Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
LSTG Pt 3


__ADS_3

"Balas dendam terbaik adalah dengan hidup bahagia."


*****************#####*****************


"Sudah selesai?" tanya sebuah suara yang terdengar akrab di telinga Muna ketika pertama kali membuka matanya setelah teleportasi.


" ... "


Muna hanya diam menatap asal suara tersebut. Ia melirik ke segala arah mencari mahkluk lain di tempat itu selain mereka berdua.


"Tidak ada monster disini aku sudah mengeceknya terlebih dahulu."


"Dimana yang lain?"


"Entahlah, seperti yang kau lihat hanya kita berdua disini."


"Kapan kau tiba?"


"Tadi malam setelah membuatnya jatuh ke perangkap aku langsung teleportasi ke sini."


" ... "


Sekali lagi Muna hanya diam mendengar penuturan dari Maya.


Disisi lain Zakila harus berhadapan dengan Arina yang menggunakan sihir serangan tanah terhadapnya, tampak bahwa Arina sangat agresif dalam serangan ini.


"Zakila, apa kau masih bisa bertahan?"


Luna bertanya dengan nada khawatir setelah melihat wajah kelelahan Zakila.


"Aku baik, fokus saja dalam serangan mu karena aku akan menjaga mu dari sini," teriak Zakila mantap yang dibalas senyuman nakal oleh Dira.


Sejak awal Dira sudah merasa aneh dengan kehadiran salah satu dari si kembar yang bukannya menyerang dengan pedang ia malah bertahan dengan perisai.


"Artinya dia bukan Maya melainkan Zakila," gumam Dira singkat sebelum melancarkan serangan tombak api pada keduanya.


"Aku rasa kali ini Mari dalam masalah besar. Aku tahu dia sangat tidak sabaran, siapa tahu jika nasibnya akan sial seperti itu,"


Dira tabah membayangkan nasib buruk Mari ditangan Maya. Tentu saja ia tahu jika kekuatan Mari tidak sebanding dengan kekuatan Maya yang merupakan ahli serangan.


"Kita harus segera menyelesaikan ini," bisik Dira pada Arina yang dibalas anggukan kepala.


Dira harus cepat-cepat membantu Mari jika tidak ingin kelompoknya kalah telak pada ujian kali ini.


Luna yang menyadari perubahan sikap Dira merasakan keuntungan yang besar. Gerakkan Dira semakin jauh semakin tajam, ini sudah dua hari sejak hari pertama kali ia terpisah dengan kelompoknya.


"Aku harus menggiring mereka berdua jauh ke dalam," gumam Luna sambil menarik tangan Zakila untuk berlari jauh ke dalam hutan.


"Hah sialan, beraninya kau kabur lagi dari ku," teriak Dira frustasi setiap kali melihat Luna yang selalu kabur menuju kedalaman hutan.


"Aku ingin menyelesaikan ini dengan cepat, jadi berhentilah kabur dan lawan aku," teriaknya sekali lagi sambil meluncurkan panah api di tangannya.


Arina yang sedari tadi mendampingi Dira juga tidak mau kalah, ia meluncurkan tombak batu ke arah Luna yang sedang berlari namun semua itu berhasil dihalangi oleh perisai Zakila.


"Dia benar-benar menjadi pengganggu," gerutu Arina kesal setiap kali serangannya di blokir Zakila.


"Dira, kita harus menyerangnya dari dua sisi agar perisai itu bisa jatuh kali ini."


"Ide yang bagus."


Senyum licik muncul dari bibir Dira. Ia kemudian bergerak ke arah barat sisi Luna sedangkan Arina masih berada di belakang mereka. Segera Dira meluncurkan serangan panah api menuju Luna. Panah itu lebih mirip hujan dari pada yang sebelumnya.


"Itu terlalu banyak," rintih Zakila yang masih menopang keduanya dengan perisai di kedua sisi tangannya.


"Bertahanlah sedikit lagi, kita akan segera sampai."


Luna semakin mempercepat larinya, hanya butuh beberapa langkah lagi sampai ia berada dititik tujuan.


"Arina, Sekarang!" teriak Dira tajam.


Arina yang mendengar perintah Dira lalu membuat pergerakkan Luna dan Zakila menjadi tidak seimbang, ia menggoyangkan tanah tempat dimana Luna dan Zakila berada sehingga tubuh keduanya tidak seimbang dan jatuh.


Perisai yang ada pada tangan Zakila menghilang karena keseimbangan kakinya goyah. Segera Dira tidak membuang waktunya lagi, ia langsung mengarahkan tombak api besar menuju Luna dan Zakila.


