Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
[S2E49] Rahasia Lain


__ADS_3

"Masalah akan hilang jika kita menghadapinya bukan lari menjauh darinya."


****************#####******************


Suasana restoran semakin kacau saat para bangsawan terus bertanya pada pelayan alasan mengapa mereka begitu hormat pada Senja. Namun bisa di pastikan bahwa tidak ada satupun pelayan yang menjawab pertanyaan mereka.


"Kenapa diam saja? Jawab aku hah," teriak salah seorang bangsawan sambil memukul mejanya.


"Kami butuh penjelasan," lanjut wanita yang ada di sampingnya dengan kipas yang menutupi sebagian wajahnya.


"Kalian hanya pelayan, kami bisa bayar kalian semahal apa pun itu." Seru bangsawan lain sambil menghamburkan uang yang ada di saku bajunya.


Para pelayan hanya bisa menghela napas kesal. Salah satu diantara mereka mengutip uang yang kini berserakan di jalan.


"Lihat, kau juga tidak bisa berkata di hadapan uang bukan? Semua orang pasti tunduk di hadapan uang." lirih bangsawan itu sombong.


Ia melihat pelayan itu dengan tatapan mengejek seolah-olah melihat hama yang kotor. Ia lalu mendengus dengan kesal ketika pelayan itu tetap diam sambil memunguti uangnya.


"Katakan saja, aka..."


Belum sempat bangsawan itu menyelesaikan kalimatnya, ia sudah terlempar jauh dari posisinya.


"Ugh...!" teriak bangsawan itu kesakitan.


"Kami disini hanyalah pelayan. Urusan dalam bukanlah milik kami. Tugas kami hanyalah melayani para tamu, tapi jika tamu tidak bisa menjaga sikapnya maka kami akan langsung mengambil tindakan."


Pelayan itu berkata dengan dingin, ia melihat ke arah bangsawan tadi dengan aura intimidasi yang kuat bahkan tamu-tamu yang lain ikut merasakan perasaaan ngeri dari tatapan itu.


"Jika tidak ada lagi yang bisa anda katakan, maka pergilah!"


Dengan satu kalimat pelayan itu mengirim si bangsawan keluar dari wilayah timur. Ia mengirim bangsawan itu pergi dengan elemen anginnya yang bahkan tidak disadari oleh tamu yang lain.


Para elemen hanya bisa di lihat oleh peri sedangkan manusia biasa tidak akan bisa melihatnya. Mereka hanya bisa merasakan keberadaan elemen itu namun tidak bisa melihat wujudnya secara nyata.


Pada akhirnya para tamu yang lain berhenti berdebat. Mereka takut dan khawatir, meskipun mereka adalah seorang bangsawan namun kekuatan mereka tidak bisa berpengaruh di tempat ini.


Wilayah timur adalah wilayah netral yang di miliki oleh satu orang. Itu tidak berkaitan dengan negara manapun atau wilayah kekuasaan manapun.


Tidak ada yang tahu wilayah itu milik siapa. Bahkan sampai sekarang, saat dimana wilayah itu hidup dengan makmur, mereka tetap tidak tahu siapa pemiliknya.


"Sial," maki para bangsawan dalam hatinya. Mereka tidak bisa berteriak lagi seperti tadi jika tidak mau berakhir sama seperti pria bangsawan itu.


Akhirnya suasana restoran kembali diam dan semua tamu pun melanjutkan kembali aktifitas mereka seperti biasanya.


Namun ketenangan itu tidak terjadi pada satu tempat di wilayah itu. Tempat itu kini begitu tegang dan dingin, seperti baru saja di hantam oleh badai yang mengerikan.

__ADS_1


"Bisa kau jelaskan apa ini?"


Pria itu berkeringat dingin, ia takut. Takut jika perkataannya salah dan dia akan dalam masalah besar nantinya.


Ia juga tidak paham mengapa nona nya bisa datang ke tempat ini padahal tidak ada masalah penting yang terjadi.


"Nona, tenangkan diri mu." seru Agra setelah diam beberapa saat.


Tidak ada hujan tidak ada angin mengapa nona nya datang seperti badai yang membuat ruangan itu hancur dalam seketika. Agra yang sejak tadi duduk tenang sambil menganalisis keuangan di kejutkan dengan keberadaan yang membuat jantungnya hampir copot.


Awalnya Agra mengira salah satu tamu berbuat ulah atau salah satu dari temannya datang berkunjung dengan sengaja, namun yang tidak ia sangka bahwa yang datang itu adalah nona nya sendiri.


"Katakan pada ku, apa ini?" teriak Senja yang membuat beberapa barang di sana bergetar sampai ada yang jatuh dan pecah.


"Astaga, saat ini Nona benar-benar dalam keadaan kacau." batin Agra dengan keringat yang sudah tidak terbendung lagi.


Ia lalu mencoba untuk menghubungi rekannya yang lain namun sebelum ia berhasil menghubungi mereka, Senja sudah menarik tangannya dengan kasar.


