Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
[S2E39] Curiga


__ADS_3

"Abaikan apa yang menurut mu tidak benar, dan lakukan apa yang kau inginkan. Karena hidup itu hanya sekali, jadi bersenang-senanglah."


****************######*****************


Pelajaran hari ini sama membosankan seperti biasanya. Prof Daru yang mengajarkan ilmu pertahanan sihir membuat Senja merasa lelah. Ia bahkan sejak awal tidak pernah mendengarkan perkataan Prof tersebut.


"Yang aku butuhkan itu pengendalian elemen bukan pertahanan yang membosankan ini. Lagi pula untuk apa ada guardian kalau kita harus melakukan pertahanan juga." batin Senja acuh tak acuh.


"Sihir selalu saja merangkap untuk melakukan hal-hal gila yang tidak berguna," lanjut Senja sambil mengingat kembali sihir hitam di kerajaan Guira.


"Jika kalian sudah mengerti baik tentang hal ini, maka besok kita akan mengadakan sesi pelatihan dasar. Pelajari rumus lingkaran sihir ini dan apabila ada yang kurang di pahami, segera lapor pada saya ataupun belajar dari teman kalian yang sudah paham."


"Baik Prof." jawab seluruh siswa serentak.


"Kalau begitu saya izin..." Prof Daru berhenti sesaat ketika ia melihat salah satu siswa di barisan paling depan mengangkat tangannya.


"Sial, dia lagi." cibir siswa lain yang berada di sekitar siswa tersebut.


"Prof, saya kurang paham dengan simbol di bagian ini." siswa itu menunjukkan sebuah simbol yang berbentuk titik kecil diantara dua lingkaran diagonal.


"Apa maksud dari titik kecil itu?" lanjutnya.


"Astaga, apa yang dia tanyakan sebenarnya? Apa dia itu bodoh?" tanya siswa lain dengan kesal.


Selain Senja, banyak juga siswa lain yang bosan dengan pelajaran ini. Mereka juga tidak terlalu peduli dengan sihir pertahanan, karena menurut mereka sihir itu adalah menyerang bukan bertahan.


"..."


Prof Daru hanya melihat siswa itu dengan senyum ramahnya. Ia terlihat ingin tertawa namun juga menahannya.


"Titik ini merupakan sihir pembatalan. Itu seperti cacat yang terdapat pada pola sihir. Tugas utama kalian bukan hanya membuat pola, tapi juga menyempurnakannya." seru Prof Daru setelah ia diam beberapa saat.


Seluruh siswa bereaksi dengan kaget, mereka tidak menyangka jika kelas ini akan sulit. Memang mudah untuk mempelajari suatu pola namun untuk menyempurnakannya butuh waktu lebih dari 15 hari, itupun harus dikerjakan dengan lebih teliti.


Sedangkan waktu yang diberikan oleh Prof Daru hanyalah satu minggu untuk menyempurnakan pola sihir tersebut. Hal inilah yang membuat mata seluruh siswa di kelas itu menjadi terbuka lebar.


"Saya tahu kalian sangat tidak tertarik dengan sihir pertahanan ini, namun kalian juga harus tahu dalam pertarungan tidak hanya menyerang tapi juga bertahan." lanjut Prof Daru masih dengan senyum ramahnya.


"Saya sadar jika bukan karena pelajaran ini wajib, maka kalian tidak akan pernah datang ke kelas saya. Jadi saya penasaran, siapa diantara kalian yang benar-benar berniat untuk masuk kelas ini."


Setelah mengatakan hal itu, Prof Daru segera bergegas pergi dari kelas. Ia tampak kesal setelah keluar dari kelas itu, bukannya ia tidak tahu jika para siswa tidak menyukai kelasnya, ia hanya tidak ingin mengakuinya saja.


"Brengsek, ini semua karena mu!" teriak salah satu siswa di bangku belakang dengan kesal.


"Dasar bodoh, jika aku tidak bertanya maka kita semua akan gagal dalam kelas ini nantinya," bentak siswa itu kesal.


Ia juga tidak pernah menyangka tentang hal itu, jujur saja ia hanya iseng bertanya tentang pola sihir karena ingin bermain-main dengan Prof Deru. Bukan sekali atau dua kali ia bermain dengan Prof di kelas ini. Ia selalu saja bermain dengan mereka sampai-sampai siswa lain yang berada disekitarnya merasa kesal.


"Tapi tetap saja kau selalu membuat kami dalam masalah." seru yang lain dengan wajah sama kesalnya.


"Tapi kali ini kau beruntung karena membuat kita tidak masuk ke dalam jebakan, tapi jika lain kali kau berbuat seenak mu lagi, maka kami tidak akan tinggal diam." lanjut yang lain sebelum ia memilih untuk keluar dari kelas.