Melihat tombak api besar menuju mereka, Luna segera mengeluarkan tombak api yang sama besarnya dengan Dira. Kedua tombak api itu saling berbenturan sehingga muncul tekanan kuat saat keduanya pecah.


Luna dan Zakila yang berada di dekat serangan tersebut terlempar kuat ke sebuah pohon dan menghantam pohon tersebut hingga terdapat bekas lubang yang besar disana.


"Hahaha,"


Tawa Dira terdengar keras di tempat tersebut, Arina yang berdiri disampingnya hanya bisa tersenyum bangga oleh kekalahan musuh mereka, namun itu hanya sementara karena setelah debu awan disekitar mereka menghilang tampaklah Luna dan Zakila yang hanya mengalami luka ringan pada tubuh mereka.


Keduanya hanya mengalami cidera ringan dan bisa sembuh kapan saja tanpa perlu waktu yang lama, meskipun bibir keduanya mengeluarkan darah namun itu bukanlah masalah besar.


Melihat hal itu membuat Dira semakin kesal dan segera melemparkan kembali serangan bola api ke arah Luna namun kali ini Luna tidak kabur. Ia menyerang kembali ke arah Dira dan menghancurkan serangan bola apinya dengan mudah.


Zakila juga tidak tinggal diam, ia juga merupakan elemen tanah sama seperti Arina. Segera Zakila membuat tembok penghalang bagi Arina yang hendak membantu Dira.


"Bagian mu bukanlah disana," seru Zakila tajam sambil menarik tubuh Arina sehingga menghantam tanah.


"Aku tidak akan main-main lagi kali ini," cicit Zakila tajam sambil melirik acuh tak acuh ke arah Arina yang berada di tanah.


Arina yang kaki nya ditekan oleh beban tidak bisa dengan mudah bangkit kembali, ia menatap tajam ke arah Zakila dengan raut wajah bertanya 'lelucon macam apa ini?' namun Zakila hanya acuh terhadap ekspresi itu.

__ADS_1


Arina yang kesal kemudian merapalkan mantra untuk membuat kakinya bebas. Zakila yang melihatnya segera membanting kembali tubuh Arina ke tanah dan membuat pergelangan tangannya patah.


"Argh..., sakit!," pekik Arina yang berhasil membuat Dira menoleh padanya.


"Hah, apa-apaan itu?"


Wajah Dira tampak kesal, ia baru beberapa saat yang lalu berpaling dari Arina tapi kini tubuh wanita malang itu sudah terjerat pada tanah dan yang lebih mengejutkannya lagi adalah bahwa yang melakukan semua itu adalah Zakila yang lemah.


"Dimana kau melihat?" tanya Luna nakal ketika perhatian Dira teralihkan.


"Apa kau pikir Zakila itu lemah sampai menyerahkannya pada Mari, hah?" lanjut Luna dengan senyum mengejek diwajahnya.


"Zakila bahkan lebih kuat dari Mari meski ia lebih lemah dari mu." jelas Luna dengan senyum puasnya.


"Hah, sialan," gerutu Dira kesal, ia tahu jika Zakila lebih lemah darinya tapi ia tidak tahu jika Zakila bahkan lebih unggul dari Mari.


"Meskipun aku meninggalkan Mari dengan Zakila, hasilnya memang sudah ditentukan," batin Dira tidak percaya dengan pemikirannya sendiri.


"Polanya sama," seru salah seorang penonton pria yang sejak awal menonton ujian ini.


"Mereka selalu berlari menuju kedalaman hutan dan berhenti di titik yang sama." lanjutnya setelah observasi yang lama.


"Mungkinkah mereka terlalu lemah sehingga tidak bisa mengalahkan musuh dengan bertarung?" tanya salah satu penonton yang antusias sejak kemarin.


"Kurasa tidak, jika mereka memang lemah tidak mungkin mereka mampu mengalahkan yang lainnya," seru penonton lain yang ada diantara mereka setelah ia mengingat pertarungan antara Muna dan Tasya serta Maya dan Mari.


"Mereka seperti sedang menyimpan tenaga untuk sesuatu hal yang lebih besar lagi." lirih penonton lainnya.


Suara riuh para penonton masih bisa di dengar oleh bangsawan lain termasuk Raja dan Prof Xei. Mereka tahu jika kelompok Luna akan mudah menang kali ini jika melihat cara mereka bertarung namun mereka masih belum mengeluarkan semuanya.


"Ada yang aneh," gumam Raja pelan sebelum melihat kembali pada jendela layar.


"Prof?"


"Saya tahu, ada yang mereka sembunyikan."


"Apa itu?"


"Maaf atas kebodohan saya yang mulia, saya sama sekali tidak tahu hal itu."


