
"Jika waktu bisa berhenti, maka aku akan memilih untuk tetap disana."
******************#####****************
"Putri ku," bisik sebuah suara merdu tepat ditelinga Senja.
"Putri cantik ayah."
Suara itu terasa sangat nyata dan lembut, ia membisikkan kata - kata manis yang hangat.
"Sudah waktunya untuk makan."
Lanjut suara lembut tersebut sambil mengelus hangat pipi Senja.
"Sayang, hentikan itu. Kau bisa membangunkannya nanti."
Kini terdengar suara wanita muda yang terlihat kesal.
"Ah, sayang. Sakit tahu."
Rengek suara lembut tersebut yang kini membuat Senja perlahan membuka matanya.
Senja merasa ada yang aneh dengan penglihatannya, ia melihat dua wajah asing yang sekarang sedang tersenyum manis padanya. Wajah tersebut terlihat samar dengan bayangan hitam disekitarnya.
"Mereka seperti pasangan suami istri yang sedang menatap anak..., tunggu dulu."
Seketika tubuh Senja menegang, ia merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya.
"Mengapa aku tidak bisa berdiri, tidak bukan itu. Mengapa tangan ku menjadi kecil."
Senja terlihat begitu panik, ia mencoba untuk berdiri dari tidurnya namun gagal.
"Sial, dimana ini sebenarnya?"
Wajah Senja terus berkerut dengan gugup, ia merasa jika dirinya dalam bahaya.
"Sayang, kau lihat itu. Putri kecil kita akan menangis."
Wanita muda tersebut memukul punggung suaminya. Ia terlihat sangat kesal, sebelum mendekati Senja untuk menggendongnya.
"Sial, apa yang ingin dia lakukan?"
Senja semakin panik saat wanita muda itu menariknya masuk ke dalam pelukan.
"Cup,cup,cup. Tenang sayang, ibu ada disini."
Wanita tersebut memukul - mukul ringan tubuh Senja sehingga membuatnya sedikit merasa nyaman.
"Apa ini? Mengapa aku merasa tenang dalam pelukannya."
Senja mencoba untuk menghilangkan perasaan tersebut tetapi ia tidak bisa. Perasaan itu terus masuk ke dalam hatinya.
"Nak, kamu sangat cantik."
Pria dewasa itu mulai mengelus lembut pipi Senja.
"Aku harap kau akan menjadi Ratu yang hebat dimasa depan bersama dengan saudari mu."
Pria dewasa itu kemudian tersenyum dengan lembutnya.
"Sayang, Bulan masih bayi. Kenapa kau sudah memproklamirkan..."
Perkataan wanita muda tersebut mulai terdengar samar bagi senja. Ia sudah tidak bisa mendengar apa yang selanjutnya dikatakan oleh sepasang suami istri tersebut.
"Apa lagi ini?" batinnya penuh tanda tanya saat seluruh bayangan tersebut mulai menghilang digantikan oleh bayangan hitam yang semakin lama semakin pekat.
"Nona."
Senja merasakan sebuah guncangan hebat dari tubuhnya. Guncangan itu semakin kuat setiap menitnya.
"Nona!"
Senja mulai mendengar suara Dian yang terdengar seperti orang yang sedang kesal.
"Dian?"
Perlahan Senja mencoba untuk membuka matanya. Ia kemudian melihat Dian yang sepertinya sudah siap melemparkan sesuatu kearahnya.
"Ah, astaga," pekik Senja saat merasakan air menghantam tubuhnya.
"Apa - apaan ini?"
Senja berteriak dengan keras sambil berdiri dari tidurnya.
"Astaga Nona, anda sudah bangun," seru Dian dengan senyuman nakal di bibirnya.
"Kau..."
"Nona, saya sudah mencoba membangunkan Anda tapi sayang anda sama sekali tidak bergerak, jadi saya..."
"Kau melempari aku dengan air supaya aku terbangun, begitu?"
"Hehehe, maaf."
__ADS_1
Dian terlihat malu - malu saat meminta maaf dengan Senja. Dian kemudian mengambil sapu tangan miliknya untuk diberikan kepada nona nya itu.
"Aku bisa sendiri."
Senja merebut sapu tangan tersebut dengan kasar.
"Pukul berapa sekarang." lanjutnya sambil membersihkan air yang membasahi wajahnya.
"Sudah lewat 15 menit dari jadwal pertemuan."
"Hah, aku terlambat," batin Senja sambil melempar sapu tangan tersebut dan mengambil tongkat sihirnya.
Senja kemudian menggerakkan tongkat sihirnya mengelilingi tubuh sambil melafalkan mantra sihir pengering badan sekaligus untuk mengganti pakaiannya yang basah.
"Kita tidak boleh membiarkan klien menunggu."
Senja kemudian mengembalikan tongkat sihirnya ke dalam tas magic sebelum melangkah keluar ruangan.
"Mari pergi."
"Nona, sebaiknya anda menggunakan ini," bisik Dian sambil menyerahkan topeng rubah milik Senja sebelum ia memasuki gedung.
"Kerja ba..."
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Ristia sudah memotong perkataan Senja.
"Nona, aku sudah memasangnya. Itu akan terlihat stabil bila digunakan bersamaan."
Ristia terlihat bangsa dengan pekerjaannya yang membuat Senja hanya geleng - gelang kepala saja.
"Kapan kau melakukannya?"
"Saat Anda tertidur tadi."
"Bagus, bagus sekali."
Senja terlihat kesal sambil menggenggam erat helaian pakaiannya.
"Nona, ada apa?"
"Tidak ada, mari masuk."
Senja mencoba untuk mengabaikan Ristia yang sekarang sedang berbicara banyak hal padanya.
