
"Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga."
*****************#####*****************
Keadaan wilayah tengah pada malam hari tidak jauh berbeda dari wilayah luar. Meskipun di tempat tersebut tidak ada asrama maupun kafetaria namun tidak ada seorang siswa pun yang protes mengenai hal tersebut.
Mereka memiliki pengaturan tersendiri dalam urusan konsumsi. Dimana jika seorang siswa wilayah tengah ingin makan maka mereka harus menangkapnya sendiri dengan cara berburu di hutan. Hal yang sama pun juga berlaku di wilayah dalam.
Oleh karena itu kebanyakan siswa wilayah tengah akan pergi ke kafetaria yang berada di wilayah luar sekaligus menghabiskan malam disana. Mereka akan pergi makan kemudian lanjut untuk tidur dan keesokan paginya kembali lagi beraktifitas seperti biasanya.
Kebiasaan itu sudah menjadi rutinitas harian siswa wilayah tengah. Maka dari itu banyak dari mereka yang meninggalkan wilayah tengah sehingga suasana di tempat tersebut menjadi senyap gulita.
Meski begitu wilayah tengah tidak benar-benar mati. Wilayah itu akan aktif kembali di malam hari karena kebanyakan siswa wilayah dalam akan keluar dan beraktifitas di malam hari pada lapangan latihan di wilayah tengah.
Karena Senja tidak memiliki akses masuk ke dalam wilayah dalam maka dari itu ia dengan sengaja menunggu siswa wilayah dalam keluar dengan sendirinya.
"Aku harap Muna akan menenangkan mereka dengan bijak." seru Senja yang kembali teringat akan kejadian dua jam yang lalu.
Saat itu ketika Senja sedang asik mengelilingi area sekitaran gedung misi, Muna dengan tiba-tiba menghampiri dirinya. Muna datang karena waktu janjian untuk kembali pulang sudah tiba.
Namun saat itu Senja beralasan bahwa dirinya sudah menemukan beberapa senior yang terindikasi sebagai pemilik dengan nomor punggung 46.
Muna yang curiga tidak mudah melepaskan Senja. Namun demikian Senja dengan hati-hati menjelaskan alasan mengapa ia tidak bisa kembali. Dengan negosiasi yang panjang akhirnya Muna pun setuju.
Namun Muna meminta satu syarat agar Senja selalu memberi dirinya kabar setiap satu jam sekali. Awalnya itu 30 menit sekali namun Senja berhasil meyakinkan Muna untuk menghubunginya setidaknya satu jam sekali.
Setelah seluruh syarat terpenuhi Muna pun bergegas pergi menemui sahabatnya yang lain. Ia kemudian menyeret mereka keluar dan menjelaskan keseluruhan kronologi setelah mereka kembali ke asrama.
"Yah apa pun hasilnya mereka tidak akan bisa kembali ke tempat ini di malam hari." batin Senja seraya melihat para senior yang sedang latih tanding di lapangan pertempuran.
Tidak hanya senior yang sedang latih tanding bahkan di area luar gerbang ada begitu banyak senior yang sedang berburu hewan liar untuk disantap.
Senja yang melihat hal tersebut merasa sangat tertarik. Ia kemudian turun dari pohon sembari mengaktifkan sihir teleportasi menuju hutan yang berada di luar gerbang.
Sesampainya disana Senja bisa melihat hewan yang berlari kesana-kemari. Mereka berkeliaran ke segala arah untuk kabur dari kejaran para siswa tersebut.
"Kacau sekali, apa mereka tidak bisa berburu dengan tenang." gerutu Senja saat melihat seekor rusa yang terbang diatas kepalanya.
Senja sudah cukup trauma karena Amir pernah melakukan hal yang sama. Hanya saja pada saat itu yang ia terbangkan adalah manusia dan bukan hewan.
Namun tetap saja Senja tetap merasa mual saat melihat hewan tersebut terbang ke segala arah. Ia pun memutuskan untuk menangkap mereka dan memasukkannya ke dalam tas sub ruangnya.
Setelah ia berhasil memasukkan tiga ekor rusa, Senja pun terpikirkan ide menarik yang menurutnya akan sangat ampuh dalam mengikat para senior tersebut.
