Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Party


__ADS_3

"Tetaplah tenang karena itu adalah kunci untuk membuat musuh mu diam."


*****************#####*****************


Pagi harinya Senja yang baru saja selesai berpakaian sudah disambut oleh kedatangan Zakila yang sedang membawa sebuah kotak perhiasan.


"Senja lihat ini," seru Zakila sambil membuka tutup kotak persegi panjang tersebut.


"Lihatlah, aku sengaja membawanya untuk mu," lanjut Zakila dengan senyum lebar di wajahnya.


"Oh apa ini?" tanya Senja saat mengambil gantungan pin yang berbentuk burung Phoenix kecil dengan ekor yang menjuntai panjang ke bawah.


"Pin ini namanya 'Berkat Dewa' dan biasa digunakan untuk memohon keselamatan atau kebahagiaan bagi si pemakai," seru Zakila sebelum mengambil sebuah kotak kecil seukuran telapak tangannya.


"Kau bisa menggunakan ini," lanjut Zakila sambil menyerahkan kotak itu.


"Apa ini?"


"Bukalah," jawab Zakila masih dengan senyum hangat diwajahnya.


Senja kemudian meletakkan pin burung Phoenix di atas meja dan segera membuka kotak kecil tersebut.


"Mahkota!" seru Senja kaget ketika melihat sebuah mahkota yang seukuran telapak tangannya.


"Kau harus memakainya pada saat pesta nanti."


"Eh, tapi..."


"Tidak ada tapi-tapian, kau harus memakainya."


"Bukankah ini terlalu berlebihan?"


"Tentu saja tidak, selain itu aku juga sudah memberikan hal yang sama pada Muna dan Luna."


"Ah, begitu."


"Kemudian pestanya akan dimulai pada pukul 4 sore ini."


"Aku tahu."


"Hahahaha, aku hanya mengingatkannya saja."


" ... "


"Jangan sampai terlambat. Satu hal lagi, kita akan masuk ke dalam aula secara terpisah jadi persiapkan diri mu," lirih Zakila saat menggandeng kotak perhiasan tersebut.


"Baiklah, aku mengerti."


"Bagus, kalau begitu aku pamit dulu."


Zakila lalu melangkah pergi meninggalkan kamar Senja.


"Hah, ini pasti sulit," gumam Senja pelan sambil menaruh kotak tersebut di atas meja.


"Ah, pin ini," lirih Senja kaget ketika pin Phoenix tersebut masih ada di atas mejanya.


"Zakila pin..."


Senja masih menggantungkan kalimatnya ketika ia hanya melihat kekosongan pada lorong dihadapannya tersebut.


"Ketinggalan..., kemana dia?" lanjut Senja sambil menerawang area sekitarnya berharap bahwa Zakila masih ada di sana.


"Ya sudahlah. Aku bisa menyerahkan ini nanti di pesta," gumam Senja singkat kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa.


"Nona, saya akan pergi untuk mengambil cemilan," seru Dian ketika melihat raut wajah lelah nona nya.


"Tidak perlu karena kita akan pergi menuju perpustakaan sekarang," balas Senja sambil menegakkan tubuhnya kembali.


"Baik Nona,"


****


"Kakak!" panggil Dira ketika Helios hendak pergi menuju kamp pelatihan.


"Ada apa?" tanya Helios datar sambil melilitkan perban ditangannya.


"Ada surat untuk mu."


Dira kemudian mengeluarkan sebuah surat kecil yang ada di saku bajunya.


"Kak, aku akan pergi menemui kakek. Aku juga akan berlatih disana selama waktu akademik di liburkan," seru Dira sambil menyerahkan surat tersebut.


"Ini darinya," lanjut Dira sambil melangkah pergi meninggalkan kakaknya.


"Berhati-hatilah dan sampaikan juga salam ku pada kakek," balas Helios sebelum Dira menghilang dari pandangannya.


Helios kemudian menatap surat yang ia terima dari adiknya tersebut. Surat itu tampak sederhana dengan simbol tiara hitam ditengahnya.


