Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Festival Rakyat pt 3


__ADS_3

"Terkadang rasa cemburu membuatmu lupa bahwa dia bukan lagi milikmu."


******************#####****************


Suasana plaza yang ribut karena pertarungan antara Kaira dan Dera, kini menjadi semakin tegang karena datangnya Marques of Sein. Marques sengaja datang karena panggilan putrinya yang mendesak.


"Apa yang kau lakukan pada putriku?" teriak Marques Sein kesal.


"Berani sekali kau menyentuhnya?" bentaknya sekali lagi saat melihat wajah Dera yang berantakan.


"..."


Kaira yang kesal hanya diam sambil memelototi Dera dan juga Marques, sedangkan Dera sendiri saat ini sedang tersenyum licik dibelakang punggung ayahnya.


"Rasakan itu," gumam Dera pelan di ujung bibirnya.


"Kau akan tamat kali ini," lanjutnya dengan senyum kemenangan.


Kaira yang muak dengan keadaan ini hendak menyerang Marques secara bruntal namun hal itu berhasil dicegah oleh Luna yang saat ini sedang memeluknya.


"Kaira, kau harus sabar," bisik Luna pelan.


"Belum saatnya untuk serangan balik," lanjutnya sambil menekan kembali kekuatan Kaira.


"Hah, sialan," maki Kaira kesal karena duo anak-ayah yang sedang menatapnya sinis.


"Opi, buat mere..."


"Saya tahu Nona," potong Opi dengan suara dinginnya.


Segera setelahnya, aura aneh mulai mengalir keluar dari tempat tersebut. Marques yang juga merasakan hal ini menjadi sangat tengang dan bercucuran keringat. Tentu saja ia tahu bahwa Kaira bukanlah lawan yang mudah namun demikian, karena harga dirinya yang tinggi ia mencoba untuk tetap terlihat santai.


"Berani sekali kau menyakiti putri ku," gerutunya sambil membuka perisai pertahanan untuk Dera yang tidak tahan dengan aura intimidasi dari Opi.


"Hentikan ini..."


"Kau juga harus menghentikan itu Marques," seru Kaira dingin.


"Berani sekali putri rendahan mu itu melecehkan aku. Apa kau lupa tentang itu, hah?"


Pertanyaan Kaira sontak membuat Marques merinding ketakutan. Wajahnya kemudian menjadi pucat dengan tangan yang mulai rapuh dari tangkai pedangnya.


"Kurasa kau sudah lupa akan hal itu," lanjut Kaira sinis.


Marques yang gugup perlahan menurunkan pedangnya, ia dengan santai turun dari kudanya dan mendekati Kaira.


"Aku mengingatnya dengan sangat jelas," seru Marques kasar.


"Tapi nyawa putri ku lebih berharga dari itu."


"Oho, kau lancang sekali. Meski begitu, kau tidak pantas mengatakannya disini."


Perkataan Kaira yang provokasi sontak membuat Dera kesal.


"Ayah!" panggil Dera setelah berhasil menahan tekanan tersebut.


"Dia, dia berani mengejek ku ayah. Dia bilang aku tidak pantas dengan pangeran kedua..."


Wajah Dera tampak mendung, ia kemudian mulai meneteskan air matanya.


"Dia mengatakan jika aku wanita ja*lang yang buruk dan tidak tahu diri."


Tangis Dera kemudian pecah disana. Ia dengan liciknya memuntahkan omong kosong yang semua orang tahu bahwa itu tidak benar.


"Dia gadis bodoh yang terlihat cukup licik," batin Luna kesal.


"Kaira, bersabarlah sebentar lagi," lanjut Luna saat ia merasakan getaran hebat pada tubuh Kaira.


"Sabarlah sebentar lagi Kian akan datang," bisik Luna pelan sambil memperkuat pegangannya.


"..."


Kaira hanya diam membeku, ia mencoba untuk tenang sesuai dengan instruksi dari Luna namun tindakan bodoh Dera telah membuat kesabarannya habis kali ini.


"Mulut anakmu sangat tajam Marques. Aku rasa saat ini ia sedang mengatai dirinya sendiri. Sungguh idiot."


Dera yang mendengar hal itu menjadi semakin gila, ia terus saja menangis tanpa henti disana. Ia melakukan hal itu agar orang-orang disekitarnya iba dan pada akhirnya memihak padanya.