Dengan Senyum nakal Senja kemudian memulai rencananya. Ia dengan kasar menarik belati yang berada di saku seragamnya sebelum melemparkan belati itu pada salah satu kelinci yang sedang terbang ke arahnya.
Disisi lain hutan para senior yang sedang berburu hewan merasa ada hal yang janggal. Mereka melihat kebanyakan hewan tersebut berlari menuju tengah hutan secara bersamaan.
Dengan curiga mereka pun memutuskan untuk masuk lebih dalam. Meski bagian luar terlihat aman namun bagian dalam tidak jauh berbeda dari hutan pada umunya.
Disana terdapat begitu banyak hewan dan monster liar yang kekuatannya lebih kuat dari pada monster yang sering berkeliaran di sekitaran pintu gerbang.
Monster itu rata-rata berada di grade E dan D yang bahkan untuk memburu hewan tersebut dibutuhkan setidaknya satu party yang berisi lima orang dengan tiga diantaranya berlevel 7 dan dua lainnya berlevel 8.
"Apakah kita harus benar-benar masuk kesana?" tanya salah seorang diantara mereka yang terlihat gugup.
"Kita tidak bisa kembali dengan ini." balas seorang pria berwajah oval dengan mata dan rambut yang hitam sepekat langit malam.
"Sam, kita tidak tahu apa yang akan terjadi disana. Aku rasa segini saja sudah cukup." timpal wanita yang juga tidak setuju dengan keputusan pria yang di panggil Sam itu.
"Tidak, kita sudah dua hari tidak memenuhi kebutuhan konsumsi. Jika ini terus berlanjut maka kita tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi." balas Sam tidak senang. Terlihat jelas disini bahwa Sam adalah pemimpin dari party tersebut.
"Tapi Kitakan bisa keluar," seru wanita itu kembali.
"Apa kau bodoh? Kita bahkan tidak bisa meninggalkan tempat ini jika tidak ingin misi itu diambil alih oleh orang lain." teriak rekan lainnya yang kesal.
Saat ini mereka tengah melaksanakan salah satu syarat untuk pengambilan misi. Dimana misi tersebut mewajibkan mereka untuk memiliki keahlian survival. Hal itu karena misi tersebut akan berlangsung selama dua Minggu lamanya tanpa adanya perbekalan makanan kecuali berburu.
__ADS_1
"Sial, kenapa kita harus mengambil misi ini sih?" tanya wanita itu kesal.
"Dasar bodoh, itu semua karena mu kita terlambat mengambil misi yang lain." teriak pria yang sebelumnya berdebat dengan wanita itu.
"Aku? Hah apa? Coba ulangi sekali lagi?" teriak wanita itu sama kesalnya.
Sam selalu ketua hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan rekan party nya. Pasalnya hal itu bukan sekali atau dua kali terjadi, itu sudah terjadi setiap kali mereka bertemu dan melakukan misi.
Ketika Sam sedang asik berpikir keputusan apa yang akan ia ambil sebagai ketua tanpa harus merugikan kedua rekannya tersebut, tiba-tiba saja ia mendengar suara teriakan nyaring yang berasal dari dalam hutan.
Dengan kaget Sam dan keempat rekannya saling menatap satu sama lain. Mereka terlihat bingung sekaligus khawatir dengan suara teriakan tersebut.
"Apa itu tadi? Apa aku salah dengar?" tanya wanita itu yang terlibat bingung diwajahnya.
"Tidak, aku juga mendengarnya." balas rekan pria yang tadi bertengkar dengannya.
"Kami semua juga mendengarnya," lanjut rekan lainnya yang sejak tadi hanya diam.
"Aku rasa kita har..."
KYA....!!
KYA....!!!"
Perkataan Sam terhenti saat suara teriakan itu sekali lagi bergema dengan nyaring. Tanpa Pikir panjang Sam dan keempat rekannya segera memasuki hutan. Mereka yang awalnya ragu kini mulai terlihat panik dengan terburu-buru berlari mendekati asal sumber suara itu.
"Carla, beritahu pihak akademi segera." teriak Sam namun sayang Karla sudah berlari lebih dulu mendahuluinya menuju asal suara tersebut.
Tidak hanya Carla bahkan ketiga rekannya yang lain pun ikut berlari beriringan dengan Carla. Melihat hal itu membuat Sam semakin panik.