"Aku menantikan informasi hebat dari mu kali ini, penghubung," gumam Helios kemudian memasukkan surat tersebut ke dalam saku pakaiannya.


Helios sengaja menyimpannya untuk dibaca nanti karena sekarang ia memiliki tugas yang penting.


"Ketua," seru seorang pria dewasa yang menyambut kedatangan Helios di pintu gerbang kamp pelatihan.


"Bagiamana tidur anda kali ini Ketua?" lanjut pria dewasa tersebut sambil mengikuti Helios dari samping.

__ADS_1


"Sama seperti biasa," jawab Helios acuh tak acuh.


"Sina, kumpulkan yang lainnya. Kita akan segera berlatih sekarang," lanjut Helios sebelum melirik sekilas pada sebuah bayangan yang ada di atas pohon.


"Baik Ketua," balas Sina sambil berlari pergi menuju arah temannya.


"Selidiki lebih lanjut mengenai perempuan itu dan aku ingin informasi lengkap tentangnya," gumam Helios yang masih bisa didengar oleh si bayangan.


"Jangan tinggalkan jejak apa pun," lanjut Helios yang dijawab anggukan kepala oleh si bayangan sebelum ia benar-benar menghilang.


"Kak Heli," panggil suara muda yang datang dari belakang punggung Helios.


"Kak, aku juga ingin berlatih," lanjut suara lembut itu yang membuat kedua alis Helios menyatu.


"Kembalilah," seru Helios dingin sambil melangkah pergi menuju pasukannya.


"Tapi kak."


"Cukup, aku katakan kembali ya kembali. Apa susahnya untuk mendengar."


"Kak, aku juga ingin menjadi kuat sama seperti mu," seru Peter tidak mau kalah dari Helios.


"Kau itu bukan seorang ksatria jadi pergilah bermain dengan pelayan dibelakang mu itu!" bentak Helios sambil menunjukkan pelayan pribadi Peter.


"Menjauh dari ku," lanjutnya kembali dengan acuh.


"Apa salah ku? Mengapa kau dan ibu selalu saja dingin seperti ini?" tanya Peter lelah dengan sikap acuh tak acuhnya Helios.


"Itu karena kau lemah."


"Tapi seorang guardian itu juga penting kak."


"Sayangnya aku dan ibu tidak butuh sampah seperti mu jadi pergilah menjauh dari sini sebelum kau dipermalukan," bisik Helios tajam sambil melirik ke arah pengawal kamp pelatihan.


"Tuan muda, ayo kita pergi," seru pelayan pribadi Peter yang kasihan melihat keadaan tuannya.


"Kau akan menyesal kak," teriak Peter kesal sambil melangkah pergi dari kamp pelatihan.


Peter adalah anak ketiga Selir Jina atau bisa dikatakan anak ke empat jika pangeran pertama masih hidup. Selir Jina awalnya sangat bahagia karena ia telah melahirkan pangeran pertama kekaisaran namun hal itu tidak berlangsung lama.


Pangeran pertama menderita penyakit darah tinggi ketika ia masih bayi sehingga ketika usianya menginjak satu tahun, ia terkena serangan jantung dan wafat.


Selir Jina mengalami syok berat sehingga ketika ia mengandung kembali, sikap posesif sebagai seorang ibu menjadi dua kali lipat lebih besar dari sebelumnya.


Helios adalah putra keduanya setelah pangeran pertama namun karena Lucas terlahir lebih awal sehingga kemungkinan Helios menjadi pewaris tahta sangatlah kecil.


Selir Jina tidak terima ketika posisi putra mahkota seharusnya jatuh pada pangeran pertama direbut oleh Lucas atau pun saudaranya yang lain.


Oleh sebab itu ketika putri kedua Raja terpilih menjadi putri mahkota, selir Jina menjadi sangat bias sehingga ia menggunakan anak perempuannya untuk membunuh putri dari selir kedua.


Selir Jina berharap anaknya bisa diandalkan untuk dapat membalaskan dendam pangeran pertama namun hal itu tidak bisa ia dapatkan dari Peter yang merupakan seorang guardian lemah.


