
"Katakan semuanya dan aku akan percaya bahwa itu nyata."
******************#####****************
Pagi harinya, Senja yang sudah kembali menjadi Zain kemudian pergi menuju kafe dimana ia dan Kaira semalam berada. Senja sengaja mendatangi kafe tersebut karena ia yakin bahwa Kaira pasti akan berada disana, dan tentu saja pemikirannya itu tepat sasaran karena Kaira memang sedang berada disana saat ini.
"Selamat pagi Nona," sapa Senja saat melihat Kaira yang sedang memesan makanannya.
"Tuan Muda Zain, selamat pagi," seru Kaira kaget saat melihat Senja yang berinisiatif sendiri untuk mendatanginya.
"Apa dia termakan omong kosong ku semalam?" batin Kaira penuh tanda tanya sambil mengingat percakapan hangat diantara mereka berdua semalam.
"Apakah saya boleh duduk disini?" tanya Senja ketika ia melihat Kaira yang sedang menerawang sesuatu.
"Apa yang sedang Kaira pikirkan saat ini?" batin Senja sambil memperlihatkan senyum hangatnya.
"Tentu saja, silahkan," balas Kaira canggung saat dirinya baru saja tersadar dari lamunan.
"Permisi Tuan, anda mau pesan apa?" tanya pelayan yang sejak tadi berada disana.
"Saya pesan apa yang dipesan oleh Nona ini," jawab Senja masih memasang senyum ramahnya.
"Nona, dia sangat lucu. Apalagi setelah kejadian semalam, kini sifatnya bahkan lebih manis dari sebelumnya," seru Opi saat Senja sedang berbicara dengan pelayan kafe.
"Hahahaha, mungkin saja dia jatuh hati pada ku karena kejadian semalam. Lagi pula pria mana yang tidak terpesona oleh kecantikan ku," lirih Kaira penuh kemenangan.
Kaira bahkan tidak tahu jika dirinya sekarang sedang dimanfaatkan. Ia mengira bahwa sekarang Senja telah masuk ke dalam perangkapnya dan dia merasa kasihan dengan itu.
"Pria yang malang,"
"Apa Nona pulang dengan selamat tadi malam?"
"Tentu saja, itu semua berkat anda."
"Benarkah? Padahal saya sempat khawatir jika anda dalam masalah karena tidak mau dikawal oleh ksatria saya,"
"Hahaha, itu tidak benar. Rumah saya tidak jauh dari sini, jadi saya baik-baik saja,"
"Bagaimana bisa aku pergi dengan ksatria mu yang berwajah dingin itu, aku merasa jika ksatria mu itu akan menusuk ku dari belakang bila aku lengah sedikit saja," batin Kaira ketika melihat ekspresi dingin Eza padanya.
Kaira tentu saja mengetahui jika Eza sangat waspada padanya atau lebih tepatnya sangat membenci dirinya. Kaira pikir jika perilaku dinginnya itu karena Eza mengetahui bahwa pria yang ada dihadapannya ini sangat mudah ditipu dan sebagai ksatria penjaga, ia wajib melindungi tuannya.
"Ksatria itu sangat waspada pada ku. Yah aku tahu jika dia tidak ingin pria polos ini sakit hati karena aku permainkan,"
"Tapi tenang saja, aku tidak akan terlalu kejam padanya." lanjut Kaira sambil menahan senyum licik diwajahnya.
Eza sadar jika Kaira telah memperhatikannya, ia tahu bahwa Kaira bukanlah wanita baik untuk nona nya. Eza sangat kesal ketika tahu bahwa Senja sengaja mendatangi Kaira terlebih dahulu, oleh karena itu saat ini Eza tengah menatap tajam kearah meja dimana mereka berdua berada.
Senja sendiri hanya merasakan dingin di punggungnya, ia sama sekali tidak tahu alasan mengapa Eza sampai bersikap seperti itu. Senja hanya berpikir bahwa saat ini mungkin saja Eza tengah sensitif oleh suatu hal.
__ADS_1
Pada dasarnya pemikiran Kaira tentang Eza tidak salah, namun siapa yang tahu jika apa yang keduanya khawatirkan adalah sebuah kebohongan.
Senja bahkan tidak peduli dengan Kaira, ia mendatangi Kaira hanya untuk sebuah informasi dan tentu saja semua itu hanya manipulasi belaka.
"Makanannya sudah datang," lirih Kaira ketika pelayan kafe membawakan pesanan mereka.
"Silahkan dinikmati,"
"Terima kasih,"
"Nona, tenanglah sedikit. Anda bisa tersedak nanti." seru Senja ketika melihat Kaira yang dengan semangat memakan makanannya.
"Makanan ini sangat lezat, aku bahkan tidak bisa berhenti memakannya," jawab Kaira dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Ya ampun," lirih Senja saat menyeka saus sambal dari bibir Kaira.
"Hehehe..."
Kaira sendiri hanya tertawa malu dengan sikapnya. Senja kemudian mengambil garpu dan mulai menyantap makanannya.
"Ini lezat,"
"Sudah aku katakan bukan, jika makanan ini sangat lezat,"
Senja hanya tersenyum simpul sebagai balasan dari apa yang baru saja dikatakan oleh Kaira.
