
"Jiwa yang murni terlihat seperti magnet yang dapat menarik satu sama lain untuk terikat."
*******************#####*****************
Di salah satu hutan lebat terdapat sebuah rumah tua bergaya klasik. Rumah itu dipenuhi dengan berbagai macam tumbuhan herbal yang sangat jarang dijumpai.
Halaman teras yang luas dengan rumput liar kecil seolah memancarkan kesan misterius pada rumah itu. Meski begitu suasana damai yang biasanya ada di rumah itu kini menghilang.
Udara panas terasa menyelimuti tempat itu sehingga membuat beberapa tumbuhan menjadi layu dan mati. Pemandangan itu sudah cukup membuat pemilik rumah menjadi kesal.
Ia dengan tegas menyumpal mulut pelaku dan menarik kerah kemejanya. Dengan kasar Sera berbisik pelan pada bocah laki-laki itu.
"Jika kau tidak ingin identitas mu aku beberkan, maka segera hentikan aura mu itu."
Bocah laki-laki itu terdiam dengan mata yang melotot tajam. Ia ingin memberontak namun tangan dan kakinya terikat kuat sehingga hanya gumaman lirih yang terdengar darinya.
"Nah, baiklah mari kita diskusikan ini dengan damai." seru Sera sambil menepuk kedua tangannya.
"Dimulai dari Senja," lanjutnya kemudian membuka kain putih dari bibir Senja.
"Apa ini? Siapa dia?"
Senja dengan frontal bertanya langsung pada Sera. Ia sejak awal sudah curiga dengan interaksi keduanya. Baik Sera maupun anak itu terlihat memiliki rahasia dibaliknya.
"Aku sudah mengatakannya pada mu tadi, dia adalah seorang elemental..."
"Mmppm,"
Sera diam saat melihat reaksi berontak dari bocah itu. Ia hanya bisa menghela napas panjang dengan raut wajah acuh tak acuh nya.
"Baiklah, baiklah aku akan diam." seru Sera sambil mengangkat kedua tangannya.
Sera lalu melepas penutup mulut bocah itu. Ia kemudian dengan santai menuangkan air teh dan meminumnya pelan.
Hening beberapa saat ketika tidak ada seorang pun di ruangan itu yang berbicara. Padahal sebelumnya tempat itu tampak seperti medan perang tapi kini suasananya tampak senyap seperti kuburan.
Senja merasa bahwa situasi saat ini sangat kacau. Sera yang diam sambil meminum tehnya dan bocah laki-laki yang hanya melihat Senja tanpa berkata sepatah kata pun.
"Suasana apa ini? Entah mengapa aku merasa kesal, seperti sedang dipermainkan saja."
"Hei, jika kau terus diam. Aku akan pergi dari tempat ini dan meninggalkan mu seperti sebelumnya."
"..."
"Aku tidak tahu kenapa kau bisa mengikuti ku hingga kesini, tapi yang jelas aku tidak ingin melihat mu lagi." lanjutnya dengan suara ketus.
Senja yang tidak begitu menyukai anak kecil merasa kerepotan jika terus berurusan dengan anak yang bahkan ia tidak kenal asal-usul nya.
"Sera, aku..."
"Maaf!" teriak anak itu memotong perkataan Senja.
"Aku, aku menyukai mu," lanjutnya dengan wajah yang memerah seperti tomat masak.
"Hah?"
Senja diam dengan tatapan tidak percaya, sedangkan Sera tanpa sadar menumpahkan air teh yang berada di mulutnya.
"Apa-apaan itu? Kenapa dia begitu frontal sekali. Tidakkah dia tahu jika wanita sangat membenci tindakan frontal dari pria asing."
Sera hanya bisa membatin tanpa bisa mengucapkannya secara langsung. Ia tidak ingin rasa malu anak itu membuat rumahnya hangus dilahap api.
"Aku sangat menyukainya, sangat suka. Bahkan setelah anda pergi aku terus ingin bersama." lanjut anak itu yang semakin membuat Senja sakit kepala.
"Tunggu dulu, katakan dengan perlahan. Kau bisa membuat ku gila jika terus seperti ini."
Anak itu hanya diam saat mendengar perkataan Senja. Ia tidak tahu harus memulainya dari mana. Jujur saja ia sama sekali tidak pandai dalam berkata-kata.
__ADS_1
Sera yang melihat kebingungan di wajah anak itu mulai mewaspadai kondisi rumahnya. Ia tidak ingin hanya karena kesalahan komunikasi tempat tinggalnya akan menjadi kenangan.
"Ekhem, kau bisa mulai dari memperkenalkan diri mu. Selanjutnya alasan mengapa kau memilih Senja dan mengapa kau tidak ingin berpisah darinya."