Sayang, apa yang dilakukan Dera malah membuatnya semakin terlihat menyedihkan. Para rakyat yang melihat Dera menangis dengan tersedu-sedu hanya bisa menghela napas dengan gumaman yang menyedihkan untuk keluarganya.


"Marques yang malang dan putrinya yang bodoh," bisik para rakyat yang semakin menjauhi medan pertempuran.


Marques yang sedih melihat putrinya menangis dan para rakyat yang mencemoohnya, membuat dirinya semakin kesal dan bimbang. Ia tahu saat ini putrinya sedang bersandiwara namun ia tidak bisa begitu saja mengalah.


"Ini mengenai harga diri keluargaku. Bagiamana pun caranya aku harus menyelamatkan harga diri itu,"


Kini dengan erangan yang keras ia kemudian mengeluarkan aura dominasinya disana. Aura itu bersinar dengan terang bersamaan dengan pedang di genggamannya. Tanpa aba-aba Marques langsung menyerang Kaira yang sedang ditahan oleh Luna.


"Menjauh," teriak Kaira sambil mendorong tubuh Luna ke belakang.


"Sialan kau Marques," teriaknya sekali lagi saat pedang itu mencoba untuk mengoyak dagingnya.


"Kau sudah berani melewati batasan mu saat ini."


Kaira yang kesal lalu meluncurkan panah apinya pada Marques dan juga bawahannya.


"Arg..."


Teriakan demi teriakan terus terdengar sangat panah itu menghantam targetnya. Marquez yang panik, kemudian memblokir anak panah itu dengan pedangnya.


"Ayah!" teriak Dera saat panah api mulai jatuh dihadapannya.

__ADS_1


"Dera," pekik Marques sambil menghalangi panah tersebut.


"Ugh, sialan."


Panah api yang seharusnya mengarah pada Dera, kini tengah bersarang di kulit lengan kirinya. Tampak sangat kacau dengan darah yang mulai mengalir keluar dari luka bakar tersebut.


"Ayah, kau..., kau terluka!" pekik Dera sedih saat lengan kiri ayahnya mengeluarkan darah.


"Dasar wanita iblis, berani sekali kau pada ayahku," Teriak Dera sedih.


"Nak, menjauhlah," bisik Marques pilu.


"Jangan biarkan dirimu terluka oleh ini."


"Tapi ayah..."


"Turuti perkataan ayahmu ini, jika kau ingin aku hidup."


Dera yang mendengar perkataan ayahnya menjadi sangat pucat. Ia merasa menyesal karena telah memancing amarah Kaira namun ia juga sedih dan kesal karena keberadaan Kaira di kerajaan ini.


"Sungguh pemandangan yang manis," seru Kaira dengan tombak api yang tengah mengarah keduo anak-ayah tersebut.


"Bagaimana rasanya jika kalian mati terbakar disini bersamaan?" tanya Kaira dingin.


"Huhuhu...."


Dera hanya bisa menangis dengan pilu saat tombak api tepat berada di hadapannya.


"Ayah, aku..."


Perkataan Dera terhenti saat ia melihat wajah pucat ayahnya. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Marques tapi yang pasti saat ini ia tengah membeku di tempatnya.


"Apa aku salah? Apa sedari awal aku pergi saja dari sini?"


"Aku tidak seharusnya memancing wanita ganas itu. Wanita yang kekuatannya bahkan bisa menghancurkan keluargaku, ah tidak bahkan kerajaan ini bisa ia hancurkan dengan muda jika ia mau," lanjut Marques sambil membayangkan kejadian yang terjadi 3 tahun yang lalu.


"Ini merupakan aib kerajaan yang sangat memalukan!" teriak para petinggi kerajaan.


"Bagiamana bisa seorang Ratu masa depan memiliki hubungan terlarang dengan saudara laki-lakinya. Ini sungguh memalukan Yang Mulia, ini aib besar bagi kerajaan kita."


Raja hanya bisa menghela napas atas protes yang di tunjukkan oleh bawahannya. Ia tampak sangat frustasi saat mengetahui putri tercintanya menjalin hubungan asmara dengan pangeran kedua yang merupakan saudara seayah.


"Hah, putri ku yang malang," batin Raja sedih.


Raja sebenarnya sangat menyayangi putrinya itu, ia berharap putrinya itu akan menggantikan posisinya suatu hari nanti.


"Raja, kami mohon keluarkan dari dia dari status putri mahkota," seru salah satu diantara mereka.


