
"Sihir adalah jiwa dan mana adalah hatinya."
******************#####****************
"Nona, anda harus makan dulu sebelum tidur," cicit Dian ketika melihat Senja berbaring di atas kasur.
"Ugh...!" erang Senja malas saat Dian mencoba menariknya menuju sofa.
"Aku lelah," gerutu Senja tepat ketika tubuhnya sudah berhasil duduk di sofa tersebut.
"Nona, anda bisa makan cemilan ini sebelum makan malam tiba," seru Dian yang hanya mendapatkan tatapan malas dari Senja.
Senja saat ini sedang bosan. Ia melihat kearah kasur dimana Kun dan Vanilla sedang tertidur pulas.
"Aku heran mengapa mereka bisa tidur seharian penuh sedangkan aku tidak bisa,"
"Aku akan tidur setelah ini," gumam Senja pelan namun masih bisa didengar oleh Dian.
"Nona, saya akan keluar sebentar untuk memeriksa apakah makan malam nya sudah siap atau belum," lirih Dian sebelum keluar dari kamar tersebut.
"Ini enak," gumam Senja ketika menatap potongan kue yang sudah ia makan sebelumnya.
Beberapa saat kemudian Eza kembali ke kamar dengan membawa kereta makan yang tampak sangat penuh.
"Oh wow, ini sangat banyak,"
"Silahkan dinikmati Nona," seru Eza kemudian pergi meninggalkan kamar.
"Sayang sekali," lirih Senja sambil memegang perutnya yang sudah di isi penuh dengan cemilan.
"Nona, saya merasakan aura aneh disekitar sini."
Link Lily ketika Senja sedang membangunkan Kun dan Vanilla untuk makan malam.
"Sekuat apa aura itu?" tanya Senja sambil mengulurkan tangannya pada Ristia yang masih bermain di atas kue coklat.
"Ini tidak terlalu kuat Nona namun ada yang aneh dari aura itu yang seperti sedang memberontak dari tekanan."
"Baiklah aku akan segera menyusul mu tapi sebelum itu berikan koordinat yang tepat karena aku akan berteleportasi dari sini."
"Baik Nona," seru Lily sambil memberikan koordinat tempat dimana sekarang ia berada.
"Kun tolong kau awasi area ini selama aku pergi," seru Senja sebelum mengambil jubahnya.
"Eza apa kau di luar?"
"Iya Nona, ada perlu apa?"
"Ikuti aku," lirih Senja sambil melemparkan jubah hitam pada Eza.
"Dan kau Dian, tetap disini dan jaga mereka," lanjut Senja sambil melirik sekilas pada Kun dan Vanilla.
"Baik Nona," seru Dian sebelum Senja dan Eza berteleportasi.
Ketika membuka matanya Senja bisa melihat hamparan hutan gelap yang penuh dengan aura aneh sama seperti yang dibicarakan oleh Lily sebelumnya.
"Aura apa ini Nona?" tanya Eza penasaran sama seperti dirinya.
"Aku juga tidak tahu," balas Senja acuh tak acuh sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam hutan.
"Lily, segera bimbing kami," lanjut Senja tepat ketika ia sudah memasuki hutan tersebut.
"Baik Nona," gumam Lily yang sekarang berada di atas kepala Senja.
Dua jam kemudian Senja masih terus berjalan di dalam hutan sambil digendong oleh Eza.
"Ini membosankan," gerutu Senja kesal karena sejak tadi ia belum juga menemukan asal aura tersebut.
"Apa sekarang kau sudah buta arah hah? Kenapa kita tidak kunjung sampai hingga sekarang?" tanya Senja kesal, ia kini sangat lelah dan butuh istirahat.
Awalnya Senja berjalan dengan lancar sampai beberapa saat sebelumnya ia berteriak dengan histeris karena merasa telah ditipu oleh Lily.
"Kau bilang 'sabar Nona sebentar lagi kita akan sampai', dan lihat sekarang?" gerutu Senja sekali lagi.
"Nona, anda sangat berisik, lagi pula kita beneran akan sampai sebentar lagi," balas Lily dengan tampak bodoh amat diwajahnya.