Senja sama sekali tidak menyadari bahwa Eza tengah menatapnya tajam dengan pandangan dingin dari belakang. Eza tampak siap menghancurkan apa pun sekarang dengan wajahnya yang datar.
Mereka yang berada disekitar Eza pun merasakan aura dingin darinya. Hal yang sama juga dirasakan oleh Kaira, ia sendiri tahu bahwa saat ini Eza sudah siap menyerangnya jikalau Senja memberinya aba-aba.
"Sungguh menyeramkan aura itu,"
Kaira lalu menatap lembut kearah Eza sambil tersenyum manis padanya.
"Apa yang akan dia lakukan setelah ini," gumam Kaira saat senyumnya malah dijawab dengan tatapan ganas dari Eza.
"Sial, aku merasa punggung ku semakin dingin sekarang," gerutu Senja kesal ketika ia merasakan rasa dingin yang lebih dingin dari sebelumnya.
Sampai sekarang Senja belum menyadari jika Kaira dan Eza tengah melakukan perang batin. Posisi Senja tepat berada diantara mereka berdua, oleh karena itu udara disekitar Senja semakin dingin dari waktu ke waktu. Ia ingin berteriak namun imagenya yang polos akan hancur seketika.
Oleh karena itu, sekarang Senja sedang menahan rasa kesalnya dengan apa yang tengah ia rasakan. Beberapa saat setelah makanannya habis, Senja baru menyadari bahwa hawa dingin dipunggungnya berasal dari tatapan tajam Eza.
"Menjadi polos itu sungguh tidak enak, bahkan dalam situasi seperti ini. Aku harus tetap terlihat bodoh meski sudah merasakan hawa membunuh dari salah satu diantara mereka," batin Senja kesal saat melihat senyum ramah Kaira dan juga tatapan dingin dari Eza.
"Apa aku pura - pura pingsan saja ya?" lanjut Senja sambil menerawang kejadian apa yang akan terjadi jika ia mencoba untuk pingsan.
"Tidak, tidak. Aku rasa itu malah akan memperburuk keadaan, terlebih lagi Dian sedang tidak ada disini."
"Nona, lebih baik kau pergi saja dulu. Biar aku yang akan mengurus Eza disini," seru Kun tiba-tiba.
__ADS_1
"Ah, tumben sekali kau jadi baik begini," balas Senja curiga dengan sikap Kun.
"Hei, kau pikir aku ini apa?" teriak Kun tidak terima saat maksud baiknya dipertanyakan.
"Baiklah, baiklah. Terserah kau saja."
"Huh,"
"Nona Kaira, bagaimana jika kita berkeliling kota. Aku adalah pengunjung baru disini, akan lebih baik jika aku mengetahui tentang kita ini bukan?"
"Lucunya,"
"Baiklah, aku..."
"Tidak perlu, saya bisa mengantar anda kemana pun jika anda mau," teriak Eza memotong perkataan Kaira yang belum selesai.
"Ah tapi, Tuan Muda Zain sendirilah yang meminta ku untuk melakukannya," balas Kaira manja sambil menggenggam lembut pergelangan tangan Senja.
" Eza, kau pergilah dengan Kun untuk berjalan-jalan di plaza ini. Belilah apa pun yang kau inginkan," seru Senja yang malah mendapatkan tatapan tidak terima dari Eza.
"Tapi..."
"Ini perintah,"
Eza yang mendengar hal tersebut hanya bisa menundukkan kepalanya, ia terlihat seperti seekor kucing yang kehilangan induknya.
"Meong..." lirih Kun yang mengeong di bawah kaki Eza.
"Meong..." lanjutnya sekali lagi sambil berputar - putar lembut di pergelangan kaki Eza.
"Sial, aku harus melakukan ini agar pria bodoh ini bisa mengerti maksud dari Senja," gerutu Kun kesal saat mengeluskan wajahnya pada pergelangan kaki Eza.
"Pergi dan bawa dia jalan - jalan," seru Senja sekali lagi sebelum ia keluar dari kafe bersama dengan Kaira.
Kaira yang melihat hal tersebut hanya bisa memasang senyum kemenangan diwajahnya yang ia tunjukkan khusus untuk Eza.
"Selamat tinggal," bisik Kaira pelan yang masih bisa didengar oleh Eza sebelum ia benar - benar keluar dari kafe tersebut.
"Sial," gerutu Eza kesal saat melihat wajah mengejek Kaira untuknya.
"Mengapa Nona membawanya bukan aku," batin Eza sambil mengeluarkan aura membunuhnya yang membuat para tamu di kafe tersebut bergidik takut.
Kun yang menyadari hal tersebut lantas menarik pakaian Eza sambil terus mengeong. Ia tahu bahwa saat ini Eza tengah kesal dengan sikap Kaira yang memprovokasinya.
"Wanita licik itu masih bisa memprovokasinya padahal ia sudah menang," batin Kun yang juga merasa tidak senang dengan sikap Kaira.
"Hei, manusia bodoh. Mari pergi," seru Kun yang kini tengah melakukan link batin dengan Eza.
"Hah, sialan," desah Eza kesal sambil mengacak - acak rambutnya.
__ADS_1