"Benar Raja, kita tidak bisa menerima aib besar seperti itu. Jika putri masih menduduki statusnya saya khawatir ia akan menjadi Ratu yang membawa aib besar...."


"Beraninya kalian!" teriak Raja memotong perkataan petinggi tersebut.


"Dia putriku, putriku."


"Tidak ada seorang pun disi..."


"Ayah," panggil putri tersebut sendu.


"Aku sudah memikirkan ini sejak lama saat aku di kurung di istana," lanjutnya sedih.


Raja diam menatap mata sedih putri kesayangannya itu.


"Sebaiknya aku mema...."


"Diam Kaira!" teriak Raja menghentikan omong kosong putrinya itu.


"Jangan katakan apa pun lagi disini."


"Tapi ayah,"


"Cukup, cukup aku mendengar ini semua," bentak Raja dengan wajah menekuknya.


"Sekarang aku yang akan bertanya pada kalian."


Kini raja menatap para petinggi dengan ganas.


"Hukuman apa yang akan diberikan pada pangeran kedua yang telah melewati batasannya?" tanya Raja dingin.


"Ayah!"


"Kaira, diam disana," seru Raja saat Kaira hendak berdiri dari duduknya.


"Jangan melewati batasan mu. Disini akulah pemimpinnya."


Kaira kemudian diam, ia kembali lagi pada duduknya.


"Raja, keputusan yang paling bijak adalah menikahkan pangeran kedua dengan putri salah satu diantara kami-kami ini."


Mata pangeran kedua bergetar dengan hebat saat mendengar tentang pernikahannya. Ia menatap sedih pada Kaira yang saat ini juga berwajah pucat.


Raja yang mendengar usulan itu kemudian melihat kearah pangeran kedua dan putri kesayangannya. Ia merasa ini adalah keputusan yang tepat untuk menjauhkan Kaira dengan pangeran agar ia bisa fokus dalam urusannya mengurus kerajaan.


"Baiklah, sepertinya itu adalah ide yang bagus."


"Ayah!" teriak Kaira dengan keras sambil berdiri dari kursinya.


"Kaira, berhenti disana. Jangan berani-beraninya kau melangkah keluar dari kursi mu."


Wajah Raja tampak kesal dengan sikap bar-bar putrinya. Ia lalu menyuruh para prajurit menjaga kursi Kaira.


"Dengan ini, aku perintahkan pangeran kedua menikahi putri dari Marques of Sein dengan segera."

__ADS_1


Perintah Raja yang gegabah membuat Kaira meloloskan air matanya. Ia menangis karena sakit yang menusuk jauh ke dalam hatinya. Hal yang sama juga di rasakan oleh pangeran kedua, ia tampak sangat pucat dengan wajah yang membeku.


"Itu berita yang bagus Raja," seru para petinggi dengan senangnya.


"Jadi masalah ini sudah selesai bukan?" tanya Raja lelah sambil berdiri dari duduknya.


"Belum Yang Mulia, anda belum memutuskan hukuman bagi putri Kaira."


"Hah, sialan. Apa lagi yang kalian inginkan?"


Raja tampak marah karena putri tersayangnya ingin di adili.


"Seperti yang kami katakan sebelumnya, putri Kaira sudah tidak lantas lagi menduduki singgasananya. Ia adalah aib bagi kerajaan kita."


Mendengar hal itu, Raja memaki para petinggi secara internal. Ia sama sekali tidak ingin Kaira keluar dari tahtanya, ia ingin Kaira yang akan menggantikannya kelak.


"Raja, putuskan dengan segera."


"Hah, ini membuatku gila," gumam Raja frustasi.


Kaira yang awalnya masih syok dengan keputusan ayahnya kini mulai kembali menjadi dirinya sendiri. Ia dengan perlahan menatap kearah saudara laki-lakinya itu sebelum bangkit dan menatap Raja.


"Ayah, tidak maksudku Raja. Turuti saja kemauan dari para petinggi ini."


Mereka yang mendengar penuturan Kaira sontak kaget dan membeku. Terlebih lagi Raja dan pangeran kedua.


"Kaira, tidak maksudku saudara. Apa yang kau katakan barusan? Pikirkan dengan baik-baik jangan karena kesalahanku kau menjadi gila seperti ini," lirih pangeran kedua dengan suara pelannya.