Selir Jina menginginkan sebuah kekuatan namun Peter terlahir dengan hati yang lembut sehingga membuat selir Jina selalu mengabaikannya. Peter yang mendapatkan perlakukan tidak menyenangkan dari ibunya kini beralih pada permaisuri yang selalu menyayanginya dengan sepenuh hati.


"Aku akan menjadi lebih kuat dari mu, kak," gerutu Peter ketika bayang-bayang masa lalu mengingatkannya tentang penolakan tajam dari ibu dan para saudaranya.


****


Senja sudah berada cukup lama di dalam perpustakaan dan tanpa ia sadari waktu sudah menunjukkan pukul tiga siang.


"Nona, kita harus segera kembali," seru Dian pelan agar tidak mengganggu konsentrasi nona nya.


"Ugh..."


Erang Senja lelah ketika ia harus mengingat seluruh informasi mengenai bangsawan yang akan datang pada pesta sore nanti.


"Aku lelah," gerutu Senja malas sambil merenggangkan otot tubuhnya.


"Nona, jika anda tidak cepat bersiap maka kita akan terlambat nantinya," balas Dian sabar dalam menghadapi sikap acuh tak acuhnya Senja.


"Aku tidak peduli," lirih Senja datar sambil meletakkan buku yang ada di tangannya kembali ke asalnya.


"Nona..."


Perkataan Dian terhenti ketika Senja memanggil salah satu hewan sucinya.


"Lily, aku ingin tidur sebentar. Apa kau bisa menghentikan waktu saat ini?"


Dian yang mendengar pertanyaan Senja pada Lily hanya bisa menggelengkan kepalanya atas perilaku aneh nona nya itu.


"Aku ini hewan suci bukannya dewa," gerutu Lily kesal dengan pertanyaan Senja yang semakin hari semakin aneh.


"Ah, menyebalkan sekali. Kenapa aku bisa memiliki hewan suci yang bodoh," gerutu Senja kesal ketika permintaannya tidak terpenuhi.


"Hah, bodoh. Nona yang bodoh itu anda bukan kami," gerutu Lily dan Kun yang membuat tatapan Senja semakin datar.


"Aku tidak peduli, lagi pula tetap saja kalian bodoh," cicit Senja acuh masih dengan ekspresi datar di wajahnya.


Lily dan Kun yang tenang kini menjadi kesal dengan sikap Senja yang serampangan. Mereka kemudian membuat sihir pemanggil air untuk mengguyur tubuh Senja yang tengah berbaring di atas sofa perpustakaan.


"Rasakan ini," gerutu Lily kesal sambil menggiring air jatuh dari atas kepala Senja.


"Nikmatilah, hehehe."


Kini giliran Kun yang memberikan tekanan angin yang kuat pada tubuh basah Senja.

__ADS_1


"Argh, sialan," teriak Senja kaget ketika air mulai jatuh membasahi tubuhnya.


"Sialan, dingin sekali," bentak Senja pada Kun yang meniupkannya angin kencang.


"Dian, hentikan mereka," teriak Senja yang masih menutupi wajahnya dari tiupan angin yang kini mencoba untuk menggosok wajahnya tersebut.


"Nona, sudah tidak ada waktu lagi."


"Hah, apa?"


"Waktunya tinggal 30 menit lagi sebelum pesta dimulai."


"Aku tidak peduli..."


Perkataan Senja terhenti ketika ia melihat senyum licik yang terukir pada wajah Dian.


"Kun terus hembuskan angin mu dan Lily berikan Nona air sekali lagi."


"Hah, apa-apaan ini?" tanya Senja tidak percaya dengan kombinasi aneh yang tengah menatap nakal ke arahnya saat ini.


"Matilah aku," gumam Senja ketika ia merasakan hawa dingin di punggung belakanganya.


"Hey, hentikan. Aku bisa masuk angin nanti," gerutu Senja ketika air dan angin mulai menembak masuk ke arahnya.


"Sial," gerutunya sekali lagi masih mencoba untuk menghalangi kedua kekuatan aneh yang mencoba menembus masuk ke dalam pertahanannya.