Mendengar perkataan Sera membuat mata emas anak itu bersinar terang. Jujur saja wajahnya sangat tampan dan jika dia sudah dewasa, mungkin saja banyak gadis yang akan mengantri untuk berjalan dengannya.
"Wajahnya bisa merusak tatanan dunia, yah meskipun yang bisa melihat wajahnya hanya bangsa peri tapi itu sudah cukup mengguncang juga." batin Sera saat memikirkan wajah dewasa bocah itu.
"Hmm, nama ku Khalid. Aku seorang elemental yang memegang kuasa penuh terhadap api." seru Khalid saat bulu matanya yang berwarna merah tertutup rapat.
"Sepertinya dia malu," batin Senja setelah mengamati gerak-gerik Khalid.
"Aku, aku pertama kali bertemu anda di kota mati. Saat itu anda bersinar terang seperti matahari, sangat silau sehingga membuat ku tanpa sadar tertarik dengan anda." lanjutnya masih dengan mata yang tertutup rapat.
"Aku bingung siapa yang seharusnya di katakan silau?" batin Sera sambil melihat bolak-balik kearah Senja dan Khalid.
"Aku tidak bisa melupakan sensasi itu tidak hanya diri ku bahkan seluruh elemental yang berada di sana sangat menyukai anda. Tapi karena mereka sudah memiliki tuan, maka mereka hanya bisa menyayangkan hal tersebut."
"..."
Senja tetap diam, ia masih mencerna dengan baik apa yang akan dikatakan Khalid selanjutnya.
"Saat itu anda hanya bisa mendengar suara kami tapi entah kenapa saat ini anda sudah bisa melihat wujud kami. Saya sangat senang sekaligus menyesal. Saya takut jika anda akan diambil oleh elemental lain."
Kini mata Khalid yang tertutup rapat mulai meneteskan air mata. Ia terlihat sedih dengan hidung yang memerah.
"Aku tidak bisa membiarkan mereka mengambil anda. Aku sangat menyukai anda, aku ingin terus berada disamping anda. Dulu aku terhalang melakukan itu karena masih dibawah umur namun sekarang aku sudah dewasa. Aku bisa melakukan apa pun yang aku inginkan."
Senja dan Sera yang mendengar penjelasan Khalid hanya bisa menggelengkan kepala. Sejak kapan anak kecil yang usianya tidak lebih dari delapan tahun bisa dikatakan dewasa.
"Dewasa? Apa anak yang sedang menangis di depanku ini bisa disebut dewasa? Aku rasa sistem dunia mereka berbeda jauh dengan sistem manusia."
Senja tidak pernah tahu jika setiap ras memiliki sistem dewasa nya masing-masing. Bagi manusia, seseorang dianggap dewasa apabila ia sudah menginjak usia 18 tahun.
"Baik di bumi maupun dunia ini, sistem usia kedewasaan seseorang tetap sama. Dan aku baru tahu jika manusia dan ras lainnya memiliki sistem usia yang berbeda." gumam Senja sambil memijat ringan kepalanya.
"Entahlah, aku tidak pernah melihat kasus seperti ini sebelumnya."
"Bukannya kau pernah bilang jika elemental hanya bisa melakukan kontrak dengan bangsa elf saja?"
"Itu benar, aku tidak pernah melihat seorang elemental membuat kontrak dengan...."
Perkataan Sera terhenti saat ia tanpa sadar mengingat sosok pria yang pernah dijumpainya. Pria itu memiliki mata Biru laut bercampur zamrud yang indah. Pria yang berhasil merebut hati pemilik sebelumnya tempat ini.
"Ada apa?" tanya Senja saat melihat mata kosong Sera.
"Ah tidak, tidak ada."
"..."
"Aku hanya teringat seseorang tapi itu sudah tidak penting lagi."
"Benarkah ka..."
"Kalian mengabaikan ku? Hik, tadi kalian minta aku menjelaskan sekarang kalian hanya berbicara berdua saja dan mengabaikan ku. Hik."
Khalid menangis lagi, kini air matanya tumpah seperti bendungan yang hancur dan siap menenggelamkan apa saja.
"Diam!" bentak Senja kesal.
"Sekarang aku sedang berpikir tentang dirimu. Apa kau tahu jika ini bukan situasi yang baik, aku tidak mengerti mananya yang dewasa dari diri mu itu." lanjut Senja masih dengan pijatan pelan di kepalanya.
Khalid diam, ia tidak tahu harus berkata apa. Jujur saja ia tidak ingin membuat Senja marah dan pergi meninggalkannya seperti terakhir kali.
"Senja, sebaiknya kau terima saja." seru Sera setelah kembali normal.
"Tapi dia bisa saja melakukan kontrak dengan elf lainnya."
__ADS_1
"Tidak, seorang elemental hanya bisa mengikat satu kontrak pada tuannya." teriak Khalid dengan putus asa.