"Nona benar kata Lily, kita akan segera sampai," timpal Eza yang kini mendapatkan tatapan jengkel dari Senja.
"Kau pun sama saja," gerutu Senja sambil memalingkan wajahnya dengan kesal.
"Tunggu dulu, berhenti disini," lanjut Senja kaget ketika ia merasakan aura aneh yang sedikit berbeda dari sebelumnya.
"Ada apa Nona..."
Perkataan Eza terputus ketika Senja mencoba turun dari bahunya.
"Ada yang aneh di bawah ini," bisik Senja sambil meletakkan tangannya di tanah.
"Ada yang sedang bergerak di bawah tanah ini," lanjutnya dengan alis yang saling bersatu.
"Lily, cari disekitar sini apakah ada goa atau lubang atau apa pun semacam itu."
"Baik Nona," jawab Lily sambil terbang mengelilingi area tempat itu.
"Eza, redamkan energi mu," gumam Senja masih dengan tangan yang menyentuh tanah.
"Baik Nona," lirih Eza kemudian menurunkan tekanan auranya.
"Nona aura ini sepertinya sedang berpencar."
"Aku tahu dan ini sangat aneh."
__ADS_1
"Nona, apakah kita akan memeriksanya?"
"Tentu saja."
"Apa aku perlu membawa yang lainnya juga?"
"Tidak perlu, kita berdua saja sudah cukup untuk ini."
"Baiklah Nona tapi sebelum itu apakah Nona sudah makan?" tanya Eza dengan pandangan menelitik secara tiba-tiba.
"Ah itu, sudah kok. Aku sudah makan sebelumnya," jawab Senja bohong sambil mencoba untuk tetap fokus.
"Sepertinya anda harus makan lagi setelah ini," balas Eza dengan senyum aneh diwajahnya.
"Ada apa dengannya? Apa dia melihat piring kosong di meja tadi?"
"Aku harus lebih waspada sepertinya," gumam Senja yang terdengar samar bagi Eza.
"Apa Nona mengatakan sesuatu?" tanya Eza masih dengan senyum aneh diwajahnya.
"Tidak, aku tidak mengatakan apa pun," balas Senja kaku.
"Dia sangat peka, baru kali ini aku menemukan pria yang begitu peka sepertinya,"
Beberapa saat kemudian Lily kembali dengan raut masam diwajahnya.
"Nona, saya menemukan 2 pintu masuk," seru Lily geram dengan wajah yang masam.
"Ada apa dengan mu?"
"Nona, sepertinya aura yang kita rasakan berasal dari para sandera yang tengah mereka kumpulkan,"
"Apa maksud mu? Apakah mereka budak?"
"Tidak semua dari mereka adalah budak karena beberapa diantara mereka merupakan korban penculikan."
"Astaga, ini menyeramkan."
"Nona, apakah kerajaan Guira tidak merasa kekurangan warganya," tanya Lily penuh rasa penasaran.
"Hmm, jika melihat keadaan mereka yang tenang, kemungkinan besar para budak bukan berasal dari kerajaan ini atau bisa saja mereka sama sekali tidak sadar apa yang tengah terjadi," jawab Senja serius sambil memikirkan keadaan kota Ceko saat ini.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang Nona?" tanya Eza dengan tangan yang sudah siap di sarung pedangnya.
"Eza pergilah bersama Ristia menuju pintu masuk kedua sedangkan aku dan Lily akan pergi menuju pintu masuk pertama," balas Senja kemudian mengarahkan tangan kirinya pada Eza.
"Nona, apa kau yakin?"
"Tenang saja, aku akan baik-baik saja selama Lily ada bersama ku,"
"Tapi sebelum itu, Lily buat Eza tidak terlihat dengan sihir ilusi mu."
"Baik Nona."
"Baik Nona."
"Dan untuk mu Eza, tolong kendalikan emosi mu saat melihat mereka nanti dan ingat kita disini hanya untuk mengecek saja, jadi jangan buat keributan yang tidak penting."
"Saya mengerti Nona."
"Baiklah, waktu kita tidak banyak. Kita akan bertemu lagi disini dalam kurun waktu satu jam,"
*****
Di pintu masuk goa Senja bisa melihat lima orang penjaga dengan pakaian tempurnya.
