Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
RENCANA


__ADS_3

"Kesempatan adalah bukti bahwa Tuhan percaya seseorang bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya."


*****************######****************


"Nona, persiapan sudah selesai."


Maya memutuskan untuk pergi mengunjugi Senja. Kali ini hanya Maya akan pergi tanpa Zakila. Ia tidak ingin menggangu mental kakaknya itu.


"Jaga Zakila sampai aku kembali," seru Maya saat melihat wajah Zakila yang masih tertidur lelap.


"Mia, tetap awasi pergerakan Dira dan temannya." Maya terdiam sesaat seperti sedang menimbang sesuatu.


"Jika mereka menunjukan gelagat aneh, segera hubungi aku. Ingat, jika terlalu berbahaya jangan bertindak gegabah dan segera pergi. Hidup mu lebih berharga dari pada informasi itu." lanjut Maya sebelum meninggalkan kamar.


Setibanya di pintu gerbang akademik, Maya sudah disambut oleh Luna dan Muna. Mereka sengaja pergi secara terpisah untuk mengelabui pihak musuh. Akan sangat sulit jika Dira dan gengnya tahu tujuan kepergian mereka.


Segera mereka pergi meninggalkan akademik menggunakan kereta sewaan. Kereta itu melaju pelan selama perjalanan menuju wilayah Duke Ari.


"Siapa mereka?" Maya dengan bingung menatap dua pelayan yang baru saja ikut naik bersama mereka.


"Mer..."


"Maaf nona, izinkan saya untuk memperkenalkan diri saya sendiri." potong salah satu pelayan itu dengan tangan yang terkepal erat di dadanya, tidak lupa dengan postur tubuhnya yang sedikit membujuk.


"Saya Ayina, pelayan pribadi Nona Luna." lanjut Ayina sambil menundukkan wajahnya.


"Saya Xena, milik Nona Muna." seru Xena saat melihat lirikan mata Maya pada dirinya.


"Aneh," balas Maya ketika fokus memperhatikan kedua pelayan itu.


"Kenapa aku tidak pernah melihat wajah mereka?" lanjutnya bingung.


"Mereka pelayan tapi juga seorang ksatria." jelas Muna acuh tak acuh.


"Entah mengapa keduanya terlihat mirip."


Maya menatap Xena yang sedang diam memperhatikan sekeliling. Menurut Maya baik Muna maupun Xena, keduanya memiliki sifat yang sangat mirip. Hampir identik seperti saudara.


***


2 jam telah berlalu sejak kepergian mereka. Kini posisi mereka tinggal setengah jalan lagi menuju wilayah Duke Ari.


"Apa kau sudah memberi tahu Senja sebelumnya?" tanya Maya serius.


"..."


Tidak ada jawaban baik dari Luna mau pun Muna. Keduanya tetap diam dengan pikiran masing - masing.


"Sudah aku duga ini akan terjadi."


Maya hanya bisa menggelengkan kepalanya bingung. Untung saja ia sudah mengantisipasi ini sejak awal.


"Aku tidak masalah dengan yang lain, tapi kasihan Senja jika kita datang tanpa mempersilahkan dia untuk menyiapkan diri."


"Krik...krik...krik..."


Maya sedikit frustasi, ia bingung harus tertawa atau menangis. Bukannya mendapatkan tanggapan dari kedua temannya, ia hanya mendengar suara jangkrik yang bernyanyi.


"Terima kasih jangkrik, kau sudah membuat suasana ini semakin tenang."


"Hmm...." gumam Luna malas.


"Apalagi ini." Maya hampir menangis kesal dengan reaksi santai Luna.


"Tenang saja, aku sudah mengabarinya." lanjut Luna sambil melirik sekilas pada Muna.


"Benar." tambah Muna dengan anggukan kepala.


"Kurasa, aku sudah salah memilih teman."


Tangis Maya dengan air mata kosongnya. Ia kemudian menatap iba pada nasibnya sendiri.


****


"Dimana kita akan menemuinya?" tanya Muna saat mereka sudah mulai memasuki wilayah kekuasaan Duke Ari.


"Paviliun selatan, tempat Senja berada." balas Luna sambil merogoh saku celananya.


"Kenapa disana? Aku kira kita akan masuk melewati pintu utama."


Maya terlihat bingung, memang benar kedatangan mereka terlalu mendadak dan Tania kabar. Benar juga jika menurut etika para bangsawan kelas atas, tindakan mereka salah total.


Ada hukum tidak tertulis dikalangan para bangsawan. Mereka yang ingin mengunjungi rumah atau wilayah bangsawan lain, Haris terlebih dahulu mengirim surat. Itu dilakukan sebagai tanda persetujuan dari kedua belah pihak.

__ADS_1


"Aku tahu ini konyol tapi tidak benar jika kita harus memanjat tembok rumah seseorang apalagi mereka bangsawan kelas atas."