"Kau sudah dengar itu bukan, dia memilih mu. Jadi lakukan saja, lagi pula tidak ada aturan bahwa manusia tidak bisa melakukan kontrak dengan elemental." seru Sera yang tidak ingin ambil pusing mengenai situasi ini.
"Tapi..."
"Senja, apa kau lupa. Kau membutuhkan elemental untuk kesehatan mu."
Sera kembali mengingatkan Senja bahwa liontin miliknya memiliki batas waktu. Jika dalam keadaan darurat dan liontin itu sudah kehabisan energi maka nyawa Senja bisa saja dalam bahaya.
Rasa mual dan pusing yang ia rasakan bisa menjadi celah bagi musuhnya untuk menyerang Senja. Namun dengan adanya elemental, faktor itu bisa ia hindari dengan mudah.
"Aku, aku memiliki energi api murni yang dapat menjadi healing system bagi kontraktor." seru Khalid bangga dengan mata yang bersinar terang.
Meski beberapa saat yang lalu ia menangis tapi tatapan matanya tetap jernih seperti malaikat yang baru saja turun. Siapa pun yang melihat Khalid pasti mengira bahwa ia adalah boneka hidup dari pada elemental sejati.
"Hah,"
Melihat Senja yang hanya menghela napas panjang membuat Khalid khawatir. Ia tanpa sadar mengatakan bahwa dirinya adalah elemental murni dengan kekuatan api sejati. Apinya bahkan tidak akan padam meskipun dibanjiri oleh tsunami.
"Sudahlah Senja menyerah saja. Ia sudah mengatakan niatnya yang murni." lirih Sera yang mulai bosan dengan pertengkaran di depannya.
"Tapi aku benci anak kecil," gumam Senja yang berhasil di dengar Khalid.
"Huaa...., hik...!"
Khalid berteriak histeris saat mengetahui jika Senja tetap menolaknya karena tubuhnya yang kecil. Ia merasa bahwa usahanya sejak tadi sia-sia saja.
"Jangan mendiskriminasikan tubuh seseorang, dia tetaplah elemental dan pastinya dia akan sangat berguna bagimu." bisik Sera disela-sela tangisan Khalid.
"Apa yang dikatakan Sera ada benarnya, aku tidak bisa terus menghindar dari masalah ini. Lagi pula mau tidak mau aku akan tetap berhubungan dengan peri gelap dan sihir hitam."
"Baiklah, baiklah. Berhenti menangis, aku akan menerima mu." seru Senja yang membuat Khalid menjadi diam.
Matanya kini melihat Senja dengan tatapan tidak percaya seolah Senja baru saja menipunya.
"Ugh, entah mengapa hati ku terasa sakit saat melihat dia menatap ku seperti itu." gumam Senja pelan.
"Aku serius, aku tidak bohong." seru Senja sekali lagi.
"Janji?" tanya Khalid yang masih belum yakin.
"Tentu saja, aku janji." balas Senja yang mulai terpesona dengan wajah tampan Khalid.
"Wajah tampannya itu bisa membuat orang lain salah paham."
"Kalau begitu, berikan tangan mu."Seru Khalid yang dijawab tatapan tanda tanya dari Senja.
"Aku ingin melakukan kontrak," lanjutnya yang membuat Senja mengerutkan alisnya.
"Bukankah tadi anda sudah berjanji pada ku?" teriak Khalid yang mulai berlinang air mata.
"Hah, tenanglah dulu. Apa kau tidak bisa melihat kedua tanganku di ikat?"
Khalid diam, tidak hanya kedua tangan dan kaki Senja saja yang terikat tapi dirinya juga. Ia dengan kesal memelototi Sera dengan pandangan ingin membunuh.
"Sial, baru saja tadi ia bertingkah manis dan kini tatapan matanya seolah-olah bisa membunuh ku kapan saja." batin Sera kesal.
Sera dengan santai melepaskan ikatkan keduanya. Ia kemudian pergi dari tempat itu meninggalkan Senja berduaan saja dengan Khalid.
"Sekarang," seru Khalid sambil mengulurkan kedua tangannya.
Senja dengan malas memberikan tangan kirinya pada Khalid. Meski ia tidak begitu menyukai anak kecil tapi ia tidak sejahat itu sampai membatalkan janji.
Khalid yang menerima uluran tangan Senja merasa begitu bahagia. Ia lalu menggenggam tangan Senja dan segera menyuntikan aura miliknya.
Seketika Senja merasakan aura hangat mengalir di nadinya. Aura itu membuat Senja mengantuk tanpa sebab. Hal terakhir yang Senja lihat sebelum ia pingsan adalah wajah nakal Khalid yang tersenyum licik dengan mata emasnya yang memancarkan kilatan merah.
__ADS_1