
"Secara perlahan luka akan menghilang namun rasa sakit akan terus menjadi kenangan."
******************#####*****************
Gedung Sihir
Setelah mendapatkan jadwal ujian Senja memutuskan untuk kembali ke wilayah Duke Ari selama satu minggu. Hal itu ia lakukan karena masih ada beberapa teknik yang belum ia kuasai.
Dengan dalih istirahat Senja di perbolehkan pulang oleh pihak akademi. Meski begitu masih banyak pihak yang menentang kepulangannya. Contohnya saja Arina.
"Ini tidak adil, kenapa hanya Senja yang diperbolehkan pulang? Bahkan aku sering melihat dia bolos dari kelas tapi tetap saja ini sudah keterlaluan. Mereka sangat pilih kasih,"
Arina memprotes keras pada Prof Philip selaku wali kelasnya. Prof Philip hanya bisa menggelengkan kepala dan menyuruh Arina untuk keluar dari ruangannya.
"Alasan kenapa saudari mu bisa bebas keluar masuk akademi adalah kompensasi baginya yang telah dirugikan oleh sekolah ini. Ia pantas mendapatkan hak istimewa itu tapi untuk nilai, jangan khawatir kalian semua akan mendapatkan penilaian yang adil."
Itu adalah kata terakhir Prof Philip sebelum mengusir Arina keluar. Meski begitu Arina tetap tidak senang, ia ingin mengadukan hal tersebut pada Dira. Sayangnya reaksi Dira hanya acuh tak acuh mendengar ocehan saudari iparnya itu.
"Akan lebih baik jika dia tidak pernah kembali lagi ke tempat ini," lirih Dira sambil menyesap teh hijau miliknya.
"Sayang sekali ujian kali ini hanya menilai siswa secara individu tanpa pertarungan, jika tidak..."
Mari mulai membayangkan wajah Zakila dan rekannya. Ia ingin ******* habis Zakila dan membiarkannya mengalami neraka yang dulu pernah ia alami saat bertarung dengan Maya.
"Yang ikut ujian kali ini hanya Senja dan Zakila. Jadi sayang sekali," gumam Tasya sambil mengelus pelan gagang pedangnya.
"Tenang saja ujian akhir semester akan menjadi akhir bagi mereka. Aku akan membuat mereka mengalami dua kali lipat rasa sakit yang kita rasakan dulu." seru Dira dengan senyum liciknya.
"Kali ini pasti tidak akan gagal,"
Dira sudah mempersiapkan segala hal meski pun ada kendala ditengah rencananya dan membuat ia harus mundur tapi Dira tetap merasa senang.
"Aku sudah memastikannya secara langsung bahwa racun itu sudah bekerja padanya," lirih Dira saat melirik sekilas pada Kira yang tengah bersujud di lantai.
"Karena si bodoh ini kita harus menunda rencana awal." gerutu Mari sambil menendang pelan tubuh Kira.
"Ugh," erang Kira kesakitan.
"Jika bukan karena Dira, mungkin saja kau sudah menjadi mainan ku." batin Kira kesal.
"Dira, pastikan untuk membuat Sar..."
Dira mengangkat pelan tangan kanannya, ia menyuruh Tasya untuk diam sambil melirik sekilas pada Arina.
Tasya yang kesal kemudian menyuruh Arina untuk segera kembali ke kamarnya, begitu pula dengan Kira.
"Aku tidak..."
"Kembalilah, aku ingin istirahat," potong Dira sebelum Arina menyelesaikan kalimatnya.
Dengan sedih Arina keluar dari kamar Dira. Ia kemudian berjalan menuju kamar asramanya sambil menitikkan air mata kecewa.
"Kau, apa yang sedang kau tunggu." bentak Mari sembari menendang tubuh Kira hingga membuatnya tersungkur jatuh.
"Pergilah," seru Dira yang membuat mulut Kira menutup kembali. Ia ingin protes namun kekuatannya saat ini tidak menguntungkan.
Kira Dengan kesal keluar dari kamar Dira, ia lalu pergi menuju lantai bawah dimana kamarnya berada.