"Sepertinya mereka sudah gila," gumam Senja pelan namun masih bisa didengar oleh Lily.
"Mereka memang sudah gila Nona," balas Lily dengan dinginnya.
"Hah, ini pasti sulit,"
"Lumpuhkan saja mereka karena waktu kita sudah tidak banyak," lanjut Senja ketika jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 12 malam.
"Apa aku sempat tidur kali ini?"
"Baik Nona," seru Lily kemudian memulai aksi ilusinya.
Beberapa saat kemudian para penjaga sudah seperti mayat hidup yang sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.
"Mari mulai," seru Senja sambil melangkah pergi menuju mulut goa yang gelap.
"Nona! Berhenti disana," teriak Lily melalui link batin.
"Aku tahu, kau pikir aku ini bodoh apa," gerutu Senja kesal sambil melihat perisai alarm transparan didepannya itu.
"Sepertinya mereka sangat menjaga dengan goa ini."
"Anda benar Nona dan aku yakin ada hal menarik di dalamnya yang sedang mereka sembunyikan,"
"Ini sangat mudah," lirih Senja yang merasa aneh saat penghalang tersebut mudah sekali dihancurkan.
"Apa mereka selemah itu?" tanya Senja dengan raut wajah acuh tak acuhnya sama seperti biasa.
"Perisai ini kuat tapi karena kekuatan Nona sudah bertambah besar maka mudah saja bagi anda untuk menghancurkan nya."
"Gelap sekali disini," seru Senja tidak suka dengan penerangan yang begitu minim di goa tersebut.
"Sebentar lagi akan ada cahaya Nona," balas Lily sambil menunjukkan lurus kearah pintu besi yang letaknya 700 meter dari pintu masuk goa.
"Mereka sungguh aneh,"
__ADS_1
Sesampainya di depan pintu besi itu Senja bisa merasakan energi asing yang begitu besar di baliknya.
"Nona ada dua penjaga dibalik pintu ini,"
"Hanya berdua?"
"Iya Nona."
"Kalau begitu lumpuhkan saja dan buat mereka tidak sadarkan diri selama mungkin."
"Baik Nona," balas Lily singkat sebelum menyentuh dinding besi dengan jambulnya.
"Selesai," lanjut Lily kemudian membuka pintu besi dengan pelan.
"Silahkan masuk Nona,"
"Jangan bercanda, mari kita periksa lalu kembali,"
"Maaf Nona,"
Senja terus berjalan masuk menuju sisi dalam gla, semakin ia masuk ke dalam suhu yang ada disekitarnya pun semakin dingin pula.
"Nona, aura itu berhenti tepat di ujung lorong disana," bisik Lily penuh semangat.
"Tempat ini sedikit aneh dan dingin," gumam Senja sambil mengikuti arah aura yang baru saja ditunjuk Lily.
Senja bisa melihat area luas di dalam goa tersebut dan juga beberapa lorong aneh dengan aura yang berbeda-beda pula. Setiap lorong memiliki panjang yang bervariasi begitu pula dengan lorong yang sekarang ia lewati.
Lorong ini tidak lebar dan juga tidak kecil, mereka muat untuk tiga sampai empat orang sekaligus. Di lorong ini pula ada obor penerangan yang ditaruh di setiap tiga meter sekali.
"Buka pintu ini," seru Senja yang dijawab anggukan kepala oleh Lily.
Di dalam pintu tersebut, Senja bisa melihat beberapa ruangan yang terlihat persis seperti penjara bawah tanah tempat dimana Amel dikurung.
"Ini penjara," lirih Senja dingin sambil melangkah masuk ke dalamnya.
"Mereka terlihat kacau sekali Nona," cicit Lily melalui link batin mereka.
"Sangat menyedihkan," gumam Senja sebelum mendekati salah satu penjara tersebut.
Senja bisa melihat 4 orang pria dewasa dan 3 orang wanita yang umur mereka bisa dikatakan sekitaran 20 tahunan keatas.
"Siapa kalian?" tanya Senja datar pada mereka bertujuh yang malah mendapatkan tatapan sinis dari mereka.
