukah?"
"Iya Nona," jujur saja bukan hal itu yang ingin disampaikan oleh Dian. Ia ingin mengatakan tentang para sahabat Senja yang akhir-akhir ini sulit untuk di temukan.
Namun jika Dian mengatakan hal itu, maka nona nya akan terlibat lagi dalam urusan berbahaya dan itu dapat mengganggu mental bawahannya.
"Lebih baik, aku saja yang menyelidiki hal ini sendirian." batin Dian penuh keyakinan.
"Jika memang seperti itu, setelah pelajaran selesai besok, kita akan ke Sun Forest."
Setelah mengatakan hal itu, Senja kemudian pergi ke kantin asrama untuk makan malam. Meski waktunya sudah telat, namun kantin masih di buka sampai pukul 12 malam.
Hal itu wajar dilakukan karena biasanya para siswa sering kelelahan sehingga mereka baru akan makan setelah tidur seharian.
"Lihat itu...!" bisik salah satu siswa saat berpapasan dengan Senja.
"Dia seperti mayat." balas siswa yang berada di sampingnya.
"Ada apa dengan dia...." lanjut yang lain di sepanjang jalan menuju kantin.
Semua siswa disana selalu memperhatikan Senja. Mereka bahkan tidak ragu-ragu menatapnya secara langsung saat ia sedang berjalan di hadapan mereka.
"Mayat hidup...!" bisik yang lain saling bersahutan.
Meski begitu Senja masih acuh tak acuh dengan sekitarnya. Ia bahkan tidak peduli dengan siswa yang dengan sengaja berdiri di hadapannya hanya untuk melihat kondisinya dari dekat.
"Ada apa dengan mereka?" gerutu Dian kesal. Ia juga sadar jika kondisi nona nya tidak sehat, namun memperhatikan nona nya seperti itu sangat tidak sopan.
"Nona," bisik Dian pelan.
"Coba pakai ini," tanpa persetujuan terlebih dahulu dari nona nya, Dian segera memakaikan Senja lipstik di bibirnya.
"Jauh lebih baik," batin Dian setelah selesai memakaikan lipstik tersebut.
"Apa ini?" tanya Senja tidak mengerti.
"Ini pelembab agar bibir Nona tidak pecah-pecah nantinya." jawab Dian dengan yakin.
Senja yang tidak ingin ambil pusing segera pergi menuju kantin untuk makan malam. Sesampainya di kantin, banyak dari mereka yang sebelumnya memperhatikan Senja kini mulai sibuk dengan urusan pribadi masing-masing.
Meski begitu masih ada beberapa diantara mereka yang membicarakan Senja di belakangnya.
"Mereka tidak pernah bisa diam," lirih Dian kesal.
"Biarkan saja." balas Senja acuh tak acuh sambil mengambil makanannya.
__ADS_1
Namun begitu, berita mengenai Senja yang seperti zombie telah menyebar ke seluruh asrama. Semua siswa malam itu mengetahui jika Senja yang tidak hadir hari ini di kelas karena ia sedang sakit dan itu dibuktikan dengan kondisinya yang terlihat memprihatinkan.