Sam tahu bahwa suara itu adalah suara seorang gadis muda yang terdengar cukup panik dan mengkhawatirkan. Jadi wajar saja jika rekannya memilih untuk berlari tanpa mendekatkan instruksinya terlebih dahulu.
Jujur saja akan lebih aman jika pihak akademi berada bersama mereka. Namun Sam juga berpikir jika mereka sedikit telat mungkin saja gadis muda itu akan ditemukan tewas ketika mereka sampai.
Maka dari itu mereka berlima bergegas pergi tanpa memperdulikan diri sendiri. Padahal awalnya dua diantara mereka terlihat ragu untuk memasuki hutan namun setelah mendengar jeritan tersebut mereka tanpa pikir panjang segera berlari kesana.
Gadis muda itu terlihat begitu pucat dengan bercak darah menyebar di sekitar area wajah dan bajunya. Ia terlihat begitu kacau namun anehnya Sam dan keempat rekannya dapat melihat semangat hidup tinggi dari kedua mata gadis tersebut.
"Untunglah kami masih sempat menyelamatkannya." batin Sam kemudian ia menyuruh rekannya untuk melindungi sang gadis selagi ia membunuh monster yang berada di sekitarnya tempat itu.
"Jadi ini alasan kenapa hewan-hewan itu memilih untuk kabur ke dalam hutan." seru Carla yang mulai memahami situasinya.
"Hei dik, apa kau baik-baik saja?" tanya Carla kemudian.
"Aku, aku baik." balas Senja seraya berdiri dari jatuhnya.
"Baguslah, kalau begitu kenakan ini."
Carla lalu menyerahkan kardigan miliknya untuk membungkus tubuh Senja yang bergetar karena hawa dingin. Ia kemudian membasuh wajah Senja dengan teknik cleaning.
"Eh...," lirih Senja kaget.
Melihat wajah Senja yang sudah bersih, Carla terlihat sedikit lega. Ia kemudian memeriksa kembali kondisi tubuh Senja sembari menyembuhkannya dari luka gores selama pertarungan.
"Bagaimana kau bisa ada disini dik?" Tanya salah satu pria yang sejak tadi bertarung membelakangi mereka.
"Itu, aku sebenarnya sedang...."
"Jelaskan saja lagi nanti saat kita sudah keluar dari hutan ini." potong Sam tegas.
Ia kemudian membuka jalan keluar untuk mereka menjauh dari tempat tersebut. Ia membawa dan dua rekannya yang lain bertarung di sisi kanan dan kiri untuk bisa membuat jalan keluar yang aman.
Sedangkan Carla dengan lihai memberikan buff kepada mereka. Buff itu membuat tubuh Sam dan dua rekannya tetap sehat dan energik selama pertarungan berlangsung.
"Oh jadi ini party yang sesungguhnya." batin Senja saat melihat tank yang sedang memancing musuh dan guardian yang tengah memblokir serangan dari musuh yang menyerang dari titik tumpul.
"Party ini memiliki komposisi yang sempurna, tapi sayang mereka kekurangan seorang penyihir." lanjut Senja dalam hatinya.
__ADS_1
Jika dilihat kembali mereka kekurangan seorang penyerang jarak jauh. Jika saja mereka memiliki sniper atau pemanah maka pertarungan tersebut akan selesai dengan cepat.
Namun meski begitu akhirnya mereka dapat keluar dari hutan dengan selamat. Begitu sampai di pintu gerbang segera Senja dicerca oleh berbagai pertanyaan yang ada. Dengan santai Senja pun menjelaskan situasinya.
"Awalnya saya ingin kembali pulang, tapi sayang sekali saya kesasar saat mencari jalan pulang." seru Senja pelan.
Senja terlihat begitu sedih, ia tanpa sadar meneteskan air matanya. Carla yang melihat hal tersebut segera menusuk perut Sam dengan sikunya kemudian mengelap air mata Senja dengan hangat.
"Itu bukan salah mu, kamu hanya khawatir mengapa kau bisa berada disana." lirih Carla dengan nada suara yang begitu menenangkan.
"Itu, aku sebenarnya sangat lapar dan saat itu aku melihat banyak senior yang sedang berburu jadi aku memutuskan untuk melakukan hal yang sa..."
"Tunggu, kau bilang apa tadi? Senior?" tanya rekan Carla yang kemudian.