"Jika bukan karena ledakan itu mungkin saja saat ini kalian sedang mengemis di kaki ku." gerutu Kira sambil mengingat danau hitam milik keluarganya.
"Jika saja aku terlahir dengan tanda itu maka posisiku saat ini akan lebih tinggi dari mu," lanjut Kira sembari mengusap pelan tubuhnya yang ditendang oleh Mari.
"Jika saja aku..., hik!"
Air mata sedih yang selama ini ditahan oleh Kira akhirnya tumpah. Ia tidak ingin terlahir seperti ini, selalu saja menjadi bawahan orang lain. Ia ingin kuat dan memiliki seluruh keagungan seorang bangsawan sejati.
Namun itu semua harus pupus karena saudari kembarnya yang memiliki simbol keluarga. Kira kesal dan ingin membunuh mereka semua. Dalam hati ia berjanji untuk membalaskan dendamnya pada Mari yang telah menginjak harga dirinya selama ini.
"Mari Lapedi. Awas saja kau!"
Disaat yang sama kamar Dira masih senyap tidak ada seorang pun yang berbicara. Dalam keheningan panjang akhirnya Tasya kembali mengungkapnya niatnya.
"Dira, pastikan Sarah mengambil peran inti dalam ujian kali ini. Aku tidak ingin hal sebelumnya terjadi sehingga berpengaruh pada reputasi keluarga kita."
"Aku tahu, kau tenang saja."
__ADS_1
"Selain itu kita harus mengurusi mereka juga," lanjut Dira sambil menunjuk tumpukan buku catatan di atas meja belajarnya.
Entah apa yang terjadi tapi rencana mereka untuk membuat sibuk kelompok Luna malah berakhir seperti ini.
"Kita harus menyelesaikan tugas ini sebelum ujian tengah semester berlangsung."
"Kenapa tugas ini jadi milik kita? Bukankah seharusnya mereka yang mendapatkan perlakukan tidak enak dari guru magang?" tanya Mari kesal.
"Aku tidak tahu, tapi mau bagaimana lagi kita sudah terlanjur kena." balas Tasya sembari menggelengkan kepalanya.
****
Paviliun Tulip
Senja memutuskan untuk kembali pulang karena ia merasa jauh lebih baik untuk melatih kekuatannya secara konsisten. Ia tidak bisa terus-terusan bolak balik antara akademi dan ruang bawah tanah permaisuri.
Untung saja pihak akademi setuju sehingga Senja tidak perlu bolos lagi dengan alasan yang tidak jelas. Selain itu Duke Ari dengan lapang dada menerima kepulangan Senja. Ia seakan mendukung Senja dengan segala hal keputusannya.
"Merepotkan," gumam Senja pelan saat salah satu pelayannya masuk sambil membawa kereta camilan.
"Nona, silahkan dinikmati."
Senja kembali teringat kejadian saat dirinya di fitnah. Ia merasa bingung karena pelayan itu bahkan tidak lagi menampakkan dirinya disini.
"Uhm, tunggu dimana pelayan itu?" tanya Senja sebelum pelayan didepannya pergi.
"Maaf Nona, pelayan mana yang anda maksud?"
"Pelayan yang dulu pernah menuangkan air panas padaku."
"Oh, maksud anda Iza?"
"Iya benar, itu dia. Dimana dia sekarang? Aku tidak melihatnya sejak tadi."
"Iza telah di pecat Nona. Ia ketahuan mencuri di paviliun ini sehingga Duke mengusirnya keluar."
"Wow, berani juga dia,"
"Bagaimana itu bisa terjadi?"
"Saat itu secara tidak sengaja rekan saya melihat Iza sedang membongkar kamar anda. Setelahnya ia memilih untuk melaporkan hal
"Oh begitu, terima kasih."
"Sama-sama Nona, jika anda butuh sesuatu silahkan bunyikan bel ini."
Pelayan itu kemudian keluar meninggalkan Senja sendirian. Jujur saja Senja sama sekalian tidak sendirian. Saat ini Khalid sedang berada di sampingnya dan tengah asik menikmati berbagai macam camilan yang tersaji diatas meja.
"Lady, apa anda yakin tidak ingin memakan ini semua?"