Siswa itu hanya diam, ia juga menyesal namun melihat dari ekspresi wajahnya, ia bahkan tidak berniat untuk berhenti. Ia akan terus melakukan tindakannya sampai ia mendapatkan hal yang ia inginkan dari akademi ini.


"Membuat para Prof malu dan mengakui dirinya pintar, itu semua demi menaikkan jabatan ayahnya dari seorang Vincount menjadi Count." gumam salah seorang siswa yang berada di samping Senja.


Bukan hanya siswa itu, namun seluruh siswa di akademi ini pun sadar akan hal itu. Ayahnya adalah seorang Vincount kaya raya yang ingin mengambil alih warisan kakeknya yang seorang Count dari pamannya yang saat ini menjadi kepala keluarga baru.


"Kehidupan bangsawan yang rumit," batin Senja sambil merapikan alat tulisnya.


Jujur saja Senja tidak takut dengan tantangan yang diberikan oleh Prof Daru. Ia bahkan bisa melakukan lebih dari pada itu, tentu saja perlu dibarengi dengan contoh yang sempurna.


Setelah selesai merapikan alat tulis, Senja kemudian keluar dari kelas. Namun sebelum ia keluar, sebuah suara memanggil namanya.

__ADS_1


"Senja." suara itu terlihat begitu senang.


"Hah..." Senja terlihat malas untuk menjawab panggilan dari pemilik suara itu.


"Senja." panggil suara itu lagi.


"Iya." jawab Senja ramah sambil memalingkan wajahnya untuk melihat pemilik suara tersebut.


"Mau kemana buru-buru sekali?" tanya Kira saat jarak mereka semakin dekat.


"Aku...," Senja terlihat berfikir sesaat sebelum melanjutkan kembali kata-katanya.


"Entahlah, aku juga bingung." lanjut Senja malas.


"Aku tahu kau pusing dengan pola sihir itu, tapi tenang saja kita akan berlatih bersama untuk menyempurnakannya nanti." seru Kira sambil memasang senyum ramah yang hangat.


"Ah, iya. Terima kasih." balas Senja senang.


"Bagus, kalau begitu ayo kita pergi ke perpustakaan bersama untuk mencari jawabannya, tapi sebelum itu kau harus makan. Aku dengar kau kurang sehat sehingga tidak hadir dalam kelas semalam."


Kira menarik tangan Senja masuk ke dalam pelukannya. Ia membawa Senja di sampingnya seolah-olah mereka adalah teman dekat yang baik.


"Benar-benar menjijikan," batin Senja muak.


Meski begitu Senja tidak berniat untuk menolak Kira karena ia ingin melihat sejauh mana tipu muslihatnya. Ia juga ingin tahu apa yang sebenarnya di rencanakan oleh Kira dan kelompoknya belakangnya, maka dari itu ia memilih diam.


****


"Meski wajahnya terlihat baik-baik saja, namun jika diperhatikan dengan teliti akan terlihat jelas bahwa wajah itu sangat pucat," batin Kira setelah melihat wajah Senja dari dekat.


"Ternyata rumor itu benar adanya," lanjut Kira sambil memakan makanannya.


Ia pun tersenyum senang dengan keadaan Senja saat ini. Meski sebelumnya ia kesal karena rumor itu tampak palsu namun sekarang ia begitu bahagia karena wajah asli Senja sudah tampak di depannya.


Kali ini tidak akan ada orang yang akan mengganggu waktu mereka. Itu dikarenakan para sahabat Senja yang jauh darinya. Mereka tidak akan menemui Senja untuk sementara waktu ini karena kegiatan yang mereka hadapi begitu padat.


"Jika ini berhasil maka aku akan mendapatkan posisi itu." batinnya senang.


"Ada apa Kira, kau sedari tadi hanya tersenyum bahagia? Apa kau sudah menemukan jawaban dari pola itu?" tanya Senja polos.


"Ah iya..., eh maksud ku belum." jawab Kira kaget saat baru sadar dari lamunannya.


"Jadi apa yang membuat mu begitu senang?" tanya Senja sekali lagi.


"Itu..., aku senang karena kita bisa bersama setelah sekian lama."


Kira tidak berbohong, ia benar-benar senang saat bersama dengan Senja saat ini. Namun itu bukan dalam arti yang bagus. Bahkan setelah mengatakan hal itu, ia kemudian menyerahkan sebuah botol minum kepada Senja.


"Karena kondisi fisik mu kurang sehat, maka dari itu aku membuat ini." Kira memberikan jus buah naga pada Senja.


"Jus ini akan membuat tubuh mu membaik," lanjutnya masih memasang senyum ramah.


"Terima kasih," balas Senja senang.


"Kurasa rumor itu sudah menyebar, tapi anehnya dimana mereka?" batin Senja sambil menunggu kedatangan Zakila.


Tidak biasa Zakila pergi meninggalkan Senja tanpa kabar. Biasanya mereka selalu menyempatkan waktu untuk Senja meski dalam keadaan sibuk sekali pun.