Prof Xei sedang berdiskusi ringan dengan Prof Edward. Mereka tahu jika kelompok Luna sedang menyimpan energi mereka untuk hal yang lebih serius tapi apa itu, tidak ada yang tahu.


****


Arina yang terpojok kali ini hanya bisa melihat wajah nakal Zakila. Ia merasa ada yang aneh dari pertarungan sebelumnya. Arina tahu jika kelompok Luna bukan tipe yang mudah kabur dari masalah.


"Ada sesuatu di balik ini semua," lirih Arina kesal.


"Bukan urusanmu."


Sejujurnya saja Zakila juga tidak mengetahui apa yang kelompoknya sedang rencanakan.


"Luna mengapa kita terus berlari menuju hutan? Bukannya kita bisa mengalahkan mereka disini?"


Zakila sama sekali tidak mengerti dengan keadaan sekarang, ia jelas tahu jika kekuatan musuh mereka kuat, namun kekuatan kelompoknya juga tidak buruk. Sangat aneh jika mereka terus kabur begitu saja tanpa perlawanan sama sekali.


"Kita tidak boleh membuang tenaga untuk mereka." jawab Luna acuh tak acuh.


" ... "


"Mereka sedang merencanakan hal gila setelah ini." lanjut Luna singkat.


"Hal gila. Hal gila apa itu?"


"Iya, hal gila. Mereka akan membuang kita ke daerah titik buta hutan. Aku rasa ada sesuatu yang sedang mereka sembunyikan disana, untuk bisa membuka itu semua kita membutuhkan tenaga lebih," jelas Luna saat masih dalam pelarian menuju kedalaman hutan.


"Luna tidak mengatakan apa pun lagi setelah itu," batin Zakila tenang masih menjaga gerakan Arina.


"Sialan kau Luna. Kali ini kau akan mati di tanganku," seru Dira tajam sambil meluncurkan bola api di tangannya.


"Aku menunggu saat dimana kau akan mengambil apa yang kau tanam saat itu," balas Luna ketika memblokir serangan Dira.


"Mari kita akhiri ini," cicit Dira lalu terbang ke arah Luna dengan tombak api raksasa di tangannya.


"Ayo, mari akhiri ini," seru Luna sesaat sebelum bergerak cepat menghindari serangan Dira.


Luna berhasil mendapatkan celah dari gerakkan agresif Dira dan segera ia meluncurkan belati api masuk ke dalam pergelangan tangan Dira.


"Argh...!" teriak Dira ketika pergelangan tangannya tergores oleh belati api. Tangan itu kemudian mulai terbakar dan berhasil membuat formasi serangan Dira menjadi hancur.


Segera Luna menghadang Dira dari belakang dan memberinya tekanan kuat pada punggung Dira. Suara keras pun terdengar ketika tubuh Dira berhasil mencapai tanah. Luna sengaja menjatuhkan Dira dengan keras, dan darah mulai mengalir keluar dari mulut Dira.


"Dira!"


Arina mulai berteriak kaget setelah darah hitam keluar dari mulut Dira. Darah itu semakin pekat dan hitam sehingga membuat penampakkan Dira sangat buruk.


"Kau, ghuk..."


Dira tidak bisa berbicara karena setiap kali ia ingin memaki Luna yang ada malah darah hitam kental yang keluar dari mulutnya.


"Kau, breksek," cicit Arina kesal sambil menggerakkan tubuhnya dengan kuat.


"Aku akan membalas mu Luna," batin Dira kesal.

__ADS_1


Dira mencoba untuk berdiri namun serangan tadi membuat beberapa tulang rusuknya patah. Dira membutuhkan ramuan obat penyembuhan namun ramuan itu kini ada di tangan Arina yang berada jauh dari nya.


Luna melirik sekilas pada Zakila. Ia lalu mengangguk ringan sambil mengisyaratkan untuk memindahkan Arina menuju Dira. Segera Zakila mengangkat tubuh Arina dan membantingnya tepat di samping Dira dan hal yang sama juga terjadi pada Arina, mulutnya mengeluarkan darah hitam namun tidak sebanyak Dira.


"Ghuk..."


Arina batuk darah ketika berhasil berdiri dari jatuhnya untuk menyentuh Dira, ia lalu menatap tajam ke arah Zakila sambil mengeluarkan ramuan obat dari saku bajunya.


"Dira."


Arina segera menyerahkan botol ramuan obat tersebut pada Dira yang disambut kasar oleh tangan Dira dan segera keduanya meminum obat ramuan itu.


Arina yang tangannya patah sudah mulai bisa menggerakkan tangan tersebut sedangkan Dira sudah bisa berdiri dengan beberapa tulang rusuk yang sudah tersusun rapi seperti sebelumnya.