"Iya, senior." jawab Senja yang seketika pundaknya langsung digenggam erat oleh Carla.
"Kau, jangan bilang jika kau salah satu peserta ujian tengah semester?" tanya Carla kemudian.
Senja dengan malu-malu tersenyum polos, ia tidak menjawab pertanyaan Carla namun juga tidak membantahnya. Melihat perilaku Senja seperti itu membuat Carla dan rekannya yang lain tanpa sadar terkejut kaget.
Mereka dengan panik saling menatap satu sama lain sebelum pada akhirnya menghela napas panjang yang terasa seperti sudah lama ditahan.
"Kau benar-benar beruntung dik, jika kami tidak sedang berada diantara mungkin kau akan segera mati."
Sam lalu menjelaskan bagaimana situasi hutan saat ini. Mereka bahkan tidak berani masuk lebih dalam menuju hutan namun Senja dengan beraninya berburu disana.
"Tapi mereka berlari kesana tadi," balas Senja polos.
"Astaga, anak ini benar-benar perlu diajarkan." seru Carla sembari menggelengkan kepalanya.
"Dik, apa kau sedang mencari seseorang?" tanya Sam.
"Benar, Apa senior mengenalnya?" tanya Senja sembari menyerahkan nomor punggung senior pendamping.
Sam dan keempat rekannya saling melihat nomor punggung tersebut namun mereka sama sekali tidak mengenalnya. Mereka terlihat bingung dengan saling memandang satu sama lain.
"Maaf dik, kami tidak tahu."
Senja terlihat sedih, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Sam dan Carla yang melihat kesedihan di mata Senja segera menghiburnya. Sayangnya Senja sama sekali tidak terhibur oleh mereka.
Melihat itu Sam pun berinisiatif untuk membawa Senja menuju wilayah dalam. Namun sebelum itu ia perlu berdiskusi dengan rekannya yang lain.
Mereka pun melipir sebentar di sudut gerbang dan menyuruh Senja untuk terlebih dahulu masuk ke dalam wilayah tengah. Senja pun menurut, ia tidak tahu apa yang hendak mereka diskusinya.
"Yah, mungkin mereka masih ingin berburu." gumam Senja pelan.
Setelah melihat kepergian Senja barulah Sam dan rekannya berdiskusi. Ada yang setuju dan ada juga yang tidak. Keputusan terakhir berada di tangan Carla. Namun sayang sekali Carla sama sekali tidak setuju.
Ia berpendapat bahwa Senja masih terlalu dini untuk masuk ke wilayah tengah. Dan bukankah itu adalah urusan pribadi Senja dalam menemukan senior tersebut dan mereka sama sekali tidak memiliki andil di dalamnya.
Dengan berat hati mereka pun memasuki wilayah tengah dan hendak menemui Senja untuk menyampaikan keputusan akhirnya. Saat hendak berbicara Senja dengan santai mengeluarkan beberapa rusa yang ia tangkap sebelumnya.
"Senior, ini untuk kalian. Aku merasa kasihan karena aku waktu berburu kalian jadi berkurang." seru Senja sembari menyerahkan tiga ekor rusa yang ia tangkap.
Seketika party itu terdiam, mereka saling memandang satu salam lain dengan perasaan kasihan. Mereka berpikir bertapa baiknya Senja sehingga menyerahkan hewan tersebut padahal mereka tidak dapat menolongnya.
"Aku melihat kalian kembali tadi, pasti sangat sulit karena hewan tersebut sudah banyak yang masuk ke tengah hutan." lanjut Senja kemudian.
"Yah lagi pula aku sudah memiliki banyak Disni," batin Senja sembari menggoyangkan tas sub ruang miliknya.
Ketika Senja hendak pergi meninggalkan mereka tiba-tiba saja Carla menarik pergelangan tangannya dan mengatakan hal yang membuat partynya terkejut bukan main.
"Ikutlah dengan kami," seru Carla dengan ekspresi wajah tegas tanpa bantahan.
Melihat itu Sam dan dua rekannya yang lain pun mengangguk. Senja yang melihat itu hanya bisa tersenyum senang karena rencananya telah berhasil.
"Makanan memang cara terbaik dalam menaklukan seseorang," batin Senja dengan mata yang bersinar tajam.
__ADS_1