Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Fakta pt 2


__ADS_3

"Alat yang dulunya hanyalah sebuah pajangan, kini berubah menjadi media pengendali."


*****************#####*****************


Setibanya Nindia di kota asalnya, ia segera mendatangi Walikota yang merupakan ayahnya sendiri. Walikota yang sama sekali tidak mengetahui kedatangan tiba-tiba putrinya itu, segera menunda segala aktivitasnya lalu menemui Nindia.


Segera Nindia menyerahkan lencana berbentuk kelinci itu pada ayahnya. Awalnya Walikota beranggapan jika cerita yang diceritakan oleh putrinya itu hanyalah sebuah tipuan. Ia sama sekali tidak pernah melihat ada seseorang yang bisa dikendalikan dengan sebuah lencana.


"Aku rasa pria itu telah menipu mu, nak."


"Ayah, aku tahu ini mustahil tapi percayalah," seru Nindia dengan rasa percaya dirinya.


"Apa kau menemukan sesuatu di lencana ini?" tanya Walikota serius.


Nindia diam sejenak, ia bingung harus berkata apa. Kepercayaan dirinya mulai menurun seiring banyaknya pertanyaan dari ayahnya itu.


"Kurasa kau sudah tahu jawabannya."


Walikota berkata sambil meletakkan lencana tersebut di atas meja.


"Ta, tapi ayah...!" lirih Nindia panik. Ia mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ada sesuatu yang tidak beres dari lencana itu.


"Aku yakin, aku sangat yakin. Pasalnya setelah lencana itu lepas dari tubuhnya, ia baru tersadar," jelas Nindia saat ayahnya hendak keluar dari ruangan.


"Hah, sebaiknya kau kembali saja. Ayah masih punya banyak urusan disini."


Walikota lalu membuka pintu ruangan tersebut. Namun ketika ia hendak melangkah keluar, hal aneh pun terjadi.


Lencana itu bergetar dengan kencang sehingga meja yang ia tempati bergeser masuk ke dalam. Perlahan asap hitam mulai mengepul di sekeliling lencana tersebut. Lencana itu seketika terangkat ke udara, seakan-akan asap hitam menariknya naik ke atas.


Baik Nindia ataupun Walikota merasa jika hal ini tidak wajar. Walikota yang telah membuka pintu lebar-lebar segera menutupnya kembali agar lencana itu tidak bisa terbang keluar dari ruangan ini.


"Apa ini? apa yang sebenarnya telah terjadi!" pekik Walikota kaget. Ia dengan kekuatan elemental tanahnya segera mengunci lencana tersebut dengan akar pohon yang ada di sekitar mereka.


"Nindia, panggil Phel segera."


Nindia lalu keluar dari ruangan tersebut dan segera pergi untuk mencari Phelian.


Phelian adalah seorang ahli nujum, ia terkenal dengan caranya mengendalikan mayat hidup. Pada dasarnya, Phelian adalah manusia biasa yang tidak sengaja menghirup mana mati di wilayah timur ini. Dengan bantuan ayahnya Nindia sebagai Walikota, Phelan pun dirawat dan tumbuh disana sebagai ahli nujum.


Beberapa saat kemudian, Nindia kembali lagi ke ruangan tersebut bersama dengan Phelian di sampingnya. Phelian yang menyadari kekuatan hitam yang tengah bergelut di dalam ruangan, segera masuk dan mengikat lencana tersebut dengan kekuatannya.


"Paman, serahkan ini pada ku!" teriak Phelian sambil mengeluarkan asap hitam di kedua telapak tangannya. Asap hitam itu lalu membumbung tinggi dan kemudian membentuk sebuah kotak penjara segitiga.


"Aku akan mengikatnya," lirih Phelian saat mencoba memasukkan lencana itu ke dalam penjaranya. Setelah lencana itu berhasil masuk, suasana ruangan kembali seperti semula.


"Ah, aku lelah."


Walikota yang sudah tua tampak berkeringat hebat. Sebagian bajunya basah sehingga menampakkan bentuk tubuhnya yang seperti roti sobek.

__ADS_1


"Ambilkan aku air," keluhnya sambil menyuruh salah satu bawahannya mengambil minuman dingin.


"Dari mana paman mendapatkan benda ini?" tanya Phelian dengan wajah dinginnya.


Walikota lalu menunjuk ke arah Nindia karena ia sudah lelah untuk sekedar menjelaskan. Phelian kemudian menatap Nindia yang terlihat bingung dengan lencana yang sudah berada di dalam kurungan itu.


Nindia lalu menatap ke arah Phelian sambil bertanya, "Benda apa ini sebenarnya." Phelian dengan polosnya menjelaskan jika benda ini adalah media pengendali.


Nindia yang mendengar ucapan Phelian hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia kini mengerti mengapa Baron Vigui menjadi gila seperti mayat hidup.


"Hah, sialan. Sudah aku duga pasti ada yang tidak beres dengan benda gila itu," makinya sambil melirik ke arah ayahnya yang saat ini sedang mengalihkan pandangan ke tempat lain.


"Kakak, darimana kau mendapatkan benda ini?" tanya Phelian sekali lagi.


"Kerajaan Guira,"


"Astaga, ini gila!" pekik Phelian kaget. Ia sedikit tahu mengenai Kerajaan itu dari beberapa buku dan kisah yang diceritakan oleh peri hitam yang pernah mampir kesana.


"Aku pikir Kerajaan itu sangatlah baik, tapi apa ini?" tanya Phelian kecewa. Ia seperti mendapatkan pukulan telak yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.


"Apa kau tahu sesuatu?" tanya Nindia bingung dengan sikap Phelian saat ini.