Meskipun penyembuhan ini tergolong cepat namun jika mereka salah gerak sedikit saja maka efek dari penyembuhan akan membuat tulang mereka lebih cepat patah dari pada sebelumnya.


"Kita harus menyerang mereka segera dan mengirim mereka ke tempat rencana awal," bisik Dira pelan namun masih bisa di dengar oleh Arina.


"Baik, aku mengerti," lirih Arina paham sambil mengeluarkan mantra untuk membuat tanah disekitar Luna runtuh.


Luna hanya menatap ringan pada Dira sebelum memukul ringan pundak Zakila.


"Pergilah terlebih dahulu, aku akan mengurus sisanya."


"Tapi ini ..."


"Tidak masalah. Maya dan yang lainnya mungkin sudah menunggu, jadi cepatlah," bisik Luna sekali lagi.


"Baiklah."


Zakila lalu mengeluarkan sebuah gulungan kertas dan merobeknya, setelah robekan tersebut tubuh Zakila lalu menghilang begitu saja.


"Ke..., kemana dia pergi," tanya Arina kaget ketika tubuh Zakila menghilang tanpa jejak ketika gulungan kertas itu di robek.


"Mari kita selesaikan ini," seru Luna sambil bergerak maju ke arah Dira dan Arina. Ia lalu menyerang keduanya dengan tombak api kecil namun sangat kuat.


"Sombong sekali," pekik Dira tidak mau kalah sambil meluncurkan serangan yang sama.


Keduanya sama-sama menyerang dengan kekuatan penuh, Luna hampir sampai pada Dira begitu pula sebaliknya.


"Kau akan mati ditangan ku Luna."


"Heh."


Luna tertawa licik dihadapan Dira sebelum tambrakan besar terjadi diantara kedua tombak tersebut.


Api mulai membakar area tersebut namun Luna dan Dira berhasil menghindar dan sebelum jatuh ke tanah Luna sempat berbisik sesuatu pada Dira.


"Aku tahu apa yang kau rencanakan. Apa kau pikir pelayan itu bisa mengecoh kami semudah ini, hah?"


Tubuh Dira mulai bergetar hebat setiap mendengar kata-perkata yang diucapkan Luna.


"Apa kau pikir dengan menaruh bayangan di hutan akan membuat kami kalah, hahaha."


Tawa Luna menggema di area tersebut sedangkan Dira menjadi kaku, tubuhnya mulai jatuh terkulai dihadapan Arina.


Arina kaget melihat tubuh Dira yang gemetaran. Ia segera menangkap tubuh lemah Dira yang mulai oleng di depannya.


"Dira, ada apa?"


" ... "


"Dira...!!? guncang Arina kuat untuk menyadarkan Dira dari syoknya.


"Kita ketahuan," bisik Dira pada Arina yang berhasil membuat gadis itu jatuh terduduk di samping Dira.


Luna yang melihat keduanya hanya bisa menggelengkan kepala, ia kemudian segera meluncurkan panah api ke arah Dira sebelum menghilang.


"Kau akan mendapatkan apa yang kau tanam selama ini, Dira," lirih Luna tajam dengan tangan yang masih memegang panah api.


"Selamat bersenang-senang," seru Luna sebelum meluncurkan panah api yang selama ini bergantung ditangannya menuju Arina dan Dira.


Arina yang mendapatkan kata 'Selamat' Segera melihat ke arah Luna yang sedang melambungkan dua buah gulungan Ying yang merupakan miliknya dan juga Dira.


"Sialan," gumam Arina kesal ketika melihat wajah Luna yang mulai menghilang di hadapannya.


"Sial, sial, sial...!" teriak Arina kesal sambil memblokir panah api Luna.


"Dira sadarlah," teriak Arina frustasi sambil terus memblokir serangan tersebut.


Tanpa disadarinya tanah yang mereka pijak mulai bergetar, tanah itu tiba-tiba longsor sehingga membuat Dira dan Arina jatuh ke dalam lubang.


"Argh..., sialan!" teriak Arina keras yang berhasil menyadarkan Dira dari lamunannya.


"Ap, apa ini?" tanya Dira kaget setelah melihat banyaknya monster yang ada di dasar lubang.


"Ini...!!?"


Mulut Arina mulai mengatup tanpa henti, ia jadi memikirkan kata terakhir Luna sebelum menghilang 'Selamat bersenang-senang'.


"Ah sialan, jadi ini maksudnya dengan 'bersenang-senang' itu hah."


Suara Arina terlihat sangat frustasi ditambah lagi dengan wajah Dira yang memucat setelah pertarungan terakhir dengan Luna.

__ADS_1


__ADS_2