"Jangan memasang wajah takut seperti itu. Kita hanya masuk melalui pintu belakang bukan melakukan hal yang ilegal." seru Luna saat mendapati wajah panik Maya.


"pintu belakang? Bukankah itu sama saja?"


"Tidak, kita masuk atas persetujuan tuan rumah, jadi itu bukanlah tindakan ilegal." balas Muna masih dengan wajah acuhnya.


"Astaga bisa mati muda aku jika terus begini." gumam Maya tidak habis pikir dengan tindakan kedua temannya itu.


Beberapa saat kemudian kereta kuda sudah sampai di area belakang paviliun. Tempat ini tampak sepi dengan hutan lebat disekitarnya.


Muna adalah orang pertama yang keluar dari kereta kuda, kemudian diikuti Luna dan Maya. Ketiganya lalu disambut hangat oleh Eza, kstaria Senja yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan mereka.


"Salam Nona" sapa Eza pada masing-masing dari mereka. Tentunya ia tidak lupa etiket seorang ksatria. Dengan sopan Eza mengecup pelan pergelangan ketiga wanita itu.


"Dimana Senja?" tanya Luna ketika Eza baru saja menyapa mereka.


"Maaf Nona atas keterlambatan informasi. Nona Senja saat ini sedang dipanggil oleh Duke."


"Aku tidak mempersalahkan itu, tapi jika aku boleh tahu ada urusan apa Duke memanggil Senja?"


Ketiga sedikit penasaran, meski mereka tahu tidak boleh terlalu protektif terhadap bisnis seseorang. Namun perasaan gelisah dan takut membuat mereka penasaran.


"Maaf Nona, saya kurang tahu."


Eza tidak menyangka jika alibi nona nya akan dipertanyakan seperti ini. Jujur saja jika saat ini Senja masih berada di perjalanan menuju mansion Duke.


Hal ini bisa terjadi karena ia baru saja mendapatkan surat dari Eza mengenai kunjungan ketiga sahabatnya tadi pagi.


"Hah, aku sedikit khawatir." gumam Luna saat ia memandang tajam ke arah Eza. Entah kenapa Luna merasa ada sedikit kebohongan dari perkataan Eza.


"Nona, jika kalian merasa bosan. Kalian bisa menuju ke arah barat tempat ini. Disana ada gazebo yang bisa digunakan sebagai tempat istirahat.


Dengan saran Eza, ketiganya pun segera pergi ke arah barat. Disana mereka melihat sebuah gazebo tua dengan kayu jati. Meski tua gazebo tersebut masih layak untuk digunakan.


"Akhirnya aku bisa merenggangkan tubuh ini." seru Maya sambil melakukan pemanasan ringan. Hal yang sama juga dilakukan Muna dan pelayannya.


"Kurasa kalian butuh minum susu lebih sering," ejek Luna saat hendak duduk di gazebo.


"Aku alergi susu sapi." balas Muna datar.


"Aku juga," timpal Maya serius.


"Dasar udik ksatria udik." ejek Luna sambil melihat ke sekeliling.


"Siapa yang udik?" tanya sebuah suara dari arah belakang Luna.


"Senja."


Luna terlihat senang, ia lalu turun dari gazebo dan segera memeluk tubuh Senja. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Luna kemudian.


"Tentu saja." balas Senja dengan senyum samar nya.


Dari kejauhan Maya dan Muna segera berlari kencang menuju mereka. Keduanya berkeringat hebat sampai membasahi sebagian pakaian yang mereka kenakan.


"Astaga, kalian kacau sekali." tutur Senja sambil menggelengkan kepalanya.


"Kami baru saja selesai pemanasan." jelas Muna tidak senang.


"Para ksatria selalu menggunakan otot mereka dalam berpikir." ejek Luna saat mengeringkan tubuh kedua sahabatnya itu.


"Aku tidak akan mengucapkan terima kasih." gerutu Maya kesal.


"..."


Senja diam-diam memperhatikan gerak-gerik sahabatnya itu. Ia merasa lucu dengan reaksi Luna yang sangat membenci latihan fisik.


"Menurutnya latihan fisik sama saja dengan buang-buang uang. Tentunya aku tidak pernah berpikir seperti itu."


****


Tiga jam yang Lalu


"Nona, ada surat dari Eza," seru Dian saat memasuki kamar Senja. Ia kemudian menyodorkan sepucuk surat yang baru saja tiba pagi ini.


Senja lalu mengambil surat tersebut dan mulai membacanya. Baru saja beberapa garis kata, mata Senja sudah melotot dengan panik.


"Ada apa nona?"


Dian penasaran ketika melihat reaksi panik nona nya itu. Ia tidak merasa ada yang salah surat tersebut, tidak ada mana hitam ataupun sihir terlarang di dalamnya.