"Aku tidak bisa memakan banyak gula akhir-akhir ini karena ujian segera tiba."
"Kenapa begitu?" tanya Khalid dengan pipi yang mengembang karena penuh kue sus.
"Gula dapat memperburuk aliran darah dan bisa bikin diabetes juga."
"Oh begitu,"
Bukannya takut Khalid malah lebih banyak lagi mengkonsumsi makanan manis. Senja yang tidak peduli dengan anak itu segera keluar dari rumahnya untuk menyapa Duke.
Setelah segala urusannya dengan Duke selesai, Senja kemudian memilih mengurung dirinya di dalam paviliun. Ia tidak membiarkan seorang pun masuk untuk menggangu istirahatnya.
"Semua itu hanyalah alibi, aku tidak ingin mereka tahu jika aku sedang tidak ada di paviliun sekarang." gumam Senja sebelum dirinya ditelan oleh cahaya teleportasi.
Beberapa menit kemudian Senja sudah berada di kediaman Sera. Ia dengan santai meminta buku teknik penyembuhan dasar sesuai dengan janji Sera sebelumnya.
Sera pun segera menyerahkan buku itu dan membiarkan Senja berlatih sendirian. Sera ingin melihat sejauh mana Senja dapat melatih kekuatan penyembuhannya.
Setelah mendapatkan buku itu Senja segera melatih teknik barunya. Senja memilih padang rumput sebagai arena latihannya. Hal itu karena tempat ini memiliki Mana murni yang cukup padat.
"Healing adalah salah satu teknik yang dapat digunakan untuk menyembuhkan diri sendiri dan orang lain. Teknik ini biasanya akan menguras habis Mana sehingga dibutuhkan mana yang besar dan...."
Senja membaca keseluruhan latar belakang buku tersebut. Ia tidak ingin memulai suatu hal tanpa tahu penjelasan detail mengenai teknik tersebut.
Setelah dirasa cukup yakin dengan penjelasan dasar, Senja pun mulai melafalkan mantra sihir penyembuhan. Di percobaan pertama Senja gagal, ia bahkan tidak bisa mengeluarkan cahaya apa pun di kedua tangannya.
__ADS_1
Percobaan kedua dan ketiga pun gagal. Senja tidak tahu apa yang terjadi, ia yakin jelas bahwa cara dan tekniknya sudah betul tapi ia sama sekali belum bisa mengeluarkan cahaya penyembuhan dari kedua tangannya.
"Aku yakin sudah merapalkannya sesuai dengan anjuran di buku, tapi kenapa tetap gagal."
Senja tidak menyerah sampai disitu, ia terus saja mengucapkan mantra penyembuhan hingga tanpa sadar waktu sudah berjalan lebih dari dua jam.
"Sial, kenapa tidak bisa? Seharusnya tinggal mengucapkan kata healing dan beres." gerutu Senja tidak senang.
"Healing ...!" teriak Senja untuk kesekian kalinya.
"Healing," kali ini Senja mendorong tangan kanannya ke udara namun lagi-lagi tidak ada hal spesial yang terjadi.
Merasa lelah Senja pun memutuskan untuk berjalan-jalan ria disekitar padang rumput. Lama Senja berjalan sampai akhirnya ia menemukan seekor burung yang sayapnya patah.
Dengan senyum mengejek Senja mendatangi burung itu. Ia ingin mengobati burung itu dengan teknik penyembuhannya namun seperti yang ia tahu bahwa teknik itu sama sekali tidak berguna.
"Sudahlah, apa aku santap saja burung ini." gumam Senja sembari menyentuh kosong perutnya.
"Pik... Pik...!"
Burung itu mencoba untuk tetap terbang meski sayapnya sudah tidak mumpuni untuk digunakan. Dengan malas Senja berteriak heal pada sayap burung itu.
Anehnya beberapa detik kemudian cahaya hijau samar keluar dari telapak tangannya. Senja merasa aliran hangat menjalar keluar dari telapak tangannya itu. Merasa yakin Senja pun melantunkan kembali teknik penyembuhannya.
"Heal!" teriak Senja sekali lagi. Namun yang keluar hanyalah cahaya hijau samar yang langsung redup di detik selanjutnya.