"Astaga!" teriak Agra kaget. Wajahnya memucat saat Senja menatapnya dengan dingin.


"Glup..." Agra menelan salivanya yang terasa pahit. Ia mencoba untuk tetap tenang namun tatapan nona nya membuat ia tidak bisa tenang.


"Mati aku," batin Agra yang hanya bisa menundukkan wajahnya.


"Jawab!" teriak Senja saat ia tidak mendapatkan jawaban dari bawahannya itu.


Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, aura intimidasi Senja sudah pecah di tempat itu.


Aura yang membuat Agra merasa tertekan sampai ia tidak bisa bernapas dengan benar. Saat ini Agra berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan, ia hanya bekerja sebagai pengurus aset bukan sebagai mata-mata atau pun pengintai.


"Ada lebih baiknya Nona bertanya langsung dengan si pengirim surat itu." lirih Agra dengan nada suara yang pelan. Jika Senja tidak memiliki pendengaran yang bagus maka ia tidak akan bisa mendengarnya.


"Kalau begitu, aku serahkan tugas ini pada mu."


Senja kemudian melemparkan surat itu ke hadapan Agra.


"Bawa dia kehadapan ku. Jika kau tidak bisa melakukan itu, maka..." Senja diam, ia tidak mengatakan apa pun untuk beberapa saat.


"Kau akan tahu akibatnya." lanjut Senja setelahnya.


"Sialan kau Klein." maki Agra dengan kesal.


"Ini juga ulah mu Morreti" lanjutnya kembali saat nona nya sudah pergi dari tempat itu dengan teleportasi.


Jujur saja ia kesal, pasalnya tugas ini lebih cocok untuk Morreti karena ia adalah seorang pengintai. Namun saat ini tugas itu akan menjadi bebannya.

__ADS_1


"Klein, baji**an" gumam Agra sambil mengingat cengiran lebar Klein yang masih membekas di ingatannya.


Andai saja Klein lebih memperjelas informasinya maka hal ini tidak akan terjadi. Jika saja Klein menyelesaikan tugasnya maka ia tidak perlu lagi bersusah payah dalam mencari informasi lebih mengenai hal ini.


"Sial!" teriak Agra yang membuat ruangan tersebut semakin hancur oleh energi nya.


****


"Hah" Senja menghela napas panjang saat ia kembali lagi ke ruang bawah tanah itu.


"Nona, kau kembali." seru Vanilla dengan senang.


Ia menghampiri Senja dengan senyum hangatnya dan coklat yang memenuhi mulutnya itu. Lucu melihat Vanilla terbang mendekati Senja, penampilannya terlihat imut dengan sayap kecil yang di kepakan perlahan.


"Dari mana coklat itu?" tanya Senja saat menyadari porsi tubuh Vanilla lebih gemuk dari pada sebelumnya.


"Di sana." Vanilla menunjuk ke arah gua yang tidak jauh dari posisi mereka.


Senja hanya melihat goa itu dengan pandangan acuh tak acuh. Ia sama sekali tidak peduli dari mana Vanilla mendapatkan coklat itu, hanya saja ia penasaran dengan bobot tubuh Vanilla yang semakin hari semakin bertambah.


"Dimana Kun?"


"Oh Tuan Kun juga sedang berada di sana."


Senja diam, ia tidak tahu jika Kun juga menyukai coklat. Setahunya Kun adalah kucing herbivora yang bahkan tidak peduli dengan lingkungan di sekitarnya.


"Sejak kapan ia menyukai coklat? Atau aku saja yang memang kurang memperhatikan mereka." gumam Senja yang perlahan pergi menuju goa itu.


Hanya dalam jarak lima meter mendekati goa, Senja sudah bisa mencium bau coklat yang rasanya sangat aneh. Baunya harum dan menyegarkan namun juga terdapat mana yang mengalir di dalamnya.


"Kun!" teriak Senja saat ia memasuki tempat itu.


"Sedang apa kau?" tanya Senja kemudian.


"..."


Seperti biasa tidak ada jawaban dari Kun sehingga Senja memilih untuk terus lanjut menyusuri goa.


Lama Senja berjalan sampai ia bertemu dengan Kun yang saat ini sedang fokus menghadap dinding goa.


"Apa kepala mu terbentur sampai harus tidur seperti itu?" tanya Senja tidak paham dengan pemikiran hewan magic nya itu.


"Ugh..." geram Kun yang membuat Senja kesal.


"Apa yang sedang kau lihat?" Tanya Senja sambil menarik tubuh Kun menjauh dari dinding.

__ADS_1


Namun betapa terkejutnya Senja saat ia melihat apa yang sejak tadi di lihat oleh Kun. Matanya memerah dengan bingung saat melihat cahaya biru terang menyinari dinding goa itu.


"Apa ini?" tanya Senja sekali lagi sambil menyentuh cahaya itu.


__ADS_2