"Bebaskan kami dasar penjahat," teriak salah seorang pria dari mereka.
"Kau dengan kejamnya menculik kami ke sini, dasar monster," timpal si wanita yang bibirnya terluka karena pukulan hebat.
"Hah, sudah aku duga ini pasti sangat sulit,"
"Hei, apa aku terlihat sama seperti mereka?" tanya Senja sambil memperlihatkan tampangnya yang saat ini sedang memakai topeng.
" ... "
Mereka bertujuh hanya diam sambil terus menatap tajam kearah Senja.
"Lalu apa mau mu datang kesini?" tanya pria yang sedari tadi hanya diam menatap Senja.
"Apa kau ingin membebaskan kami?" lanjutnya dengan nada putus asa.
"Memangnya apa keuntungan ku jika kalian ku bebaskan?" tanya Senja malas.
"Hahaha, kau sama saja seperti mereka," balas wanita yang terlihat lelah diwajahnya.
"Ya terserah kau saja, aku juga tidak peduli," lirih Senja datar.
Pada dasarnya ketujuh orang tersebut mengetahui jika wanita misterius didepannya ini sangatlah aneh, selain topengnya yang mencolok, cara bicaranya pun juga unik.
"Kami adalah murid perguruan Jingga, perguruan kami memang tidak terkenal namun kami ini sangat ahli dalam membuat obat-obatan yang sering digunakan oleh para penyihir muda maupun yang terlatih," seru yang lainnya ketika Senja ingin melangkah pergi dari mereka.
Mendengar kata 'Ahli obat-obatan' Senja mulai menghentikan langkahnya dan mulai mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh pria tersebut.
"Kami datang ke kerajaan ini untuk menjual hasil obat yang sudah kami buat, sebenarnya bukan sekali atau dua kali kami melakukan transaksi disini namun beberapa bulan yang lalu entah mengapa kami ditangkap oleh segerombolan ksatria misterius dan dibawa paksa kesini," lanjutnya penuh dengan nostalgia.
"Menarik," batin Senja menahan senyum lebar diwajahnya.
"Baiklah, aku akan membebaskan kalian namun ada syaratnya," seru Senja dingin.
" ... "
Mereka sempat berpikir sejenak sebelum menganggukkan kepalanya. Setidaknya kali ini mereka sudah memilih keputusan yang benar.
"Kalau begitu menjauh lah dari besi ini," seru Senja sebelum berjalan mendekati jeruji besi tersebut.
Senja kemudian merapalkan mantra sihirnya untuk memecahkan sihir penghalang ditempat tersebut namun siapa sangka ketika jeruji itu pecah maka terdengarlah suara alarm yang begitu nyaring di dalam goa tersebut.
"Sial, kita harus pergi sekarang!" teriak Senja yang juga mendapatkan tatapan panik dari ketujuh orang tersebut.
Segera Senja keluar dari goa tersebut dan untung saja dengan bantuan Lily. Mereka semua menjadi tidak terlihat sehingga para prajurit yang sedang berlarian menuju penjara yang sebelumnya dirusak oleh Senja hanya melewati mereka begitu saja.
"Untung saja aku sudah menyembunyikan kekuatan ku sebelumnya,"
"Anak ini sangat kuat," batin mereka bertujuh ketika melihat punggung Senja yang tampak santai melewati puluhan prajurit berpakaian lengkap.
Mereka awalnya tampak bingung mengapa para prajurit melewati mereka tanpa curiga namun setelah dijelaskan oleh Senja akhirnya mereka paham apa yang tengah terjadi saat ini.
"Kita harus cepat karena ini hanyalah prajurit biasa bukan penculik asli dari kalian," gumam Senja pelan namun masih bisa didengar oleh mereka bertujuh.
"Baik Nona," jawab salah seorang dari mereka sambil mempercepat larinya.
Suara alarm masih terus berdengung ditempat itu bahkan setelah Senja dan ketujuh orang tersebut berhasil lolos keluar dari goa.
__ADS_1
"Ini pasti sangat menghebohkan mereka tapi untung saja para petinggi baru datang setelah kami berhasil keluar," batin Senja lega ketika mendengar apa yang baru saja disampaikan Lily.