"Heal,"
"Heal,"
"HEAL!"
Senja berteriak dengan lantang dan kali ini cahaya hijau pekat keluar dari telapak tangannya. Cahaya itu semakin membesar setiap kali Senja melafalkan tekniknya.
Merasa yakin dengan perasaan hangat itu Senja pun segera mengirimkan seluruh kehangatan itu agar mengalir di telapak tangannya.
Beberapa saat setelahnya secara ajaib sayap burung itu pun berhenti mengeluarkan darah. Senja yang merasa ada harapan segera merapalkan kembali tekniknya, butuh waktu lebih dari dua puluh menit baginya untuk bisa menyembuhkan sayap burung itu.
Dengan perasaan lega, akhirnya Senja tahu bagaimana cara mentransfer Mana miliknya untuk diubah menjadi kekuatan penyembuhan.
"Sekarang aku tahu bagaimana cara dan prosesnya. Aku hanya tinggal mengontrolnya saja."
Dengan perasaan yakin Senja pun terus berlatih teknik penyembuhan dasar tersebut. Ia hanya akan kembali saat waktunya makan siang sedangkan sisanya akan ia habiskan untuk sesi latihan.
Awalnya teknik penyembuhan ini hanya bisa aktif setelah tiga sampai empat kali rapalan namun seiring lamanya sesi latihan akhirnya Senja bisa menggunakan teknik ini hanya dalam sekali rapalan saja.
"Awalnya aku mengkonsumsi banyak Mana tapi akhirnya aku hanya menggunakan seperempat Mana untuk sekali percobaan."
Semakin sering Senja berlatih maka kapasitas Mana yang ia miliki akan semakin besar. Oleh karena itu latihan adalah cara terbaik bagi Senja untuk bisa meningkatkan skill dan kemampuannya.
Tanpa terasa hari demi hari sudah dilewatinya dan kini adalah hari kelima dimana Senja sedang melatih teknik penyembuhannya. Kini teknik itu sudah bisa ia gunakan secara baik dan maksimal.
"Meski teknik ini hanyalah teknik penyembuhan dasar tapi bisa menghentikan pendaran secara cepat adalah sebuah keuntungan."
Untuk bisa menggunakan teknik penyembuhan menengah setidaknya Senja harus berada di level sepuluh dengan elemen angin yang berada di level yang sama pula.
"Dengan hanya latihan teknik penyembuhan, level elemen angin ku sudah memasuki tahap tujuh akhir. Jika aku terus melatihnya mungkin saja aku bisa menembus level delapan hanya dalam dua minggu."
Kecepatan pertumbuhan Senja sungguh tidak masuk akal, hal itu juga didasarkan pada darah keturunannya yang juga merupakan darah bangsawan hebat dan juga faktor tambahan lainnya.
"Sayang sekali yang bisa masuk ke tempat ini hanya aku seorang," gumam Senja saat memikirkan wajah bawahannya.
Seandainya Dian dan rekannya bisa masuk ke tempat ini, maka pertumbuhan mereka akan meningkat pesat. Setidaknya mereka bisa naik level satu tingkat dalam waktu enam bulan saja.
"Hah, akhirnya besok aku kembali juga ke akademi." gumam Senja sebelum memasuki portal menuju kamar paviliunnya.
Setibanya disana Senja sudah disambut oleh Khalid yang tengah menikmati indahnya malam di paviliun. Ia terlihat seperti layaknya seorang anak jika bersikap santai seperti itu.
"Apa yang kau temui hari ini?" tanya Senja acuh tak acuh.
"Tidak ada, mereka sangat membosankan." keluh Khalid sambil memalingkan wajahnya ke arah Senja.
"Kapan kita kembali?" tanya Khalid setelahnya.
"Besok, kita akan pergi bersama Eza tapi sebelum itu pastikan untuk tidak berbuat ulah."
__ADS_1
"Baik," seru Khalid dengan wajah senangnya.
Senja kemudian pergi menuju bathtub dan menyelesaikan segala urusannya disana. Setelahnya ia kembali ke kamar dengan pakaian tidur dan tanpa membuang waktu Senja pun segera beristirahat.