"Ada yang aneh," lanjut Senja sambil meminum jus tersebut.


"Bagaimana rasanya?" tanya Kira ramah.


"Ini enak..., terima kasih." balas Senja tidak kalah ramahnya.

__ADS_1


Akting Senja sangat hebat, ia bahkan membuat Kira tidak sadar jika jus itu bahkan tidak di minum olehnya.


"Rasa jus ini enak, namun kandungan racun di dalamnya sangat berbahaya." batin Senja acuh tak acuh.


"Akhirnya usaha ku membuahkan hasil," gumam Kira saat melihat wajah polos Senja yang bahkan tidak sadar jika seluruh makanan dan minumnya telah diberi racun.


"Jika Senja terus memakan ini semua, maka ia akan mati secara perlahan." lanjut Kira yang tidak bisa menutupi kesenangannya.


"Kira kau juga harus mencobanya sedikit," Senja menyodorkan jus buah tersebut. Dibandingkan dengan makanan, jus buah ini jauh lebih banyak memiliki kadar racunnya.


"Aku tidak bisa, sebab ini khusus aku buat untuk mu." balas Kira dengan wajah yang mulai panik.


"Aku tahu, maka dari itu aku ingin kau mencicipinya sedikit. Apa ada masalah dengan itu?" tanya Senja sekali lagi sambil memutar-mutar botol minuman tersebut.


Kira terlihat ragu, ia takut jika Senja akan menyadari bahwa dirinya berpura-pura. Meski Senja terlihat polos namun tidak bisa di pungkiri bahwa ia sebenarnya adalah anak yang pintar.


"Sial," batin Kira saat mengambil botol minuman itu dari Senja.


Melihat jus buah naga di hadapannya membuat keringat dingin bercucuran di leher Kira. Sayangnya hal itu tidak bisa terlihat karena Kira memakai syal panjang untuk menutupi lehernya tersebut.


"Sialan kau Senja," batin Kira sekali lagi saat melihat senyum polos Senja yang memperhatikannya.


"Ayo di minum," seru Senja dengan bibir yang melengkung hangat.


"Kau juga harus tahu rasanya seperti apa," batin Senja tidak sabar melihat reaksi Kira meminum jus tersebut.


Dengan terpaksa Kira pun meminum jus itu, ia terlihat begitu menikmatinya walau pun jelas ia sangat tidak suka.


"Ini enak," lirih Kira setelah sekali teguk.


"Jika enak, maka minumlah lagi." balas Senja masih dengan senyum polosnya.


"Itu tidak bisa, aku membuatnya khusus untuk mu masa aku yang harus menghabiskan ini."


"Tapi aku sudah kenyang? Sayang jika jus seenak ini harus dibuang."


Kira berfikir sesaat sebelum menjawab pertanyaan Senja kembali.


"Kau bisa menyimpan ini untuk nanti dan..."


"Tapi nanti rasanya tidak enak lagi, aku jadi merasa bersalah dengan itu." potong Senja sambil terlihat sedih sedangkan Kira menjadi sangat kesal.


Ia tanpa sadar menggenggam telapak tangannya dengan erat sambil menahan amarah melihat wajah sedih Senja.


"Brengsek, apa dia ingin bermain dengan ku?" batin Kira marah.


"Karena kau bilang enak, kenapa tidak kau habiskan saja. Lagi pula dari sedari kau tidak makan apa pun." Seru Senja dengan wajah khawatir.


"Tidak ada waktu lagi untuk makan siang, karena sebentar lagi kita akan masuk kelas Prof Lila. Kau tahu sendiri bukan jika Prof Lila sangat tidak suka siswa yang terlihat kelaparan dikelasnya." lanjut Senja sambil melihat jam dinding sekolah yang menunjukkan pukul 13:55 siang.


Kira yang mendengar perkataan Senja menjadi cukup emosional. Ia ingin marah dan memaksa Senja untuk meminum habis jus tersebut namun ia tidak bisa melakukan hal itu karena takut Senja akan curiga padanya.


"Aku harus bagaimana?" batin Kira panik sambil melihat botol yang masih penuh dengan jus buah naga.


"Kira? Ada yang salah?" tanya Senja sekali lagi.


"Tidak ada, aku akan meminumnya." jawab Kira sambil memejamkan matanya erat.


"Tentu Dira punya penawar untuk racun ini, jadi aku bisa tenang." batinnya berusaha untuk menenangkan diri.


Pada akhirnya Kira pun meminum habis jus buah naga itu. Ia meminumnya dengan sekali teguk sebelum mereka memutuskan untuk kembali lagi ke kelas.


"Hahaha..., ini baru awal dari permainan, jadi jangan menyerah begitu saja." batin Senja puas saat melihat wajah Kira yang tersiksa.

__ADS_1


__ADS_2