"Segera siapkan kereta kuda. Kita akan kembali ke rumah saat ini juga."

__ADS_1


Mendengar perintah mendadak nona nya tersebut membuat Dian menjadi panik. Ia tidak tahu apa yang tertulis dalam surat itu, tapi yang pasti reaksi nona nya sudah cukup menjelaskan bahwa situasi mereka sedang tidak baik-baik saja.


Lucas yang melihat Senja terburu-buru membereskan kamarnya mulai curiga. Ia tidak tahu surat seperti apa yang baru saja diterima oleh Senja. Dan apa pun itu, Lucas merasa tidak nyaman.


"Ada apa?" tanya Lucas sambil menarik pergelangan tangan Senja menjauh dari pakaiannya.


"Lepaskan!" teriak Senja kesal.


"..."


Lucas hanya diam menatap dingin ke arah Dian. Tentu saja ia melakukan itu pada Dian karena tidak ingin membuat Senja semakin marah padanya.


"..."


Lucunya Dian pun kembali menatap kearah Lucas. Ia merasa kesal dengan pemilik tempat ini karena selalu saja menjadikan orang lain sebagai tumbal percintaannya.


"Lepaskan aku!" teriak Senja sekali lagi.


"Tuan, kau begitu arogan." seru Dian dengan mata yang melotot tajam.


"Hahaha, apa?"


Lucas tertawa sinis dengan sikap tidak jatuhnya Dian. Ia merasa pelayan kecil ini mulai bertindak kasar semenjak diberi kasih sayang oleh pemiliknya.


"Biarkan nona ku pergi, kau bahkan tidak memiliki hak atas dirinya." lanjut Dian yang semakin membuat Lucas kesal.


Senja yang melihat Dian beradu argumen dengan Lucas terlihat puas. Ia bangga dengan pelayannya itu. Meski dibawah tekanan kuat, ia tetap bersikukuh dengan pendiriannya.


"Ariel, segera seret pelayan ini keluar sebelum aku kehabisan kesabaran!" teriak Lucas yang membuat bulu kuduk Ariel berdiri takut.


Tanpa membuang waktu Ariel segera menyeret Dian keluar dari kamar tersebut. Tentu saja ia tidak akan menggunakan cara sederhana.


Ariel dengan santainya mengangkat tubuh Dian dan menggendongnya seperti karung beras sebelum membawanya keluar rumah. Hal ini ia lakukan agar Dian tidak bisa berontak di dalam pelukannya.


"Turunkan aku...!" teriak Dian kesal.


"Kau dan tuan mu sama saja jahatnya." lanjut Dian sambil memukul - mukul pundak Ariel.


"Aku lelah."


Ariel terlihat pasrah dengan pukulan Dian, menurutkan akan lebih baik dipukul wanita ini dari pada tuannya sendiri.


"Kau ingin mati?" tanya Ariel ketika mencoba menurunkan Dian.


"Apa kau pikir aku takut?" tanya Dian kembali.


"Entahlah." balas Ariel acuh tak acuh.


Dian yang melihat itu pun segera berlari menuju rumah, namun tentu saja sebelum ia pergi jauh Ariel sudah menggenggam tangannya kembali.


"Jika aku jadi kau, aku akan tetap diam di tempat ini."


****


Senja yang bosan beradu argumen dengan Lucas hanya bisa menghela napasnya. Ia lalu memberikan surat yang baru saja ia terima pada Lucas.


Setelah membaca surah itu, Lucas merasa bingung. Ia tetap tidak ingin memulangkan Senja namun jika ia tetap bertahan dengan egonya maka Senja akan terus memberontak.


"Baiklah, aku mengerti." lirih Lucas sambil menyerahkan kembali surat tersebut.


"Sebagai permintaan maaf, biarkan aku mengantar mu pulang."


"...."


Melihat Senja tetap diam, Lucas mulai menimbang sesuatu.


"Baiklah, setidaknya biarkan aku menemani mu setengah perjalanan saja." tawar Lucas serius.


"Tidak." balas Senja datar. Ia benci ketika ada seseorang yang mencoba mencampuri urusannya.


"Biarkan aku pulang sendiri."


"Tidak bisa, itu sangat berbahaya."


Lucas mencoba menjelaskan situasi hutan ini pada senja. Meski pun selama berada dirumah ia baik-baik saja bahkan tidak pernah melihat hewan liar mana pun. namun kenyataanya hutan ini begitu berbahaya.


"Setidaknya untuk tingkat mu saat ini." batin Lucas.


"Jadi apa mau mu?"


"Biarkan aku menemani mu sampai keluar dari hutan. Bagaimana?"


Senja berpikir sejenak, ia tahu jika ini terus dilanjutkan maka tidak akan ada habisnya.

__ADS_1


"Baiklah, terserah kau saja."


__ADS_2