"Kakak, benda ini adalah media yang sering digunakan para ilusionis untuk menyihir bawahannya. Ia melakukan itu juga kepada musuhnya, sehingga dengan ini..."


Phelian mengehentikan sejenak perkataannya, ia lalu melihat kembali ke arah lencana yang masih terbang kesana-kemari tidak menentu di dalam sarang.


"Dengan benda ini, ilusionis bisa mengatur siapapun yang terpengaruh. Ia juga bisa memerintahkan mereka untuk bertindak sesuai kemauannya. Dan kakak bisa lihat sendiri."


"Asap ini menunjukkan seberapa kuat medianya. Semakin hitam asapnya, maka semakin kuat pulalah medianya."


Penjelasan Phelian sontak membuat Nindia dan Walikota merasa merinding. Mereka sama sekali tidak pernah berpikir jika sebuah benda mati bisa menjadi alat yang sangat menakutkan.


"Bisa kau jelaskan, apa itu ilusionis yang sesungguhnya?" tanya Nindia penasaran.


"Ilusionis memiliki kekuatan yang hampir sama dengan ku, hanya saja mereka membutuhkan media untuk menyalurkan kekuatannya. Sedangkan aku tidak," jelas Phelian perlahan.


"Ilusionis biasanya memiliki partner untuk bekerja sama, dan biasanya juga partnernya itu berupa hewan. Seperti tikus ataupun hewan sejenisnya. Sialnya, kita tidak bisa menghilangkan ilusi hanya dengan membunuh sang ilusionis karena mantranya akan tetap bertahan. Selain ilusionis itu sendiri, tidak ada seorang pun yang bisa memutuskan mantra tersebut, kecuali..."


Phelian lalu menunjuk ke arah lencana tersebut dengan jari telunjuknya.


"Kecuali jika dia menggunakan media seperti ini. Lencana ini akan dengan mudah lepas dan juga bisa dibawa kemana-mana tanpa harus ada dirinya di sekitaran orang tersebut. Karena ilusi itu memiliki jarak pengendalian, sehingga jika jaraknya terlalu jauh, maka ia akan hidup seperti mayat," lanjut Phelian menjelaskan.


"Hah, sekarang aku tahu."


Nindia lalu berdiri dari duduknya dan memutuskan untuk menemui Senja.


"Aku akan pergi untuk memberitahukan hal ini pada Nona," serunya saat hendak keluar dari ruangan tersebut.


"Dan satu hal lagi, Phel. Aku ingin kau terus mengawasi lencana itu dan jika ada hal aneh yang terjadi lagi dengannya, segera kabari aku," lanjut Nindia sebelum menutup pintu ruangan.

__ADS_1


****


Setelah mendengar keseluruhan cerita Nindia, kini Senja tahu alasan mengapa rakyat Kerajaan Guira menjadi aneh seperti itu. Selain itu, pengaruh yang sama juga terjadi pada wilayah kekuasaan Count Difani yang membuat Senja semakin yakin jika ilusionis pasti ada di sekitar mereka.


"Apa kau masih belum tahu siapa ilusionis yang sesungguhnya?"


"Maaf Nona, aku sama sekali tidak bisa melacaknya hanya dengan lencana itu."


"Baiklah, aku mengerti."


"Tapi Nona, Phel mengatakan padaku jika lencana itu pasti terhubung dengan pemiliknya, sehingga kita masih bisa menemukan jejaknya."


Senja diam sesaat sebelum mengangguk mengerti atas perkataan Nindia.


"Baiklah, aku serahkan tugas ini lagi padamu."


"Baik Nona dan..."


Nindia diam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Terima kasih karena telah percaya pada saya."


Nindia lalu pergi meninggalkan kamar Senja saat Dian masuk ke dalam kamar dengan beberapa nampan kue.


"Dian, segera siapkan teleportasi. Kita akan pergi ke asrama," seru Senja sambil berdiri dari kasurnya.


"Astaga Nona, apa anda sudah gila, hah?"


"Kurasa begitu," balas Senja acuh sebelum memasukan macaron ke dalam mulutnya.


"Hah, astaga!" pekik Dian frustasi. Ia lalu keluar dari kamar Senja dan melakukan tugasnya.


Beberapa saat kemudian, Senja dan Dian serta Eza sudah berada di dalam kamar Senja. Di sana Eza kembali seperti biasa. Ia menjaga Senja seperti sebelumnya sedangkan Dian tetap berada di samping nona nya itu.


"Dian, siapkan segala keperluan untuk pesta nanti malam dan suruh Eza untuk menyiapkan kereta kuda seperti biasa."


"Baik Nona," balas Dian lalu pergi meninggalkan Senja sendirian di dalam kamar.


"Akhirnya, aku kembali juga," batin Senja ketika berjalan menuju balkon kamarnya.


"Tempat ini sama sekali tidak berubah, hanya saja..."


Perkataan Senja terhenti saat ia melihat ke arah langit, ada kubah besar yang mirip dengan milik Ristia namun terasa lebih kompleks dan rumit. Kubah itu menutupi keseluruhan area akademik semenjak renovasinya.


"Kuat, namun tidak lebih kuat dari milik Ristia. Ya setidaknya kubah ini sudah cukup untuk membuat penyusup kewalahan," lanjutnya acuh tak acuh.


Senja kemudian melihat ke area bawah gedung dimana kedua sahabatnya sedang berjalan masuk menuju asrama.


"Mereka kembali," lirihnya datar saat kedua sahabatnya itu mulai menghilang dari pandangannya. Senja kemudian kembali fokus memandangi kubah yang bersinar terang meski hari masih tergolong cerah.

__ADS_1


"Seperti penjara saja,"


__ADS_2