Kaira hanya mengabaikan suara itu dengan tatapan tajamnya mengarah pada Raja.


"Biarkan aku pergi, biarkan aku keluar dari neraka ini ayah. Aku ingin bebas dan menjalani hidup dengan damai sebagai Kaira bukan seorang putri."


Perkataan Kaira selanjutnya membuat Raja dan bawahannya syok berat.


"Kaira..." teriak Raja yang terpotong karena tatapan dingin dari Kaira.


"Aku serius Raja, keluarkan aku dari posisi yang melelahkan ini. Aku muak dengan hal ini semua."


"Kaira, tolong pikirkan lagi," seru pangeran kedua dengan frustasinya.


"Apa ini akhir dari keputusan mu?" tanya Raja melalui link batinnya dengan Kaira.


"Iya ayah. Aku tidak ingin menjadi gila karena terus-terusan berada disini."


Jawaban Kaira berhasil membuat Raja merenung sesaat. Lama Raja memikirkan tentang keputusan teguh dari Kaira. Ia akhirnya menghela napas panjang dengan hal itu.


"Apa syaratnya?" tanya Raja lemah. Para petinggi menjadi bingung dengan percakapan intim Raja dan putrinya.


"Bebaskan aku dari segala aturan yang ada. Aku ingin melakukan apa pun yang aku mau serta berada dimana pun yang aku inginkan."


"Hah, baiklah."


Keputusan Raja yang menyetujui putrinya membuat para petinggi khawatir, mereka takut dengan membebaskan Kaira dari segala macam aturan akan membuatnya menjadi semakin liar.


"Bagiamana ini?" tanya salah satu petinggi dengan putus asanya.


"Raja, tolong pikirkan kembali keputusan...."


Petinggi itu menghentikan perkataannya saat Raja menatapnya dengan tajam.


"Seharusnya kalian senang dengan ini bukan?" tanya Raja kesal.


"Jangan buat aku menarik lagi perintahku dengan mengubur kalian hidup-hidup."


Perkataan Raja membuat mulut para petinggi diam tanpa kata.


"Baiklah Yang Mulia," balas mereka kaku.


****


"Ayah!" teriak Dera saat ayahnya hanya diam terpaku ditempatnya.


"Ayah....!" teriaknya sekali lagi sambil mengguncang tubuh ayahnya.


"Ah iya, iya. Ada apa?" tanya Marques panik.


"Ayah, apa yang sedang kau pikirkan saat ini?" tanya Dera bingung.


"Aku..., tidak yang lebih penting kita harus pergi dari tempat ini."


Marques lalu mendorong putrinya menjauh sambil mengarahkan pedangnya kearah tombak api Kaira.


"Tidak ada aturan, artinya ia bisa dengan bebas menebas kepalaku dan juga putriku disini," batin Marques berkeringat hebat. Ia tanpa sadar menyentuh lehernya yang sudah dibanjiri oleh puluhan keringat.


"Sial," gumamnya pelan.


Kaira yang melihat wajah pucat Marques lantas tertawa licik secara internal. Ia saat ini sudah berada di puncak emosi terdalamnya, dengan kilatan amarah ia hendak melancarkan aksi serangannya itu.


"Mari kita akhiri ini," batin Kaira lelah.


Pada saat tombak api hendak menghantam tubuh Marques, entah mengapa ada sesuatu yang aneh terjadi disana.


"Ayah!" teriak Dera panik saat wajah ayahnya hendak terbakar habis oleh tombak api tersebut.


"Apa-apaan ini?" bentak Kaira dingin. Ia menjadi bingung saat tombak apinya menghilang tanpa jejak saat hendak menghantam tubuh Marques yang sedang meringkuk ketakutan.


"Siapa yang berani melakukan ini?" tanya Kaira sekali lagi dengan aura intimidasi yang pekat.


"Cukup!" teriak sebuah suara misterius. Kaira dengan kesal mengalihkan pandangannya menuju asal suara tersebut. Di sana berdiri seorang laki-laki muda dengan wajah tampannya. Laki-laki itu memiliki warna mata coklat dengan rambut ikal bergelombang. Ia tampak sangat tampan dengan penampilannya itu.


"Pangeran kedua," gumam Kaira dengan pandangan dinginnya. Ia tampak sangat kesal saat melihat wajah pangeran kedua yang saat ini sedang menatapnya pilu.

__ADS_1


"Sialan,"


__ADS_2