"Nona, anda pasti berterima kasih dengan saya nantinya."
Ristia terus berbicara mengenai perhiasan tersebut sehingga membuat telinga Senja menjadi sakit.
"Kau berisik sekali."
Hal pertama yang dilihat Senja ketika memasuki bar tersebut adalah puluhan kursi judi yang terdapat hampir di setiap sudut ruangan. Ada yang berbentuk meja kasino biasa, ada juga yang berbentuk gim permainan.
Banyak dari para pengunjung menikmati gim sedangkan sisanya menikmati meja biliar dan ada juga yang sedang bertaruh dalam meja kasino.
"Ini diluar imajinasi ku,"
"Nona, ingat apa tujuan kita disini," bisik Dian yang mirip seperti melodi pemanggilan setan bagi Senja.
"Dia menakutkan."
Senja sedikit bergidik saat melihat raut wajah Dian yang datar dan dingin.
"Baiklah, aku mengerti."
Senja mencoba untuk memalingkan wajahnya dari Dian namun apa yang ia lihat selanjutnya membuat nyawa Senja sedikit menghilang.
"Astaga!" pekik Senja keras sehingga membuat beberapa pengunjung melihatnya.
"Maaf, maaf."
Dian mencoba untuk menghentikan tatapan para tamu saat melihat reaksi aneh nona nya itu.
"Dasar kampungan."
Sindir salah seorang tamu yang menatap kelompok Senja dengan pandangan rendah.
"Cih, dasar sombong."
Dian terlihat kesal karena nona nya dihina oleh tamu tersebut.
"Nona, anda sudah cukup..."
Perkataan Dian terhenti ketika ia melihat tubuh kaku Senja.
"Nona, ada apa?"
Diam terlihat panik saat melihat Senja yang saat ini kaku ditempatnya.
"Meong..."
Kun mengeong dengan pelan sambil melompat keatas tubuh Senja.
"Bukankah aku sudah memperingati mu sebelumnya."
__ADS_1
Kun terlihat kesal dengan sikap Senja yang acuh tak acuh padanya sebelumnya.
"Sial, kenapa dia ada disini."
Senja mulai kembali kesadarannya sebelumnya.
"Aku tidak sadar akan hal itu. Ini akan menjadi sulit jika aku mencoba lebih," lanjutnya kesal sambil terus berjalan menuju ruangan yang sudah dipesan oleh pedagang Weru untuk pertemuan mereka.
"Nona, apa anda baik - baik saja."
"Aku baik."
"Benarkah? Terus..."
"Lupakan itu dan fokus saja pada tujuan utama kita."
"Baik Nona."
Senja terus berjalan sampai menuju lantai kedua bar tersebut, dari atas sana ia bisa melihat para pengunjung yang sedang mempertaruhkan kekayaan mereka di atas meja kasino.
"Sejak kapan dia ada disana?"
Senja bertanya sambil melirik kearah wanita yang saat ini sedang tertawa senang dengan apa yang ia dapat.
"Saat kau memutuskan untuk tertidur."
" ... "
"Aku sudah bilang untuk waspada. Seharusnya kau menurunkan setidaknya dua tingkat kekuatan mu."
"Aku tahu."
Senja kemudian memutuskan linknya dari Kun.
"Ristia, sejak kapan hewan magic miliknya merasakan kehadiran ku?"
"Belum bisa dipastikan Nona."
"Begitukah?"
"Nona tenang saja, ia tidak akan mudah menemukan kita di tempat seramai ini, kecuali jika dia gila."
"Aku tahu itu."
"Nona, setelah kau menurunkan kekuatan mu. Dia akan semakin sulit menemukan kita."
Ristia mencoba menjelaskan situasi yang sekarang sedang dihadapi nona nya.
"Awasi mereka."
"Baik Nona."
Ristia kemudian turun dari kaki Senja menuju wanita muda tersebut.
"Tetap waspada apa pun yang terjadi. Kita masih belum tahu kekuatan sebenarnya dari dirinya."
"Saya mengerti Nona."
"Itu bagus."
Senja lalu memutuskan link antara dirinya dan Ristia sebelum berhenti tepat di depan pintu masuk ruang pertemuan.
"Ada berapa orang di dalam?"
"Sekitaran lima, namun masih ada..."
Kun terlihat sedang memeriksa area sekitar ruangan tersebut.
"Mereka memiliki sekitar 4 orang bayangan yang mengelilingi area ini. Dua diantaranya adalah pelayan yang disana dan sisanya di luar untuk situasi darurat," jelas Kun sambil menunjuk sisi kiri Senja yang terdapat dua orang barista yang sedang mengantar minuman.
"Mereka teliti sekali," gumam Senja pada dirinya sendiri.
"Nona, saya akan membuka pintunya."
"Silahkan."
Setelah mendengar persetujuan dari nona nya, Dian kemudian membuka pintu pertemuan tersebut.
"Dian, tetap waspada," bisik Senja sambil sekilas melirik pada dua barista yang sedang memperhatikan mereka.
"Baik Nona."
Dian tentu saja mengetahui maksud dari lirikan nona nya tersebut.
"White, jaga punggung belakang."
Dian dengan ringan melepaskan white yang seukuran telapak tangannya untuk menjaga pintu masuk dari dua barista tersebut.
"Kun..."
"Aku mengerti."
Kun melompat dari pundak Senja menuju pelukan Dian.
__ADS_1
Senja masuk dengan senyum lebar di balik topengnya. Ia tanpa ragu duduk diantara mereka berlima sambil menyilangkan kedua tangannya dengan sikap acuh tak acuhnya.
"Mari kita mulai," link Senja pada seluruh bawahannya yang dijawab anggukan kepala ringan oleh masing-masing dari mereka.