"Hahaha, Nona nikmati saja ini."


"Itu benar dan aku menjamin anda tidak akan mengalami sakit setelahnya," seru Lily dan Dian kompak yang membuat punggung belakang Senja semakin kedinginan.


"Hah, sialan. Siapa pun selamatkan aku,"


Senja mulai frustasi ketika angin dan air menerpa tubuhnya. Beberapa saat kemudian Zakila mendatangi Senja yang ada di perpustakaan setelah ia tidak bisa menemukannya di dalam kamar.


"Ada apa dengan mu?" tanya Zakila dengan ekspresi wajah penuh tanda tanya ketika melihat keadaan Senja yang berantakan.


" ... "


Senja hanya diam. Ia terlalu malas untuk berbicara saat ini atau bisa dikatakan ia sangat kesal sampai tidak bisa untuk berkata-kata lagi.


"Senja, apa kau baik-baik saja?" tanya Zakila cemas ketika Senja sama sekali tidak merespon pertanyaannya.


"Maaf sebelumnya Nona Zakila tapi saat ini Nona Senja baik-baik saja," jawab Dian yang mencoba menahan tawanya dari Zakila.


"Apa kau yakin?"


"Tentu saja Nona, saya sangat yakin."


"Tapi bagaimana bisa Senja basah seperti ini?"


"Ah, itu karena Nona Senja sangat bersemangat dalam menantikan pesta sehingga tanpa sengaja menumpahkan teh pada pakaiannya," jawab Dian bohong.


Senja dengan kesal memutar matanya ke arah Dian. Ia saat ini memelototi Dian yang berbicara omong kosong mengenai pesta.


"Kalau begitu ambillah ini."


Zakila kemudian menyerahkan sebuah kotak besar yang diatasnya terdapat sebuah sepatu kaca berwarna biru gelap seperti langit malam yang dipenuhi bintang.


"Ini adalah pakaian semalam yang dirancang oleh Feri," lanjut Zakila sambil menyerahkannya kepada Dian.


"Terima kasih Nona dan maaf sudah merepotkan anda."


"Tidak masalah," seru Zakila masih dengan senyum ramah diwajahnya.


"Kalau begitu aku undur diri dulu, kau bisa segera memakainya karena waktu kita sudah tidak banyak lagi sampai pesta di mulai," lanjut Zakila sebelum ia melangkah pergi meninggalkan Senja yang masih kaku di tempatnya.


"Nona, kita harus..."


"Dian, aku tidak tahu jika kau sudah pandai berbohong." ejek Senja dingin yang malah mendapatkan senyum ceria dari wajah Dian.


"Hah, menyebalkan sekali," gerutu Senja sambil melangkah pergi meninggalkan perpustakaan.


"Nona...!" panggil Dian yang mendapatkan tatapan tajam dari Senja.


"Jangan panggil aku," gerutu Senja ketika ia hendak memasuki kamarnya.


"Senja!" panggil sebuah suara yang begitu familiar buat Senja.


"Ada apa dengan mu?" tanya suara lainnya yang datang bersaman.


Senja yang kesal dengan Dian dan kedua makhluk sucinya hanya bisa berbalik dengan malas untuk menatap kedua wanita muda di belakangnya ini.


"Aku baik-baik saja," jawab Senja ketus.


"Kau yakin?"


"Hah iya aku yakin, sangat yakin bahkan," jawab Senja datar yang kini mendapatkan tatapan penuh tanda tanya dari kedua wanita tersebut.


"Permisi Nona Luna dan Nona Muna, sekarang Nona Senja harus segera mengganti pakaiannya karena waktu pesta tinggal beberapa menit lagi," seru Dian yang membuat pertanyaan Luna dan Muna tidak berhasil keluar dari mulut mereka.


Keduanya saling memandang sebelum memutuskan untuk membuangnya begitu saja.


"Baiklah, kalau begitu gantilah pakaian mu segera. Kami akan menunggu mu di dalam aula pesta," seru Luna yang mendapatkan anggukan ringan dari Muna.


"Baiklah, aku tidak akan lama," balas Senja kemudian memasuki kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2